MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 47. PESONA DIKI


__ADS_3

"Ikuti aku! Akan ku tunjukkan tempatnya" Haris berjalan keluar bersama Diki tetapi ketika di persimpangan mereka berpencar. Setelah diberi tahu, Diki menuju ruangan Raisa.


Diki yang berjalan dengan menenteng blazer di lengannya menarik perhatian para karyawati yang berada di sekitarnya. Pandangan mereka tertuju pada penampilan Diki yang memukau dan menawan ketika Diki berjalan melewati mereka. Beberapa di antara mereka yang melihat saling berbisik untuk menyatakan kekagumannya.


Diki berjalan semakin mendekat, karisma Diki menghipnotis pandangan wanita dan hampir membuat wanita menjerit histeris tapi mereka tahan karena ini adalah kantor. Diki yang berjalan dengan gagah tetap fokus menuju meja kerja Raisa, dia tak memedulikan mata orang yang memandangnya. Mereka pun bertanya-tanya apa yang membuat Diki harus ke ruangan ini.


Sebagian dari mereka mengetahui identitas Diki yang merupakan seorang klien perusahaan ini, betapa itu sangat mengejutkan banyak wanita yang melihatnya. Bos muda yang banyak dikagumi kaum hawa, dia yang selalu jadi bahan perbincangan ketika berkunjung ke perusahaan ini, kini terlihat jelas di depan mata.


Beberapa wanita sibuk dengan kehebohannya melihat Diki sementara Raisa sibuk merapikan meja kerjanya. Ia bersiap pulang.


"Ini waktunya pulang kerja, apakah pekerjaanmu masih banyak?" Seseorang bertanya dan terdengar familiar di telinga Raisa. Sesosok tubuh tinggi membayangi. Raisa mendongak memastikan siapa orang yang berada di depannya.


Diki? Raisa terkejut melihat Diki sudah berada tepat di depan meja kerjanya. Raisa terpaku sesaat, lalu wajahnya bingung. Mereka berdua jadi pusat perhatian para karyawati yang berada di sekitarnya dan suasana ruangan mendadak hening.


Sebelum semua orang berkomentar dan bertanya, Raisa bergegas menarik ujung baju Diki ke luar ruangan. Diki mengikuti Raisa dengan pasrah, dia tersenyum tipis melihat tingkah Raisa.


Adegan itu membuat orang tercengang tidak percaya, Raisa seorang karyawan baru nampak memiliki kedekatan dengan seorang klien. Bukankah itu hal yang tabu di perusahaan ini. Bagaimana bisa itu terjadi? Setelah Raisa dan Diki menghilang, mereka yang baru saja menyaksikan langsung bergosip di belakangnya. Sebagian di antaranya iri hati pada Raisa.


"Kenapa kamu harus repot-repot datang ke ruanganku? Kan kamu bisa telpon aku saja, nanti kita ketemu di tempat parkir" ujar Raisa yang berjalan mendahului Diki.


"Aku hanya ingin tahu ruangan kerjamu, yah siapa tahu kamu akan menutupi sesuatu lagi dariku jadi aku perlu memastikannya"


Raisa berbalik dan menatap wajah Diki. "Aku tidak memiliki rahasia lagi"


"Benarkah?" Alis Diki terangkat menyatakan keraguannya.


'Aku tidak mungkin memberitahukan isi hatiku padamu kan?' gumam Raisa lalu memilih untuk tidak berjalan sejajar dengar Diki.


Di dalam mobil menuju perjalanan pulang, tiba-tiba Diki menghentikan sebentar mobilnya di sebuah pusat perbelanjaan.

__ADS_1


"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Raisa bingung, tidak biasanya Diki mampir ke suatu tempat.


"Kita perlu belanja bahan makanan untuk stok di rumah" Diki membuka safety beltnya.


"Kamu memintaku untuk memasak sore ini?" Raisa mendelik ke arah Diki.


"Ya, aku lapar"


Mendengar jawaban Diki dengan entengnya bicara begitu, Raisa tertawa hampa.


"Kamu kan bisa membeli makanan siap saji, hari ini aku lelah baru pulang kerja. Seingatku tadi pagi aku sudah memasak"


"Sudah habis aku makan setelah pulang dari rumah sakit" Lalu Diki membuka pintu mobil Raisa, "Ayo, turun! Kita mampir sebentar ke sini lalu langsung pulang ke rumah"


Raisa bergeming belum memutuskan untuk turun, hatinya masih kesal.


Sejenak Diki mengerti bahwa Raisa sepertinya malu masih memakai pakaian kerja. Akhirnya dengan pemikiran itu, Diki kembali meminjamkan blazernya. "Nih, Pakai ini"


"Aku tahu kamu malu, jadi pakai ini agar seragam kerjamu tak terlihat"


Sebenarnya Raisa tidak malu memakai seragam kerja tapi kondisinya berbeda saat siang tadi karena dia tidak sengaja bertemu dengan Vera. Daripada menjelaskan panjang lebar pada Diki yang salah paham, Raisa menerima dan memakai blazernya lalu turun dari mobil mengikuti apa maunya Diki.


Raisa dan Diki berjalan sambil mendorong troli belanjaan. Bahan makanan yang dibeli pun cukup banyak. Belum pernah Diki merasakan berbelanja bersama seorang wanita.


Seorang SPG menyapa mereka yang tengah berjalan, "Permisi, hari ini kami sedang mengadakan promosi produk minuman herbal penambah stamina"


Raisa dan Diki terhenti sejenak karena ditahan oleh sambutan SPG. Mendengar produk minuman yang ditawarkan mengingatkan Diki dan Raisa pada kejadian sebelumnya terjadi. Wajah mereka berubah merona merah.


"Maaf, aku tidak tertarik" Raisa langsung menolak.

__ADS_1


"Tapi khasiatnya sangat manjur bagi pasangan yang menginginkan segera memiliki seorang anak. Insya Allah membeli produk ini adalah pilihan yang tepat" SPG itu terus merayu tanpa lelah.


Raisa tertegun mendengar khasiat minuman itu, apakah itu minuman yang sama seperti yang diminum Diki sebelumnya?


Raisa belum pernah sekalipun di dalam benaknya berniat ingin memiliki anak dengan Diki. Jika diingat-ingat, sikap Diki begitu dingin padanya, mustahil Diki mau menyentuhnya. Bahkan kemarin setelah menci*m Raisa, Diki langsung meninggalkannya begitu saja.


"Kami sedang dalam program menunda anak" ujar Raisa yang sekali lagi menolak tawaran SPG itu.


Di samping Raisa, Diki tidak bisa berkata apa-apa. Memang benar perasaannya belum jelas, apakah ia sudah mulai menyukai Raisa atau belum tapi jika terlintas pikiran Raisa bersama pria lain itu akan memancing emosi Diki. Diki masih belum memahami perasaannya sendiri. Apalagi sampai kepikiran memiliki anak bersama Raisa.


Wajah SPG berubah muram tapi karena hari ini dia harus kejar target penjualan tentu si SPG tidak pantang menyerah. "Jika kalian membeli ini sekarang akan dapat gratis satu botol. Kapan lagi aku menawarkan dengan sangat murah, karena sejak pagi belum ada pelanggan yang berminat" SPG itu menunjukkan wajah sedihnya. Entah apa yang ada dipikirannya, raut wajahnya mengundang simpati orang.


Diki langsung menyambar botol minuman itu tanpa banyak berpikir, "Ok, aku akan membelinya"


Raisa tercengang, sikap Diki begitu tiba-tiba. Lalu Raisa kembali melihat wajah cerah SPG yang senang karena berhasil merayu.


"Terima kasih sudah membeli, semoga ke depannya kalian akan segera memiliki anak dan rumah akan terasa ramai karena kehadirannya" Lalu SPG itu berbalik dan kembali ke tempatnya.


"Apakah kamu berencana meminumnya dan memiliki anak denganku? Sulit dipercaya, sebelumnya kamu marah dan tidak menyukaiku sekarang ucapan wanita itu bisa merubah pikiranmu. Ck...ck.." Raisa melengos dengan hati yang dongkol dan Diki ditinggalkannya begitu saja.


Diki tak mengerti, apa yang salah dengan dirinya. Bukankah Raisa menginginkannnya? Diki melangkah dengan cepat mengejar Raisa.


Tak sengaja atensi Raisa tertuju pada SPG yang tadi, dia terlihat sumringah dan produk yang ada di keranjangnya seperti berkurang banyak, itu menandakan bahwa tadi dia menggunakan taktik marketingnya.


'Begitulah para pria jadi mudah terpedaya pada ucapan seorang wanita apalagi jika wanita tersebut berpenampilan cantik dan menarik' Raisa bermonolog dalam hati, dia mengumpat tindakan Diki tadi.


----


----

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2