
Jay mencengkeram mulut Raisa dan memaksa nya untuk terbuka. Karena kepala Raisa yang tak mau diam membuat air berceceran membasahi wajahnya. Menumpahkan sebagian air yang mengalir ke mulutnya. Juga bagian leher pakaian Raisa basah terkena air.
Hampir satu gelas sudah tertuang ke dalam mulut Raisa. Entah sudah berapa air yang menetes dan tertelan Raisa. Ia memang belum merasakan efek mengantuknya tapi Raisa berupaya meloloskan dirinya sebelum ia dilanda kantuk. Raisa pantang menyerah dan berusaha untuk tetap tersadar.
Ikatan tali yang begitu kencang mengikat kedua tangan Raisa membuat pergelangannya lecet. Ia menggesekkan tangannya yang terikat ke sebuah benda yang memiliki sisi tajam agar talinya bisa terputus.
Di hadapan Raisa ada Revan yang terus tertawa menyaksikan Raisa yang akan merasakan efek dari minuman yang diberikannya. Sesekali ia melihat jam yang melingkar di tangannya, bibir bergerak Revan menghitung waktu mundur untuk mengetahui berapa lama obatnya bekerja.
Detik demi detik kini berharga bagi Raisa, ia tahu waktunya hanya sebentar. Memanfaatkan kesempatan yang sempit membuatnya merasa gugup dan hampir saja kehilangan fokusnya.
Berapa lama lagi Raisa akan bertahan dalam situasi menegangkan seperti ini. Kepalanya mulai terasa pusing dan pandangannya mengabur. Kekuatan tubuhnya berangsur melemah.
Raisa tidak bisa membiarkan tubuhnya kalah dan tak berdaya. Sayangnya, semakin waktu berjalan, kesadarannya mulai terganggu. Kepalanya benar-benar terasa berat. Kelopak matanya sudah hampir menutup setengah penglihatannya. Wajah Revan di depannya nampak berbayang.
Hingga Raisa sudah melemah dan kesadarannya hilang. Diki dan Rio belum juga nampak. Raisa pun tersungkur, obatnya telah bekerja sempurna.
Revan tak menyangka keberuntungan berada di tangannya. Ia pun mendekati Raisa.
Seketika itu...
BRUAGGH...$@$%#%#¥#%
Seorang pria terhempas dan jatuh tepat ke hadapan Revan. Ia tercengang salah satu anak buahnya berlumuran darah.
Dua orang pria memakai pakaian serba hitam telah mendobrak pintu dan melemparkan seseorang yang sudah dihajarnya.
Wajah Revan kian memucat saat kepalanya menunduk dan pandangannya masih mengarah ke anak buahnya yang terluka. Kemudian dengan perlahan Revan mengangkat kepalanya.
Di depan pintu sudah berdiri dua pria asing. Apakah itu si ksatria? Entahlah, Revan terkejut melihat penampilan tak biasa dari dua pria itu. Wajah takutnya jadi berubah. Sudut bibirnya berkedut.
Mereka Diki dan Rio, mode penyamaran yang aneh. Mungkin orang mengira mereka salah kostum, jelas ini bukan pesta halloween.
Diki memutuskan mengikuti saran Rio, sebelum melakukan aksinya mereka berdebat sedikit.
"Rio, kamu yakin kita tidak akan jadi bahan tertawaan memakai kostum seperti ini?"
"Pak, wajah tampan kita sangat mudah dikenali jika kita menutupi sebagian wajah kita. Bukankah kita terbiasa melakukan penyamaran? Anda tidak mau kan identitas kita terbongkar karena kecerobohan sedikit"
__ADS_1
"Tentu saja, tapi kenapa aku merasa tidak nyaman memakainya. Ini terlihat konyol. Kita bukan pahlawan superhero anak-anak tau"
"Tahanlah sebentar, ini demi misi menyelamatkan istri tersayang anda kan?"
"Ya itu benar" Diki menurunkan egonya.
Kini mereka berdua bekerjasama untuk menyerang Revan dan anak buahnya.
Revan bergetar melihat aksi heroik mereka, "Kalian siapa?" tanyanya dengan bibir gemetar.
Revan menyeru anak buahnya untuk melawan Diki dan Rio.
Mereka tak menjawab dan langsung menunjukkan pukulannya. Buagh...buugh... bertubi-tubi serangan dilancarkan menghajar semua anak buah Revan yang melawan dan melindungi Revan.
Perkelahian sengit terjadi. Jumlah yang tak seimbang. Keahlian Diki dan Rio yang tak terkalahkan. Seperti tontonan film aksi laga.
Tendangan dan pukulan dilayangkan Diki dengan tepat sasaran. Aksi tendangan memutarnya yang keren mampu menumbangkan tiga lawan sekaligus.
Tidak memakan waktu lama mereka berhasil mengalahkan semua lawannya. Jelas Revan tercengang hingga ia berkeringat dingin.
Diki mengelap sedikit keringat yang membasahi dahinya. Setelah itu, ia menghampiri Revan yang mematung. Langkahnya diselimuti kabut dingin bagai di kutub Selatan. Kengerian itu datang.
Revan tahu dirinya tidak ahli beladiri hanya mengandalkan anak buahnya. Kini mereka tidak bisa melindungi Revan yang sendiri. Semua anak buahnya tumbang tak mampu berdiri.
Diki tak menghiraukan ucapan Revan, siapa dia berani memerintahnya. Diki pun meneruskan langkahnya dengan tatapannya yang gelap.
"Aku akan laporkan kalian jika berani melukaiku, keluarga ku orang berpengaruh di kota ini. Jadi jangan macam-macam!" Revan semakin tegang dan panik.
Diki tertawa sarkastik, "Kamu pikir aku takut?" Lalu tepat di depan Revan, Diki langsung menarik kerah bajunya dan hampir saja ia ingin mencekik leher Revan. Betapa perbuatan Revan sudah memancing amarahnya.
Rio yang tahu sifat buruk Diki, langsung menahannya untuk tidak gegabah. "Pak!" Tangan Rio menahan Diki, "Lebih baik kita selamatkan dia lalu tinggalkan tempat ini segera"
Kalau bukan Rio yang menahannya, Diki akan menghajarnya dengan membabi buta. Tak terbayang di benaknya jika Diki terlambat sebentar saja, apa yang akan dilakukan manusia menjijikan itu. Diki mendengus.
Diki menoleh ke arah Raisa yang tak sadarkan diri di lantai, langsung ia membawanya tanpa pikir panjang.
Revan menggeram, ia kesal atas kekalahan dan ketidakberdayaannya melawan mereka.
__ADS_1
****
Di mobil, Diki membuka kostum menjijikannya. Betapa ia ingin mengumpat tentang ide Rio yang memilihkan kostum yang aneh.
"Apa kita akan membawanya ke rumah sakit, Pak?"
"Jangan, kita ke Villa ku di Garden hill. Aku akan datangkan dokter wanita terbaik untuk mengobatinya"
"Baiklah. Ehm ngomong-ngomong bukankah Dokter Emilia adalah Dokter terbaik dan dia juga berprestasi di bidangnya"
Diki mengernyit mendengar namanya lagi, ia bosan berurusan dengan wanita itu.
"Kenapa harus dia?"
"Kita ini tidak bisa sembarangan membawa orang luar masuk ke dalam wilayah kita, privasi pak...privasi... jadi aku pikir lebih memanggil salah satu anggota kita. Dan yang berprofesi sebagai dokter hanya dia. Bagaimana?"
"Terserah"
Tak ada pilihan untuk tidak menjatuhkan pilihan pada dokter Emilia meski Diki tidak senang akan kehadirannya.
Raisa yang pingsan bersandar di bahu Diki dan tangan Diki melingkar di pinggang Raisa yang ramping. Wajah Diki memerah karena ia belum pernah sedekat itu dengan Raisa. Aroma tubuh Raisa tercium di hidungnya, sungguh situasi yang tidak membuat Diki nyaman. Jantungnya berdebar. Diki memalingkan wajahnya.
Rio menyaksikan itu lewat pantulan cermin. Kenapa Diki harus malu dengan istrinya sendiri? Rio tersenyum geli dalam hati.
Setibanya di Villa yang luas dan mewah, Diki membawa Raisa ke kamar lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Pak, aku sudah menghubungi dokter Emilia. Kemungkinan ia akan datang tidak lama lagi"
"Ok," jawab Diki datar.
Diki memandang ke arah Raisa yang tengah tertidur, ia sudah menyelimutinya dengan selimut tebal.
Pakaian Raisa yang basah didiamkannya, Diki pikir nanti ia bisa meminta bantuan Emilia. Karena mereka sesama wanita.
----
----
__ADS_1
Bersambung...