
DUAK...DUAK...DUAK
Raisa yang tengah tertidur seketika terbangun karena mendengar suara gedoran pintu yang berulang kali. Dia mengerjap, padahal hari ini ia lelah sekali tapi kenapa ada orang yang mengganggu waktu tidurnya.
"Tidak bisakah aku beristirahat setelah lelah dengan aktivitas hari ini?" Raisa membenamkan kepalanya kembali ke dalam selimutnya, ia masih ingin tidur. Untuk membuka kelopak mata saja rasanya berat.
DUAK...DUAK...DUAK
Suara itu terdengar lagi. Untuk suasana malam hari yang hening suara jangkrik pun terdengar apalagi ini gedoran pintu yang begitu keras. Raisa mendengus.
"Siapa, sih? Gangguin aku lagi tidur aja!" gerutu Raisa yang langsung beranjak menuju pintu depan.
Saat melangkah, pandangan Raisa ke arah jam di dinding terlihat jarum pendeknya menunjukkan angka 10. Dalam keadaan yang setengah sadar belum sepenuhnya pulih, Raisa yakin ini masih malam. Siapa yang malam-malam begini bertamu, apa ibu pemilik kos-an? Perasaan Raisa sudah bayar full untuk setahun. Atau???
Untuk mengusir rasa penasaran, Raisa segera membuka pintu depan. Dan saat pintu terbuka, Raisa terbelalak dan dirinya seketika jadi sadar sepenuhnya dari kantuknya.
Diki sudah berada di depan pintu dengan melipat tangan di dadanya. Tanpa Raisa bertanya langsung, tergambar dari wajah Diki pasti ada sesuatu yang begitu serius.
"Kita harus bicara" Diki to the point mengutarakan maksud tujuannya datang.
"Ini sudah malam, tidak bisakah kita bicarakan besok? Ada banyak waktu tanpa harus memaksakan malam ini juga" sesekali Raisa menguap, telapak tangannya menutup mulutnya dan tubuhnya menggeliat terlihat ia memang ngantuk berat.
"Tidak bisa, aku tidak akan tenang sebelum semua masalah di antara kita selesai hari ini juga"
"Kamu tidak sadar, bahwa kamu bukan cuma menggangguku, tapi lihat!" Raisa menunjukkan ke arah semua penghuni kos-an sedang memerhatikan mereka dengan wajah kecut.
__ADS_1
Karena suara gedoran pintu yang terdengar keras bukan cuma membangunkan Raisa tetapi juga penghuni kos-an yang lainnya. Mereka yang mendengar pun jadi ikut keluar mencari sumber suara dan mereka semua kini sedang menatap Diki dan Raisa bicara.
"Maaf...maaf...maaf" Diki menyampaikan permintaan maaf karena sudah mengganggu mereka juga. Mereka akhirnya masuk setelah mendengar Diki minta maaf.
Diki kembali mengarah ke Raisa dan memelankan suaranya, "Aku ingin bicara denganmu, dimana? Apa perlu aku masuk?" Pandangan Diki menusuk lurus ke arah mata Raisa. Jantung Raisa berdetak kencang akibat ditatap Diki seperti itu.
"Jangan! Aku nggak akan mengizinkan kamu masuk." Raisa hendak menutup pintu, salah satu kaki Diki dengan cepat menyanggahnya. Sontak membuat Raisa semakin takut jikalau Diki jadi bertingkah liar. "Hei! A-aku bisa teriak kalau kamu maksa masuk dan mau macam-macam. Semua orang di sini akan menghajarmu." ancam Raisa dengan tergagap, dia berusaha untuk berani melawan.
'Lagian mana sih ni Bu Kos, kok bisa-bisanya ngijinin orang masuk ke area Kos-an ini' Raisa mengeluh dalam benaknya.
Raisa tidak tahu, untuk masuk ke area kos-an, Diki harus mengeluarkan isi dompetnya untuk merayu Bu pemilik kos-an agar bisa diijinkan.
"Ok, to the point aja di sini. Aku nggak mau bertele-tele, kamu sudah masuk ke ranah kehidupan pribadi aku dan aku tahu pasti kamu sedang merencanakan sesuatu. Aku ingin minta penjelasan darimu juga ingin menyelesaikannya sekarang juga dan ingat jangan coba-coba menghindariku!"
Mendengar hal itu Raisa diam sesaat, lalu... "Baiklah, mana ponselmu?" tanyanya.
"Udah cepetan mana?"
Diki yang bingung maksud ucapan Raisa dengan ragu mengambil ponselnya di sakunya. Sebelum memberikannya, Diki bertanya sekali lagi "Mau kamu apakan ponselku ini?" Diki menunjukkannya pada Raisa.
"Buka kunci layarnya!"
Diki yang mematung seakan masih belum mencerna apa yang diinginkan Raisa dengan ponselnya langsung nurut begitu saja membuka kode layar ponselnya yang terkunci lalu menyerahkan ponselnya.
Raisa yang tidak sabar merambetnya langsung dari tangan Diki kemudian jarinya dengan lincah mengetik sesuatu. Setelah dirasa selesai, ia pun mengembalikan ponsel itu pada Diki
__ADS_1
"Nih, no hp ku sudah tersimpan di kontakmu. Jadi kita bicara lewat hp saja. Sekarang udah malam, nggak enak seorang pria lajang sepertimu mengunjungi wanita dan mengobrol di sini. Aku nggak suka ada gosip baru karena aku ini penghuni baru di sini nggak mau punya masalah."
BRUGH
Baru saja Raisa menyingkirkan kaki Dicky yang masih menyanggah pintunya dan langsung menutup pintu serta menguncinya. Tindakan yang dilakukan Raisa membuat Diki tercengang dan dia masih mematung. Mungkin karena Diki yang masih emosi tadi jadinya ia tidak bisa berpikir jernih dan tidak kepikiran sejauh itu. Ucapan Raisa barusan menyadarkannya.
Akhirnya Diki melangkah pulang, ada benarnya juga apa yang dikatakan Raisa. Meski terkadang Raisa menyebalkan di mata Diki, tetapi ada sifatnya yang bikin Diki terpana.
Dengan santai Diki membuka layar ponselnya tetapi perasaan gelisahnya belum sirna sebelum bisa bicara dengan Raisa mengenai orang tuanya yang memaksa menikahinya secara tiba-tiba sedangkan baru minggu kemarin dia bertemu bahkan mengenalnya pun belum. Dicky ingin Raisa membujuk orang tuanya agar membatalkan niat pernikahan di antara mereka.
"Gadis itu benar-benar ingin mempermainkanku katanya bicara lewat hp tapi apa buktinya. Telpon dariku tak diangkat dan chat yang ku kirim belum juga di read. Apa dia langsung tertidur lagi?" Jari Diki sibuk mengulir layar ponselnya. Atensinya hanya tertuju pada satu nama di kontaknya, Raisa.
Di tempat lain, Raisa sudah mengganti mode dering ponselnya ke mode sunyi agar tak berisik. Ia sudah menebak Diki kan terus menghubunginya tanpa henti. Raisa tak peduli. Hari esok kan masih ada untuk bertemu dan membahasnya tanpa harus memaksakan diri pada waktu yang kurang tepat. Baginya malam ini adalah waktunya beristirahat. Dan Raisa kembali menuju ke alam mimpinya.
Sementara Raisa tertidur nyenyak lain halnya dengan Diki yang masih terjaga, ia sulit memejamkan matanya jika otaknya masih dipenuhi pikiran yang menghinggapinya. Seorang gadis yang tak dikenal langsung menyeruak masuk begitu saja bukan hanya berani masuk ke halaman rumah Diki tempo hari tetapi juga sudah ke kehidupan pribadi Diki. Dialah Raisa, siapa lagi.
Isi kepala Diki yang masih dipenuhi seputaran tentang Raisa yang membuatnya tidak bisa tidur. Diki tak mengerti ada apa dengannya karena sebelumnya belum pernah ada wanita yang berhasil mengganggu pikirannya. Gemas rasanya jika belum menyelesaikannya, Diki tak sabar menunggu esok pagi untuk menemui Raisa.
"Baiklah Raisa, besok aku akan buat perhitungan denganmu dan akan memaksamu menemui orang tuaku dan segera membatalkan rencana pernikahan kita"
"Siapa dirimu yang sebenarnya Raisa?"
Pandangan Diki tak teralihkan, ia yang terus fokus pada photo profil Raisa di WA-nya.
---
__ADS_1
---
Bersambung...