
Raisa menyiapkan sarapan, pagi ini sebelum berangkat kerja semua pekerjaan rumah sudah selesai ia kerjakan.
Diki menuju meja makan, pertama kalinya ia merasakan rumahnya ada yang mengurus. Sedikit tertegun melihat semua rumah beres di pagi hari. Biasanya Diki akan melakukannya setelah pulang kerja, pagi hari ia akan berjogging sebelum berangkat kerja. Belum lagi Diki jarang sarapan di rumah, ia memilih membeli makanan di luar. Kini kehadiran Raisa membuat suasana rumah Diki terasa berbeda.
"Aku sudah siapkan sarapan untukmu" Raisa menebar senyum pada Diki.
"Ayo, kita makan!" ajak Diki, sikapnya kaku. Entah mungkin masih malu.
"Sepertinya kita searah, hari ini boleh kan aku berangkat bareng?"
Maksud Raisa, ia ingin menumpang di mobil Diki yah selain menghemat ongkos tentunya juga bisa menghemat waktu. Dengan tatapan berbinar Raisa meninggikan harapannya.
"Haruskah kita setiap hari bersama? Di rumah bahkan kita keluar berangkat kerja bersama?"
"Eh? Maksudmu kamu nggak mau memberiku tumpangan? Padahal aku sudah berbaik hati loh pagi ini" ucap Raisa melemah.
Percaya diri Raisa jadi memudar ketika ia mendengar itu. Bukankah sekarang status mereka suami istri? Raisa tak habis pikir apakah ada kepribadian Diki lainnya yaitu kikir? Raisa masih mencerna ucapan Diki.
"Setiap hari aku butuh energi, jadi tidak ada yang gratis dengan menumpang di mobilku setiap hari. Buatkan aku makanan sebagai gantinya"
"Oh..." hampir saja Raisa berprasangka. Diki ini tipe yang belibet, Raisa kesal jadinya kenapa tidak bicara ke intinya dari tadi. "Baiklah hanya itu, akan aku lakukan"
"Ini kartu debit, peganglah untuk kebutuhan rumah dan tentunya untuk membeli bahan makanan pakai dengan ini. Aku tidak mau jika harus memakai uangmu" Setelah itu Diki beranjak.
Sejenak Raisa diam, masih belum memahami sifat Diki. Raisa sulit memahaminya. Tanpa pikir panjang diambilnya kartu itu lalu diselipkan di dompetnya.
"Baiklah, kalau itu mau mu akan aku ikuti"
****
"Selamat pagi, Pak" sapa Raisa pada Haris.
"Loh Raisa kok udah masuk, aku pikir kamu masih berlibur"
"Aku kan karyawan baru pak belum punya cuti tahunan"
"Iya, juga. Padahal sayang sekali" Sebenarnya Haris sudah tidak sabar ingin meledek Diki. Dia kan pengantin baru, bisa-bisanya masih memikirkan mencari uang. Kenapa tidak menikmati dulu, Haris terkekeh dalam hati.
"Maaf, Pak ada sedikit masalah" seseorang melapor pada Haris, dialah Zaura bagian dari process engineering departemen.
"Masalah apa?"
"Laporan minggu ini hampir 30% produk rework, kita bersama team QC sudah mengeceknya"
__ADS_1
"Apakah ada produk yang reject?"
"10% dari total produksi, jadi itu agak menghambat proses produksi di lapangan, Pak"
"Mana datanya?"
Zaura menyerahkan berkas itu padanya, laporan hasil produksi dan proses produksi. Ini berita kurang baik bagi Haris, bagaimana bisa ia akan mengirim produknya ke perusahaan Diki jika produknya memiliki kualitas yang menurun.
"Siapa supplier yang bertanggung jawab?"
"PT. Sejahtera teknik"
"Apakah dia satu-satunya yang mensupply partnya ke kita? Pasti ada yang lainnya, coba cari alternatif perusahaan yang memiliki kualitas baik"
"PT. Jaya Makmur Teknik"
Raisa tercengang mendengar nama perusahaan yang tidak asing di telinganya. Apakah itu adalah perusahaan bekas tempatnya bekerja? Raisa memasang telinganya ingin tahu.
"Ok, sebentar lagi produk baru PT. Golden Life memasuki tahap masspro kita tidak mungkin mengirim produk yang berkualitas rendah dan juga tidak punya banyak waktu jika produk banyak yang rework bisa melewati target waktu yang dijanjikan. Jadi kita harus pilih subcont PT. Jaya Makmur Teknik" ujar Haris sambil memeriksa berkas di tangannya
"Cepat urus ke bagian Purchasing Department!" titah Haris.
"Siap, Pak" Zaura menyingkir dari hadapan Haris, ia bergegas melaksanakan perintahnya.
"Kamu kan bagian QA vendor, tangani material part yang akan dikirim dari PT. Jaya Makmur Teknik. Coba kamu ke sana untuk mengecek dan memastikan kualitasnya"
"A-aku Pak?" Raisa terkejut mendengarnya, ia tidak menyangka jika pekerjaannya sekarang akan menghubungkan Raisa kembali pada Irfan. Tidak mungkin juga Raisa menolak perintah Haris.
Haris memicingkan matanya, melihat wajah Raisa yang pucat. "Kenapa? Apa ada masalah?"
"Ah...eh...nggak"
"Sekarang kamu ke sana nanti akan ditemani Fitri-staff purchasing"
'GAWAT! Baru juga kemarin aku ketemu Irfan sekarang mau tidak mau aku disuruh ke sana, semoga aja nggak ketemu dia' Raisa dilema.
"Pak Jaka, sudah menunggu di parkiran. Apa Bu Raisa udah siap?" tanya Fitri.
"Iya, sebentar. Aku mau rapihin berkas yang mau dibawa. Kamu duluan aja, nanti aku menyusul"
Sepanjang perjalanan, hati Raisa tak karuan membayangkan pertemuannya dengan Irfan lagi. Sungguh suatu kebetulan. Raisa harus bersikap profesional, ini pekerjaan barunya.
****
__ADS_1
Raisa dan Fitri langsung turun ke lapangan menemui Pak Riki-kepala staff QC. Raisa dan Fitri melakukan audit tentang material part yang akan dikirim ke perusahaannya.
Irfan mendengar kabar dari Haris tentang order yang akan diterimanya jadi full, Irfan menyambut gembira kabar tersebut.
Untuk memastikannya Irfan mengeceknya ke lapangan karena ia tahu Haris mengirim dua orang anak buahnya untuk audit.
Irfan menghampiri kerumunan orang yang sedang berkeliling. Irfan menduga itu mereka yang sedang audit. Irfan belum menyadari salah satu diantaranya adalah Raisa.
"Bagaimana hasilnya? Apakah kualitasnya sudah sesuai standar ISO?" ucap Irfan yang posisinya kini di belakang Raisa dan Fitri.
Menyadari ada orang yang berbicara, sontak Raisa dan Fitri berbalik.
Irfan melebarkan matanya, keberuntungan kembali padanya ia dipertemukan kembali dengan Raisa. Terpaku sesaat sebelum akhirnya Irfan mencoba bersikap bijak untuk tidak membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan.
Irfan menebar senyuman, Raisa yang melihatnya merasa ada arti tersembunyi dari senyuman Irfan.
Padahal sepanjang jalan Raisa terus berdoa dengan sangat berharap untuk tidak bertemu Irfan tapi sayang ujian sedang dihadapkan padanya.
Raisa tak berkutik. Ia lebih memilih diam.
"Selamat siang Pak irfan. Kita berdua yang ditugaskan oleh Pak Haris, aku Fitri dan di sebelah adalah Bu Raisa" Fitri memperkenalkan diri.
"Bagaimana setelah selesai dari sini kita adakan rapat untuk membahas hasil audit ini?"
"Maaf, Pak. Tapi perlu konfirmasi dengan Pak Haris agar ia juga tahu. Jadi kemungkinan aku harus menghubungi Pak Haris terlebih dahulu. Rapatnya ditunda dulu sampai ada keputusan dari Pak Haris" jelas Raisa.
Raisa mencari alasan untuk tidak berlama-lama di perusahaan Irfan. Jantungnya terus berdetak penuh kecemasan. Bibirnya yang gemetar berusaha untuk bicara dengan tenang.
"Baiklah, aku akan menunggu kesempatan itu" Irfan terus menatap Raisa, tak sedikitpun ada niatan untuk mengalihkan pandangannya.
Raisa menunduk, dirinya begitu khawatir Irfan akan membuat kesempatan agar bisa bicara berdua dengannya. Bukankah Diki sudah mempertegas statusnya bahkan cincin yang melingkar di jari manis Raisa adalah bukti nyata. Jadi seharusnya tak ada alasan Irfan mengganggunya.
"Kalau begitu kita pamit untuk kembali, Pak" ucap Fitri serentak dengan Raisa, tugas telah selesai dikerjakan.
"Tunggu! Aku perlu nomor yang bisa dihubungi mengenai masalah ini" Irfan menahan kepergian Fitri dan Raisa.
'Si*lan si Irfan ini, bisa aja dia bikin alasan, dia pasti tahu nomornya sudah aku blokir' umpat Raisa.
----
----
Bersambung...
__ADS_1