MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 59. TINDAKAN TEDI


__ADS_3

Tampang Tedi sangar, cukup melihat dari penampilannya saja jelas dia seorang gangster dengan banyak aksesoris yang menempel di tubuhnya.


Sorot tajam mata Tedi menyimpan kengerian dan kekejaman. Dia pria yang tidak bisa menolerir kesalahan. Bahkan anak buahnya tahu, Tedi akan memilih bertindak brutal untuk menyelesaikan permasalahannya.


"Saya belum tahu, Bos. Tapi nanti akan saya selidiki lagi"


Tedi yang langsung berdiri tak bisa menyimpan amarah. Rahangnya mengeras. Salah satu tangannya melempar puntung rokok secara sembarang. Hari ini berita buruk yang di dengarnya membuat Tedi mengepalkan kedua tangannya dan hampir melepar segelas wine di mejanya.


Sekali gebrakan di meja yang dilakukannya sudah cukup memberikan aroma ketakutan bagi anak buahnya.


"Berani sekali wanita itu berurusan denganku. Dia tidak tahu siapa aku?" geram Tedi dengan mata yang menyala. "Pastikan mereka yang ditahan tidak buka mulut, aku ingin kamu membereskannya." Telunjuknya menunjuk dengan tegas.


Setelah itu anak buahnya menyingkir dari hadapan Tedi. Perintah yang tidak bisa dianggap sepele, seolah seseorang tengah mencubitnya hingga Tedi tersinggung dan marah. Tanpa menunda waktu lama, anak buah Tedi mulai menyelidiki wanita yang sudah berani mengusik Tedi.


Sementara di tempat lain, seorang wanita paruh baya berterima kasih banyak pada Raisa. Matanya bersinar dan wajahnya dipenuhi kelegaan karena Raisa telah membantunya menjebloskan anak buah Tedi yang meresahkan.


Raisa telah mengungkap kejahatan anak buah Tedi, dengan bukti cctv yang ia pasang sendiri lalu melaporkan hasil bukti yang diperolehnya ke pihak polisi. Tak lama setelah itu pihak polisi melakukan penggrebekkan dan penangkapan terhadap anak buah Tedi.


Tindakan Raisa yang begitu berani mengundang kemarahan hingga Tedi mulai mencari informasi tentangnya. Sedangkan Diki tidak tahu apa yang sudah dilakukan Raisa di belakangnya.


Tidak butuh waktu lama, seseorang yang ditugaskan Tedi untuk mencari wanita yang telah lancang menjebloskan anak buahnya, kini berhasil diungkapnya. Dia pun menyebut nama Raisa. Kemudian Tedi mulai merencanakan sesuatu untuk memberi pelajaran pada Raisa.


Tedi tidak mau bisnis yang selama ini digelutinya hancur. Juga ia tidak mau pemimpin the Black Jack mengetahui kecerobohan anak buahnya karena hal itu akan berakibat fatal pada dirinya.


Rencana yang telah disusun siap untuk dieksekusi. Anak buah Tedi sudah mengetahui posisi Raisa, mereka tinggal bertindak sesuai rencana.


Sebuah ruangan hanya memancarkan sorot cahaya lampu yang redup, di sana Tedi duduk dengan tenang sambil menunggu hasilnya. Jarinya dengan lincah memainkan cerutu. Mendadak aura gelap memenuhi ruangan. Kilatan melintas di matanya sambil menyeringai.


*****


Di sela waktunya yang sempit, Diki membuka ponsel. Dia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Raisa dan juga ada satu chat yang masuk.


Ini mengejutkan, Raisa memberitahu bahwa ia sedang ke luar kota karena pekerjaan. Diki mencoba menghubungi Raisa balik tetapi sayangnya tak ada respon untuk menjawab telpon darinya. Diki mulai gusar.


Kegelisahannya makin bertambah dikala Rio masuk ke ruangannya memberi informasi penting. "Anak buah Tedi ditahan, Pak" ujarnya tanpa basa basi.

__ADS_1


"Maksudmu kemungkinan ada hubungannya dengan Raisa?"


"Saya tidak bisa menebaknya, hanya ingin memberitahu anda, siapa tahu informasi ini penting untuk anda ketahui. Meski kita sudah menyelesaikan masalah dengan mereka. Anda lah yang berhak menilai."


Diki memahami maksud informasi yang diberikan Rio.


Sejenak Diki berpikir, ia ingat baru saja Raisa memberitahunya sedang ditugaskan ke luar kota, itu artinya Raisa berada jauh dalam jangkauannya. Jika benar Raisa terlibat cukup jauh mengusik Tedi, tentu kini Raisa sedang dalam bahaya. Karena Diki tahu sepak terjang anggota The Black Jack dalam menangani masalah, mereka tak segan-segan akan mengincar dan mencari seseorang yang berkaitan masalah dengan mereka.


Diki melihat jam di tangannya, ia memperkirakan waktu untuk sampai ke tempat Raisa. "Perjalanan menuju PT. Teknik Maju perkiraan dua jam, aku masih ada waktu sedikit untuk menyelesaikan pekerjaanku. Setelah ini kita berangkat ke sana"


Rio mengangguk dan mengikuti perintah Diki.


Kemudian Diki menyelesaikan pekerjaannya jauh lebih cepat dari perkiraan. Diliputi rasa penasaran, sekali lagi Diki mencoba menghubungi Raisa tapi sayang tetap tidak diangkat.


Disibukkan dengan aktivitas audit, Raisa sampai lupa ponselnya tadi dia silent karena takut mengganggu pekerjaan. Setelah melakukan pekerjaan, Raisa membuka ponselnya, ternyata ada balasan dari Diki. Rupanya Diki juga menelpon balik.


Dalam suasana hati yang baik, Raisa segera menelpon Diki. Ada rindu melintas di hatinya.


"Kamu menelponku tadi? Maaf aku sibuk"


"Aku baru keluar gerbang, kemungkinan perjalanan ke rumah dua jam lebih. Aku langsung pulang ke rumah tidak balik lagi ke perusahaan. Pak Haris memberiku kelonggaran."


Sambil terus menelpon, Rio diperintahkan Diki untuk melacak posisi Raisa melalui GPS. Diki ingin segera menemui Raisa dan memastikan prasangkanya.


"Baguslah,"


"Tapi pastinya aku tidak sempat membuatkan makan malam untukmu."


"Kita bisa makan malam di luar, kamu tidak perlu memaksakan diri."


Raisa tidak percaya Diki bermurah hati padanya. Apakah ini sifatnya yang sebenarnya? Dibalik wajah dingin dan tingkahnya yang angkuh, Raisa baru menemukan sosok yang hangat pada Diki.


"Ok, sampai ketemu nanti di rumah, Suamiku" Lalu diakhiri dengan sebuah kecupan jauh. Terdengar jelas di telinga Diki suara manja Raisa membuatnya bergetar.


Diki yang masih terpaku dengan wajah memerah dikejutkan oleh Rio. "Pak, aku sudah menemukan lokasinya,"

__ADS_1


"Ah iya, kita segera ke sana"


*****


Dengan segala kemampuan dalam pengalaman mencari target, anak buah Tedi berhasil menemukan Raisa lalu siap menghadangnya di jalan.


Tidak ada yang bisa menebak hari buruk yang datang. Itulah yang sedang dialami Raisa. Dia tidak sadar di belakang mobil yang tengah ditumpanginya, ada mobil lain diam-diam mengikutinya dari belakang menunggu momen yang tepat untuk melakukan aksinya tapi tidak di tempat terbuka.


Mobil itu berjalan menelusuri jalan panjang yang di kanan kirinya hamparan sawah yang membentang indah. Mereka harus melewati jalan itu dan jarak untuk bertemu dengan pemukiman warga dan jalan besar butuh waktu sekitar 40 menit perjalanan. Inilah yang dimanfaatkan anak buah Tedi melakukan aksinya.


Driver yang membawa Raisa dan Fitri terkejut. Ada mobil berhenti tiba-tiba di depannya seakan sedang menghadang karena tidak memberinya jalan.


Lalu...


DUAK...DUAK...DUAK...


Sebuah benda keras terus dihantamkan ke kaca mobil secara bertubi-tubi. Beberapa pria dengan penutup wajah dan berbadan besar melakukan aksinya secara brutal.


Raisa dan Fitri berteriak ketakutan begitu juga sang driver, dia sebagai seorang pria tak mampu berbuat apa-apa.


Berkali-kali mereka berteriak minta tolong tapi ada satupun yang mampu menghentikan aksi anak buah Tedi yang menyerang secara membabi buta. Akhirnya dengan tangan bergetar, Raisa mencoba menelpon Diki. Meski kemungkinannya kecil, Raisa terus berusaha semaksimal mungkin agar keluar dari situasi yang mengerikan ini.


Ponsel Raisa terlempar tiba-tiba, ia tidak sempat untuk menelpon Diki.


"Ah....!!! Bu Raisa anda berdarah...!" teriak Fitri yang histeris melihat kondisi Raisa.


-----


-----


Bersambung...


Jangan lupa klik tombol subscribe, like dan vote yah biar author semangat menulisnya. Akan ada banyak kejutan pada setiap alur cerita di tiap babnya.


Terima kasih kepada para readers.

__ADS_1


__ADS_2