
Pagi hari.
Emilia mencoba menelpon Diki, sayangnya tak ada jawaban. Sebuah info penting yang harus segera Emilia kabarkan pada Diki. Karena berkali-kali Diki tak mengangkat panggilan telepon darinya, Emilia berinisiatif menelpon Rio.
"Rio... Rio... !"
"Iya, aku dengar. Kenapa menelponku pagi-pagi sekali?" Rio yang masih bergumul di dalam selimut, menunjukkan wajah kesalnya. Matanya masih belum sepenuhnya terbuka.
"Hendrik sudah tiba, dia sedang mencari Diki."
Rio bergegas bangun, penampilan rambut dan piyamanya masih tidak beraturan. Dia jelas terkejut sekaligus panik.
Gawat!
"Apakah Dokter tahu dimana posisinya sekarang?"
"Maaf aku tidak tahu. Saat tengah malam, aku diminta menghadiri pertemuan dengan semua anggota. Sayangnya, Hendrik tidak memberitahu apapun rencana dia akan menetap dimana." Emilia menjelaskan tanpa daya.
Meski Emilia masih salah satu anggota yang aktif, tetapi sulit baginya untuk memberitahukan tentang pembicaraan rahasia pertemuan anggota, pada Diki ataupun Rio. Hendrik terlalu mengerikan, untuk mencampuri urusannya dengannya. Hanya saja, demi janji pada Diki, Emilia merasa perlu memberitahunya mengenai kedatangan Hendrik sebagai bentuk kesepakatan di antara mereka.
Hendrik adalah orang yang hati-hati dan teliti. Dia bukan orang yang ceroboh. Oleh sebab itu, dialah yang paling dipercaya oleh kakek Diki. Ucapan Hendrik sama dengan ucapan kakek Diki.
Dipenuhi kecemasan di wajah Rio, tanpa aba-aba dia menutup telepon lalu dia bersiap untuk bergegas menuju ke kediaman Diki.
Begitu Rio sampai di rumah Diki, dia langsung menemui Diki. "Maaf, Pak. Aku datang pagi-pagi sekali karena ada urusan mendesak yang harus aku beritahu." Rio memberi kode, bahwa hal yang ingin dia katakan sangat rahasia. Diki yang memahami Rio, langsung menanggapi.
"Oke, kita langsung saja berangkat." Sebelum masuk ke mobil, Diki pamit pada Raisa. "Raisa, aku berangkat dulu. Maaf tidak bisa menunggu kedatangan ART baru. Nanti dia akan datang, mungkin sebentar lagi," ujar Diki berbalik menghadap Raisa yang tengah berdiri di pintu.
Mendengar itu, Raisa mengerti Diki sibuk karena pekerjaannya. Raisa pun hanya mengangguk.
__ADS_1
Diki menghampiri Raisa lalu dia mengecup dahi Raisa secara reflek. Tentu saja Raisa merasa dikejutkan akan hal itu, hingga Raisa tersipu.
Rio yang memandang keromantisan mereka berdua, dia terlihat seperti nyamuk. Rio hanya bisa menghela napas.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu? Iri?" ujar Diki seolah mengejek Rio, saat Diki membuka pintu mobil, dirinya tertahan oleh pandangan Rio.
"Tentu saja saya tidak iri, saya bersyukur Anda memiliki pasangan, Pak. Yah, setidaknya ini mematahkan asumsi publik yang mengira kita adalah rainbow."
"Rainbow?" Diki melebarkan matanya, "Hah! Segeralah juga kau punya pasangan. Sekian tahun kita melewati hari-hari selalu bersama, itu yang menyebabkan asumsi publik begitu. Aku ini pria normal." Diki baru tahu, asumsi publik tedengar mengerikan yang menilai dia begitu, hanya karena status singlenya yang terlalu lama dan selalu bersama Rio.
'Aku sudah lama putus dengan kekasihku gara-gara kesibukanku. Anda tidak akan mengerti itu, Pak. Waktu kencanku hilang. Sekarang Anda meminta aku mencari pasangan? Seharusnya sudah aku lakukan sejak lama,' gumam Rio sambil menertawai kemalangannya sendiri di dalam hati, dia tidak bisa mengeluh di depan Diki. Atasannya itu memang tidak peka.
Mereka memang akrab satu sama lainnya, terkadang tingkah mereka menunjukkan bahwa mereka bukan sekedar atasan dan bawahan tetapi teman dekat.
Kemudian Diki dan Rio berangkat bersama.
Selang beberapa waktu, tidak lama ART baru datang. Dia memperkenalkan diri, "Maaf, Nyonya. Aku adalah orang yang ditugaskan Tuan bekerja di sini. Panggil saja aku Bik Surni," ucap seorang wanita paruh baya dengan penampilan sederhana.
"Iya, Nyonya."
Begitu Raisa berbalik, dia melihat handphone Diki yang tertinggal di meja. Kemungkinan karena Diki terburu-buru. Raisa mengambil handphone itu dan berniat menyimpannya di kamar.
Raisa tak sengaja melihat notifikasi yang muncul di layar handphone Diki. Terlihat ada lima panggilan telepon tak terjawab dari Emilia. Raisa terkejut saat mengetahuinya. Pikirannya terus dipenuhi rasa penasaran dan curiga. Padahal baru saja hubungannya membaik dengan Diki semalam. Hati Raisa mulai diliputi rasa tak tenang.
*******
"Tadi pagi, dokter Emilia menelponku. Apakah dia menelpon Anda juga, Pak?"
"Aku belum mengecek handphoneku," Diki baru menyadari bahwa handphonenya tak ada setelah mencari. "Astaga, sepertinya handphoneku tertinggal di rumah."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana? Apa harus putar balik, mengambilnya di rumah?"
"Tidak perlu, bisa memakan waktu. Lalu hal apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Dokter Emilia memberitahuku, Hendrik sedang mencari Anda, Pak. Dia sudah berada di kota ini. Semalam dokter Emilia mengadakan pertemuan dengan anggota lainnya." Rio menjelaskan sambil menyetir.
"Aku harus menemuinya sebelum dia datang ke kantorku. Apa kau tahu dimana posisi dia sekarang?"
"Maaf, Pak. Dokter Emilia tidak memberitahuku,"
Kemudian mereka sampai di perusahaan, sesuatu yang tidak terduga, mereka disambut oleh Hendrik. Ini memang mengejutkan karena lebih cepat dari perkiraan. Suasana ruangan berubah tegang.
Hendrik sedang duduk dengan tenang dan penuh wibawa namun tanpa ekspresi. Kesan pertama saat melihat penampilan Hendrik, dia memiliki aura pria dingin yang kejam. Usianya sama dengan Diki namun Hendrik terlihat lebih matang dan dewasa dari usianya. Sekian tahun dipercaya oleh kakek Diki menyebabkan sifat Hendrik seolah replika dari kakek Diki.
Rio yang sedari bersama Diki, dia dengan sadar diri keluar ruangan. Karena Rio tahu, ini bukan ranah dia untuk ikut campur.
Saat ini di ruangan hanya tersisa Hendrik dan Diki. Rio berada di luar ruangan sambil berjaga, mengantisipasi bilamana ada orang yang memiliki keperluan, Rio siap menghalanginya karena pembicaraan Hendrik dan Diki sangat rahasia.
"Dengan kemampuanmu, tidak heran terlalu mudah bagimu menemukanku." Diki tersenyum sarkastik. Tak ada niat menyambutnya dengan ramah. Aura permusuhan menyelimuti mereka.
"Terima kasih, aku merasa tersanjung." Hendrik kemudian berdiri, dia bersikap menghormati Diki, "Sepertinya Anda sudah menebak kehadiranku di sini."
"Tidak perlu basa basi, jelaskan saja apa yang diinginkan kakekku! Kamu tidak mungkin datang tanpa tujuan." Diki menyorot tajam ke arah Hendrik, sikapnya dengan jelas tidak menyukai Hendrik sejak lama. Hendrik selalu ikut campur seolah mengatasnamakan kakeknya. Itulah yang menyebabkan Diki tidak menyukai Hendrik. Bagi Diki, Hendrik adalah pria misterius yang perlu diwaspadainya.
Hendrik tersenyum tipis dan bersikap setenang air ketika berhadapan dengan Diki tetapi dibalik sikapnya itu, dia memiliki ekspresi misterius yang sulit ditebak. Emosinya tersimpan dengan baik.
"Ketua menginginkan Anda kembali, kekacauan kecil yang dilakukan istri Anda sudah terdengar sampai ke telinga Ketua. Bukankah itu artinya takdir Anda adalah bergabung kembali." Hendrik semakin melebarkan senyumannya dengan tangan terbuka.
----
__ADS_1
----
Bersambung...