
"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" Emilia tidak percaya bahwa akan datang suatu momen Diki meminta bertemu dengannya, secara rahasia lagi. Kejutan di pagi hari yang indah.
"Dimana kita bisa bicara?"
Diki terlihat sangat serius sambil sesekali memainkan arloji di pergelangan tangannya. Penampilan Diki mencerminkan seorang excecutive muda. Tubuhnya yang tegap memancarkan aura pesona pria dewasa dengan rambut tertata rapi.
Berkali-kali bertemu Diki, Emilia tidak akan pernah bosan melihat penampilan Diki yang seperti berkilau di matanya.
"Bagaimana kalau di ruanganku? Orang lain tidak akan curiga. Lagipula ruanganku tidak ada cctv."
"Oke, aku setuju."
Mereka berjalan menuju ruangan praktek Emilia. Meski mereka sangat berhati-hati dalam bertindak, tetapi seseorang di belakang mereka tengah mengintai dan mencium langkah mereka.
Di ruang praktek Dr. Emilia.
"Si–silakan duduk!" ucap Emilia agak gugup, tetapi dia berusaha menutupinya. Belum pernah sekalipun dia berbicara berdua dengan Diki. Ini sangat mengejutkannya.
"Aku hanya punya sedikit waktu luang, maaf meminta waktumu sebentar." Diki masih berdiri, dia enggan untuk duduk karena tidak mau terlalu lama di ruangan berdua dengan Emilia.
"Tidak masalah." Emilia terus menatap Diki tanpa berkedip, hatinya masih merasakan debaran cinta. Meski sudah berjanji untuk move on, tetap saja bagi Emilia tidak mudah melupakan perasaannya sebelum dia menemukan pria dambaan lain selain Diki.
"Langsung ke intinya saja, ini mengenai Hendrik. Aku mendapat info dari Rio dan dia bilang kamu yang memberitahunya. Aku hanya ingin memastikan kamu bicara jujur."
Emilia bersandar sedikit pada tepi meja dengan gaya yang anggun. "Ada apa? Apakah itu mengusikmu?" Dengan pandangan yang menyorot dalam ke mata Diki. Pantulan Diki terlihat jelas dari iris Emilia yang cerah.
"Sesuatu hal tidak bisa aku katakan padamu. Dan jika apa yang kamu katakan mengenai kabar Hendrik itu benar, aku butuh bantuanmu. Bagaimana kalau kita bekerjasama?"
"Wow... Tiba-tiba sekali." Emilia menunjukkan senyuman menawannya. "Inikah pria yang dulu selalu bersikap dingin padaku, kini ingin bekerjasama denganku. Sangat mengejutkan..."
Entah itu senang atau bukan, Diki membuat permintaan, yang bahkan dulu sangat mustahil untuk diucapkan sekarang keluar dari mulutnya sendiri. Ini seperti mimpi bagi Emilia.
__ADS_1
"Aku rasa tidak perlu banyak menjelaskan padamu. Karena yang terpenting kita bisa berada di pihak yang sama. Kita buat kesepakatan."
"Bagus, semua kerjasama memang harus dilandasi perjanjian kesepakatan antara kedua belah pihak agar saling menguntungkan." Emilia terlihat senang, wajahnya pun berseri. Siapa yang bisa menduga, hanya karena kedekatannya dengan Hendrik dan Kakek Diki. Emilia bisa lebih tahu dibanding yang lain dan informasi penting itu ternyata menguntungkannya di kemudian hari.
Bertahun-tahun berada di kelompok yang sama, hanya Diki dan Rio yang sulit di dekati. Kedua orang itu seakan memiliki dunianya sendiri dan sulit untuk ditembus oleh orang lain.
Pastinya ini sebuah kesempatan langka. Tanpa banyak pertimbangan tentu saja Emilia akan menyetujuinya langsung. "Katakan apa yang harus aku lakukan!"
"Aku tidak mau Hendrik sampai mengetahui keberadaan Raisa. Aku memintamu untuk menghalangi Hendrik."
Emilia lalu bertanya, "Kamu takut kakekmu akan berbuat sesuatu pada istrimu?"
Diki tidak menjawab, dia khawatir Emilia akan terus menguliknya lebih dalam.
"Baiklah, aku mengerti. Kamu tidak perlu menjawabnya. Aku ini adalah orang yang kakekmu jodohkan denganmu, apa jadinya jika kakekmu tahu kamu sudah menikah dengan orang lain. Dia pasti akan mencari istrimu." Emilia menjelaskan lalu menghela napas, dia kemudian melanjutkan, "Kamu tahu, ini sulit dipercaya. Kamu memintaku menjaga istrimu yang jelas dia adalah saingan cintaku. Hah?!! Pria macam apa dirimu, tak memiliki perasaan. Permintaanmu melukai hatiku."
"Tapi aku percaya, kamu bukanlah orang yang licik." Dengan cepat Diki mengabaikan perasaan Emilia. Sikap itu justru akan membuat Diki merasa lebih baik agar tidak canggung di kemudian hari.
"Kamu memang pria menyebalkan, moodku pagi ini jadi buruk setelah bertemu denganmu." Wajah cerah Emilia seketika berubah. Perasaannya kesal.
"Siip..." Dengan cepat Emilia memberi tanggapan lalu Emilia mengedipkan sebelah matanya, "Aku senang bekerjasama denganmu, nanti akan aku katakan apa yang aku inginkan." ucap Emilia dengan nada manja.
"Baiklah karena kita sudah sepakat, aku percaya padamu akan melakukan apa yang harus kamu lakukan."
Setelah melakukan pembicaraan dengan Emilia, Diki keluar kemudian menghubungi Rio.
"Aku sudah meminta Emilia untuk berada di pihakku. Apapun nanti yang dia ketahui tentang Hendrik, aku harap kamu bisa bekerjasama dengan Emilia."
"Apa aku tidak salah dengar, Pak? Kenapa kita harus bekerjasama dengan Dokter Emilia?" Rio tidak percaya Diki memiliki ide yang tidak masuk akal.
"Sudahlah, ikuti saja. Aku punya beberapa rencana. Urusan kita belum selesai mengenai kasus penyerangan yang dilakukan Tedi. Jika Emilia tidak membantu kita menghalangi Hendrik, bisa jadi Hendrik akan bertindak di luar jangkauanku dan rencanaku akan kacau. Kita harus menyelesaikan masalah satu persatu sebelum masalah lain datang."
__ADS_1
"Oh... aku mengerti, Pak. Anda ingin melindungi istri anda secara diam-diam. Anda tidak ingin Hendrik tahu bahwa istri anda terlibat masalah dengan anak buah The Black Jack." Rio yang telah lama bekerja pada Diki, bisa dengan mudah membaca jalan pikiran Diki.
"Ya, itulah yang aku pikirkan."
Selesai menghubungi Rio, Diki berniat kembali ke ruang rawat Raisa.
Suara sepatu Diki menggema di sepanjang lorong rumah sakit, langkahnya yang panjang dan cepat seolah menggambarkan sosok pria pebisnis yang menghargai waktu. Yah, bagi mereka waktu adalah uang.
Sebelum Diki masuk, seseorang telah lebih dulu menemui Raisa. Dia adalah seorang cleaning service rumah sakit yang tidak sengaja Raisa minta bantuannya dengan sedikit imbalan untuk mengikuti Diki.
"Pria itu pergi ke ruangan dokter Emilia," lapor si cleaning service pada Raisa.
"Dokter Emilia? Kamu yakin?"
Bagai disambar petir, Raisa terkejut mendengar kabar itu yang menyesakkan dadanya. Mendengar nama dokter Emilia, Raisa dipenuhi banyak pertanyaan di benaknya. Ada apa dengan Diki? Haruskah Diki bertemu dokter Emilia secara bersembunyi-sembunyi?
"Tentu saja, saya bisa beritahu tempat ruangan praktek dokter Emilia." ucap si cleaning service.
Raisa tidak tahu kalau dia dirawat di rumah sakit yang sama, tempat dokter Emilia bekerja.
"Ah tidak perlu, terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi, karena harus kembali bekerja lagi," Setelah menerima uang tip, si cleaning service itu pamit, merasa tugasnya telah selesai.
"Ok, baiklah."
Setelah itu, Raisa termenung. Pikirannya kosong, rasa cemburu menelusup di dadanya. Dia mulai gelisah dan tak tenang.
Apakah Diki menyembunyikan sesuatu darinya?
-----
__ADS_1
-----
Bersambung...