
Emilia terhenyak begitu dia mengetahui kebenarannya, dia diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. 'Berarti tempo hari Raisa di rumah sakit, dia telah diserang seseorang?' Emilia kini mengerti.
Hendrik yang merasa di atas angin, bertindak ingin menghibur Emilia. "Jangan terlalu memikirkan perkataanku, itu hanya–"
Emilia menyela dan berkata, "Aku mengerti, itu keputusan yang bagus." Ucapan itu ditujukan pada Diki yang terdengar mendukung keputusan Diki untuk kembali meskipun alasan yang mendasarinya telah melukai perasaan Emilia.
Ada apa dengan raut wajah Emiilia yang tidak terlihat marah ataupun kesal?
Hendrik menatap Emilia yang sedang memandang ke arah Diki namun Diki terlihat bersikap acuh tak acuh. Diki fokus melihat layar monitor di laptopnya dan memegang berkas di tangan satunya. Diki memang orang yang serius dalam bekerja. Sikap dingin Diki terhadap Emilia masih sama sejak dulu sebelum dan sesudah menikah.
Hendrik terlihat seperti lelucon di antara mereka. Dia ingin menertawai dirinya sendiri. Sebenarnya Hendrik ingin mencoba menyadarkan Emilia bahwa pria yang dicintainya sudah memiliki seorang wanita di hatinya namun sikap Emilia nampak tegar dan tidak mempermasalahkan itu. Kecemburuan merasuk di dada Hendrik. Kekesalan melintas dari sorot matanya. Kemudian Hendrik mencoba untuk tetap terlihat tenang dan menekan emosinya. Bagaimanapun dia ingin menjaga imagenya di mata Emilia.
Hendrik berpikir, dia masih saja kalah saing dibanding Diki. Berapa kali pun dia berusaha, Diki selalu menjadi sorotan sedangkan dia seolah tidak terlihat.
Di tengah rapat, suara notice dari handphone Diki terdengar, yang seketika menghentikan aktivitasnya. Ternyata ada chat dari Raisa.
Isi chatnya, [Kapan kamu pulang?]
Diki tersenyum dengan samar, sorot matanya cerah setelah membuka layar handphonenya. Tingkah Diki menarik perhatian orang di sekitarnya. Diki terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta. Wajahnya kemerahan yang nampak bahagia.
Semua orang menebak, itu pasti dari seorang wanita. Wanita mana yang mampu merubah ekspresi Diki yang biasa dingin menjadi hangat? Apakah itu dari istrinya? Luar biasa!
'Jadi itukah alasan Diki kembali?' Hendrik bisa membaca raut wajah Diki yang mencintai istrinya.
Kemudian Diki mengetik untuk membalasnya, [Kenapa? Baru sebentar, kamu sudah merindukanku, padahal sebelum pergi aku sudah menyenangkanmu.]
Diki sengaja iseng untuk menggoda Raisa.
Dan balasan chat berikutnya dari Raisa, [Kamu tidak pulang juga tidak masalah, aku hanya bertanya, karena takut kamu akan membangunkanku untuk membukakan pintu.]
Setelah membaca chat balasan dari Raisa, terbayang di benak Diki, wajah malu dan salah tingkah Raisa yang menggemaskan. Diki tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum sendiri.
[Kemungkinan sampai dini hari baru pulang, aku membawa kunci cadangan jadi kau tidur duluan saja. Aku tidak akan membangunkanmu untuk membukakan pintu.]
Selesai mengakhiri chat dengan Raisa, kemudian dengan cepat ekspresi Diki kembali berubah. Dia tahu semua orang sedang memperhatikannya.
"Oke, kita lanjutkan pembahasan yang tadi."
Hebat sekali wanita yang mampu menaklukan Diki yang terkenal dingin dan angkuh menjadi sosok yang seketika berubah. Perubahan ekspresi itu adalah yang pertama kali terlihat.
__ADS_1
Emilia akhirnya tersadar, dia memang tidak akan pernah bisa menggapai Diki karena Diki memang sudah memiliki seseorang di hatinya yang tak akan terganti. Meski dadanya terasa sesak dan hatinya begitu sakit, dia mencoba bersikap profesional.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari, rapat pun selesai.
Diki dan Rio pergi meninggalkan ruangan. Emilia ingin menahan mereka pergi, "Tunggu sebentar!" Dan tak sengaja Emilia menarik lengan Rio yang terluka. Rio terlihat meringis menahan sakit.
Emilia secara reflek menarik tangannya lagi, dia langsung bertanya tanpa basa basi. "Rio, kamu terluka?"
Mendengar perkataan Emilia, semua mata tertuju pada Rio terutama Diki.
Rio pun menggeleng dan menolak untuk diperhatikan.
Sebagai seorang dokter, nurani Emilia terpanggil. "Coba aku periksa!"
Kebaikan Emilia yang tidak memandang bulu status orang inilah yang membuat Hendrik jatuh hati. Emilia wanita tulus namun harus memiliki cinta yang bertepuk sebelah tangan. Hendrik menyayangkan bahwa wanita seperti Emilia disia-siakan oleh Diki.
"Rio, apakah sesuatu telah terjadi padamu? Katakan padaku!" Diki menginterogasi.
"Pak Diki, Anda terlalu berlebihan lagipula aku hanya terkilir saat terjatuh."
Karena Diki yang sudah mengenal sifat Rio, dia pun mengajaknya pergi. "Oke, kita pulang sekarang. Emilia, kamu juga jangan berlebihan, kau dengar 'kan? Rio bilang, dia hanya terkilir." Diki tahu Rio adalah orang yang tertutup, nanti dia akan menanyakannya sendiri di saat tidak ada orang lain.
Diki dan Rio dengan cepat menghilang dari pandangan, kemudian Emilia menyusul juga pergi meninggalkan ruangan. Hendrik menyusul dan mencoba menyeimbangkan langkah Emilia yang cepat.
"Sikap Diki masih saja sama." Hendrik berkata pada Emilia.
"Iya aku tahu, dia sudah menikah lagipula aku tahu diri dan tidak akan bermain api." Emilia malas menanggapi Hendrik.
"Apakah itu artinya kamu akan memberiku kesempatan?" Sudah sejak lama Hendrik menyukai Emilia tetapi selalu saja perasaannya ditolak mentah-mentah.
Emilia diam tak memberi jawaban. Dia pergi dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Sikap Emilia juga masih sama yang selalu mengabaikan Hendrik. Ketika melihat Emilia pergi, Hendrik dipenuhi rasa kecewa.
Dalam perjalanan pulang, Diki bertanya pada Rio, "Apakah kamu terluka karena berkelahi saat di pesta?"
"Ya, mereka membawa senjata. Tetapi ini hanya luka kecil."
"Berarti di pesta itu banyak orang yang berbahaya," ucap Diki menarik kesimpulan. "terima kasih kamu sudah melindungi istriku," sambungnya.
Dipenuhi rasa bersalah, Rio malu mengakui bahwa dia lalai melindungi Raisa. Karena malam itu, seseorang membawa Raisa pergi namun entah apa yang terjadi selanjutnya, Rio tidak tahu bagaimana Raisa bisa ada di rumah dengan aman? Ditambah Raisa meminta Rio untuk merahasiakan sesuatu. Ini adalah beban yang menambah rasa bersalah dan pikirannya. Rio menghela napas.
__ADS_1
*****
Pagi hari.
"Apa semalam tidurmu nyenyak?" Diki bertanya sebelum menaiki mobil, dia memerhatikan Raisa yang sejak tadi sarapan tak mau bicara.
"Ya, sampai aku tidak mendengar suara apapun saat kamu pulang." Raisa memasang wajah masam.
"Aku pikir kamu akan menungguku pulang," ujar Diki sambil menyalakan mesin mobil.
"Untuk apa menunggumu? Kamu sudah besar. Terserah kamu mau pergi kemana saja atau kapan saja, aku tidak bisa melarangmu kan?"
"Oh begitu. Ada yang perlu kamu ketahui, mungkin ke depannya aku akan banyak kesibukan dan jarang di rumah." Diki menyembunyikan kesibukannya yang sebenarnya pada Raisa.
Setelah Diki kembali bergabung dengan organisasi, Diki pasti akan banyak menghabiskan waktu di luar. Diki merasa, Raisa harus diberi tahu agar tidak kaget.
Meskipun di lubuk hati Raisa belum bisa menerima, tetapi dia berusaha untuk memahami Diki karena Raisa pikir itulah resiko memiliki suami seorang eunterpreneur. "Aku bisa memahami itu, seorang CEO sepertimu pasti disibukkan dengan pekerjaan di luar jam kerja karena harus mengerahkan segenap jiwa demi kelangsungan perusahaan dan karyawan."
Diki hanya mengiyakan persepsi Raisa.
Ketika mereka akan berangkat, seseorang menghentikan mereka. Dia adalah seorang pria pengantar barang. "Permisi, Pak. Maaf ada paket untuk Anda." Lalu setelah menyerahkan paket, pria itu pergi.
Entah kenapa perasaan Raisa tidak enak.
----
----
Bersambung...
Note :
Hayo, Siapa yang penasaran sama kisah selanjutnya?
Jangan lupa selalu mendukung author yah ?!
Akan ada banyak kejutan di setiap bab nya.
Terima kasih.
__ADS_1
Happy reading !!!