MEREBUT RUMAH WARISAN

MEREBUT RUMAH WARISAN
PART 17. PERNIKAHAN RAISA


__ADS_3

Tante Fatma menemui Diki lagi karena tak ada kabar tentang acara lamaran itu. Tante Fatma penasaran dan ingin menanyakannya langsung.


"Permisi, Pak. Wanita yang waktu itu kini datang lagi" ucap Rio.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Wanita yang mengaku tantenya calon istri anda, Pak"


"Tante Fatma???"


"Mungkin, aku nggak tahu namanya"


"Ya udah suruh dia masuk" titah Diki, 'Ngapain lagi si dia ke sini?' benaknya bertanya.


Dan benar saja tebakan Diki, Tante Fatma datang lagi. Entah ada keperluan apa, yang pasti Diki mulai malas meladeninya kalau ujung-ujungnya urusan uang.


"Tante tunggu kabarnya kok nggak ada sampe sekarang?"


"Acaranya udah dilaksanakan dan besok acara pernikahan kami digelar"


"Yang bener? Mendadak sekali. Kok nggak bilang Tante sih. Raisa juga nggak ngehubungin Tante, apa sengaja nyembunyiin ini dari tantenya sendiri. Dia kan nggak bakalan bisa nikah kalau nggak ada walinya. Dan pamannya adalah wali Raisa yang sah" ucap Tante Fatma panjang lebar, nyerocos terus.


Diki hanya diam mendengarkan, dia orang yang paling malas beradu argumen.


"Terus acaranya dimana?" tanya Tante Fatma.


"Di rumahku, semua persiapan sudah mendekati 100 persen dan tinggal pelaksanaannya aja"


"Kenapa nggak di rumah Tante aja"


'Tuh kan lagi-lagi pasti Tante Fatma nawarin begitu' bisik hati Diki sambil memerhatikan tingkah Tante Fatma yang semaunya saja.


"Besok paman bisa datang kan? Tante juga datang yah?!! Maaf aku nggak sempet anterin undangan" Diki menyerahkan surat undang, disana sudah tertera alamat serta peta rumah Diki.


"Tentu aja, yah sebenarnya Tante kecewa sih nggak dilibatkan. Tapi ya sudahlah, nanti Tante kasih tau paman. Kita pasti datang kok, kamu tenang aja"

__ADS_1


"Terima kasih Tante atas pengertiannya"


Fatma memasang wajah kecut, dia kesal tak dilibatkan padahal Fatma ingin sekali mengambil keuntungan sebesar-besarnya tapi sayang malah berujung kekecewaan.


"Ya sudah Tante pamit dulu"


"Ya Tante..."


Diki menghela napas, melihat Tante Fatma sudah keluar dari ruangan.


Raisa mendengar kabar dari Diki bahwa tadi tantenya menemui Diki lagi. Raisa heran dengan tantenya ini sebenarnya maunya apa sih, dengan mudahnya dia menemui Diki tapi dengan Raisa sepertinya dia enggan.


Daripada memikirkan tantenya yang sikapnya aneh mending Raisa persiapkan diri untuk acara pernikahannya besok.


****


Hari pernikahan tiba, acara yang paling sakral dalam hidup Raisa yaitu prosesi ijab kabul dengan perasaan cemas ia menunggu kedatangan pamannya sebagai wali di pernikahannya.


Raisa duduk dengan gelisah, Raisa terus memandang jauh ke ujung sana yang masih belum menampakkan batang hidung pamannya. Raisa tidak mau acara pernikahannya sampai gagal. Dalam hati ia terus memanjatkan doa.


Anton-paman Raisa menepati janjinya, ia datang bersama istrinya-Fatma- menghadiri acara pernikahan Raisa. Anton siap untuk menjadi wali Raisa. Bagi Anton ini kebaikannya yang terakhir pada Raisa. Untuk seterusnya biarlah Raisa yang akan menjalani kehidupannya sendiri tanpa harus bergantung padanya lagi, begitu yang ada dalam benak Anton.


Fatma tercengang mendengar mahar yang diberikan Diki pada Raisa. Pemberian Diki tidak tanggung-tangung selain perhiasan, sertifikat tanah juga aset lainnya untuk Raisa serta beraneka macam seserahan yang sangat banyak. Makin melotot lah mata Fatma. Untuk urusan materi, mata Fatma langsung ijo.


Padahal cuma satu yang Raisa harapkan warisan rumah itu sepertinya Diki enggan memberikannya. Tapi ya sudahlah Raisa ikhlas menerimanya asal bisa serumah dan menempati rumah itu lagi.


Acara telah usai, kini Raisa sibuk berbenah kamar pengantinnya yang masih berantakan oleh bingkisan dan segala seserahan yang menumpuk di atas ranjangnya.


"Jangan mimpi kita bakalan tidur satu ranjang yah"


"Iya, aku tahu. Kamu terpaksa kan menikah denganku" Raisa mendengus. "Lagian kita ini masih berada di rumah orangtuamu. Yah setidaknya bekerjasamalah agar tidak ketahuan" pinta Raisa


"Mau sampai kapan kita akan berpura-pura begini?"


"Itu menurutmu, aku sih nggak berpura-pura. Kita nikah beneran kan bukan main-main? Lagipula di antara kita tidak ada perjanjian nikah kontrak. Kita menikah resmi"

__ADS_1


Mendengar itu, Diki mendelik ke arah Raisa yang membalasnya dengan cengiran.


"Aku yakin hubungan seperti ini tidak sehat tanpa ada perasaan di antara kita. Pasti terasa hambar dan itu nggak akan bertahan lama. Aku yakin itu" tegas Diki.


"Iya sekarang tapi suatu saat nanti gimana? siapa yang akan bisa menebak hari esok, iya kan?!" Raisa terlalu percaya diri bisa menaklukkan hati Diki. Tangannya masih membuka beberapa seserahan yang masih terbungkus rapi. "Harusnya kalau kamu nggak suka denganku yah bilang ke orangtuamu tidak usah menikahiku. Gampang kan?"


"Kamu pikir semudah itu? Ini semua gara-gara kamu yang masuk ke kehidupanku tanpa permisi" Sebenarnya kalau bukan karena paksaan orangtuanya, Diki masih ingin fokus mengurus perusahaannya agar bisa berkembang besar.


"Jangan permainkan pernikahan, itu hal yang sakral. Janjimu itu akan dipertanggungjawabkan sampai akhirat tau nggak?"


Sejenak Diki terdiam, ia menatap Raisa yang masih berkutat membuka bingkisan. Tiba-tiba ia berkata, "Kamu punya niat terselubung"


"Apa?" Raisa tertawa hampa, "Aku yang sepenuh hati ini dituduh punya niat terselubung?" Raisa tak mungkin mengatakan sejujurnya pada Diki dan Diki menebaknya dengan betul.


"Sudah pasti"


"Terserahlah...aku nggak mau tidur di sofa" Setelah ranjangnya sudah rapi, Raisa merebahkan tubuhnya ke ranjang tanpa memedulikan Diki. "Aku lelah" Raisa membenamkan kepalanya dalam selimut tebal. Ia memejamkan matanya.


"Dasar, kau ini seenaknya saja."


Tidak pernah terbayang dalam benak Diki, ia akan sekamar dengan seorang wanita. Sikapnya masih saja dingin pada Raisa. Pernikahannya seperti simbiosis mutualisme jadi Diki hanya memikirkan keuntungannya saja agar mamanya tidak mencabut investasi yang sudah ditanam pada perusahaannya.


Kali ini Diki harus bersabar terutama dia belum punya perasaan apapun pada Raisa meski terkadang hatinya terusik oleh bayangan Raisa yang memenuhi pikirannya. Diki tak mau mengakui itu.


Bagaimana ke depannya, biar saja mengalir seperti air. Diki tak mau ambil pusing.


Diki bingung harus tidur dimana sementara Raisa sudah tertidur pulas di kasur. Tidak mungkin Diki tidur di luar bisa jadi bahan pertanyaan. Dengan terpaksa ia menggelar kasur lantai yang tipis dan tidur di sebelah kasur Raisa.


Hati dan sikap Diki yang bertolak belakang, diam-diam tanpa sadar Diki memandang wajah Raisa yang tengah tertidur. Entah kenapa jantungnya jadi berdebar, secepat mungkin Diki mengalihkan tatapannya lalu berbalik membelakangi Raisa agar sosoknya tak lagi tertangkap di mata Diki.


----


----


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2