
Kaca mobil berhasil dipecahkan dan serpihannya mengenai Raisa bahkan melukainya. Anak buah Tedi tetap terus menyerang tanpa henti. Situasi semakin menegangkan, penyerang mendominasi keadaaan.
Dilanda perasaan panik dan takut, mereka yang di dalam mobil berteriak sekeras mungkin dengan harapan ada yang menolong.
Salah satu anak buah Tedi terus melakukan penyerangan terhadap Raisa. Dengan kedua tangan Raisa, ia mencoba menahan serangan benda keras yang akan diarahkan kepadanya.
Fitri yang posisi duduknya di sebelah Raisa berusaha keras menolongnya meski tangannya gemetar, ia pun melakukan pukulan bertubi-tubi terhadap pria yang menyerang Raisa.
Diki dan Rio masih belum juga sampai di lokasi tempat Raisa diserang. Kebrutalan semakin menjadi hingga ada dua pengendara bermotor lewat yang baik hati menghentikan aksi brutal itu. Karena takut akan menambah masalah jika mereka juga akhirnya dilaporkan maka mereka memilih kabur dan meninggalkannya begitu saja.
Salah satu dari pengendara motor mencoba menghubungi polisi dan ambulance.
Fitri yang panik segera menolong Raisa setelah para penyerang itu pergi. "Bu Raisa, anda tidak apa?"
Raisa tersenyum sambil menahan rasa perih lukanya.
Suasana mulai ramai, semua orang berdatangan mengerumuni mereka. Mereka ingin tahu ada kejadian apa yang telah menarik perhatian.
Selang beberapa waktu, akhirnya Diki sampai. Dari kejauhan Diki memerhatikan kerumunan orang, segera Ia ke sana. Sampai di tempat, Diki tahu bahwa itu Raisa. Kemudian Ia menerobos kerumunan orang dan menghampiri Raisa dengan panik.
Melihat kondisi Raisa yang mengejutkan, Diki menggendong Raisa lalu dia membawa Raisa ke mobilnya. Dan Rio diperintahkan untuk mengurus Fitri dan Pak Jaka.
Pecahan kaca berhamburan di pakaian Raisa, terutama ada pecahan yang menancap. Sesaat pandangan Diki tertuju pada Raisa, ia diserang rasa khawatir.
Tanpa pikir panjang tangan Diki langsung menarik pakaian Raisa.
"Ah...Diki! Apa yang mau kamu lakukan?" Dikejutkan dengan tindakan Diki yang berani, wajah Raisa merona. Meski dalam keadaan terluka, Raisa masih bisa berontak.
"Aku hanya ingin tahu apa itu melukai bagian dalam, coba aku lihat!"
"Tidak... biar aku saja yang lakukan,"
"Lihat tanganmu juga terluka, apa kamu bisa membuka sendiri bajumu?"
"A–aku malu..." Raisa memalingkan wajahnya kedua tangannya menyilang menutupi dadanya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku akan mengambil kesempatan dalam kesempitan? Lihatlah, bajumu penuh noda darah! Jangan berpikiran sempit, aku ini suamimu." Diki sudah sangat kesal karena Raisa yang keras kepala.
Diki terus menatap Raisa. Kecemasan memenuhi wajahnya. Butuh waktu untuk bisa meyakinkan Raisa.
Memang kondisinya tidak tepat jika harus memikirkan rasa malu, Raisa belum pernah membuka pakaian di depan pria. Sejenak ia lupa bahwa Diki suaminya dan seharusnya ia tidak perlu merasa malu.
"Baiklah... tapi pelan-pelan"
Diki membuka kemeja putihnya untuk digunakan membersihkan darah yang mengucur. Kemudian secara hati-hati mencabut pecahan kaca yang menancap karena takut akan semakin melukai kulit Raisa.
Raisa sudah tidak tahu lagi, wajahnya memang memerah. Dia pasrah dan percaya pada Diki yang melakukannya meski pada akhirnya dadanya akan terekspos oleh Diki.
Pakaian Raisa sudah dibuka ternyata pecahan kaca itu tidak menancap terlalu dalam hanya sedikit merobek kulit luar, ini kemungkinan karena pakaian yang dipakai Raisa agak tebal jadi hanya ujungnya saja yang menembus.
Ada kelegaan di hati Diki tapi ia menarik nafasnya dalam-dalam. Untuk pertama kalinya di usianya yang sekarang, Diki melihat tubuh seorang wanita dewasa. Seketika suhu tubuhnya meningkat panas, jelas dia pria normal. Diki kembali menyadarkan pikirannya lalu ia segera bertindak melakukan pertolongan pertama, dengan kemejanya ia menghentikan darah yang terus mengucur sambil menunggu ambulance datang.
Ambulance datang di waktu yang tepat, Diki membopong Raisa dan membawanya keluar dari mobil. Raisa meringkuk tak berdaya di dada Diki seperti seekor kucing. Raisa terharu, suaminya bak seorang pahlawan. Ia kagum dengan tindakan Diki. Entah kenapa ada perasaan nyaman muncul di hatinya.
Raisa segera ditangani oleh tim medis dan Diki mengurus administrasi. Fitri–teman Raisa juga ikut diobati meski dia luka ringan tapi perlu penanganan, sementara Pak Jaka–sang driver diminta untuk memberikan keterangan sebagai saksi kepada pihak berwajib.
Rio menoleh ke arah Emilia, "Bukan aku tapi Bu Raisa,"
"Oh... ada apa dengannya?"
Rio belum sempat menjawab, Diki sudah datang. Diki langsung bertanya pada Rio, "Raisa di ruangan yang mana?"
"VIP nomor 03,"
"Ok, aku ke sana." Diki tak menghiraukan kehadiran Emilia, wajahnya yang cemas lebih berfokus pada Raisa. Emilia hanya memandangnya sampai siluet Diki menghilang dari jangkauan pandangnya.
Rio sedikit melirik ke arah Emilia, sepercik muncul rasa ibanya pada Emilia. Ia tahu betul sejak dulu, Diki memang selalu bersikap dingin pada Emilia tapi kenapa kali ini ia merasa itu mengusik perasaannya.
"Rio, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Raisa?"
Mendengar Emilia bertanya pada Rio, dia tak habis pikir kenapa Emilia dengan tenang bertanya keadaan wanita yang jadi saingan cintanya.
__ADS_1
"Anda kan sudah mendengar dimana Bu Raisa dirawat, jadi anda bisa menengoknya dan menanyakan langsung padanya. Permisi Bu Dokter," Rio berbalik lalu berjalan meninggalkan Emilia.
"Tunggu, Rio!" Emilia mengejar Rio dengan melangkahkan kakinya dengan cepat mengimbang kecepatan jalan Rio.
"Mau minum kopi? Bagaimana kalau aku yang traktir?" Dengan senyuman yang menawan, Emilia mencoba merayu.
"Ternyata anda punya waktu luang," Rio bersikap acuh tak acuh, dia terus berjalan.
"Yah begitulah, aku sudah selesai memeriksa pasien. Kita ke kantin, yuk!"
"Sejak kapan kita akrab?" sindir Rio.
"Astaga, kamu juga sama dinginnya dengan dia. Apa yang salah denganku? Kita juga teman dalam satu tim di anggota...."
"Sssttt..." Rio menghentikan Emilia yang hampir saja keceplosan. Ini tempat umum, rahasia mereka sebagai anggota agen rahasia tidak boleh sampai bocor.
"Ups...maaf," Emilia dipenuhi wajah bersalah. "Lalu bagaimana?"
Rio menyerah, dia menuruti permintaan Emilia. Mereka berdua menuju kantin rumah sakit.
\*\*\*\*\*
Dengan sorot mata yang gelap, Diki menatap Raisa yang tengah terbaring di ranjang.
"Apakah kamu melakukan tindakan di belakangku lagi, Raisa?"
Untuk sekian detik Raisa terhenyak, ia merasa Diki mengetahui sesuatu. Raisa pikir Diki akan menanyakan keadaannya, ini sulit dipercaya oleh Raisa. Dia belum bisa berkata apapun.
Pertanyaan Diki membuat Raisa berpikir, menghubungkan kejadian yang tengah menimpa dirinya dengan tindakannya sebelumnya yang sudah melakukan hal berani. Apa korelasinya ini semacam motif balas dendam? Raisa berpikir keras di dalam ketidakberdayaannya.
Diki berjalan semakin mendekati Raisa tanpa ekspresi. Auranya begitu berbeda, dia terlihat tenang dan dingin. Raisa diliputi kegelisahan.
------
------
__ADS_1
Bersambung...