Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Disiram air dingin


__ADS_3

Jam 10 lewat 19 menit Siena sampai dirumahnya. Berjalan sambil mengendap-ngendap berharap Daren sudah tidur.


‘’Dari mana saja kamu?’’


‘’Eh tuan, maaf tadi pekerjaanku sedikit banyak jadi aku menyelesaikannya terlebih dulu.’’ Alasan Siena, tak mungkin dia memarahi Daren yang meninggalkannya karena tadi yang ditinggal Daren adalah Putri bukan Siena.


‘’Culun bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak pulang diatas jam 7 malam, apa kau lupa atau kau pura-pura lupa.’’ beberapa kali Daren mendorong kening Siena dengan begitu kasar.


‘’Maaf tuan aku janji tak akan melakukannya lagi.’’


Daren menyeringai. ‘’Sepertinya kau harus selalu diberi hukuman agar kau selalu ingat dengan semua perintahku.’’


Daren menarik kasar rambut Siena dan membawanya masuk ke kamar mandi, Daren mendudukan Siena di bawah shower kemudian menyetel air paling dingin.


‘’Ini sangat dingin tuan, aku sama sekali tak tahan.’’ Ucap Siena begitu air dingin itu menyentuh kulitnya. Siena hendak berdiri tapi Daren sudah lebih dulu menarik tangannya, mencengkram kuat rahangnya.


‘’Ingat culun, bukan aku yang kejam padamu tapi kau yang selalu membuat kesalahan dan dengan senang hati meminta hukuman dariku.’’


Tubuh Siena bergetar menahan dingin, bibirnya pucat sedang Daren hanya memandangnya tanpa ekspresi.


Hampir 20 menit akhirnya Daren mematikan air dingin itu, menyetel kembali shower dengan air hangat. Tak lama lalu Daren mengangkat tubuh Siena yang lemas tak berdaya. Sebelumnya Daren memanggil ART dan memintanya untuk menggantikan pakaian Siena.


‘’Jika kau berani pulang larut malam lagi maka aku tak segan-segan menghukummu lebih para dari malam ini.’’ Bisik Daren ditelinga Siena dan entah dorongan dari mana Daren menarik Siena kedalam pelukannya.


Daren menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Siena.


‘’Kenapa wajahnya sangat mirip dengan putri?’’ Daren lebih memperhatikan. ‘’Aku tak salah wajahnya memang benar-benar mirip Putri.’’


Daren menghentikan matanya tepat di tompel Siena tangannya bergerak menyentuh tompel itu dan betapa kagetnya Daren saat tompel itu sedikit bergeser dari tempatnya.


‘’Apa ini?’’ Daren mengangkat tompel itu dari wajah Siena. ‘’Astaga ini tompel palsu.’’ Daren menatap Siena lagi. ‘’Jadi selama ini kau membohongiku Siena dan untuk apa juga kau berpenampilan culun kalau nyatanya kau memiliki wajah yang begitu cantik.’’


Daren meletakan kembali tompel itu dipipi Siena, Bukannya marah Daren malah mengelus lembut wajah Siena dan mencium keningnya dan tak lama Daren tertidur masih dalam posisi yang memeluk Siena.


*****


Pagi harinya Siena bangun terlebih dulu. ‘’Astaga apa yang kulakukan, dia bisa memarahiku habis-habisan kalau tau aku memeluknya seperti ini.’’


Ucap Siena dan dengan pelan menarik tangannya dari pinggang Daren lalu dengan buru-buru Siena melangkah untuk membersihkan diri sedang Daren langsung membuka matanya saat mendengar bunyi pintu kamar mandi.

__ADS_1


Ternyata Daren sudah bangun hanya saja dia sangat malas untuk membuka matanya.


‘’Astaga apa Daren melihat wajahku yang seperti ini?’’ Siena memalingkan wajahnya kekiri dan kekanan didepan kaca kamar mandi.


‘’Semoga dia tak curiga padaku.’’


Dimeja makan seperti biasanya Daren dan Siena makan dalam diam. Daren sengaja belum bertanya perihal kebohongan Siena.


‘’Ingat jangan pulang larut malam ini atau aku akan menghukummu lebih para dari yang semalam.’’


Daren mengingatkan sebelum naik ke mobilnya dan tak seperti biasanya hari ini Daren bahkan mengecup singkat kening Siena dan tentu saja Siena kaget dengan perlakukan tiba-tiba itu.


‘’Apa yang terjadi dengannya, apa dia mabuk?’’ Siena bertanya dan mencoba menebak.


A Plan Corp


‘’Akbar tolong carikan dua pengawal wanita untuk istriku.’’ Perintah Daren.


‘’Istriku?’’ Ucap Akbar dengan kening yang berkerut karena tak biasanya Daren menyebut Siena dengan kata istriku.


‘’Astaga Akbar kenapa kau masih berdiam diri disitu?’’ Daren sedikit meninggikan nada suaranya.


Daren berencana menyewa pengawal untuk diam-diam mengikuti semua kegiatan Siena. Ingin memiliki bukti nyata terkait tebakannya tentang Siena dan putri.


Di tempat lain, seperti biasanya Putri menemani klien yang menyewa jasanya. Putri sangat senang karena yang menyewanya hari ini adalah Alan. keduanya terus mengobrol dan tiba-tiba…


‘’Dasar ja**ng, kemarin Daren dan sekarang sepupunya.’’ Sindir Rania yang tiba-tiba berdiri disamping Putri sedang Putri hanya menatapnya malas.


‘’Lihat saja setelah ini aku yakin Daren akan meninggalkanmu.’’ Rania tersenyum meremehkan.


‘’Baguslah kalau begitu karena sejujurnya aku sama sekali tak menyukainya dan jika kau mau maka kau bisa mengambilnya.’’ Rania geram dengan ucapan Putri yang seolah meremehkannya.


‘’Dasar wanita penggoda tak tahu malu.’’ Rania ingin menampar tapi Putri sudah lebih dulu menarik rambut belakang Rania. ‘’Sudah kukatakan jangan berani kau menyentuhku.’’


‘’Awh sakit, lepaskan rambutku wanita sialan.’’ Rania sedikit berteriak menahan sakit.


‘’Minta maaf padaku maka aku akan melepaskannya.’’


Rania tak mengatakan apa-apa, Putri menarik rambut Rania dengan lebih keras membuatnya lebih kesakitan. ‘’Kubilang minta maaf padaku maka aku akan melepaskannya.’’

__ADS_1


‘’Oke-oke aku minta maaf padamu.’’


‘’Apa yang kau katakan, aku sama sekali tak mendengarnya.’’


‘’Ku bilang aku minta maaf padamu.’’ Rania berteriak dengan keras. Dan disaat yang sama Putri melepaskan rambut Rania dengan senyum penuh kemenangan menghiasi wajah cantiknya.


‘’Kau lihat saja nanti pasti aku akan membalas semua perbuatanmu ini.’’ Rania lalu meninggalkan tempat itu.


Putri berbalik melihat Alan, degan wajah songongnya Putri mengangkat satu alisnya sedang Alan tersenyum mengangkat 2 jempolnya untuk Putri.


‘’Tak kusangka kau adalah wonder woman.’’ Ucap Alan bercanda lalu keduanya tertawa.


‘’Omg.’’ Putri melihat Daren dan kedua orang tuanya berjalan mendekat ke arah Putri dan Alan.


Entah apa yang terjadi, menurut Putri belakangan ini pekerjaannya tak berjalan lancar seperti biasanya. Entah kutukan atau apa dia selalu bertemu Daren saat sedang menjalankan pekerjaannya.


‘’Hallo sayang apa kabar?’’ Sapa mama Daren saat sudah duduk di samping Putri.


‘’Baik tante.’’ Putri tersenyum ramah pada wanita paruh baya yang sudah dianggap seperti mamanya itu.


Mereka mengobrol sambil beberapa kali bercanda, sedang Daren duduk dengan diam dan beberapa kali Putri tak sengaja melihat Daren yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan. ‘’Kenapa dia melihatku seperti itu sih?’’


‘’Apa kalian belum punya rencana untuk menikah?’’ Tanya mama Daren tiba-tiba membuat Daren tersedak.


‘’Kamu kenapa sih Daren, makan nya hati-hati dong.’’ omel mama sambil memberi minuman pada Daren.


‘’Bagaimana sayang, apa kalian sudah pernah membicarakan tentang pernikahan?’’ Tanya mama lagi pada Putri.


‘’Mama apa-apaan sih, kenapa pake nanya hal begituan segala.’’ Guman Daren tak suka dengan pertanyaan mamanya pada Putri. Sedang Putri hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan itu.


‘’Sudahlah aunty jangan ditanyakan lagi, kasihan Putrinya jadi tak nyaman. Bukan Putri yang belum siap menikah tapi Alan. Sanggah Alan saat melihat Putri mulai tak nyaman dengan pertanyaan itu.


Bersambung.....


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi...


Jangan lupa like dan komennya...


NOTE: NAMA SIENA DITULIS SAAT KARAKTER UTAMA WANITA SEDANG BERDANDAN CULUN DAN NAMA PUTRI AKAN MUNCUL SAAT KARAKTER UTAMA WANITANYA SEDANG BEKERJA DAN BERPENAMPILAN MODIS. TAPI TETAP NAMA ASLI KARAKTER UTAMANYA ADALAH SIENA DAN BUKAN PUTRI

__ADS_1


__ADS_2