
‘’Mana tanganmu.’’ Alan meminta tangan Siena lalu memasangkan cincin itu dijarinya.
‘’Bagus, cocok ditangan kamu.’’ Alan tersenyum, pria itu kembali melihat dan mengamati beberapa cincin sedang Siena dan Reva saling pandang tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Siena ingin melepas cincin itu tapi tangannya ditahan Alan.
‘’Nggak usah dilepas, anggap saja itu hadiah pernikahan dariku.’’ Ucapnya lembut dengan memperlihatkan senyum indah di bibirnya.
Siena mengangguk senang dan mengucapkan terimakasihnya.
‘’Kak, Reva juga mau dong.’’ Rengek Reva sambil menunjuk satu kalung yang diincarnya.
wanita itu berteriak kesenangan saat Alan menganggukan kepalanya, dengan cepat Reva meminta pelayan membungkuskan kalung itu untuknya, disaat yang sama juga Alan menunjuk cincin yang menurutnya cocok untuk melamar pujaan hatinya.
Kini ketiganya berada di satu restoran.
Reva meminta Siena dan Alan duduk berdekatan karena ia ingin mengambil foto keduanya.
‘’Kakak ipar, perlihatkan cincinnya dong.’’ Pinta Reva, tanpa protes Siena mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin itu.
Reva tersenyum melihat hasil fotonya.
‘’Cantik sekali kakak iparku ini.’’ Puji Reva masih melihat foto yang diambilnya, ia begitu sangat mengagumi kecantikan Siena.
‘’Kak Alan juga ganteng kan?’’ Tanya Alan percaya diri.
‘’Ih mana ada, wajah pas-pasan gini dibilang ganteng.’’ Sewot Reva, dia malas meladeni sikap over percaya diri Alan.
Ting ting ting ting ting
Banyak sekali notifikasi yang masuk dalam ponsel Reva, wanita itu tersenyum serius melihat layar ponselnya.
‘’Kak lihat.’’ Reva memperlihatkan layar ponselnya pada Siena dan Alan.
‘’Banyak yang memuji kecantikanmu kak, yaiyalah kakak iparku kan memang cantik.’’ Ucapnya dengan bangga sedang Siena dan Alan hanya menatap ponsel itu sekilas lalu kembali menikmati makanan mereka.
Tring tring tring tring
Tiba-tiba ponsel Reva berbunyi, bukannya mengangkatnya Reva malah menekan tombol merah pada layar ponselnya.
wanita itu tersenyum dengan ekspresi sinisnya, ia yakin sekarang kakaknya sedang kebakaran jenggot karena melihat postingan terbarunya.
Reva memang sengaja mengupload foto Siena dan Alan, ia juga sengaja meminta Siena memperlihatkan cincin yang diberikan Alan.
__ADS_1
Ponsel Reva kembali berdering, Reva kembali menekan tombol merah, tak lama wanita itu menonaktifkan ponselnya, ia juga meminta ponsel Siena dan Alan lalu menonaktifkannya.
Reva juga dengan sengaja meminta Siena untuk menginap di apartemennya, wanita itu beralasan ingin curhat tentang sesuatu pada Siena.
Sementara dirumahnya, Daren masih berusaha menelpon Siena, beberapa kali memaki karena ponsel Siena yang tak kunjung aktif.
‘’Akbar cari Siena sekarang juga.’’ Ucapnya langsung mengakhiri panggilan telepon, pria itu duduk diam di balkon, melihat foto yang tadi di upload Reva, ia membuka kolom komentar.
Pria itu tersenyum membaca beberapa komentar yang memuji Siena, tak lama wajahnya terlihat masam, ia tak suka membaca komentar beberapa orang mengatakan Siena dan Alan terlihat sangat cocok dan serasi.
karena kesal Daren mereport postingan itu.
‘’Maaf tuan sekarang nona muda sedang berada di apartemen nona Reva.’’ Akbar menelpon untuk memberitahu.
Dengan cepat, hanya dengan menggunakan pakaian rumahnya Daren keluar dari kamar, mengambil kunci mobilnya berniat menyusul Siena.
*****
‘’Wanita ini, bisa-bisanya dia tidur nyenyak setelah membuatku kesal.’’ Daren berkacak pinggang melihat Siena yang tidur nyenyak di samping Reva, pria itu mendekat menyingkirkan helain rambut yang menutupi wajah cantik Siena.
Beberapa kali membelai lembut wajah Siena setelahnya mengangkat Siena dan memindahkan wanita itu ke kamar yang biasa digunakannya saat menginap di apartemen Reva.
Tak langsung tidur, Daren masih betah memandangi wajah Siena, sungguh perasaannya begitu bimbang, ia sama sekali tak bisa memilih.
‘’Maaf tapi beri aku sedikit waktu lagi untuk meyakinkan perasaanku.’’ Daren mencium kening Siena, berbaring di samping wanita itu dan menariknya masuk kedalam pelukan.
*****
‘’Kenapa kamu disini?’’ Tanya Siena heran, seingatnya semalam ia tidur disamping Reva tapi dimana dia sekarang, dan kenapa juga ada Daren disampingnya?’’
Karena masih mengantuk, Daren tak menjawab dan malah memeluknya lebih erat.
‘’Daren lepasin aku nggak bisa nafas.’’ Siena memberontak, mendorong tubuh Daren, masih pagi pria itu sudah membuatnya kesal.
‘’Daren apa kau mau membunuhku?’’ Teriak Sienna dengan keras saking kesalnya.
‘’Astaga Siena.’’ Reflek Daren melepas pelukannya, pria itu menutup kupingnya dengan kedua tangannya, bangun dari tidurnya dan melihat kesal pada Siena.
‘’Apa kau bisa membangunkanku dengan cara yang sedikit lembut?’’ Kesal Daren.
‘’Bodo amat.’’ Ucap Siena cuek, berjalan dengan santai, membuka tirai yang menutupi pintu kaca, berjalan menuju balkon, menutup mata sambil menghirup udara segar.
Siena kaget melihat tangan kokoh yang melingkar sempurna di pinggangnya.
__ADS_1
‘’Apa-apaan sih lepasin.’’ Siena melepas tangan Daren dengan paksa, memindahkan posisinya sedikit manjauh dari Daren, ia menatap tak suka pada Daren, bisa-bisanya pria itu memeluknya di saat memiliki wanita lain disampingnya.
‘’Apa yang kau lakukan, kenapa kau tak suka aku memelukmu?’’ Protes Daren tak suka dengan sikap Siena.
Siena tertawa ‘’kau pikir aku wanita apaan, seenaknya saja kau memelukku disaat kau berselingkuh dariku.’’
Siena menjeda ucapannya
‘’kalau kau nyaman tidur sambil memeluk seseorang, pergilah dan cari wanita yang kau cintai itu, karena aku sama sekali tak mau disentuh olehmu lagi.’’ Ucap Siena dengan mantap walau sebenarnya hatinya sakit saat mengakatannya.
‘’Apa maksudmu? Apa kau menyuruhku tidur dengan wanita lain?’’ Tanya Daren
‘’Kenapa kau marah, bukankah itu yang kau inginkan? Jangan terlalu membuang waktuku, lebih baik kau ceraikan aku secepatnya dan nikahi____’’
‘’Jangan mimpi kamu.’’ Daren memotong ucapan Siena
‘’Bukankah aku pernah mengatakannya bahwa kau akan selalu disisiku?’’
‘’Persetan dengan semua itu, jika kau masih bersama Monika maka tak ada alasan untukku tidak meninggalkanmu dan kau tau aku tak perlu izin mu untuk melakukan hal itu.’’ Siena meninggalkan Daren yang masih berdiri diam di tempatnya.
‘’Kak Siena dari mana aja?’’ Ucap Reva begitu melihat Siena.
‘’Berdebat sama kakakmu.’’
‘’Kak Daren disini, dimana?’’
‘’Dikamarnya.’’ Ucap Siena santai, menghampiri meja makan, untung saja Reva sudah menyiapkan sarapan jadi Siena tak perlu menahan rasa laparnya.
‘’Kakak....kakak.’’ Reva menggeleng tak habis pikir dengan kakaknya, ia meratapi sikap bodoh kakaknya yang tak sadar mungkin sudah sangat mencintai Siena.
Reva hanya takut Daren terlambat menyadari perasaannya karena sekarang ada Monika disisinya.
Reva takut Daren sadar di saat Siena sudah pergi meninggalkannya.
Reva terus memutar otaknya mencari cara, apa yang harus dilakukannya untuk membuat kakaknya sadar?
‘’Reva kak Siena pergi dulu ya.’’ Pamit Siena karena harus bekerja, hari ini hari pertama ia masuk kerja setelah kepulangannya dari Maldives.
Bersambung.....
Otor : Daren kamu kok jadi pria plin plan banget sih?
Daren : Lagian siapa suru otor mendatangkan Monika lagi.
__ADS_1
Otor : Loh kok jadi nyalahin otor sih, orang kamu yang plin plan otor yang disalahin.
Jangan lupa like dan komennya teman-teman....