
‘’Apa yang kakak lakukan? Apa yang kau lakukan?’’ Ucap keduanya pada Daren dengan tatapan menusuk.
‘’Apa kakak mau membela wanita penggoda ini?’’ Reva menatap geram pada Siena
‘’Kau sama sekali tak sadar diri rupanya, seharusnya kaulah yang layak disebut wanita penggoda.’’ Balas Siena dengan tatapan tak kalah sengitnya.
‘’Reva Siena hentikan pertikaian kalian.’’ Tegur Daren.
‘’Jangan ikut campur.’’ Jawab keduanya kompak dengan masih menatap saling membunuh.
‘’Sekali lagi kuperingatkan kau untuk pergi dari rumah ini, apa kau tidak malu menjadi perebut suami orang, kakakku itu sudah menikah.’’ Reva berbicara lalu menjuk Daren tapi dengan mata yang masih menatap Siena tajam.
‘’Kau yang seharusnya malu karena pria itu.’’ Siena juga menunjuk Daren tapi dengan mata yang masih melihat Reva. ‘’Dia adalah suamiku, suami sahku.’’
‘’Suami?’’ Reva kaget dan langsung menghampiri Daren.
‘’Kakak apa maksud wanita penggoda itu? Apa benar dia adalah istrimu?’’ Daren hanya mengangguk sambil menahan tawa karena kesalahpahaman yang terjadi.
‘’Astaga kak kenapa kau begitu tega pada kak Siena, aku membencimu kak.’’ Teriak Reva
Sementara Siena bingung kenapa Reva menyebutkan namanya.
Reva berniat pergi dari tempat itu tapi Daren menahannya. ‘’Mau kemana?’’
‘’Aku mau pulang, aku kecewa sama kakak.’’
Akhirnya Daren tertawa karena tak bisa lagi menahannya. ‘’Kalian ini lucu sekali sih.’’
Kedua wanita itu melihat heran pada Daren yang tiba-tiba tertawa.
‘’Sini sini.’’ Daren menarik tangan Siena dan Reva bersamaan.
‘’Reva, adikku sayang kakak sama sekali tak selingkuh, perkenalkan dia istri kakak Siena Mahadika Putri dan kau Siena dia adalah adik kesayanganku namanya Reva Darenia Hansel.’’ Setelah mengatakannya Daren melanjutkan tawanya lagi.
Sedang Siena dan Reva masih diam di tempatnya lalu tak lama mereka menatap Daren dengan tatapan tajam karena sudah mengerjai mereka dengan membiarkan kesalahpahaman terjadi.
Daren mengangkat kedua tangannya melihat Siena dan Reva. ‘’Bukan salah aku loh, tadi aku udah mau bilang tapi kalian berdua berteriak dan menyuruhku diam.’’ Yes alasan yang tepat untuk digunakan.
__ADS_1
Siena memang tak mengingat wajah Reva sedang Reva hanya mengetahui wajah culun Siena dan sekarang Siena sudah tak berpenampilan culun lagi jadi pantas saja kalau Reva salah sangkah.
Tadi hampir jambak-jambakan, sekarang Siena dan Reva sudah mengobrol santai dan akrab bahkan sama sekali tak mempedulikan keberadaan Daren.
‘’Kak Siena, bisakah Reva menginap disini?’’ Tanya Reva pada Siena, Siena tak menjawab dan hanya melihat pada Daren.
‘’Hei kenapa kau bertanya padanya, ini rumahku seharusnya kau bertanya padaku.’’ Cerocos Daren.
‘’Ih kakak itu perhitungan sekali sih, apa kakak tidak pernah mendengar kalimat, harta suami harta istri tapi harta istri ya harta istri nah dan karena rumah ini milik kak Daren dan kak Siena itu kan istrinya kak Daren maka sudah pasti rumah ini juga milik kak Siena jadi nggak masalah dong kalau aku bertanya pada kak Siena?’’
‘’Nggak ada, nggak ada lagian siapa sih yang mencetuskan kalimat aneh seperti itu, aku sama sekali tak setuju. Hartaku ya hartaku, aku yang sudah payah mencari kenapa harus berbagi dengannya.’’ Tolak Daren tak terima sedang Siena dan Reva pergi meninggalkannya malas mendengar ucapan pria itu.
‘’Mau kemana kalian, aku belum selesai bicara.’’ Teriak Daren sedang tubuh Siena dan Reva tak terlihat lagi menghilang dibalik tembok.
Sudah hampir jam 9 malam, dari tadi Daren menunggu Siena di kamar tapi wanita itu tak kunjung datang.
‘’Apa yang mereka obrolkan sih sampai jam segini Siena belum kembali ke kamar?’’ Daren berniat menyusul Siena ke kamar Reva.
‘’Astaga wanita ini, dari tadi aku menunggunya dan dia asyik tidur dikamar ini.’’ Daren menyentil kecil kening Siena lalu mengangkat tubuhnya untuk dipindahkan ke kamar mereka, Siena sama sekali tak terbangun.
‘’Apa yang kau lakukan padaku, kenapa belakangan ini aku sangat ingin dekat-dekat denganmu.’’ Daren tersenyum tak lama bibirnya sudah mendarat sempurna di bibir Siena.
Tak ada luma tan, Daren hanya menciumnya sekilas lalu ikut membaringkan tubuhnya disamping Siena dan membawa wanita itu dalam pelukannya.
Pagi hari
Siena terbangun, melihat sekeliling kamar dengan heran, dia mengingat dengan jelas kalau semalam dia tidur bersama Reva tapi kenapa sekarang dia bangun dan sudah berada di kamarnya dan Daren.
‘’Apa dia menggendongku?’’ Tanya Siena menatap Daren, tak lama menggelengkan kepalanya.
‘’Tak mungkin pria sombong ini mau menggendongku kupikir dia malah akan senang jika aku tak tidur dikamar ini.’’ lalu dengan pelan Siena keluar dari pelukan Daren dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan setelahnya membangunkan Daren.
‘’Pagi kakak, pagi kakak ipar.’’ Sapa Reva dengan wajah cerianya begitu sampai dimeja makan.
‘’Apa yang terjadi sepertinya kau sedang senang.’’ Tanya Daren
‘’Kakak apa-apaan sih, harusnya kakak senang dong kalau adiknya senang bukannya menatapku dengan tatapan seperti itu.’’
__ADS_1
Protes Reva lalu mengalihkan pandangan pada Siena. ‘’Kasihan sekali nasibmu kakak ipar.’’ Siena tertawa mendengar ucapan itu tapi Daren menatap tak suka dengan ucapan Reva.
‘’Oh iya kak, hampir lupa kemarin aku datang buat minta tanda tangan kakak.’’ Reva mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan memberikannya pada Daren.
Daren membacanya dengan teliti. ‘’Kegiatan alam?’’ tanpa menandatanganinya daren memberikan kertas itu lagi pada Reva.
‘’Kakak tak memberimu izin, kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana apalagi kakak sedang sibuk dan tak bisa ikut menemanimu kesana.’’
‘’Kakak tapi aku ingin sekali mengikuti kegiatan itu, semua temanku juga pergi dan akan tidak baik jika hanya aku yang tak mengikutinya.’’
‘’Kamu tenang saja, walau tak ikut kegiatan itu tak akan ada satupun orang yang berani membicarakanmu.’’ Daren meninggalkan meja makan menghampiri Akbar yang sudah menunggunya sejak lima menit lalu.
Reva mendengus kesal. Memang sangat susah meminta persetujuan kakaknya bahkan lebih susah daripada kedua orang tuanya.
Siena menggenggam tangan Reva. ‘’Maaf ya kak Siena nggak bisa bantu kamu.’’
Reva mengangguk sambil tersenyum pada Siena dan kedua wanita itu meneruskan sarapannya.
*****
‘’Pagi Am.’’ Sapa Siena pada Ami yang sudah sibuk dengan kerjaannya.
‘’Hai semuanya.’’ Sapa Amel, sivia dan Sherly dengan hebo lalu mengeluarkan beberapa jenis cemilan dari paper bag yang mereka bawa, membagikan camilan pada semua rekan kecuali Siena dan Ami.
‘’Siena dan Ami belum dikasih.’’ Ucap salah satu rekan pada ketiga wanita itu.
Ketiganya menampilkan wajah pura-pura bersalah.
‘’Astaga Siena, Ami maaf banget camilan yang kami bawa sepertinya kurang banyak jadi maaf ya kalian berdua nggak kebagian.’’
Ucap Sherly lalu ketiga wanita kompak tertawa dan berjalan menuju meja mereka masing-masing sedang Siena dan Ami hanya saling memandang dan tersenyum sama sekali tak peduli dengan hal itu.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
Jangan lupa like dan komennya.....
__ADS_1