
Masih tak mau bicara, Siena mengambil handuk dan berlalu masuk ke kamar mandi.
Siena terkejut saat keluar dari kamar mandi mendapati Daren berdiri tepat didepan pintu. Siena berniat melewatinya tapi Daren mencekal tangan Siena. ‘’Jawab pertanyaanku kenapa dari tadi kau mendiamiku?’’
‘’Aku capek Daren masih perlu banyak istirahat jadi tolong untuk hari ini saja jangan dulu kau menggangguku.’’ Mohon Siena sedang daren hanya diam menatapnya.
Sehabis berganti pakaian Siena melangkah keluar ke arah balkon berniat bersantai disana, Siena kaget saat mendapati Daren juga sedang berada di balkon.
Siena mengangkat satu alisnya. ‘’Kenapa dia disini, apa dia tak ke kantor?’’ Siena memundurkan langkahnya berniat masuk kembali kedalam kamar tapi suara Daren menghentikan langkahnya.
‘’Sini duduklah bersamaku, aku janji akan diam, tak banyak berbicara dan tak akan mengganggumu.’’ Daren kemudian menarik tangan Siena dan mendudukan Siena disampingnya.
Mereka saling terdiam sampai akhirnya Siena mendengar dengkuran halus dari sampingnya, Siena tersenyum saat melihat Daren tengah tertidur dengan kepala bersandar pada kepala sofa.
Siena ingin mengelus rambut Daren tapi menarik kembali tangannya sebelum benar-benar menyentuh rambut Daren.
‘’Jangan pernah menyentuhnya seperti itu Siena, jangan pernah memiliki perasaan padanya, sadarlah dia sama sekali tak akan menyukaimu.’’ Guman Siena membentengi hatinya untuk Daren. Lalu melangkah masuk meninggalkankan Daren sendiri.
Siena duduk di sofa, menyalakan TV. karena tak ada siaran yang membuatnya tertarik maka Siena kembali mematikan TV itu, Turun ke lantai satu dan berjalan menuju dapur. Siena mulai menyiapkan beberapa bahan untuk membuat kue ditemani dua orang ART.
‘’Bik menurut bibi apakah Siena cocok untuk membuka toko kue?’’ Tanya Siena.
‘’Semua kue buatan nona Siena sangat enak jadi bibi yakin pasti toko kuenya akan sangat laris.’’ Ucap salah satu ART itu.
‘’Untuk apa kau membuka toko kue, kalau untuk uang aku bisa memberimu uang yang banyak dan kalau sekedar hobby kau bisa melakukannya dirumah saja lalu dibagi-bagikan pada semua pegawai yang ada di rumah ini.’’ Ucap Daren yang muncul tiba-tiba.
Siena menatap malas pada Daren yang sekarang sudah duduk dengan santai didepan meja tempatnya membuat kue. ‘’Dasar perusak suasana.’’
‘’Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan ucapanku?’’
Siena tak menjawab malah sibuk melanjutkan acara membuat kuenya.
‘’Apa ada yang bisa kubantu?’’ Tiba-tiba Daren sudah berdiri di samping Siena.
‘’Apa yang kau lakukan disini? Lebih baik kau berangkat ke kantormu dari pada harus menggangguku seperti ini.’’ Omel Siena
‘’Kau sangat tak bersyukur Siena, coba kau lihat aku.’’ Daren memutar tubuh Siena agar melihat padanya. ‘’Hei kau lihat aku, seorang Daren Hansel bahkan menawarkan bantuan untuk membantumu tapi dengan tak tau dirinya kau menolak niat baikku.’’
__ADS_1
‘’Sudahlah, aku tak peduli siapa kau, yang aku tau semua kue ku akan hancur jika kau berada disini membantuku.’’
Siena sedikit mendorong tubuh Daren lalu meneruskan kembali aktivitasnya.
Sedang Daren menggerutu, malas dengan sikap Siena. Untung saja Siena sedang sakit kalau tidak dia benar-benar akan menghukum Siena lagi karena berlaku tak sopan padanya. Dan akhirnya Darenlah yang harus mengalah padanya.
Hampir 3 jam berlalu. Daren menghampiri Siena yang sedang duduk santai ditaman belakang sambil bercanda dengan beberapa ART.
Daren melihat hampir semua pegawai di rumahnya sedang menyantap kue yang diyakininya adalah kue buatan Siena.
‘’Mana kue untukku?’’ Pinta Daren pada Siena, Siena mengangkat kepalanya melihat Daren yang sedang membuka satu tangannya.
‘’Kue apa?’’
‘’Kue yang tadi kau buat, mana bagian untukku.’’
‘’Bagian untukmu? Kupikir kau tak mau memakannya jadi aku tak menyisakan untukmu dan langsung membagikan pada seluruh pegawai yang ada dirumah ini.
Daren melongo tak percaya dengan ucapan Siena, kesal karena bisa-bisanya Siena tak membagi kue padanya sementara semua pegawainya mendapatkannya.
‘’Aku baru saja kelar membuatnya masa harus membuatnya lagi.’’ Protes Siena.
‘’Salahmu karena tak membaginya denganku.’’
‘’Kau kan memiliki banyak uang kenapa kau tak membelinya saja, lagian kue buatanku tak seenak kue yang biasa kau makan.’’
‘’Jangan banyak bicara Siena, lebih baik kau cepat bertindak agar kue itu bisa cepat jadi karena aku sudah ingin memakannya.’’
Daren sedikit berjalan meninggalkan Siena dan tak lama membalikan badannya lagi.
‘’Ingat Siena jangan sampai kau mengerjaiku dengan membuat rasa kue yang tidak enak karena sampai itu terjadi maka aku akan terus membuatmu mengulanginya sampai rasa kue itu menjadi enak.’’ Ancam Daren lalu benar-benar melangkah meninggalkan Siena.
Siena membuang nafasnya kasar, baru saja terpikir untuk mengerjai Daren tapi niatnya sudah lebih dulu terbaca.
satu setengah jam kemudian Siena meminta ART untuk mengantarkan kue ke ruang kerja Daren sementara Dirinya kembali ke kamar dan memilih menonton variety show kesukaannya.
*****
__ADS_1
‘’Siena bangun.’’ Daren membangunkan Siena yang sedang tertidur pulas.
‘’Ada apa?’’ Tanya Siena dengan mata yang setengah terpejam.
‘’Siapkan beberapa pakaian untukku, jam 9 nanti aku akan ke Paris.’’
‘’Siena.’’ Teriak Daren karena Siena masih tak bangun juga.
Dengan kesal akhirnya Siena bangun dari tidurnya, melirik jam dinding yang masih menunjukan jam 4. 35 pagi. Siena menguap berjalan keruangan ganti dengan mata yang masih setengah tertutup.
Begitu sampai diruang ganti. ‘’Apa yang dikatakannya tadi?’’ Siena menggaruk kepalanya tak ingat apa yang diperintahkan Daren. Tadi dirinya sangat mengantuk jadi tak fokus dengan ucapan Daren. Siena kembali ke kamar. ‘’Tuan tadi kau menyuruhku untuk apa?’’
‘’Astaga Siena.’’ Geram Daren.
‘’Stop.’’ Siena mengangkat satu tangannya. ‘’Masih pagi marahnya ditunda dulu.’’
Daren menarik nafas mencoba menghilangkan rasa kesal yang sudah mulai menghampirinya.
‘’Jadi tadi kau menyuruhku untuk melakukan apa?’’ Tanya Siena lagi.
‘’Buka matamu dan dengar baik-baik perkataanku.’’ Siena mengangguk ‘’Sekarang kau masuk ke ruang ganti dan packing beberapa pakaian untukku karena jam 9 nanti aku akan ke Paris.’’
‘’What!! Kau akan ke Paris?’’’Tanya Siena tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. ‘’Lalu berapa lama kau akan berada disana?’’ Tanya Siena lagi.
Mendapat pertanyaan itu, Daren berjalan mendekat pada Siena, menyentil kening Siena dengan sedikit keras. ‘’Sepertinya kau begitu bahagia saat mendengar tentang kepergianku.’’
Siena menyengir menampilkan barisan gigi putihnya. ‘’Kau terlalu negatif thinking, aku bukannya senang tapi terkejut.’’
‘’Ah masa, tadi kau terlihat seakan ingin terbang kelangit.’’
‘’Astaga kau ini, kenapa tak mempercayaiku sih…. Yasudah aku akan mempacking pakaianmu dulu nanti keburu lupa.’’ Ucapnya untuk menghindar.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi...
Jangan lupa like dan komennya..
__ADS_1