Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Sepak bola


__ADS_3

‘’Buta ya, udah tau sendiri pake ditanya lagi.’’


’’Wanita ini tak ada baik-baiknya.’’ Gumannya lalu meninggalkan Reva dan tanpa permisi berjalan ke meja makan karena tadi ia melewatkan jam makan siangnya.


‘’Ck enak ya makan gratis?’’ Sindir Reva tapi Steve sama sekali tak tersindir, pria itu malah mengangguk.


‘’Makannya jangan banyak-banyak ntar habis lagi, aku belum makan soalnya.’’ Bohongnya karena ingin mengerjai Steve yang seperti sangat kelaparan.


‘’Astaga udah aku habisin, maaf aku nggak tau kalau kamu belum makan.’’ Ucapnya dengan nada menyesal, berdiri dan menuju dapur ingin membuatkan makanan untuk Reva.


‘’Mau ngapain?’’


‘’Masak buat kamu.’’


‘’Masak? Kamu?’’


Steve mangangguk, ingin membuka kulkas tapi Reva mencegahnya.


‘’Nggak, nggak usah aku nggak laper kok.’’


‘’Aku tau dan aku juga hanya pura-pura saat bilang akan memasak untukmu.’’ Steve tertawa dan meninggalkan Reva yang melihatnya dengan tatapan horornya.


‘’What! Dasar pluto.’’


‘’Pluto apaan?’’


‘’Hhmm dasar bego pluto aja nggak tau.’’ Ucapnya dengan gaya dan wajah tengilnya, menjulurkan lidahnya pada Steve dan meninggalkan dapur, tapi sebelum itu. ‘’Habis makan jangan lupa cuci piringnya sendiri, ingat hanya numpang makan gratis jadi jangan bikin ribet orang lain.’’


‘’’Berasal darimana sih tuh cewek nyebelinnya minta ampun.’’


‘’Dari kandungan mamanya.’’ Jawab Siena yang tiba-tiba muncul di dapur


‘’Kalian kenapa, ribut lagi?’’


‘’Lagi? Kok kesannya aku sama dia berantem mulu.’’


‘’Ya emang, nggak sadar?’’


Steve nyengir. ‘’tapi adik iparmu itu memang sangat menyebalkan Siena.’’


‘’Ah masa sih? Nggak kok, dia tuh anaknya baik, manis, pengertian, dewasa mungkin karena kalian belum dekat aja, makanya luangkan lebih banyak waktu untuk mengenalnya lebih dekat.’’


‘’Buat apa? Kamu ini ada-ada aja deh, yaudah kita bahas kerjaan kita aja daripada bahas yang nggak penting.’’

__ADS_1


*****


‘’Om Steve udah mo pulang?’’ Tanya Aaron saat Steve akan keluar dari rumah mereka, pria kecil itu membuka dua tangannya minta dipeluk.


‘’Kenapa, mau ditemenin main?’’ Ucapnya yang kini sudah menggendong Aaron, memutar tubuhnya dan kembali melangkah masuk menuju halaman belakang rumah itu.


‘’Om Steve ajalin Alon main sepak bola ya.’’


‘’Nggak kalau kamu jatuh gimana?’’ Ucap Siena yang tiba-tiba datang dan tak mengizinkan.


‘’Tapi mommy kata daddy anak laki itu halus belani, daddy juga sudah kasih Alon main sepak bola kok.’’


‘’Daddy, daddy, daddy, pria itu benar-benar.’’ Geram Siena, wanita itu terlalu menjaga Aaron hingga tak mau pria kecilnya terluka sekecil apapun makanya ia tak mau Aaron bermain sepak bola yang pastinya besar kemungkinannya untuk jatuh dan terluka.


‘’Siena sudahlah, paling mainnya hanya tendang-tendang kecil aja jadi nggak mungkin jatuh, aku janji deh.’’


‘’Kayak janjinya bisa dipercaya aja.’’ Cibir Reva yang juga tiba-tiba muncul.


‘’Kamu kenapa sih, ada masalah sama aku, kayaknya nggak suka banget ya lihat aku disini.’’


‘’Kalau udah tau kenapa masih sering kesini.’’


‘’Eh aku kesini tuh mau ketemu Siena dan Aaron bukan mau ketemu kamu.’’


‘’Idih amit-amit deh.’’ ucap Reva bergidik ngeri sedang Steve hanya memandangnya dengan tatapan tak suka, kemudian mengambil bola dan menemani Aaron bermain.


‘’Awas loh Steve jangan sampai Aaron jatuh.’’ Ucap Siena setengah khawatir.


‘’Tenang aja Siena, kami hanya bermain bola bukan berperang jadi Aaron nggak mungkin terluka.’’


‘’Iya iya.’’


Siena sedang asyik memvideo Aaron dan Steve yang sedang bermain, ingin mengunggahnya ke instagram.


‘’Kakak ipar ini kak Daren mau ngomong, katanya dari tadi menelpon kakak ipar tapi nggak diangkat.’’ Ucap Reva memberikan ponselnya pada Siena.


‘’Kamu lagi ngapain Siena, kenapa aku telepon-telepon nggak diangkat?’’


‘’Jangan lebay deh orang kamu baru sekali nelpon kok udah bilang berkali-kali, tadi pas kamu nelpon aku lagi videoin Aaron makanya nggak aku angkat teleponnya.’’


‘’Memangnya Aaron lagi ngapain?’’


‘’Main sepak bola.’’ Ucap Siena dan mengarahkan kamera pada Aaron agar Daren melihatnya, bukannya melihat Aaron mata Daren malah fokus melihat seseorang yang sedang bermain bersama Aaron dan pria itu tak senang akan hal itu.

__ADS_1


‘’Kenapa ada dia, kok kamu nggak bilang sama aku?’’


‘’Oh itu, Steve datang karena ada kerjaan yang harus kami bahas.’’


‘’Kerjaan apa, kalian ada kerja bareng?’’ Tanyanya yang diangguki Siena.


‘’Kok nggak pernah ngomong sama aku.’’


‘’Maaf aku lupa.’’ Ucapnya menyengir sedang Daren semakin tak suka mendengar jawaban Siena.


‘’Lupa? Aku tuh telepon kamu setiap hari Siena, masa sih sekali aja nggak pernah muncul dalam pikiran kamu buat kasih tau aku tentang hal itu.’’


‘’Iya-iya aku minta maaf aku salah, nggak usah marah ya?’’


‘’Udah dulu aku mau meeting.’’ Ucap Daren mengakhiri panggilan teleponnya.


‘’Yah marah, lagian aku juga bego banget sih, kenapa sampai kelupaan gini.’’ Ucapnya memukul kecil kepalanya.


Sementara Daren, hanya termenung, pria itu sama sekali tak ada meeting, ia menyudahi panggilan telepon karena takut terbawa emosi dan nantinya malah akan mengeluarkan kata-kata kasar yang hanya akan menyakiti Siena.


Tadinya ia berharap Siena memiliki alasan lain karena tak memberitahunya tentang Steve tapi nyatanya jawaban yang diberikan wanita itu malah membuatnya emosi, lupa? Bagaimana bisa dia melupakan hal sepenting itu, mungkin sedikit lebay tapi beginilah Daren.


Pria itu memang terbilang sangat posesif, tak suka wanita yang dicintainya terus berdekatan dengan pria lain, ada pepatah cinta bisa timbul karena keterbiasaan dan Daren tak mau hal itu terjadi, apalagi saat ini ia belum yakin akan perasaan Siena padanya, wanita tak pernah berkata mencintanya.


Tok tok tok


‘’Tuan sebentar lagi kita akan meeting dengan tuan Robby.’’ Ucap Akbar memberitahu, Daren sama sekali tak mengatakan apa-apa, pria itu berdiri dan berjalan didepan Akbar.


‘’Perkenalkan sekertaris baru saya.’’ Ucap Robby memperkenalkan, seperti yang diperintahkan Daren pada Akbar, sekarang Monika sudah tak berada lagi di negara itu, Daren bahkan tak bertanya karena tak mau tau kemana Akbar mengirim wanita itu.


‘’Sania?’’ Ucap Daren kaget


Sania menunduk hormat, memberikan memberikan satu tangannya untuk bersalaman dengan Daren.


Setelah meeting


‘’Kamu kenapa bisa kerja sama Robby?’’


‘’Kebetulan di perusahaannya tuan Robby ada kenalan Sania kak, terus dia kasih tau kalau tuan Robby lagi butuh sekretaris makanya Sania mencoba melamar dan puji Tuhan Sania keterima jadi sekretarisnya.’’


‘’Kenapa nggak bilang kalau kamu mau kerja sebagai sekretaris, kan kakak bisa menyiapkan posisinya untukmu.’’


‘’Nggaklah, kalau kerja disini aku yakin semuanya akan berlaku baik padaku kalau tau aku adik iparnya kak Daren dan aku nggak mau itu, aku ingin bekerja keras dengan kemampuanku sendiri.’’

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2