
‘’Kenapa suasananya tegang begini?’’ Guman Siena saat menaiki bus, ia melihat semua orang duduk diam dengan kepala menunduk, hanya menyapanya dan Daren kemudian kembali diam tanpa ada yang mengeluarkan suara
wanita itu lalu melihat Daren disampingnya. ‘’Oh pantas saja mereka tegang gitu, aku sampai lupa bagaimana sikap suamiku ini.’’ Ucapnya menggeleng kepala dan duduk.
‘’Tersenyumlah sedikit Daren.’’ Bisik Siena, pria itu melihat Siena dan memberikan senyum manisnya yang memang hanya diperlihatkannya pada orang-orang terdekatnya.
‘’Bukan padaku tapi pada seluruh karyawanmu, lebih baik kau berdiri dan mengucapkan beberapa kata sambutan, berbicaralah dengan santai biar suasananya nggak setegang ini, kau lihatlah semua karyawanmu pada menunduk, ini mau happy-happy atau mau perang sih?’’
‘’Tapi Siena.’’ Ucap Daren yang sudah mendapat pelototan dari wanita itu, mau tidak mau Daren berdiri, menyampaikan beberapa kata sambutan seperti yang diinginkan Siena hanya saja gayanya tetap kaku dan dingin seperti biasa, bukannya mencairkan suasana malah menambah ketegangan untuk para karyawannya.
‘’Astaga pria ini.’’ Geram Siena sambil memperhatikan wajah para karyawan Daren, wanita itu berdiri dari duduknya, menghampiri Daren, berdiri di samping pria itu, melotot sekilas dan mengambil mikrofon dari tangan Daren, berinisiatif untuk mencairkan ketegangan.
Dimulai dengan memperkenalkan namanya yang sebenarnya sudah diketahui, Siena juga beberapa kali menceritakan pengalamannya tentunya dengan cara yang lucu hingga menimbulkan tawa dari para karyawan, Siena juga meminta sopir untuk memutar banyak lagu terkenal dan meminta para karyawan untuk bernyanyi mengikuti lagu tentunya dengan dipimpin olehnya, tak lupa ia juga menyuruh Daren ikut bernyanyi bersamanya, walau dengan gaya kakunya.
‘’Untung ada Ny Siena.’’ Bisik-bisik para karyawan merasa senang dengan sikap Siena, wanita itu sama sekali tak terlihat sombong, berkat Siena mereka bisa kembali menikmati perjalan itu dan berkat Siena juga mereka melihat sisi lain Dari seorang Daren Hansel yang ternyata sangat bucin, tak tak bisa menolak apapun yang dikatakan oleh istrinya, sedikit tak menyangka orang seperti Daren tak bisa berkutik di hadapan sang istri.
Hampir 4 jam rombongan mereka sampai di kawasan villa yang terbilang cukup megah dengan pemandangan yang indah, semuanya berbondong-bondong keluar untuk menikmati pemandangan villa, tak terkecuali Siena.
‘’Sheina.’’ Siena berteriak menghampiri adiknya yang tadi tak naik satu bus bersamanya.
‘’Sudah makan belum?’’ Tanyanya yang diangguki Sheina, sebenarnya wanita itu belum makan tapi ia terpaksa berbohong karena yakin Siena akan mengajaknya makan bersama dan pastinya akan bersama Daren, Sheina belum siap untuk itu, ia ingin terus menghindari Daren dan berusaha melupakannya.
‘’Yaudah yuk ikut kakak.’’ Siena menarik pergelangan tangan Sheina membawanya menghampiri Daren, ia ingin suami dan adiknya itu menjadi akrab selayaknya keluarga karena memang sekarang keduanya sudah menjadi keluarga bukan?
Acara demi acara pun berlangsung, tak terasa 2 hari sudah kebersamaan mereka, Siena sampai kewalahan meladeni setiap permintaan foto dari karyawan Daren.
*****
__ADS_1
Sekarang Daren, Siena, Aaron, Reva, kedua orang tua Daren, mama Siena dan kedua adiknya sedang berada di bandara untuk mengantar kepergian Siena, Aaron dan Reva yang memutuskan kembali ikut menjaga Siena di Munich.
‘’Kamu baik-baik ya disana.’’ Ucap mama mertua Siena dengan mengelus lengan atasnya.
‘’Padahal masih kangen sama kakak.’’ Ucap Sania, saat ini dirinya dan Sheina sedang memeluk Siena, mamanya juga menyampaikan banyak pesan pada Siena, sementara Daren, pria itu hanya diam sambil menggendong Aaron tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
‘’Kenapa kau diam saja? Tak ingin memelukku?’’ Tanya Siena, Daren pun langsung memeluknya dengan erat, mencium keningnya.
‘’Kenapa kau diam saja?’’ Tanya Siena lagi, Daren hanya menggeleng kepala dengan tangan yang terus memeluk tubuh Siena, tak lama ia menahan tengkuk Siena, mencium wanita itu tanpa peduli dengan yang melihatnya, Siena pun tak menolak, ia membalas ciman sang suami dengan sama lembutnya.
‘’Kalian ini.’’ Tegusr mama mertua
‘’Biarkan saja ma, kasihan yang bakalan LDR.’’ Timpal Reva cekikikan sementara yang lain hanya menggeleng melihat tingkah pasangan suami istri itu tentunya kecuali Sheina, karena sampai detik ini ia masih juga belum bisa melupakan Daren.
‘’Siena.’’ Tiba-tiba seseorang berteriak menghampiri keluarga itu.
"Alan" panggil kedua orang tua Daren.
‘’Kamu udah balik, jahat banget nggak pernah ngasih kabar.’’ Ucapnya pada Siena
‘’Kan ceritanya lagi kabur kak, oh iya bagaimana kabar kak Alan?’’
‘’Kabar aku baik, kamu gimana, ini anak kamu?’’ Tanyanya lagi melihat Aaron dengan wajah senangnya, pria itu menghampiri Aaron, mencubit pipinya, ingin menggendongnya tapi dicegah oleh Daren.
‘’Kau kenapa sih, aku hanya ingin menggendongnya sebentar.’’
‘’Nggak bisa, dia putraku.’’
__ADS_1
‘’Ya aku tau dia putramu, aku hanya ingin menggendongnya dan tak mungkin juga kan dia tiba-tiba jadi putraku hanya karena aku menggendongnya.’’
‘’Tapi Alon tak mau dipeluk sama uncle.’’ Ucap Aaron melihat Daren yang sepertinya terganggu oleh kehadiran pria yang ingin memeluknya itu.
‘’Kalian ini apa-apaan sih.’’ Siena berjongkok di depan Aaron. ‘’Aaron kenapa bersikap nggak sopan gitu? mommy nggak suka ya, cepat minta maaf sama uncle Alan.’’ Suruh Siena.
Aaron melihat Daren terlebih dulu, menundukan kepalanya dan meminta maaf pada Alan. ‘’janji sama mommy nggak akan ngulangin hal itu.’’
‘’Iya mommy Alon janji tak bikin mommy malah lagi, maaf mommy.’’ Ucapnya dan memeluk leher Siena.
‘’Kamu apa-apaan sih Siena kenapa marah pada Aaron?’’ Ucap Daren dan membawa Aaron dalam gendongannya.
Siena ikut berdiri. ‘’Kamu juga, bersikaplah dewasa sesuai umurmu dan jangan terus menerus mengajarkan yang tidak-tidak pada Aaron.’’
‘’Kata siapa dia perlu mantan untuk membuatku tak tenang?’’ Guman Daren, kalau Siena hanya merasa terganggu dengan keberadaan Monika, Daren malah merasa terganggu dengan setiap pria yang dekat ataupun yang tak dekat dengan wanita itu, selama itu pria maka Daren tak akan tenang.
‘’Sudahi pertengkaran kalian, kita kesini mau ngantar Siena bukan bertengkar seperti ini.’’ Ucap papa melerai.
Setelah kepergian Siena dan Aaron, Daren kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya, pria itu bahkan sering menginap di ruang kerjanya agar bisa menyelesaikan kerjanya sedikit lebih cepat dari waktu yang di targetkan.
‘’Akbar 2 minggu lagi kita akan ke Munich, persiapkan dirimu, dan jangan lupa semua dokumen yang kita butuhkan.’’ Daren akan ke Munich bukan hanya sekedar ingin bertemu Siena, Aaron dan Reva tapi juga mengurus kerjasamanya dengan beberapa perusahaan yang ada di negara itu.
~Reva dan Steve~
‘’Hai kau sedang apa, sendirian ya? Siena sama Aaronnya mana?’’ Tanya Steve menghampiri Reva yang sedang duduk manis di ruang tamu sambil mengutak ngatik layar ponselnya. Belakangan ini Steve sering sekali datang kerumah Siena untuk membahas sesuatu karena keduanya memiliki beberapa projek bersama dan tentu saja Daren tak tau akan hal itu😁
‘’Buta ya, udah tau sendiri pake ditanya lagi.’’
__ADS_1
Bersambung.....