Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
End


__ADS_3

‘’Duduk.’’ suruh Daren pada Steve yang kini berdiri di depannya.


‘’Aku ingin bertanya, apa benar kau mengajak adikku menikah, apa kau benar-benar serius dengannya?’’ tanya Daren lagi dngan menatap Steve.


‘’Iya kami akan menikah dan kuharap kau tidak menentangnya.’’


‘’Apa kau mencintai adikku?’’


‘’Tentu saja.’’ jawab Steve spontan untuk meyakinkan Daren, sejujurnya dia juga belum tau bagaimana perasaannya pada Reva yang jelas belakangan ini dia sangat nyaman bersama wanita itu bahkan tak pernah lagi berpikir tentang Siena.


‘’Kuharap kau serius dengan kata-katamu itu, kalau kau berani menyakiti adik ku maka kupastikan kau tidak akan hidup tenang dimanapun kau berada.’’


‘’Hhmm.’’ respon Steve sedikit kaget dengan ucapan Daren.


‘’Apa kau sudah merestui kami?’’ tanya Steve dengan nada senangnya, pria itu bahkan tak sadar sudah memegang satu tangan Daren.


‘’Benarkah, benarkah kau sudah merestui hubungan kami?’’ tanyanya lagi ingin memastikan kalau ia tak salah mengerti akan ucapan Daren tadi.


‘’Aku tidak punya pilihan lain selain merestui kalian, aku juga bingung kenapa adikku memilih pria sepertimu sebagai pendampingnya, padahal diluar sana banyak yang menyukainya dan banyak juga yang mengantri untuk menjadi pasangannya.’’ Daren menggeleng kecil kepalanya, berdiri, kembali melihat Steve dan meletakan tangannya di pundak Steve dengan sedikit menekannya.


‘’Kau tau kan apa yang akan terjadi padamu kalau kau berani menyakiti adikku?’’ tanyanya dengan nada mengancam lalu tersenyum sinis dan melangkah meninggalkan tempat itu, sementara Steve masih duduk diam sambil bergidik ngeri, sedikit takut dengan ucapan Daren.


*****


Kau dari mana saja, kakak dari mana?’’ ucap Siena dan Reva bersamaan saat melihat Daren masuk ke rumah.


‘’Ada apa dengan kalian?’’ tanya Daren pada kedua wanita itu yang kini memegang dan memeluk masing-masing lengannya dengan Siena di sisi kanan dan Reva di isi kiri.


‘’Daren.’’ ucap Siena dengan nada manjanya


‘’Apa yang kalian inginkan?’’ tanya Daren yang sudah sangat mengerti dengan kedua wanita itu.


‘’Daren Reva mau ke rumah Steve, katanya mau melihat neneknya Steve, aku bisa ikut nggak?’’


‘’Ke rumahnya Steve?’’ Daren melihat Reva ‘’siapa yang mengizinkan mu ke rumahnya?’’ tanya Daren.


‘’Hhmm, ini aku baru mau minta izin sama kakak.’’


‘’Kakak tidak mengizinkan mu pergi kemana saja hari ini, dan kamu juga.’’ ucapnya pada kedua wanita itu setelahnya ia berlalu masuk ke kamar, Siena dan Reva sama sekali tidak protes, keduanya langsung berjalan menuju taman belakang untuk menemani Aaron bermain.


‘’Kakak ipar nggak ada syuting hari ini?’’ tanya Reva, kini keduanya sedang duduk sambil memperhatikan Aaron yang dari tadi terus berlari kesana kemari dengan anjing kecil peliharaannya yang baru di berikan Daren seminggu yang lalu.


‘’Nggak ada, aku juga udah nggak pernah ngambil proyek baru lagi, rencananya aku hanya ingin menghabiskan beberapa proyek yang sebelumnya sudah ku setujui.’’

__ADS_1


‘’Apa kakak sudah benar-benar yakin ingin meninggalkan karir kakak disini?’’


Siena mengangguk tersenyum dan melihat Aaron. ‘’Kalau bisa memilih sebenarnya sangat berat bagiku meninggalkan apa yang sudah susah-susah kubangun, kau tau sendiri namaku sudah sangat besar di negara ini, tapi aku sadar di banding itu semua ada suatu hal yang lebih penting yang harus kulakukan dan walau tak sepopuler di negara ini tapi kupikir di negara kita namaku juga cukup dikenal dan yang lebih pentingnya, disana aku bisa dekat dengan seluruh keluargaku, dibanding karir aku juga lebih ingin menjadi seorang anak yang baik, seorang kakak yang baik untuk adik-adikku, seorang istri yang baik untuk suamiku dan seorang mommy yang baik untuk Aaron."


‘’Aku salut deh sama kakak ipar, semoga nanti aku akan menjadi wanita hebat seperti kakak.’’ Ucap Reva bangga dengan wanita yang sudah beberapa tahun itu menjadi kayak iparnya, wanita yang selalu bisa mencintai keluarga dibanding apapun, selalu mengutamakan keluarga dibanding dirinya sendiri bahkan karir yang susah payah dibangunnya pun direlakannya untuk kebahagian keluarga kecilnya.


Besoknya Siena, Reva termasuk Aaron dikagetkan dengan kedatangan orang tua Daren yang tiba-tiba sudah berada didepan rumah.


‘’Oma, opa.’’ Teriak Aaron kesenangan berlari menghampiri kedua paruh baya itu.


‘’Mama papa.’’ Ucap Siena dan Reva kompak lalu berjalan menghampiri kedua paruh baya itu.


‘’Ma pa kok datangnya nggak bilang-bilang?’’ tanya Siena yang juga diangguki Reva.


‘’Papa mama sangat merindukan kalian jadi apa salahnya kami datang dan menemui kalian disini.’’ jawab papa, melangkah masuk kedalam rumah, melewati Siena dan Reva dengan memeluk Aaron sedang Siena dan reva saling memandang, yakin pasti ada sesuatu yang membuat kedua paruh baya itu datang.


Malam harinya, seluruh keluarga sedang berbincang santai di ruang tamu, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh kedatangan Steve, nenek dan kakaknya.


‘’Apa yang kau lakukan disini?’’ tanya Reva kaget.


‘’Tentu saja untuk bertemu orang tuamu, memangnya apalagi.’’ jawab Steve dengan santai, pria itu ingin duduk di samping Reva tapi langsung dilarang Daren.


‘’Jangan duduk di samping adikku, duduklah di samping nenekmu.’’ suruh Daren.


‘’Selama mereka belum menikah aku tak akan membiarkan dia mendekati adikku.’’ timpal Daren lagi dengan nada tak sukanya.


‘’Kau itu kenapa sih, biarkan saja mereka duduk berdampingan.’’ ucap Siena pada Daren dengan setengah berbisik tapi sama sekali tak dihiraukan pria itu.


‘’Kakak apa artinya semua ini, ma, pa?’’ tanya Reva karena masih tak mengerti dengan situasi, kenapa tiba-tiba kedua orang tuanya datang, nenek dan kakaknya Steve juga tiba-tiba datang dan apa kata Daren tadi, sebelum pernikahan? Salahkan jika dia menganggap keluarnya sudah merestuinya dan Steve?


‘’Katanya kau mau menikah jadi sudah sewajarnya papa dan mama datang untuk melihat langsung pria yang akan menjadi suamimu ini.’’ jawab papa.


‘’Ha!.’’ ucapnya refleks karena kaget dengan mulutnya yang sedikit terbuka.


‘’Nggak usah kaget gitu kali.’’ bisik Steve dengan senyum jahilnya.


‘’Paa, maa, kak, apa kalian menyetujui pernikahan kami?’’ tanya Reva yang sama sekali tidak dijawab oleh ketiganya.


‘’Jadi bagaimana, apa kalian tidak keberatan kalau pernikahan mereka kita percepat?’’ tanya nenek Steve, ketiganya tak langsung menjawab dan menatap Reva. ‘’apa kau setuju?’’ tanya papa pada Reva.


Reva mengangguk dengan kecil.


‘’Sepertinya kau sudah tidak sabar menjadi istriku.’’ bisik Steve menggoda Reva yang sama sekali tak dihiraukan oleh wanita itu.

__ADS_1


‘’Pa.’’ Reva menghampiri papanya yang sedang duduk sendirian, hampir sejam lalu Steve dan keluarganya pamit pulang.


Wanita itu tersenyum melihat papanya yang ternyata sedang memandangi foto kecilnya.


‘’Sedih ya karena Reva mau nikah?’’ tanyanya dengan nada sedikit manja.


‘’Papa senang kok hanya saja sedikit rindu akan putri kecil papa yang dulu selalu merengek tapi sebentar lagi akan menjadi istri dari seseorang.’’


‘’Pa Reva bisa nanya nggak?’’ tanya Reva yang kini sudah memeluk papanya.


‘’Hhmm.’’


‘’Kenapa papa bisa langsung menyetujui pernikahan kami?’’


‘’Karena papa percaya pada kakakmu, dia yang menyuruh kami kesini jadi papa yakin dia pasti sudah menyelidiki semuanya, kakakmu tidak mungkin merestui mu begitu saja, jadi papa rasa papa tidak perlu khawatir karena yakin akan keputusan kakakmu.’’


‘’Kakak?’’ tanya Reva sedikit tak percaya tapi tak lama ia tersenyum.


Beberapa minggu berlalu, seperti yang sudah disetujui oleh kedua keluarga, pernikahan Steve dan Reva diadakan dengan begitu meriah dan tentu saja pernikahan dilakukan di negara kelahiran Reva.


‘’Apa kau senang menjadi istriku?’’ bisik Steve.


‘’Menurutmu? Aku bahkan sudah sangat menyesal sekarang.’’ jawab Reva dengan nada judesnya tapi sama sekali tak serius dengan perkataannya, belakangan ini ia merasa sikap Steve berubah padanya, pria itu mulai memperlakukannya dengan baik dan lembut walau terkadang membuatnya jengkel.


‘’Bisa saja kau bercandanya.’’ Ucap Steve mencolek dagu Reva sambil tersenyum.


‘’Apa kau iri melihat mereka? Apa kita juga harus mengadakan resepsi yang meriah seperti ini?’’ tanya Daren pada Siena.


‘’Untuk apa? kita menikah sudah sangat lama dan aku sama sekali tak memerlukan pernikahan semewah ini, bagiku dengan keberadaan kau dan Aaron di sampingku sudah membuatku sangat bahagia.’’


‘’Kau sudah mulai bisa menggombal ya sekarang.’’


‘’Siapa yang menggombal, aku hanya mengutarakan pendapatku.’’


‘’I love you.’’bisik Daren tiba-tiba tapi membuat Siena tersenyum senang.


‘’I love you too.’’ jawab Siena dan langsung memeluk Daren dengan perasaan senangnya.


‘’Terimakasih karena sudah menjadi istriku.’’


Siena mengangguk beberapa kali ‘’terimakasih juga karena sudah datang dan mencariku, terimakasih karena sudah mau berubah untukku dan terimakasih juga karena sudah memberikanku cinta yang begitu besar dan terimakasih juga karena sudah menghadirkan Aaron diantara kita.’’ jawab Siena semakin mengeratkan pelukannya.


...-Tamat-...

__ADS_1


__ADS_2