
‘’Apa kau tau, aku akan senang jika kau memiliki seorang pendamping seperti Steve.’’
‘’Kenapa?’’
‘’Karena menurutku dia akan bisa menjagamu dengan baik.’’
‘’Tapi aku sama sekali tak menyukainya.’’
‘’Kata orang cinta akan tumbuh karena kebiasaan, kalau kalian sering bersama aku yakin perasaan itu akan tubuh dengan cepat, aku sudah mengalaminya juga, bahkan dulu keadaanku sangat berat apalagi jika harus menghadapi semua sikap kakakmu tapi tetap saja aku jatuh cinta padanya, bahkan.’’
ucapnya terhenti ‘’bahkan menurutku aku sangat bodoh karena jatuh cinta dengan seseorang yang selalu memperlakukanku dengan kasar, saat itu aku selalu merasa tak dihargai tapi entahlah aku melihatnya dari segi apa hingga aku bisa mencintainya sampai sedalam ini.’’ sambungnya dalam hati.
*****
‘’Kau sedang apa?’’ tanya Siena menghampiri Daren yang sedang sibuk mengotak ngatik laptopnya.
‘’Sedang memeriksa beberapa email masuk.’’
‘’Kau belum lapar? Ayo makan malam bersama, semuanya sudah menunggumu dimeja makan.’’
Daren menghentikan kegiatannya, melihat jam tangan di pergelangan tangannya, saking asyiknya dengan pekerjaannya ia sampai tak sadar hari sudah berubah menjadi gelap, Daren menutup layar laptopnya, menggenggam tangan Siena dan berjalan keluar kamar bersama menuju ruang makan.
‘’Mau yang mana?’’ tanya Siena karena akan mengambilkan makanan untuk Daren. ‘’Ayam saja.’’ Uapnya, Siena pun mengambilkan dan memberikannya pada Draen, lengkap dengan sayur.
‘’Mommy Alon juga mau ayam sepelti daddy.’’ Tunjuk Aaron pada ayam goreng yang sangat mengunggah seleranya.
‘’Alon mau dua mommy.’’ Ucapnya memperlihatkan dua jarinya pada Siena saat wanita itu hanya memberikan satu potong ayam goreng padanya.
‘’Baiklah.’’ Ucap Siena tersenyum dan mengambilkan satu potong ayam goreng lagi untuk Aaron.
‘’Daddy besok Alon ikut daddy ya.’’
‘’Nggak bisa sayang, daddynya harus kerja, nggak bisa bawa anak kecil.’’ Jawab Siena
‘’Benelan daddy?’’ Tanyanya, Daren sejenak menghentikan makananya, meletakan tangannya di kepala Aaron sambil tersenyum. ‘’Aaron mau ikut daddy?’’ tanyanya yang langsung diangguki pria kecil itu.
__ADS_1
‘’Besok Aaron bisa ikut daddy.’’ Ucap Daren yang membuatnya tersenyum senang, setelahnya ia langsung melahap makanannya.
‘’Emang nggak pa-pa kamu bawa Aaron kesana, besok kamu meeting penting loh Daren.’’ Siena mengingatkan.
‘’Nggak pa-pa siapa tau putraku ingin belajar bisnis dariku.’’
‘’Nggak ada ya, jangan aneh-aneh dia masih kecil.’’ Tolak Siena
‘’Tapi Alon mau mommy, waktu dulu Alon lihat daddy di TV, katanya daddy seolang apa tuh namanya, apa ya daddy bis..bis…bis’’ Ucapnya memikir dengan raut wajah yang menggemaskan.
‘’Bisnisman.’’ sambung Daren.
‘’Iya bis nis man.’’ Ucapnya sedikit terbata. ‘’Alon mau kelja sepelti daddy mommy bial banyak uangnya , nanti kalau sudah banyak uang, Alon akan kasih jajan buat mommy, mommy senang kan kalau dikasih jajan? Alon aja senang dikasih jajan yang banyak.’’ Ucapnya senang.
‘’Udah ah jangan ngobrol lagi, habisin makanannya.’’ Sela Siena.
‘’Tuan, Ny ada tamu, katanya adiknya ny, namanya Sania.’’ Art memberi tahu, Siena pun segera menghentikan makan malamnya dan berjalan ke ruang tamu dimana Sania sedang menunggu, yang diikuti juga oleh Daren, sementara Reva dan Aaron tetap meneruskan makan malam.
‘’Kamu ngapain kesini?’’ tanya Daren dengan nada tak suka saat melihat Robby juga datang bersama Sania.
Siena sedikit menyenggol Daren ‘’wajahmu itu loh tolong dikondisikan, dia tamu kita Daren.’’ Ucap Siena setengah berbisik.
‘’Iya tamu tak diundang.’’ Balas Daren dengan suara yang keras hingga Robby dan Sania bisa mendengarnya membuat Sania merasa lebih tak enak hati.
‘’Jangan duduk, kau pulanglah, rumah ini tak menerima tamu selain keluarga.’’ Ucap Daren mengusir saat melihat Robby akan duduk kembali.
‘’Daren.’’ Tegur Siena.
‘’Loh kenapa, memangnya aku salah, untuk apa juga dia disini, kan nggak ada kepentingannya, lebih baik pulang aja daripada buang-buang waktu.’’
‘’Maaf tuan Daren kalau kedatangan saya mengganggu, tadi saya mengantar Sania kemari jadi sekalian saya akan menunggunya pulang biar dia tidak pulang sendirian, kasihan sudah malam soalnya. Ucap Robby yang juga menatap Daren dengan wajah tak suka.
‘’Kalau tau mengganggu kenapa datang, kalau ingin menunggunya kau tak perlu masuk sampai kedalam rumah, kau bisa menunggunya di mobilmu, silahkan.’’ Ucapnya dengan tangan yang mempersilahkan Robby untuk keluar.
‘’Daren nggak sopan tau.’’ Ucap Siena kemudian mempersilahkan Robby duduk sedang Daren terus menggerutu di sampingnya.
__ADS_1
‘’Aunty Sania.’’ panggil Aaron memeluk kaki Sania ‘’Alon kangen sama Aunty, mommy Alon ngantuk mau tidul sama mommy sama Aunty Sania.’’ Pinta Aaron dengan mengucek kedua matanya, Daren tersenyum senang, putranya memang sangat pintar mengusir pengganggu.
‘’Aunty.’’ Rengek Aaron menarik tangan Sania, setelahnya pria kecil itu melirik Robby yang sedang melihatnya sambil tersenyum. ‘’omnya pulang saja, aunty pulang besok bial diantal mommy atau daddy, ayo aunty.’’ Ajaknya lagi pada Sania.
‘’Kamu nggak dengar ucapan putraku, dia menyuruhmu pulang, lagian kau tak perlu pura-pura mencemaskan Sania, dia adik iparku, aku pasti akan mengantarnya pulang dengan selamat besok.’’ Ucap Daren pada Robby dengan senyum yang lebar tapi terkesan meremehkan.
Sebelum mengiyakan permintaan Aaron, Sania lebih dulu meminta maaf pada Robby, wanita itu tetap bersikap sopan karena Robby tetaplah atasannya.
‘’Sania maafin Aaron ya.’’ Ucap Siena
‘’Nggak pa-pa kak, dia keponakanku untuk apa meminta maaf hanya karena hal sepele ini.’’ Sania mengelus wajah Aaron yang kini sudah tertidur pulas.
‘’Oh ya kak, Sania bisa tanya nggak?’’
Siena mengangguk
‘’Sebenarnya ada apa sama kak Daren dan tuan Robby?’’
‘’sebenarnya kakak juga kurang paham tapi sepertinya kakak iparmu itu cemburu dengan kehadiran Robby, ck padahal kakak bahkan tak mengingat siapa itu Robby."
Sania mengangguk ‘’Ternyata kakak iparku sangat pencemburu.’’ Ucapnya cekikikan.
‘’Kalau itu jangan ditanya lagi, udah ah kamu tidur aja, besok kerja lagi kan?’’ Siena menyelimuti Sania, mematikan lampu kamar dan ikut memejamkan mata.
Sementara di kamar mereka, Daren belum tidur karena menunggu Siena yang belum juga kembali ke kamar.
‘’Kenapa lama sekali?’’ Ucapnya lalu memutuskan menyusul Siena ke kamar Aaron.
‘’Pantas saja.’’ ucapnya sedikit menyentil kening Siena yang juga sudah terlelap, pria itu memutuskan mengangkat tubuh Siena dan memindahkannya ke kamar mereka.
*****
Paginya Siena tersenyum melihat wajah tampan suaminya saat pertama kali membuka matanya, mengelus rahang pria itu dan mencium pipinya.
Bersambung......
__ADS_1