Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Pilihan


__ADS_3

‘’Mau kemana aku anterin.’’ Ucap Daren muncul tiba-tiba.


‘’Nggak usah kau jemput saja kekasihmu.’’ Tolak Siena, berjalan menghampiri taxi yang sudah menunggunya.


‘’Astaga.’’ Reva berteriak menutup mulutnya ‘’Apa kak Siena sudah tau tentang mak lampir itu?’’ Tanya Reva.


Daren tak menjawab, keluar berniat menyusul taxi yang dikendarai Siena.


‘’Astaga bagaimana ini, apa yang harus kulakukan?’’ Reva panik sendiri


*****


‘’Pagi Am.’’ Sapa Siena, wanita itu duduk dan langsung memulai pekerjaannya.


‘’Kamu ngapain? Santai ajalah kan perusahaannya milik suami kamu.’’ Ucap seorang rekan kerja membuat Siena menghentikan aktivitasnya, apa dia tak salah dengar? Apa mereka sudah mengetahui tentangnya dan Daren? Pikir Siena.


‘’Kau tak perlu menyembunyikannya lagi, satu perusahaan sudah tau kau adalah istri dari pak Daren.’’ Bisik Ami


Siena ingin mengucapkan sesuatu tapi tak jadi karena Daren sudah lebih dulu berteriak memanggil namanya.


‘’Kenapa lagi sih dia?’’ Siena memutar bola matanya malas


‘’Berdiri.’’ Perintah Daren yang kini berdiri di belakang kursi kerja Siena, mau tak mau wanita itu berdiri, sekarang dia sedang berada diperusahaan dan pria itu adalah atasannya.


‘’Apa yang kau lakukan?’’ Tanya Siena saat Daren memakaikan jaket padanya


‘’Diam dan pakai jaket ini jika kau tak ingin ku seret keluar dan tak mengizinkanmu bekerja lagi.’’ Ancam Daren.


‘’Kenapa juga kau harus menggunakan pakaian seperti ini di kantor?’’ Ucap Daren dengan nada tak sukanya, Siena sama sekali tak peduli, menurutnya tak ada yang salah dengan pakaiannya dan lagian sejak kapan juga Daren peduli dengan apa yang digunakannya.


‘’Merusak penampilanku saja.’’ Siena menggerutu kesal, ia masih menggunakan pakaian yang kemarin digunakannya karena tak punya waktu lagi untuk balik ke rumah dan untuk meminjam pakaian Reva sama sekali tak terpikir oleh Siena.


‘’Pergilah aku ingin bekerja.’’ Siena mendorong Daren, bukannya pergi Daren malah mengambil satu kursi dan duduk disampingnya, dan tentu saja hal itu membuat karyawan lain tegang, pasalnya mereka tak bisa bernafas legah selama Daren masih berada di ruangan itu.


‘’Apa yang kau lakukan, baliklah keruanganmu, kau membuat kami tak tenang bekerja.’’ Siena melihat suasana tegang yang ditampilkan rekan kerjanya.

__ADS_1


‘’Baiklah aku pergi sekarang.’’ Semuanya mengira Daren keluar karena ucapan Siena, hanya Siena yang tau kenapa Daren buru-buru keluar dari ruangan itu, pasalnya Siena tak sengaja melihat Monika sedang menelpon Daren.


Hampir 4 minggu berlalu, keadaan masih sama Daren dan Siena masih sering bertengkar karena kehadiran Monika.


‘’Siena kamu kenapa? Kenapa pucat banget?’’ Tanya Ami sedikit khawatir


‘’Nggak tau Am belakangan ini aku gampang cape selera makanku juga hilang.’’ Ucap Siena dengan nada lesuhnya, tak seperti biasanya belakangan ini Siena menjadi sedikit malas.


‘’Udah ke dokter belum?’’ Tanya Ami yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Siena.


‘’Aku temenin ke dokter sekarang mau?’’ tawar Ami yang kembali dibalas dengan gelengan kepala oleh Siena.


‘’Nggak usah Am, aku pergi sendiri aja.’’ Tolak Siena yang tak ingin merepotkan Ami, ia cukup tau Ami sedang memiliki banyak kerjaan.


Awalnya Siena mengantri di dokter umum, setelah mengatakan keluhannya sang dokter menyuruh Siena ke dokter obgyn, jantung Siena berdetak dengan cepat, tak langsung masuk, Siena berdoa terlebih dulu, semoga dugaannya salah.


‘’Selamat bu Siena sebantar lagi anda akan menjadi seorang ibu.’’ Ucap sang dokter memberitahu.


Tak bereaksi sama sekali, Siena duduk diam di tempatnya, entahlah apa dia harus senang atau sedih mendengar berita ini.


Siena termenung, duduk ditaman rumah sakit, apa yang harus dilakukannya sekarang?


Siena bimbang harus melakukan apa, akhirnya ia memutuskan untuk memberi tahu mertuanya terlebih dulu, hendak berdiri Siena dikagetkan oleh dering ponselnya.


‘’Sejam lagi temui aku di cafe XX.’’ belum sempat Siena berucap Daren sudah lebih dulu mengakhiri panggilannya.


Hampir dua jam menunggu, Daren belum juga terlihat, wanita itu bahkan beberapa kali menelpon Daren tapi sama sekali tak ada jawaban.


‘’Aakkhh.’’ Teriak Siena lalu tak sadarkan diri, tadi pas keluar dari Cafe tiba-tiba sebuah motor menabraknya, untung janin yang dikandungnya baik-baik saja, pria pengendara motor itu juga sudah dibawa ke pihak yang berwajib.


‘’Dimana aku?’’ Tanya Siena setelah beberapa jam tak sadarkan diri.


‘’Kamu di rumah sakit sekarang.’’ Ucap Ami menghampiri, tadi Ami menelpon Siena untuk menanyakan keadaannya, seorang suster yang mengangkat panggilan itu memberi tahu keadaan Siena dan disinilah Ami sekarang.


‘’Maaf merepotkanmu lagi.’’ Ucap Siena

__ADS_1


‘’Kamu ngomong apa sih, kamu itu sahabatku jadi sudah sewajarnya aku menolongmu, sekarang istirahatlah." Pinta Ami, bukannya tidur Siena malah meminta Ami untuk mengambilkan ponselnya, ia ingin memberitahukan keadaannya pada mertua dan suaminya.


‘’Mama dan papa kesana sekarang.’’ Ucap mertuanya dengan nada panik


Setelah menelpon mertua Siena menelpon Daren, panggilan pertama, kedua sampai ke 4 sama sekali tak dijawab, Daren menjawab saat panggilan kelimanya.


‘’Ada apa Siena?’’ Tanya Daren seolah lupa tadi ia mengajak Siena bertemu


‘’Kamu dimana, masih di kantor ya?’’ Tanya Siena


‘’Maaf Siena aku nggak bisa lama ngobrol soalnya Monika sedang demam sekarang.’’ Siena mendengar nada khawatir Daren, wanita itu tersenyum kecut, ia hampir kehilangan anaknya karena Daren yang tak menepati janjinya tapi pria itu malah sedang asyik merawat selingkuhannya yang sedang demam.


‘’Kau pikir hanya dia yang sedang membutuhkanmu, datang dan jemput aku sekarang atau kau tak akan pernah lagi melihatku.’’ Ancam Siena.


‘’Maaf Siena tapi aku benar-benar nggak bisa ninggalin dia, dia sedang sakit dan tak memiliki siapa-siapa disini.’’


‘’Oke jika itu keputusanmu, kupikir kau sudah menentukan pilihannya sekarang.’’ Siena mengakhiri panggilan teleponnya, wanita itu menangis sejadi-jadinya, sedang Ami melihatnya dengan bingung, sama sekali tak tau apa yang membuat Siena menangis seperti itu.


Tak berkata apa-apa Ami memeluk erat Siena dan ikut menangis bersamanya.


‘’Kamu kenapa? Ceritakan padaku.’’


‘’Ami bisakah kau menolongku.’’


‘’Tentu saja.’’


Siena menceritakan apa yang akan dilakukannya pada Ami dan menceritakan apa yang terjadi padanya dan Daren.


sebagai seorang sahabat tentu saja Ami tak terima dengan cara Daren memperlakukan Siena, ia berjanji akan membantu rencana Siena asal Siena terus menghubunginya dan jangan pernah memutus komunikasi dengannya.


‘’Sayang kamu nggak kenapa-napa kan?’’ Tanya mama mertuanya menghampiri denga diikuti papa mertuanya.


‘’Ma, pa.’’ Ucapnya dengan nada sendu, ia begitu menyayangi kedua mertuanya tapi tak ada lagi yang bisa dilakukannya, ia tak ingin terus tersakiti dengan sikap Daren, keputusannya sudah bulat untuk meninggalkan Daren sudah cukup baginya memberi Daren waktu untuk menentukan pilihan.


Bersambung.....

__ADS_1


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....


Jangan lupa like dan komennya.....


__ADS_2