
‘’Itu karena bibit unggul ku.’’ Ucap Daren membuka mata, pria itu tersenyum melihat Siena, pelan-pelan melepaskan tangan Aaron yang memeluk lengannya.
Berbaring melihat Siena dengan dua tangannya diletakan di belakang kepala, ternyata Daren sudah terbangun sejak Siena masuk ke kamar itu, ia juga mendengar semua yang Siena katakan.
Tadinya ia sedikit tak suka karena Siena menyebutnya dengan pria brengsek tapi ya sudahlah dia tak ingin mempermasalahkannya, mungkin ia memang berhak memiliki gelar itu.
Siena diam, wanita itu melihat Daren dengan tatapan horornya.
‘’Jangan melihatku seperti itu, aku sungguh tak menyukainya.’’ Daren mengubah posisinya menjadi duduk menggeser sedikit lebih dekat pada Siena sedang wanita itu langsung berdiri dari duduknya.
‘’Apa kau tak suka putraku mengikuti wajahku?’’ Tanya Daren.
‘’Udah ngomongnya? sekarang bangun dan pulanglah karena aku sama sekali tak suka kau berada didekatku.’’ Ucapnya dengan nada yang dibuat sedatar mungkin.
‘’Kau mengusirku?’’
‘’Iya aku mengusirmu, kenapa, nggak suka? Bentak Siena.
‘’Pelankan suaramu, putraku sedang tidur.’’
Siena diam sejenak, melirik Aaron yang masih tidur dengan pulasnya lalu kembali menatap Daren dengan wajah tak sukanya, sedetik kemudian menarik tangan Daren, mendorong tubuhnya keluar dari kamar itu dan langsung menutup kembali pintu kamar, menguncinya dari dalam.
Siena mendekat menghampiri ranjang Aaron, bukannya membangunkan, Siena malah ikut berbaring di samping Aaron, wanita itu memperhatikan wajah imut putra kecilnya, membelai lembut wajahnya dan beberapa kali mencium pucuk kepalanya, Siena tak ikut tidur, ia terus melihat wajah Aaron sampai putra kecilnya itu membuka mata.
‘’Mommy.’’ Ucap Aaron, lalu melihat ke sekeliling kamar, memutar bola matanya kesana kemari seperti sedang mencari seseorang.
‘’Kenapa sayang?’’ Tanya Siena bangun dari tidurnya dan juga ikut melihat sekeliling.
‘’Mommy omna nama?’’
‘’Om?’’ pikir Siena, tak lama ia sadar siapa om yang dimaksud Aaron.
__ADS_1
‘’Mommy omna mana?’’ Tanya Aaron lagi.
‘’Omnya sudah pulang sayang, kamu kok nggak peluk mommy dulu, mommy sedih nih.’’ Siena pura-pura menampilkan wajah sedihnya, tak lama pria kecilnya itu sudah memeluk lehernya dan beberapa kali mencium pipinya.
‘’Lopyu mommy.’’
‘’Love you so much.’’ Siena mencium seluruh wajah Aaron sampai menggigit gemas pipinya yang tentu saja langsung mendapat protes.
‘’Mommy sakit.’’ Rengek Aaron mendorong wajah Siena sedang wanita itu tersenyum garing dan kembali mencium wajah Aaron.
‘’Anak mommy yang paling ganteng ini kenapa gemesin sekali sih?’’ Ucap Siena yang kini sudah mencubit pipi Aaron yang kembali mendapat protes dari sang pemilik pipi.
‘’Mommy sakit.’’
‘’Oh cakit ya.’’ Ucap Siena dengan nada berbicara seperti anak kecil dan dengan nada menyesalnya, setelahnya Siena menggendong Aaron dan membawanya keluar kamar.
Begitu sampai diruang tamu Aaron berteriak kesenangan, meminta lepas dari gendongan Siena dan berlari dengan girang menghampiri Daren yang sedang duduk sambil melihat ponselnya, pria kecil itu meminta naik dan duduk dipangkuan Daren.
‘’Omna lum pulang?’’ Tanya Aaron dengan kesenangan.
‘’Kenapa kau masih disini, bukannya aku menyuruhmu pulang?’’ Ucap Siena dengan nada tak sukanya dan mendudukan dirinya di kursi tepat didepan Daren.
‘’Tadinya mau pulang tetapi setelah kupikir lagi sebaiknya aku menunggu disini saja takut nanti kau merindukanku.’’
Siena mengernyit, merasa aneh dengan ucapan Daren, sejak kapan pria brengsek itu bisa mengucapkan kata-kata romantis seperti itu lalu wanita itu tersenyum sinis, jika kata itu diucapkan dulu mungkin Siena akan sangat senang tapi tidak dengan sekarang karena Siena malah merasa geli dan ingin muntah saat mendengarnya.
Aaron terus menempel pada Daren, pria kecilnya itu tak habis-habisnya mengajak Daren berbicara bahkan Aaron mencium pipi Daren beberapa kali.
‘’Nati malam omna tidul sama Alon lagi ya.’’
‘’Om sih nggak keberatan tapi sepertinya mommymu nggak mengizinkannya.’’ Ucap Daren melihat Siena, sebenarnya ia sangat tak suka menyebut dirinya om didepan Aaron tapi terpaksa harus melakukannya, sadar Aaron pasti perlu banyak waktu untuk menerima kehadirannya, Daren memutuskan untuk memberitahu Aaron secara perlahan agar tak membuat putra kecilnya itu bingung.
__ADS_1
‘’Mommy Alon mau tidul sama om ya.’’ Ucap Aaron melihat Siena dengan nada memohonnya.
Tak menjawab Siena berdiri. ‘’Ayo ganti pakaianmu kita akan pergi menemui daddy sekarang.’’ Siena menyeringai pada Daren saat melihat putra kecilnya itu berteriak kesenangan, langsung turun dari pangkuan Daren dan berlari masuk ke kamarnya dengan babysitter yang berlari menyusul dibelakangnya.
‘’Siena apa maksudmu, kenapa kau terus membuat putraku memanggil pria lain daddy dan sekarang kau mau menjauhkanku dengannya, aku memang bersalah pada kalian tapi tolong berikan aku kesempatan dan jangan jauhkan putraku dariku.’’
Geram Daren tak suka dengan sikap Siena. Pria itu sadar sangat sadar bahwa tak akan mudah bagi Siena memaafkannya tapi ia juga tak terima dengan sikap Siena yang sepertinya tak suka berada didekatnya.
‘’Siapa yang mau memisahkan kalian, aku hanya sedang ingin bertemu Steve dan tak mungkin aku meninggalkan putraku dirumah sendirian, lagian Aaron juga sangat menyukai Steve jadi kupikir dia akan sangat senang untuk itu.’’ Ucap Siena dengan nada santainya kemudian berlalu masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
‘’Apa yang kau lakukan kenapa kau mengikutiku?’’ Siena melotot melihat tak suka pada Daren yang kini berada dalam kamarnya, tadi Daren sengaja mengikuti Siena.
‘’Apa yang kau lakukan, kenapa kau mengunci pintunya?’’ Siena sedikit takut melihat Daren yang dengan sengaja mengunci pintu kamarnya, pria itu bahkan mengantongi kunci pintu kamar Siena dan berjalan mendekat pada wanita itu.
‘’Mau apa kau, apa yang kau lakukan? Menjauh dariku.’’ langkah Siena terus mundur saat Daren memajukan langkahnya.
‘’Menurutmu apa yang akan kulakukan padamu?’’ Tanya Daren dengan seringainya.
‘’Jangan gila kau, aku bisa melaporkanmu pada pihak yang berwajib.’’ Ancam Siena tapi Daren sama sekali tak takut, pria itu malah tertawa renyah lalu mengelus lembut wajah Siena.
‘’Memangnya apa yang mau kau laporkan, apa kau ingin melaporkan seorang suami yang mengunci istrinya didalam kamar, menurutmu apakah mereka bisa menghukumku untuk itu, jelas tidak Siena karena kau adalah istriku.’’ Ucapnya lagi dengan tawa yang tak kalah nyaringnya.
Siena mengendus kesal, benar juga ucapan pria brengsek ini, jika ia melaporkan hal itu pada pihak berwajib, bukannya mendapat pertolongan dia pasti malah akan ditertawakan oleh mereka.
‘’Kalau begitu kau menjauhlah dariku.’’ Siena mendorong tubuh Daren yang kini menghimpit tubuhnya di dinding, tapi hal itu sama sekali tak membawa perubahan apapun karena Daren tak bergerak bahkan hanya 1 cm pun.
‘’Sebenarnya apa maumu, kenapa kau datang lagi dan mengganggu hidupku?’’
‘’Aku hanya ingin kau pulang bersamaku.’’
‘’Kalau begitu bermimpilah karena hal itu tak akan pernah terjadi.’’
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like dan komennya ya