
‘’Berikan nomor rekeningmu aku akan membayarnya dengan 12 kali cicilan.’’
‘’Cicilan? Ck tadi katamu bahkan bisa memberikanku lebih dari itu tapi apa buktinya, 200 M saja perlu di cicil 12 kali, kau pikir aku online shop apa, nggak ada pokoknya harus dalam sekali bayar.’’
‘’Jika aku membayarmu sekaligus setelahnya aku akan mati kelaparan.’’
‘’Kau ini model terkenal atau tidak sih?’’
‘’Rev stop!’’ Ucap Siena melihat pertengkaran keduanya, Siena hanya tak ingin perdebatan semakin melebar dan nantinya hanya akan melukai perasaan Steve.
Setelah pemotretan Siena memilih pulang ke rumahnya
‘’Rev lain kali jangan pernah berkata seperti itu lagi pada Steve.’’
‘’Memangnya kenapa kak, aku hanya kesal padanya.’’
Siena pun menceritakan tentang Steve pada Reva, pria itu bukannya tak memiliki banyak uang atau bukan juga karena penghasilannya kecil, hampir setahun lalu, Siena juga tak sengaja mengetahui, Steve ternyata sering menggunakan uangnya untuk membantu orang-orang membutuhkan, pria itu selalu mendonasikan 80% penghasilannya untuk membantu biaya pengobatan atau biaya operasi orang-orang yang tak mampu, bahkan selama setahun terakhir Siena juga sering berdonasi tapi tentunya tak sebanyak yang diberikan Steve.
‘’Jadi aku mohon jangan mempermasalahkan masalah kopi itu lagi.’’ Ucap Siena yang hanya mendapat anggukan kecil dari Reva.
*****
‘’Kau sedang apa?’’ Tanya Siena
‘’Ada apa ini, tumben kau menelponku duluan.’’ Ucap Daren kesenangan karena ini pertama kalinya Siena menelponnya duluan sejak mereka berpisah jauh.
‘’Kenapa kau tak suka?’’
‘’Suka, aku sangat menyukainya, terimakasih karena sudah menelponku.’’
‘’Kau masih di kantor?’’
Daren mengangguk. ‘’Aku ingin segera menyelesaikan pekerjaanku agar bisa menemui kalian secepatnya.’’
‘’Pulanglah, kau tak perlu bekerja sekeras itu kalau kau sakit bagaimana?’’
‘’Ápa sekarang kau sedang mengkhawatirkanku?’’
‘’Siapa yang mengkhawatirkanmu, hanya saja kalau kau sakit mama, papa, Reva dan Aaron pasti akan merasa sedih.’’
‘’Hanya mereka, kau tidak?’’
‘’Sudahlah, kenapa jadi membahasa ini sih, kau pulanglah sekarang dan telepon aku lagi ketika kau sampai dirumah, oke.’’ Ucapnya dan langsung mengakhiri panggilan telepon.
*****
__ADS_1
‘’Kau mau kemana?’’
‘’Aku sedang dalam perjalan pulang, bukankah kau menyuruhku pulang?’’
‘’Óh iya aku lupa, kupikir kau mau kemana malam-malam begini.’’
‘’Tenang saja aku tak akan kemana-mana tanpa memberitahumu.’’
‘’Oh ya bagaimana kegiatanmu tadi?’’
‘’Jangan menanyakannya nanti kau ketiduran lagi.’’
‘’Aku tak akan ketiduran jika kau meringkas ceritamu, aku hanya ingin mendengar garis besarnya aja nggak usah detail-detail banget.’’
Sesuai permintaan Siena mulai menceritakan kegiatannya pada Daren, keduanya terus mengobrol, kali ini bukan Daren yang ketiduran tapi Siena, Daren terus memperhatikan wajah Siena tanpa mau mengakhiri panggilan itu, ia bahkan tidur berhadapan dengan ponsel.
Paginya Daren kembali menelpon Siena tapi ponsel wanita itu sama sekali tak aktif, akhirnya Daren menelpon Reva dan menyuruhnya membangunkan Siena.
‘’Kakak ipar bangun, ini suamimu ingin mengobrol.’’
Siena menggeliat, menggaruk kepalanya dan kembali memejamkan matanya.
‘’Rev nggak usah dibangunin lagi sepertinya dia masih sangat mengantuk.’’ Ucap Daren. ‘’Oh ya Rev, tolong kau cars ponsel kakak iparmu sepertinya lowbat.’’ Ucap Daren yang yakin ponsel Reva sedang lowbat, pasalnya semalam saat sedang asyik melihat wajah lelap Siena tiba-tiba panggilan terputus.
*****
‘’Kami sih senang banget, memangnya kamu mau mengajak kami kemana?’’ Tanya mama mertuanya.
‘’Kemana saja yang kalian inginkan.’’
Semuanya terlihat berpikir tak tau harus kemana saking banyaknya tempat yang ingin mereka kunjungi.
‘’Mama ingin sekali berkunjung ke Marienplatz, bisa nggak kita kesana?’’ Tanya mama mertuanya yang langsung diangguki Siena.
‘’Baiklah hari ini kita kesana saja.’’
‘’Kakak ipar nggak pa-pa berada di tempat seramai itu?’’ Tanya Reva yang sedikit khawatir, walau bagaimanapun kakak iparnya itu seorang aktris terkenal yang pastinya kehadirannya akan mencuri perhatian setiap mata yang memandangnya.
‘’Nggak pa-pa Rev aku bisa pakai kacamata dan masker kok.’’
‘’Kamu yakin nggak pa-pa sayang?’’ Tanya mamanya memastikan yang kembali diangguki Siena.
‘’Ya sudah sekarang sebaiknya kita siap-siap.’’ Ucap Siena berdiri dan berjalan menuju kamarnya, sebenarnya dia sedikit khawatir tapi kapan lagi dia bisa menikmati kebersamaan seperti ini bersama orang-orang tersayangnya.
Sementara saat ini Daren sedang meeting bersama beberapa karyawannya.
__ADS_1
Pria itu mengangkat satu tangannya meminta untuk sejenak menghentikan meetingnya, saat melihat nama istri tercinta sedang menelponnya.
‘’Hallo.’’
‘’Daren aku hanya ingin memberitahukan hari ini aku, Aaron dan lainnya akan keluar untuk jalan-jalan jadi kau maklum saja jika kami tak mengangkat teleponmu.’’
‘’Baiklah, memangnya kalian mau kemana?’’
‘’Marienplatz.’’
‘’Kau tak apa kesana?’’
‘’Nggak, lagian bukankah kau menyuruh beberapa bodyguard untuk menjaga dan melindungiku?’’
‘’Kau tau?’’
‘’Tentu saja, kau pikir aku bodoh? Ya sudah aku harus siap-siap.’’
‘’Baiklah, ingatlah jangan menggunakan pakaian yang terlalu terbuka, jangan menggunakan lipstik yang terlalu mencolok dan jangan lupa bilang hal itu ke Reva juga.’’
‘’Baiklah.’’ Ucap Siena dan langsung mengakhiri panggilan teleponnya.
Sementara di sudut ruangan seseorang sedang memperhatikan Daren.
‘’Pasti itu istrinya tuan Daren.’’ Bisik seseorang, pasalnya ini pertama kalinya Daren mengangkat panggilan telepon saat meeting sedang berlangsung, biasanya jika ada panggilan telepon pria itu sama sekali tak akan peduli dan malah menonaktifkan ponselnya.
‘’Sepertinya tuan Daren sangat mencintai istrinya.’’ Bisiknya lagi
Sehabis meeting, Daren yang tau adik iparnya sedang bekerja di perusahaannya meminta Akbar untuk lebih memperhatikan Sheina dan jangan membuatnya susah.
Seharian ini Daren sangat sibuk dengan pekerjaannya, seperti yang diberitahukan Siena seharian inipun Daren sama sekali tak menghubungi Siena ataupun kedua orang tua dan adiknya.
*****
‘’Bagaimana kak seru nggak tadi?’’ Tanya Reva begitu mereka sampai di rumah
Siena tertawa sambil mengangguk, pasalnya tadi setelah tiba di lokasi tujuan, tak perlu waktu lama Siena sudah kerubumi oleh orang-orang yang juga berada di tempat itu, ternyata, kacamata, topi dan masker Siena tak bisa mengelabui dan akhirnya mau tidak mau Siena meladeni setiap orang yang minta berfoto dengannya, dalam hati Siena ingin menolak tapi dia juga tak tega.
Siena pun menyuruh keluarganya untuk menikmati pemandangan tempat itu tanpa dirinya dan setelahnya Siena menyusul setelah selesai dengan kegiatannya.
‘’Tapi para penggemar pasti sangat senang memiliki idola baik hati seperti kakak ipar.’’
Hari cepat berlalu, 2 hari lagi Daren akan berulang tahun, Siena, Aaron, mamanya, kedua mertuanya dan Reva merencanakan kepulangan mereka tanpa sepengetahuan Daren bahkan Siena berpura-pura tak ingat akan hal itu dan mengatakan memiliki jadwal penting yang sama sekali tak bisa ditinggal selama seminggu kedepan, yang tentu saja membuat Daren sedikit kecewa.
Bersambung.....
__ADS_1