
Terdapat beberapa adegan (21+) pada bab ini jadi untuk yang tak menyukainya bisa langsung dilewati sajaπ
Cup
Daren mengecup lama kening Siena. ββApa sakitnya sudah hilang?ββ Tanya Daren lagi.
ββKau gila ya, sakit ya sakit mana mungkin sakit di keningku akan hilang hanya karena kau menciumnya.ββ
Cup
Daren mencium kening Siena lagi lebih lama. ββApa sekarang masih sakit?ββ
Siena menatap Daren dengan tatapan tak suka.
ββAku yakin kalau aku menjawab belum kau pasti akan mencium keningku lagi jadi sekarang aku akan menjawab bahwa keningku baik-baik saja dan tak sakit sama sekali.ββ
Cerocos Siena panjang lebar, ingin mengomel lagi tapi perutnya berbunyi meminta makan.
ββKau makanlah dulu baru setelah itu kembali keruanganmu.ββ
kali ini Daren mengecup pucuk kepala Siena lalu berjalan menuju meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya sedangkan mata Siena berbinar menatap banyaknya makanan.
*****
ββApa yang terjadi? Apa tuan Daren marah besar padamu?ββ Tanya Ami dengan wajah khawatirnya saat Siena sampai di ruangan kerja mereka.
ββYa, dia menghukumku tapi tak apalah aku memang pantas mendapatkannya.ββ Bohong Siena.
ββTapi kau tak apa kan? Apa tuan Daren memukulmu?ββ
ββKau tenang saja Ami dia sama sekali tak memukulku.ββ
Siena memutar tubuhnya. ββCoba kau lihat aku sama sekali tak kenapa-kenapa kan? Jadi kau tak perlu khawatir.ββ
ββMaaf Ami aku sama sekali tak bisa menceritakan yang sebenarnya padamu karena dia melarangku untuk memberitahu siapapun dan aku takut dia akan menyakitimu kalau kau tau rahasia ini.ββ
ingin sekali Siena menceritakan sosok pria yang menjadi suaminya pada Ami tapi hatinya juga takut Daren akan menyakiti Ami karena Daren pernah mengatakan padanya untuk tak memberitahu siapapun tentang pernikahan mereka.
Tepat jam 6 sore Siena sampai dirumah sedang Daren sudah tiba sekitar 45 menit yang lalu.
ββKenapa kau pulang terlambat, bukannya jam pulang kantor jam 5?ββ Tanya Daren sambil bersikedap dada menyambut Siena di pintu masuk rumah.
__ADS_1
Siena mengerutkan kening mendengar ucapan itu.
ββApa maksudmu sih?ββ lalu Siena melewati Daren, ia merasa lelah dan malas untuk meladeni obrolan Daren yang menurutnya tak masuk akal.
ββHei, aku sedang berbicara padamu, kenapa kau tak sopan?ββ Daren mengejar Siena dengan langkah yang besar.
Siena sama sekali tak mendengar ucapan Daren dan meneruskan langkahnya, sampai di kamar Siena buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak sampai 20 menit Siena sudah keluar dengan menggunakan handuk karena tadi Siena lupa membawa baju gantinya ke kamar mandi.
ββKau mau menggodaku ya?ββ Tanya Daren, berdiri dari sofa dan mendekat pada Siena sedang Siena sama sekali tak mempedulikan ucapan Daren dan langsung menuju ruang ganti.
Selangkah lagi kaki Siena sampai diruang ganti tapi dua tangan Daren sudah melingkar sempurna di pinggang Siena membuat Siena menghentikan langkahnya seketika.
ββApa yang kau lakukan?ββ Tanya Siena sedikit tergagap, Daren sama sekali tak menjawab malah sibuk menghirup aroma shampo dari rambut Siena.
ββWangi, aku suka wangi rambutmu.ββ
Siena mencoba melepaskan tangan Daren tapi tangan itu sama sekali tak bergeser dari pinggangnya.
ββKau gila ya, shampoo yang kupakai sama dengan shampoo yang kau pakai dan jika kau menyukai aromanya maka cium rambutmu sendiri jangan mencium rambutku.ββ
Siena menyatukan helaian rambutnya dan membawanya ke depan dada kanannya.
ββApa kau sengaja menyingkirkan rambutmu kedepan agar aku menciummu seperti ini?ββ Tanya Daren dengan tidak tahu malunya.
ββApa maksudmu, jangan berbicara yang aneh-aneh ya, siapa juga yang menyuruhmu menciumnya, dasar pria mesum.ββ
Siena kembali berusaha melepas tangan Daren, bukannya berhasil Daren malah sudah memutar tubuh Siena menghadap ke arahnya.
ββApa yang mau kau lakukan? Tanya Daren dengan wajah yang menjengkelkan dimata Siena dan tak lama bibir Daren sudah menempel sempurna di bibir Siena.
Siena yang mendapat serangan mendadak pun langsung memukul-mukul dada Daren tapi pria itu seperti tak merasakan sakit sama sekali malah lebih memperdalam ciumannya.
ββKau gila ya? Apa begini caramu ingin membunuhku, dengan membuatku kehabisan nafas?ββ
Geram Siena saat Daren melepaskan ciumannya.
Daren sama sekali tak menanggapi Siena, perlahan tangan Daren terangkat untuk menyentuh bibir Siena lalu mengecupnya sekilas membuat sang empunya melotot kesal pada Daren.
ββApa yang kau lakukan sih? Siena mendorong tubuh Daren berniat membawa langkahnya memasuki ruang ganti dan tanpa diduga Daren mengikutinya sampai di depan lemari baju Siena.
ββApa yang kau lakukan, keluar aku mau ganti pakaian.ββ
__ADS_1
Usir Siena tapi Daren sama sekali tak bergeming dan malah memperlihatkan senyum mesumnya.
Merasa terancam Siena berniat lari tapi Daren sudah lebih dulu menangkapnya, Daren menarik pinggang Siena agar lebih mendekat padanya lalu tanpa aba-aba Daren menyatukan bibir mereka lagi.
Daren melu mat bibir itu dengan penuh nafsu apalagi melihat pundak mulus Siena dengan rambut yang terurai dan basah membuat Daren sangat bersemangat.
ββAku menginginkanmu sekarang.ββ Ucap Daren dengan nada yang begitu sensual membuat Siena bergidik ngeri.
Tangan Daren sudah mengusap-ngusap punggung mulus Siena sedang wanita itu beberapa kali menggeleng kepalanya dengan dua tangan yang mengatup di depan dadanya meminta agar Daren tak melakukan apapun padanya.
ββTolong jangan lakukan hal ini padaku, bukankah kau tak mencintaiku jadi bagaimana bisa kau melakukan hal itu padaku?ββ
Daren menyeringai. ββKau tau, seorang pria bisa melakukan hal itu bahkan pada wanita yang tak mereka cintai sekalipun.ββ
Siena terisak mendengar ucapan itu, masih berusaha untuk menolak Daren tapi pria itu sama sekali tak mempedulikan Siena bahkan tangan Daren sudah masuk dalam handuk yang digunakan Siena dan dengan nakalnya tangan itu mengelus-ngelus lembut perut Siena.
Siena menutup matanya menahan gelagar aneh yang dirasakan tubuhnya saat tangan Daren mulai memainkan salah satu bukit kembarnya.
Pikiran Siena terbagi dua ingin menolak tapi tubuhnya begitu menikmati sentuhan itu.
Siena bahkan tak sadar saat Daren melepas handuk dari tubuhnya.
Mata Siena yang tadi terpejam melotot seketika saat merasakan hisapan pada salah satu bukit kembarnya.
ββApa yang kau lakukan?ββ Tanya Siena dengan tubuh yang bergetar nikmat karena sentuhan itu sedangΒ Daren sama sekali tak menjawab dan tetap asyik dengan kegiatannya bahkan satu tangannya tak tinggal diam dan mulai meremas bukit yang satunya lagi.
ββAku menyukainya, bentuknya sempurna dan sangat pas di genggamanku.ββ
Ucap Daren lalu kembali meneruskan kegiatannya.
Perlahan tapi pasti bibir Daren terus turun kebawa, beberapa kali Daren menelan saliva saat melihat milik berharga Siena
Tak lama terdengar teriakan dari Siena karena Daren mengangkat tubuhnya dengan tiba-tiba.
Daren membaringkan Siena diranjang, Dengan cepat Daren membuka kedua paha Siena.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
Jangan lupa like dan komennya.....
__ADS_1