
‘’Sekarang saatnya melihat kamar kita.’’ Ajak Daren pada Siena dan membiarkan Aaron ditemani babysitter, pria kecil itu sudah mulai bermain dengan para robot kesukaannya.
‘’Gimana kamu suka nggak?’’ Tanya Daren yang kini sudah memeluk pinggang Siena dari belakang, pria itu meletakan rahang kokohnya di pundak kanan Siena, sedang Siena masih berdiri diam di tempatnya, terpesona dengan interior kamar yang begitu mewah dan elegan.
‘’Suka nggak?’’ Tanya Daren lagi yang kali ini mendapat anggukan dari Siena semantara mata wanita itu masih setia menelisik seluruh penjuru kamar.
‘’Makanya kamu harus cepat menetap di negara ini lagi, biar bisa tidur sama aku di kamar ini.’’
Siena tak mendengar, wanita itu melangkahkan kakinya, membuka pintu kamar mandi, tersenyum lalu kembali menutup pintu kamar mandi, kembali melangkahkan kakinya menuju walk in closet yang sangat luas bahkan hampir seluas kamarnya yang ada di Munich, wanita itu menganga dengan perasaan bahagiannya, ia sangat dan sangat menyukai rumah baru yang baru di masukinya belum sejam ini.
‘’Duduk sini deh.’’ Daren menepuk sofa meminta Siena duduk di sampingnya.
‘’Ada yang mau aku katakan.’’
‘Siena menatap Daren, wanita itu menunggu apa yang akan dikatakan Daren tanpa membuka suaranya.
‘’Karena kamu disini sekarang, aku mau jujur, aku nggak mau ada kesalahpahaman karena masalah ini nantinya.’’
Siena mengangguk kecil
‘’Kamu ingat Robby nggak?’’
Siena berpikir, memutar keras otaknya, dia sama sekali tak ingat pernah mengenal pria bernama Robby.
‘’Robby siapa?’’ Tanyanya jujur karena memang tidak mengingatnya tapi hal itu membuat Daren senang.
‘’Aku ingatnya kak Alan doang, oh ya kabar kak Alan gimana, aku mau ketemu kaka Alan bisa?’’ tanya Siena yang membuat Daren sedikit jengkel, baru saja dia merasa senang eh ternyata Siena malah mengingat Alan, pria yang dulu paling membuatnya cemburu.
‘’Mau mendengar ceritaku atau mau mendengar kabar Alan?’’
‘’Hhmm, masih juga cemburu sama kak Alan.’’
‘’Jadi apa yang mau kau ceritakan padaku?’’ Tanya Siena
Daren pun kembali bercerita. ‘’Jadi Robby itu pria yang dulu kau temui di maldives, ingat nggak?’’ Tanya Daren lagi, Siena kembali berpikir. ‘’Aku ingat memang disana aku bertemu sama mantan klienku tapi aku lupa nama sama wajahnya.’’
‘’Yaudah kalo gitu nggak perlu diinget, jadi Robby itu klien bisnisku, perusahaan kami sudah sangat lama bekerja sama, nah ini aku juga nggak tau kenapa tapi Monika sekarang jadi sekretarisnya Robby jadi mau nggak mau aku tetap akan bertemu Monika untuk membahas beberapa kerja sama.’’ Ucapnya sedikit terjeda karena memperhatikan raut wajah Siena.
__ADS_1
‘’Tapi aku berani sumpah aku nggak memiliki perasaan lagi padanya, aku bahkan langsung keluar setelah kami menyelesaikan meeting, sumpah kamu percaya kan?’’ Daren mengangkat dua jarinya sebagai lambang kejujuran dan sumpahnya pada Siena.
‘’Aku senang kamu jujur soal ini dan aku percaya sama kamu.’’
‘’Beneran, kamu nggak keberatan? kalau kamu keberatan aku bisa kok membatalkan kerjasama perusahaan ku dan Robby.’’
‘’Untuk apa dibatalkan, bukannya itu akan menimbulkan banyak kerugian? Aku nggak masalah kok, nggak keberatan juga.’’Ucap Siena ‘’Dan aku yakin kamu juga nggak akan pernah ninggalin aku lagi.’’ Sambungnya dalam hati.
‘’Siena.’’
‘’Hhmm.’’
‘’Aku bisa cium kamu nggak?’’
Siena memukul lengan Daren. ‘’Kenapa pake nanya sih, aku kan jadi malu.’’ Ucapnya dengan nada malu-malunya.
‘’Bisa nggak?’’ Tanya Daren lagi.
‘’Dulu aja main nyosor sekarang sok-soan nanya.’’
‘’Mana ada isteri yang meninggalkan suami hanya karena masalah ciuman Daren, kau ini ada-ada saja.’’
‘’Berarti bisa? Aku dapat lampu ijo nih?’’
Siena mengangguk malu, perlahan Daren mendekatkan wajahnya, menenggelamkan bibirnya di bibir mungil Siena yang hampir 5 tahun ini tak pernah dirasakannya lagi.
Daren menutup matanya, meresapi rasa manis yang sangat dirindukannya, bibir yang dulu menjadi candu untuknya sekarang bisa kembali dirasakannya, bibir mungil dengan warna peach itu sangat memabukan untuk Daren, pria itu terus mengabsen setiap sudut mulut Siena dengan penuh kelembutan, entah sejak kapan tapi ciuman yang tadi lembut kini berubah menjadi ciuman panas dan terkesan tergesah-gesah.
‘’Siena, aku tak tahan lagi, kau meninggalkanku terlalu lama, bisakah aku melakukannya sekarang?’’ Tanya Daren masih dengan bibirnya yang menyentuh bibir Siena.
Siena mengerti maksud ucapan Daren tapi saat ini Siena hanya bisa menggeleng kepalanya.
walau sedikit kecewa tapi Daren berusaha tersenyum, mungkin saja Siena memang belum siap dan dia juga tak perlu terburu-buru untuk itu, dia bahkan bisa menunggu 5 tahun jadi tak apa jika menunggu sedikit lagi sampai Siena siap.
‘’Yasudah kamu istirahat aja dulu, aku ke kamar mandi bentar.’’ Ucapnya dan langsung berdiri masuk kekamar mandi, Siena tau Daren kecewa tapi mau bagaimana lagi, dia tak mungkin melayani Daren saat sedang memiliki tamu bulanan.
*****
__ADS_1
‘’Kau cantik sekali, sangat cantik.’’ Daren menghampiri Siena, berniat menciumnya, tapi wanita itu sudah lebih dulu menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
‘’Kau tidak bisa menciumku sekarang, nanti lipstikku rusak.’’ Ucapnya.
‘’Baiklah, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang.’’ memberikan satu tangannya untuk di genggam Siena, setelahnya keduanya menghampiri Aaron yang sudah siap menunggu di ruang tamu.
*****
‘’Kalian sudah datang?’’ mama Daren berdiri, menyambut keluarga kecil Daren dan langsung mengambil alih Aaron dari gendongan Daren.
‘’Oma kangen banget sama Aaron, Aaron kangen nggak sama oma?’’
Aaron menggeleng.
‘’Kok gitu sih, masa nggak kangen sama oma?’’
‘’Kan tadi siang Alon ketemu oma.’’ Ucapnya yang kembali membuat orang disekitarnya tertawa, tapi benar juga katanya, bagaimana bisa kangen kalau tadi siang saja baru bertemu.
Sementara Siena yang melihat kedua adiknya langsung melepaskan genggaman tangan Daren, berjalan dan memeluk kedua adiknya itu tak lupa juga Siena mencium pipi keduanya, Daren pun ikut memperkenalkan diri tentunya sebagai suami Siena.
‘’Happy birthday ya sayang.’’ Ucap mama mencium pipi Daren yang diikuti papa yang memeluk Daren.
‘’Makasih ma, pa.’’
Tak ketinggalan mertua dan kedua adik Siena juga memberikan ucapan selamat ulang tahun, karena mama Daren yang terus memohon meminta kesempatan, akhirnya mama Siena sedikit membuka hatinya untuk Daren tapi ia berjanji dalam hatinya jika Daren berani menyakiti Siena lagi maka saat itu Daren tak akan pernah lagi melihat Siena.
‘’Kamu kok nggak kasih ucapan?’’
‘’Kan tadi udah.’’
‘’Mana ada, tadi kamu teriak surprise doang.’’ Ucap Daren dengan memperagakan gaya Siena tadi saat memberikan surprise di ruangannya.
‘’Yaudah- yaudah, happy birthday ya.’’ Ucapnya mencium pipi Daren yang juga diikuti Aaron.
Semua orang terlihat bahagia hanya satu yang terlihat tak bersemangat, Sheina, wanita itu beberapa kali melirik Daren dan Siena, pria yang disukainya diam-diam adalah suami kakaknya sendiri bahkan mereka terlihat sangat bahagia bersama, dapat dilihat dengan jelas, dari sinar matanya, Daren pria yang dicintainya itu begitu mencintai kakaknya dan tak mungkin juga untuknya terus memiliki perasaan terlarang itu.
Bersambung.....
__ADS_1