
‘’Tolongin apa sih, ini masih pagi lo Rev dan kamu udah teriak-teriak gini.’’ omel Siena
‘Nih.’’ Reva memberikan ponselnya pada Siena karena dari tadi ponsel itu terus berdering dengan menampilkan nama sang kakak.
‘’Kakak kamu?’’ Siena seakan lupa kejadian tadi malam, wanita itu merasa heran kenapa Reva sangat khawatir padahal hanya mendapat telepon dari Daren, bukankah itu hal biasa, Daren kan memang sering sekali menghubungi mereka, tak hanya Siena, Daren juga tak pernah absen untuk menelpon sang adik.
‘’Yaudah kamu ngomong aja dulu sama kakakmu.’’ wanita itu memberikan kembali ponsel Reva, ingin masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu.
‘’Kakak ipar mau kemana?’’
Tak menjawab, Siena hanya mempraktekan gaya orang mencuci wajah setelahnya ingin melangkah kembali tapi Reva menahannya.
‘’Ih bantu Reva dulu kak.’’ Rengek nya seperti anak kecil, Siena pun kembali membalikan badannya menghadap Reva, mengambil ponsel itu, hampir saja dia menjawabnya tapi ucapan Reva menghentikan tangannya yang akan menekan tombol hijau pada layar ponsel.
‘’Jangan langsung diangkat kak.’’
‘’Loh kamu ini bagaimana sih, kamu ngasih ponselnya bukannya minta aku yang jawab teleponnya?’’ tanyanya, Reva mengangguk.
‘’Lalu?’’ tanya Siena lagi
‘’Kalau kak Daren tanya tentang semalam gimana dong?’’
‘’Semalam?’’ Pikir Siena, tak lama wanita itu menganga dengan menutup mulutnya saat mengingat kejadian semalam, dengan spontan Siena mengembalikan ponselnya pada Reva, ia juga tak tau harus mengatakan apa saat Daren menanyakan tentang hal itu.
‘’Kalian kenapa, masih pagi udah panik aja.’’ Tegur seseorang yang tiba-tiba datang bahkan tanpa permisi, Reva melihatnya dengan tatapan malas sedang Siena melihatnya, berjalan menghampiri Steve dan memberikan ponsel itu pada Steve yang membuat Steve bingung dan tentu saja Reva juga bingung.
‘’Kamu aja yang jawab.’’ Ucap Siena, mata Steve langsung menatap layar ponsel yang dari tadi terus berdering itu.
‘’’Brother love, ini siapa, kakakmu, Daren si pria menyebalkan itu?’’ Tanya Steve, keduanya mengangguk.
‘’Angkat aja Steve terus jelaskan kejadian semalam, kalau nggak kamu sama Reva bakalan apes.’’ Ucap Siena membuat Steve bingung, pasalnya dia hanya menolong Reva tapi kenapa dia harus masuk ke dalam situasi rumit keluarga itu, apalagi dia sangat malas kalau harus berurusan dengan Daren yang selalu dilabelinya sebagai pria menyebalkan.
‘’Loh kenapa aku?’’ Tanyanya.
‘’Diangkat aja Steve, kelamaan keburu ngamuk singa jantannya.’’ Timpal Siena lagi.
‘’Kalian nggak mikir apa, kalau aku yang angkat yang ada dia bakalan lebih ngamuk lagi, nih.’’ Steve mengembalikan ponsel itu pada Siena, kedua wanita itu mengangguk setuju dengan ucapan Steve, mereka sama sekali tak terpikir sampai kesana, terpaksa Siena lah yang mengangkat telepon itu.
__ADS_1
‘’Hallo.’’ Ucap Siena
‘’Kenapa kamu yang angkat, Reva mana?’’
‘’Oh itu Reva lagi main sama Aaron, nih kayanya ponselnya ketinggalan di kamar.’’
‘’Yaudah kamu kasih ponselnya ke Reva sekarang, bilang aku mau ngomong.’’
‘’Mau ngomong apa, kayaknya serius banget?’’ ucapnya pura-pura bercanda.
‘’Kebetulan, aku tanya sama kamu, kenapa kamu mengizinkan Reva ke club semalam, bukannya kamu bilang akan keluar makan malam, terus kenapa Reva malah nyasar ke club?’’
‘’Oh itu, kejadiannya nggak di sengaja Daren, kita juga nggak ada yang tau hal itu akan terjadi.’’
‘’Nggak akan ada yang tau, kalian pikir aku bodoh?’’ bentaknya, pria itu bahkan tak peduli lagi walau sedang berbicara pada Siena, ia memang sangat tak suka adik atau keluarganya mengunjungi club, takut hal buruk terjadi pada mereka.
‘’Kamu kenapa bentak aku sih, udah aku bilang dia tuh tersesat, nggak sengaja kesana, temannya mengajaknya untuk menghadiri birthday party, Reva juga nggak tau kalau itu diadakan di club malam, kamu ngerti nggak sih ucapanku, lagian kenapa kau sangat melarangnya ke club malam, dia sudah dewasa Daren, selama dia bisa menjaga diri ya sah-sah saja.’’ Ucap Siena malah balik marah.
‘’Kasih ponselnya ke Reva sekarang siena.’’ Bentak Daren lagi tanpa peduli dengan ucapan Siena.
‘’Siapa yang ngebentak kamu Siena?’’
‘’Ya kamu siapa lagi.’’ Ucapnya semakin mengeraskan suara tangisannya membuat Daren kelimpungan sendiri.
‘’Oke, oke aku minta maaf, aku nggak sengaja bentak kamu habisnya kamu bikin aku kesal.’’
‘’Kamu nyalahin aku sekarang, aku kan cuma kasih tau yang sejujurnya, kenapa kamu nggak percaya sih, Reva tuh nggak sengaja kesana Daren, dia juga nggak mungkin melakukan hal yang bikin kamu marah.’’
‘’Siapa yang nyalahin kamu sih?’’ ingin sekali Daren berteriak tapi pria itu tetap berusaha melembutkan nada bicaranya.
‘’Berarti kamu percaya dong sama aku?’’
‘’Hhmm.’’ jawab Daren singkat
‘’Percaya nggak, kenapa percayanya nggak ikhlas gitu.’’
‘’Iya aku percaya sama kamu, puas?"
__ADS_1
‘’Kalau percaya, kamu janji sama aku nggak bakalan ngungkit masalah ini lagi.’’
‘’Loh kok gitu, aku bahkan belum ngomong sama Reva.’’
‘’Janji atau nggak?’’ Tanyanya sudah mulai mengencangkan suara tangisannya lagi.
‘’Oke-oke aku janji nggak bakalan mengungkit hal ini lagi.’’
‘’Oke kamu udah janji ya, awas loh kalau ingkar.’’ ucapnya dan mematikan panggilan telepon, bahkan sebelum Daren menjawab lagi.
‘’Kak maafin Reva karena Reva kakak ipar dan kak Daren jadi bertengkar.’’
Siena hanya tersenyum, mengembalikan ponsel Reva dan menghapus sisa air matanya.
‘’Kakak pura-pura?’’
‘’Untuk apa aku menjadi seorang aktris ternama.’’ Ucapnya sombong, berbalik meninggalkan Reva dan Steve dan masuk ke kamarnya.
‘’Aku nggak nyangka kakakmu yang menyebalkan itu sangat takut pada istrinya.’’ Ucap Steve dengan senyum remehnya membuat Reva kesal, wanita itu menatap Steve dengan tatapan melotot, tak lama menginjak keras kaki Steve.
ia tau kakaknya memang menyebalkan tapi bukan berarti orang lain bisa menjelekan kakaknya di depannya. Menurutnya hanya dia, keluarganya, Siena dan Aaron lah yang berhak mengatakannya kata itu. kalau kata orang kita bisa menjelekan orang terdekat kita tapi kita juga akan sangat marah saat orang terdekat kita itu dijelekkan oleh orang lain, betul apa betul?😀
Hari berganti hari, sekarang Daren sudah dalam perjalanan menuju rumah Siena
‘’Kenapa sepi sekali?’’ Daren bertanya-tanya saat masuk kerumah Siena yang memang terlihat sangat sepi, hanya ada para ART sedang Siena, Aaron dan Reva sama sekali tak ada di rumah itu, Daren memutuskan bertanya pada salah satu ART. ternyata mereka sedang jalan-jalan ke sebuah mall, Daren tak menyusul, ia memutuskan menghampiri salah satu kliennya yang ada di negara itu.
*****
‘’Sania?’’ Teriak Siena melihat Sania yang juga berada di malll yang sama dengannya.
‘’kakak.’’
‘’Kamu ngapain disini?’’
Dengan sopan Sania menunjuk Robby. ‘’Aku kerja jadi sekretarisnya tuan Robby kak.’’
Bersambung.....
__ADS_1