
‘’Selamat pagi semuanya, bisakah pria tampan ini menumpang sarapan dirumah kalian?’’
Ucap Alan membuat semua pasang mata menatap ke arahnya.
Berbeda dari yang lainnya Siena sedikit terkejut dengan kehadiran Alan. Siena sama sekali tak menyangka bahwa hubungan Alan dan keluarga Daren sedekat itu.
Tanpa disuruh Alan duduk didepan Siena, menatap wajah Siena dengan intens membuat wanita itu sedikit kikuk.
‘’Kau pasti istrinya Daren, perkenalkan namaku Alan.’’
Alan mengulurkan tangannya pada Siena dengan sedikit gugup Siena menyambut uluran tangannya.
‘’Siena.’’ Ucapnya cepat lalu mengalihkan pandangannya ke meja makan.
Alan terus melihat, memperhatikan wajah Siena dengan penuh selidik.
‘’Kamu kenapa sih Alan, kenapa melihat Siena seperti itu?’’ Tanya mama Desy.
‘’Alan hanya sedang memperhatikannya aunty, benar kata aunty wajah istri Daren sangat mirip dengan Putri.’’
Siena tersedak mendengar ucapan Alan. ‘’minumlah.’’ Alan memberikan segelas air pada Siena sedang Daren hanya melihat sekilas pada Siena tanpa peduli apapun yang terjadi pada wanita itu.
‘’Wanita ini sangat lihai mencari perhatian, dulu mama papa dan sekarang Alan. dasar tukang cari muka.’’
Sekarang keluarga Daren sedang mengobrol santai di ruang tamu ditambah Alan.
Mama Desy beberapa kali menanyakan tentang Putri pada Alan berharap kali ini Alan akan serius dalam menjalin hubungan dan segera menyusul Daren untuk menikah.
‘’Maaf Siena izin mau angkat telepon.’’ Pamit Siena pada semua orang dan mendapatkan senyuman dari semua orang kecuali Daren yang menatapnya dengan tajam.
‘’Angkat teleponnya disini dan jangan berani meninggalkan ruangan ini walau hanya selangkah saja.’’
‘’OMG pria ini, bahkan di hadapan orang tuanya masih saja bisa menindasku.’’
‘’Nggak pa-pa sayang kau bisa mengangkat teleponnya tak usah mendengarkan ucapan Daren.’’ Ucap mama lembut pada Siena lalu menatap tajam pada Daren.
‘’Kenapa mama liatin Daren begitu, Daren hanya ingin dia menerima teleponnya di ruang ini. Bisa saja kan dia sedang berselingkuh dan berhubungan dengan pria lain di belakang Daren.’’
Ucap Daren dengan santai dan mendapat pelototan dari semua orang yang berada diruangan itu termasuk Siena.
‘’Apa yang kau tunggu, cepat angkat teleponnya sekarang atau apa kau mau aku yang mengangkatnya?’’
__ADS_1
Daren berniat merebut ponsel Siena namun, dengan cepat Siena menghindar dan dengan terpaksa mengangkat panggilan itu.
‘’Siena kamu lagi dimana sih, kenapa lama banget ngangkat teleponku.’’ Teriak Ami teman Siena dari seberang telepon.
‘’Astaga Am bicaranya pelan-pelan aja dong, kupingku sakit.’’
‘’Maaf-maaf aku cuma mau minta tolong, nanti tolong dandanin aku ya soalnya mau ketemu camer.’’
‘’Am nanti chat aja ya, aku lagi nggak bisa ngobrol lama-lama.’’ lalu Siena mematikan telepon itu.
‘’Cih.. Dari pada dandanin orang mending kamu mendandani diri sendiri dulu biar nggak malu-maluin.’’
Daren berkata tanpa melihat sekitar lalu meninggalkan ruangan itu sedang Siena hanya tersenyum sama sekali tak tersinggung dengan ucapan Daren.
Baginya semua ucapan Daren sama sekali tak penting. Sama sekali tak pernah terpikir untuk memperlihatkan dirinya yang sebenarnya pada Daren.
‘’Sayang maafkan Daren ya, nanti mama yang akan memberinya pelajaran.’’
Mama berpindah dan duduk disamping Siena sambil mengelus rambut belakang wanita itu sedang papa dan Alan hanya melihat tak tega pada Siena tapi begitulah Daren dan mereka tak bisa berbuat apa-apa.
‘’Culun kita pulang sekarang.’’ Teriak Daren dan dengan buru-buru Siena berpamitan pada semuanya sedang mama hanya bisa menggerutu melihat sikap Daren.
Ditengah perjalan Daren tiba-tiba menghentikan mobilnya. ‘’Hei culun cepat turun dan melikan aku sebotol minuman.’’ Perintah Daren.
‘’Oh s**t.’’ Maki Siena saat menyadari bahwa Daren sengaja mengerjai dan meninggalkannya.
Sungguh malang nasib Siena, dia tak bisa menaiki angkutan umum ataupun memesan ojek online karena tas dan ponselnya tertinggal di mobil Daren.
Tadi dia hanya membawa uang pas 10rb untuk membeli air mineral.
Tak lama baru lima menit Siena berjalan hujan tiba-tiba turun dengan begitu deras.
Siena tak tahan lagi, membuang air mineral yang dari tadi dipegangnya lalu berjongkok dan menenggelamkan kepalanya di tengah lutut sambil menangis. Ya dia menumpahkan semua kekesalannya.
‘’Hei kenapa kau menangis?’’ Seorang pria memegang pundak kanannya sambil memayunginya.
‘’Kak Alan.’’ hanya kata itu yang keluar dari bibir Siena lalu setelahnya tak sadarkan diri.
‘’Astaga Siena apa yang terjadi denganmu?’’ Alan mengangkat tubuh Siena dan membawanya kerumah sakit terdekat.
Di rumah sakit.
__ADS_1
Berlari dengan kencang sambil berteriak memanggil dokter.
‘Dokter tolong teman saya dok tolong.’’
Dengan wajah yang begitu khawatir Alan sangat tidak tenang sambil menunggu Siena yang sedang diperiksa dokter.
‘’Bagaimana keadaannya dok?’’ Tanya Alan saat dokter keluar dari ruangan itu.
‘’Tak ada yang perlu dikhawatirkan, keadaannya baik-baik saja hanya sedikit lelah dan sepertinya makannya kurang teratur.’’
Dengan cepat Alan masuk ke ruang perawatan Siena. Menelisik wajah Siena yang belum juga sadar.
Alan mendekat pada Siena melihat wajah Siena lagi entah kenapa sekilas Alan merasa Siena dan Putri adalah orang yang sama.
Di kediaman Daren.
‘’Kemana wanita itu? Aku sengaja meninggalkannya untuk memberinya pelajaran tapi sepertinya dia malah menikmatinya bahkan belum pulang sampai jam segini.’’
Hampir jam 10 malam Siena sampai dirumah Daren.
Tadi Siena sadar hampir jam 9 malam dan terus memohon pada dokter untuk mengizinkannya pulang saat itu juga dan mempertimbangkan kondisi Siena yang sebenarnya tidak apa-apa maka dokter pun mengizinkannya untuk pulang.
Siena pulang tanpa berpamitan pada Alan karena menurut perawat yang menjaganya Alan pergi sebentar dan meminta tolong perawat itu untuk menjaga Siena.
‘’Kau dari mana saja culun?.’’ Daren berjalan mendekat lalu menarik rambut belakang Siena dengan begitu kasar.
‘’Tolong lepaskan tuan ini sangat sakit.’’ Siena kembali mengeluarkan air matanya.
‘’Memangnya kau siapa? Berani sekali kau memerintahku.’’ Daren menarik rambut Siena lebih keras lagi.
‘’Auw sakit tolong lepaskan tuan ini sangat sa__’’ Siena tak mampu meneruskan ucapannya lagi dan langsung pingsan dan dengan sigap Daren menangkap tubuh Siena hingga tubuh itu tak jatuh membentur lantai.
‘’Hei culun kau kanapa?’’ Daren menepuk pelan pipi Siena tapi sama sekali tak mendapat respon dari wanita itu
Entah khawatir atau apa, dengan cepat Daren mengangkat tubuh Siena dan membaringkannya di ranjang lalu menelpon dokter pribadinya dan memintanya datang untuk memeriksa Siena.
Tak sampai 30 menit dokter tiba, melihat heran pada Daren pasalnya pria itu sedang berdiri dengan sehat lalu untuk apa menyuruhnya datang.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa memnbuat novel ini dengan lebih baik lagi....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya..