
Setelah mendengar alasan Siena, semula kedua orang tua Daren kecewa tapi mereka juga tak serta merta menyalahkan Siena karena memang sebelum menikah dengan Daren Siena sudah berpenampilan culun seperti itu bahkan semua orang yang mengenalnya hanya mengetahui penampilan culunnya sedang dia hanya berpenampilan menarik saat sedang bekerja.
Namun, sekarang Siena memutuskan untuk meninggalkan penampilan culunnya dan menjadi dirinya yang sebenarnya.
Siena berpenampilan culun sejak kelas 1 SMP dan itupun karena permintaan sang ayah yang tak ingin banyak pria menyukai anak wanitanya itu, sang ayah berharap dengan penampilan culun itu membuat Siena mendapatkan kasih sayang yang tulus baik dari teman ataupun pendamping hidup.
‘’Terimakasih karena mama dan papa mau memaafkan Siena.’’ Siena menangis terharu dengan kasih sayang yang diberikan oleh kedua mertuanya.
‘’Lalu bagaimana dengan Alan?’’
Siena menggeleng. ‘’Siena dan kak Alan tidak memiliki hubungan apapun ma, pa Siena hanya sangat senang dan nyaman berada disamping kak Alan mungkin karena dari dulu Siena menginginkan sosok kakak laki-laki yang akan melindungi Siena dan Siena senang karena mendapatkan semua itu dari kak Alan.’’
Ucap Siena jujur tapi Daren malah merasa Siena sedang menyinggungnya karena memang selama ini Daren tak pernah berlaku baik pada Siena.
‘’Apa yang kau katakan, apa kau sedang menyinggungku?’’
‘’Ha!! Aku sama sekali tak bermaksud tapi baguslah jika kau merasa tersinggung.’’
3 hari kemudian Siena mendapat kabar terkait interview dan dia diharuskan datang wawancara hari ini juga. Sebelumnya saat sarapan Siena sudah meminta izin pada Daren untuk keluar rumah dan Daren pun memberinya izin.
‘’Waw.’’ Siena melihat takjub gedung pencakar langit yang ada didepannya.
Tulisan A-Plan bisa dibaca dengan jelas oleh Siena. Dengan percaya diri ia melangkah, bertanya pada resepsionis tentang letak ruangan yang dituju.
Hampir 20 menit melakukan interview Siena keluar dengan senyum bahagianya. Berjalan memeluk Ami sedang menunggunya tak jauh dari ruangan itu.
‘’Ah…. Aku sangat senang karena sekarang kita bisa bekerja sama. Aku ingin menempel padamu setiap hari.’’ Ucap Ami dengan raut wajah yang begitu bahagia.
‘’Ayo kita makan siang dan kau harus mentraktirku.’’ Ajak Siena yang langsung di protes Ami.
‘’Kau yang mendapat pekerjaan kenapa aku yang harus mentraktir.’’
‘’Itu karena kau terlihat sangat bahagia bahkan sepertinya kau lebih bahagia dariku.’
‘’Kau gila ya, tentu saja aku bahagia karena sebentar lagi aku akan sering merepotkanmu.’’
*****
__ADS_1
Pagi ini Siena bangun satu jam lebih cepat dari biasanya.
‘’Daren bangunlah.’’ Siena membangunkan Daren lalu kembali ke meja rias sedang Daren masih memperhatikannya dari balik cermin.
‘’Untuk apa kau berdandan seperti itu? Kau mau bekerja tau mau menggoda pria, kenapa lipstikmu begitu merah?’’
Siena tak mempedulikan Daren dan dengan santainya melangkah ke ruang ganti.
‘’Hei culun apa kau tidak mendengarku.’’ Teriak Daren membuat Siena membalik badannya.
‘’Jangan memanggilku culun lagi karena seperti yang kau lihat sekarang aku sudah sangat cantik dan mempesona.’’
‘’Cih.. Dimataku kau tetap saja si culun.’’
‘’Terserah.’’ Siena meneruskan langkahnya sedang Daren melangkah masuk ke kamar mandi.
*****
‘’Semangat Siena.’’ Ucap Siena menyemangati dirinya sendiri sebelum memasuki perusahaan itu.
Mungkin karena wajah Siena yang cantik membuat beberapa karyawan wanita iri dan menjadi tak suka padanya.
Ya begitulah dimanapun kita berada pasti akan ada orang yang tak menyukai kita. Siena tergolong sangat gampang belajar ia hanya perlu diajarkan sekali dan setelahnya langsung bisa mengerjakannya sendiri.
Saat ini Siena tengah sibuk karena dia dipercayakan untuk membantu Ami dalam mengevaluasi hasil pemasaran produk bahkan mereka tak keluar untuk makan siang dan hanya menitip makan siang pada salah satu rekan kerja mereka.
‘’Makanlah ini terlebih dulu sambil menunggu makan siangnya.’’ Ami memberikan roti pada Siena mungkin karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu hingga Ami memiliki beberapa stok makanan di lemari kecil yang berada di bawah mejanya.
‘’Tukang cari muka ketemu sama tukang cari muka.’’ Ucap salah satu rekan kerja Siena dan Ami yang baru saja balik dari makan siang.
Beberapa rekan memang tidak suka pada sikap Ami yang menurut mereka terlalu rajin dalam bekerja dan sekarang mereka mendapat seorang yang sama seperi Ami yaitu Siena.
Tring..tring..tring..
Bunyi telepon Siena sejenak menghentikan perdebatan Ami dan satu Rekan kerjanya yang bernama Sari itu.
Siena sedikit menjauh untuk mengangkat telepon sang mertua. ‘’’Hallo sayang kamu dimana? Nanti sore bisa kesini nggak?’’
__ADS_1
‘’Siena di kantor ma, oh iya Siena lupa cerita kalau Siena sudah mendapat pekerjaan baru.’’
Di ruangannya Daren sedang sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba terdengar ribut-ribut dari luar ruangannya. ‘’Apa yang terjadi Sasa?’’ Tanya Daren menelpon sekretarisnya.
‘’Maaf tuan, nona Rania sedang memaksa masuk untuk bertemu tuan.’’
‘’Suruh dia masuk sekarang.’’ lalu Daren menutup teleponnya.
‘’Lihat saja kau, aku pasti akan meminta Daren untuk memecatmu. Kau lupa apa bahwa aku adalah kekasih yang begitu dicintai Daren.’’
Ucap Rania dengan sombong sedang sekretaris itu melayangkan tinju di udara saat tubuh Rania menghilang dibalik pintu ruangan Daren.
‘’Sayang apa yang kau lakukan? Aku datang karena aku begitu merindukanmu, kau juga merindukanku kan?’’
Rania berusaha duduk dipangkuan Daren seperti yang biasanya dilakukannya dulu dan entah kenapa Daren membiarkan semua itu tanpa mempermasalahkannya. Bahkan dia membalas ciuman Rania saat wanita itu menciumnya.
Rania tersenyum licik saat mendapati Daren membalas ciumannya baginya Daren pasti sudah memaafkannya.
Lalu tak lama Daren mendorong tubuhnya hingga jatuh ke lantai. Daren memegang bibirnya sambil tersenyum remeh pada Rania.
‘’Ternyata benar, bibirmu tak semanis bibir istriku.’’ lalu Daren menelpon security untuk menyeret Rania keluar dan memberikan perintah untuk tak membiarkan wanita itu berada dekat perusahaannya.
Di perjalan pulang Daren mendapat pesan dari Siena.
[Daren maaf mungkin aku akan pulang sedikit terlambat karena tadi kak Alan mengajakku bertemu dan aku juga akan menjelaskan yang sebenarnya padanya]~Culun
Setelah membacanya dengan cepat Daren menelpon Siena, panggilan pertama tak diangkat, kedua juga tak diangkat nanti panggilan kelima barulah Siena mengangkat panggilan itu.
‘’Pulang sekarang juga, kalau aku sampai dirumah dan kau tidak ada disana maka aku akan benar-benar membunuhmu.’’
Ucap Daren lalu mematikan teleponnya sedang Siena baru saja tiba di tempat janjiannya bersama Alan. Sedikit bimbang dengan ucapan Daren tapi Siena meneruskan rencananya untuk mengatakan yang sesungguhnya pada Alan karena tak ingin ada perselisihan antara Daren dan Alan dikemudian hari.
Bersambung.....
Berikan kritik dan komennya kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi....
Jangan lupa like dan komennya...
__ADS_1