
‘’Hei kau kenapa diam saja, terlalu senang ya sampai nggak tau mau ngomong apa?’’ Ucapnya tersenyum lebar, Steve masih tak berucap, pria itu malah asyik melihat wajah Reva bahkan tanpa berkedip, kenapa hari ini ia merasa Reva terlihat lebih cantik dari biasanya? apa karena wanita itu sedang tersenyum?
‘’Hei kau kenapa sih?’’ tanya Reva melambai tangannya tepat di depan wajah pria itu.
‘’Ah, apa yang kau katakan tadi?’’ tanya Steve gelagapan setelah sadar dari lamunannya dengan satu jari telunjuk yang menggaruk kecil hidungnya yang tak gatal.
‘’Kau ke.’’ ucapan Reva terpotong saat sadar tangan Steve sedang melingkar di pinggangnya, buru-buru ia melepaskan tangan itu, memundurkan langkahnya, keadaan menjadi sedikit canggung karena keduanya yang tiba-tiba saling diam.
Hampir 5 menit terdiam ‘’maaf tadi aku nggak sengaja.’’ Ucap Steve pada akhirnya.
‘’Ah nggak pa-pa kok.’’ Reva sedikit kikuk. ‘’Aku pulang ya.’’ Ucap Reva tiba-tiba.’’
‘’Aku antar ya.’’ Steve refleks menahan tangan Reva, wanita itu berbalik, melihat pergelangan tangannya yang sedang di genggam Steve, Steve pun dengan cepat melepaskan genggaman tangannya.
‘’Maaf.’’ kembali menggaruk kecil ujung hidungnya sambil tersenyum canggung.
‘’Nggak pa-pa, yaudah aku pulang ya.’’ Reva kembali membalik badannya dan melanjutkan langkahnya.
‘’Aku antar.’’ Steve menyusul dan berjalan di samping Reva tanpa melihat wanita itu lagi.
‘’Kenapa jadi canggung begini sih?’’ Guman keduanya secara bersamaan.
‘’Steve sebaiknya kamu nggak usah ngantar aku deh.’’ Reva menghentikan langkahnya, wanita itu sedikit mengubah posisi menjadi menghadap Steve.
‘’Loh kenapa, kamu keberatan, kurang nyaman?’’
Reva menggeleng dengan melambai kecil kedua tangannya didepan dada, bukan itu maksudnya, ia hanya tak ingin kakaknya melihatnya pulang di antar Steve, yang ada masalah akan semakin runyam, secara Daren kan sama sekali tak menyukai Steve yang sering datang ke rumah itu.
‘’Kau lupa di rumah ada kakakku?’’
__ADS_1
‘’Terus?’’ Tanya Steve santai
‘’Pake nanya lagi.’’ Reva sedikit kesal ‘’kau tau kan kakakku tidak menyukaimu?’’
Steve mengangguk
‘’Kalau kakak ku melihatmu mengantarku habislah aku.’’
‘’Tapi aku tetap akan mengantarmu pulang.’’
‘’Nggak usah aneh- aneh deh, lagian tadi aku kesini sendiri jadi aku juga bisa pulang sendiri, bye.’’ ucapnya dan meninggalkan Steve.
******
‘’Kakak.’’ panggil Sania yang tak sengaja bertemu Siena sekarang mereka berada di satu restoran yang sama.
‘’Loh kamu disini.’’ Siena tersenyum melihat Sania dan sedikit melirik pada Robby, dalam hatinya ia yakin orang suruhan Daren pasti sekarang sudah melaporkan hal ini pada Daren.
‘’Kami akan mengantarmu, kebetulan kami juga baru selesai makan.’’ Ucap Robby menghentikan langkah Siena sedang Sania hanya memandangnya, pasalnya mereka baru saja masuk dan sekarang Robby mengatakan bahwa mereka sudah selesai makan, kapan mereka makan, dalam mimpi? Pikir Sania yang sedikit kesal, wanita itu sebenarnya sudah sangat lapar.
Tersenyum ‘’maaf tuan Robby tapi saya bawa mobil sendiri.’’ Tolaknya dan kembali melanjutkan langkahnya, sebenarnya Siena sama sekali tak membawa mobil.
Robby ingin menyusul tapi Sania menahannya, selain karena lapar ia juga tau kalau kakaknya itu tak nyaman dengan kehadiran Robby.
*****
Di tempat lain, Daren tersenyum saat mendapat laporan dari orang suruhannya kalau Siena sudah tak bersama Robby lagi, tadinya ia bersiap ingin menyusul Siena tapi sekarang mengurungkan niatnya dan lebih memilih melanjutkan kembali pekerjaannya.
[aku sudah mengirimkan makan siang ke lokasi syuting mu]~Suamiku
__ADS_1
Siena tersenyum membaca chat dari sang suami, tapi sejak kapan kontak Daren berubah menjadi suamiku? Pikirnya yang merasa tak pernah mengganti nama kontak Daren.
[terimakasih, oh ya aku suka nama kontak barumu di ponselku]~Istriku
Daren tersenyum membacanya, semalam ia meminjam ponsel Siena untuk menelpon ponselnya yang entah dimana karena ia lupa meletakkannya dimana, pria itu sedikit kaget membaca nama kontak yang diberikan Siena untuknya.
‘’Mr arrogant?’’ Ucapnya dengan menaikan satu alisnya, tak lama ia mengutak ngatik ponsel Siena untuk mengganti nama kontaknya, dan jadilah ia menggantinya dengan suamiku biar lebih sweet pikirnya😀
*****
Hampir malam, Daren melajukan mobilnya menuju lokasi syuting Siena karena wanita itu meminta untuk dijemput, katanya ia juga ingin mengajak Daren ke suatu tempat, yang tentu saja Daren tak tau dimana itu tapi hal itu sukses mengalihkan pikirannya, dari tadi ia terus menebak, kira-kira kemana Siena akan mengajaknya.
Daren memarkir mobilnya tepat didepan lokasi syuting Siena, tak langsung keluar dari mobilnya, pria itu sedikit membenahi penampilannya terlebih dulu.
Siena menggeleng sambil tersenyum melihat Daren yang bersandar di mobil sportnya dengan dua tangan di depan dadanya, pria itu terlihat sangat tampan bahkan beberapa kali Siena mendengar para wanita memuji ketampanan Daren.
Memandang tak suka pada beberapa wanita yang sejak tadi tak bisa mengalihkan perhatian mereka dari Daren, apalagi saat ia mendengar teriakan histeris beberapa wanita saat Daren melambaikan tangan padanya, buru-buru, dengan langkah sedikit besar, Siena menghampiri Daren, tanpa menyapa terlebih dulu, ia membuka pintu mobil Daren dan mendorong pria itu masuk dengan sedikit memaksa.
‘’Kau kenapa?’’
‘’Nggak usah nanya, ayo cepat berangkat.’’ suruh Siena tanpa melihat Daren, wanita itu hanya fokus menghadap ke depan, membuat Daren penasaran dan kembali menghentikan mobilnya, pria itu menghadap Siena, menarik kepala Siena agar melihatnya sementara dua tangannya sudah menggenggam dua tangan Siena.
‘’Ada apa?’’ tanyanya dengan lembut
Siena menggeleng, ia sedikit malu kalau harus mengatakan yang sebenarnya, tak mungkin ia jujur kalau cemburu melihat Daren yang terus dipandang wanita lain, ia saja tak habis pikir dengan sikapnya itu, bisa-bisa cemburu untuk hal seperti itu, setelah dipikirkan lagi sepertinya sikapnya sedikit tak masuk akal sehingga dia malu untuk mengatakan yang sebenarnya, seperti anak-anak saja.
‘’Kau yakin?’’ tanya Daren memastikan yang mendapatkan anggukan kepala dari Siena, setelahnya wanita itu meminta Daren menyetir menuju alamat yang diberikannya.
*****
__ADS_1
‘’Pantai?’’ Daren melihat Siena, wanita itu hanya tersenyum dan menggandeng lengan Daren, keduanya menyusuri pantai.
‘’Kau lihat restoran itu?’’ tunjuk Siena pada satu restoran yang tak terlalu besar yang diapit oleh dua restoran besar di sisi masing-masing. ‘’Dulu pertama kali datang ke negara ini aku bekerja jadi pelayan di restoran itu.’’ Ucapnya dengan bibir tersenyum, berbeda dengan Daren yang merasa sedih, Siena harus melalui semua itu karena kesalahan yang dilakukannya.