Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Siena pergi


__ADS_3

‘’Kamu kenapa nangis sayang? Ada yang sakit?’’ Tanya mama khawatir karena Siena memeluknya begitu erat dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


‘’Siena nggak pa-pa ma pa, Siena harap kalian selalu sehat, dimanapun Siena berada Siena pasti akan selalu mendoakan kalian.’’ Mama dan papa mertuanya saling pandang, entah kenapa Siena berbicara seperti itu.


‘’Kamu kenapa sayang? Kok ngomongnya aneh.’’ Tanya papa mertuanya, Siena berusaha tersenyum.


‘’Nggak aneh pa, itu karena Siena sayang banget sama kalian jadi Siena ingin kalian tau apapun yang terjadi nanti Siena akan selalu menyayangi kalian.’’


‘’Oh iya Daren mana, kenapa nggak ada disini?’’ Tanya mama.


‘’Nanti juga datang ma, tapi bukan sekarang soalnya dia masih sedikit sibuk.’’


‘’Sesibuk apapun dia, dia harus mengutamakan keluarganya.’’ Ucap papa lagi, berniat menelpon Daren tapi dicegat Siena.


‘’Nanti aja pa, nanti telepon lagi kalau sudah pagi.’’


Hampir jam 10 malam, Siena meminta kedua mertuanya pulang, awalnya keduanya menolak dan akan menginap di rumah sakit, tapi Siena bersikukuh menyuruh mereka pulang dengan alasan dia akan baik-baik saja dan lagian ada Ami yang akan menjaganya.


‘’Gimana Am, udah siapa semuanya?’’


‘’Udah, kamu baik-baik aja kan, nggak ada yang sakit?’’ Tanya Ami sedikit khawatir yang dibalas senyum disertai anggukan kepala dari Siena.


Ami menemani Siena saat menunggu angkutan umum, sengaja memilih angkutan umum karena baginya hanya dengan cara seperti itu Daren tak bisa melacak keberadaannya.


‘’Kamu baik-baik ya disana, kasih kabar kalau udah nyampe.’’ Ami menangis memeluk Siena, ia berharap semoga Siena mendapatkan kebahagiaannya. Sahabatnya itu terlalu berharga untuk disia-siakan.


Siena beberapa kali berganti angkutan umum sampai ia tiba di sebuah pelabuhan kecil di kota A, wanita itu sengaja memilih kapal untuk menuju tempat tujuannya.


‘’Pa ma.’’ Teriak Daren memasuki rumah orang tuanya.


‘’Ada apa sih Daren? Kenapa teriak-teriak gitu.’’ mama menegur dengan tangannya yang sibuk memasukan beberapa makanan kedalam kotak.

__ADS_1


‘’Siena mana ma?’’


‘’Istri kamu kan masih dirumah sakit Daren, kenapa kamu nyarinya disini?’’


‘’Ha!! Rumah sakit, maksud mama apa, kenapa Siena bisa ada dirumah sakit?’’


‘’Loh bukannya Siena udah nelpon kamu?’’


‘’Tapi dia nggak bilang kalo dia dirumah sakit, di rumah sakit mana ma, Daren mau kesana sekarang.’’


‘’Tunggu mama, kita kesana sama-sama.’’ Mama memasukan kotak makan ke dalam satu paper bag dan berjalan menghampiri Daren.


*****


‘’Maksud dokter apa? Kenapa istri saya nggak ada?’’


‘’Maaf tuan, semalam nona Siena bersikeras untuk pulang, kami mengizinkannya karena memang keadaan nona Siena dan bayi yang dikandungnya sudah baik-baik saja.’’


‘’Bayi? Maksudnya apa dok?’’ Tanya Daren dan mama kompak


‘’Tunggu dok, maksudnya dengan kejadian kemarin apa?’’ Tanya Daren sedikit tak sabar.


‘’Kemarin nona Siena dilarikan kerumah sakit karena ditabrak motor.’’


‘’Oh s**t.’’ Daren memaki dirinya saat sadar ia melupakan janjinya bersama Siena kemarin, tanpa menghiraukan orang tua dan dokter, Daren berlari, semoga saja Siena sudah berada dirumah mereka.


‘’Siena, Siena, Siena.’’ Teriak Daren mencari keberadan Siena dalam rumah, ia bernafas legah melihat lemari pakaian Siena yang masih terisi penuh. Ya iya penuh, Siena memang tidak membawa barang apapun dari rumah Daren, wanita itu malah meminta tolong Ami untuk membelikannya beberapa pasang pakaian.


‘’Maaf tuan, nona muda belum pulang dari kemarin.’’ Ucap satu ART memberi tahu.


‘’Kemana dia?’’ Daren berlari memasuki mobilnya lagi, kali tujuannya adalah apartemen Reva, ia berharap Siena ada disana.

__ADS_1


‘’Siena, Siena, Siena, kamu dimana? Teriak Daren memutari seluruh apartemen Reva.


‘’Kakak kenapa sih, kenapa nyari kak Siena disini?’’


Bukannya menjawab, Daren malah terduduk sedih, ia tak tau lagi harus mencari Siena kemana, ia takut Siena pergi darinya seperti yang diucapkan wanita itu semalam.


‘’Kakak kenapa?’’ Reva memeluk tubuh Daren yang sedang menangis, ia tak tau apa yang terjadi tapi sepertinya Daren sudah membuat kesalahan fatal.


Tanpa menjawab, Daren bangkit kali ini ia akan menemui Ami, semoga saja wanita itu tau kemana Siena pergi.


‘’Apa kau tau kemana istriku pergi?’’


‘’Maksud tuan?’’ Tanya Ami pura-pura


‘’Semalam kau menemani istriku dirumah sakit, apa dia mengatakan sesuatu padamu?’’


‘’Tentu saja, dia menceritakan semua perlakuan burukmu padanya.’’


‘’Tidak tuan, semalam saya dan Siena hanya membicarakan drama kesukaan kami, kenapa tuan apa sesuatu terjadi padanya?’’ tanya Ami masi pura-pura tak tau.


‘’Oh tidak-tidak, kau boleh keluar sekarang.’’ Daren meminta Ami keluar dari ruangannya, pria itu terlihat sangat berantakan, beberapa kali ia menjambak rambutnya sendiri, kenapa dia begitu bodoh, semalam dia menganggap Siena hanya menggertaknya.


Dua minggu berlalu sejak kepergian Siena, Daren semakin kacau, pria itu terus memaki dirinya sendiri, kenapa dia begitu bodoh, seandainya malam itu dia mendengarkan apa yang dikatakan Siena pasti wanita itu masih disampingnya sekarang.


Penampilan Daren juga berubah total, pria itu terlihat acak-acakan, rambutnya tak pernah ditata rapi lagi, bulu-bulu halus dibawah rahang yang dulu tak pernah disukainya sekarang dibiarkan tumbuh, matanya juga dipenuhi lingkaran hitam, pria itu sama sekali tak bisa tidur dimalam hari karena selalu menangis memikirkan keadaan istri dan calon anaknya.


‘’Kamu dimana sayang?’’ Daren menangis sambil memeluk foto pernikahannya dan Siena, foto yang dulu tak pernah diliriknya, sekarang menjadi benda yang selalu berada disampingnya.


Sejak kepergian Siena, Daren juga tak pernah bertemu Monika lagi, pria itu takut sangat takut, bahkan jika berpapasan dengan Monika sekalipun ia akan selalu menghindar, Daren takut bertemu Monika lagi karena pria itu takut Siena tak kembali lagi padanya jika tau dia masih terus bertemu Monika.


Sejak kepergian Siena, Daren juga menjadi pecandu alkohol berat, semua itu dilakukannya untuk sedikit menghilangkan rasa sesak didadanya setiap kali mengingat perlakuan buruknya pada sang istri.

__ADS_1


‘’Kapan kamu pulang sayang, kumohon pulanglah, kau bisa menghukumku sesukamu, membentak, memaki, ataupun menamparku, asal kau kembali kesisiku.’’ Daren terus terisak, beberapa kali memukul dadanya karena sesak yang dirasakannya.


Bersambung.....


__ADS_2