
Aku tanya dari mana saja kau?’’ Tanya Daren lagi tapi kali ini Siena malah sibuk menyisir rambutnya sambil duduk santai di meja hias.
‘’Siena aku sedang bertanya padamu, jawab pertanyaanku kalau tidak aku akan memotong kakimu itu agar kau tak bisa lagi pergi kemana-mana.’’
Siena membuang nafasnya lalu meletakan sisirnya, tak berbalik Siena hanya menatap Daren dari pantulan cermin. ‘’Aku habis dari pasar malam sama kak Alan.’’
‘’Apa kau bilang?’’ dengan kasar Daren membalik tubuh Siena hingga menghadap padanya.
‘’Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak bertemu dengannya lagi, sepertinya kau sama sekali tak takut dengan peringatanku.’’
‘’Lepasin ini sakit.’’ Ringis Siena berusaha menyingkirkan tangan Daren yang memegang erat kedua pundaknya.
‘’Coba katakan padaku kenapa kau sangat suka membantah perintahku Siena, apa kau begitu menyukai Alan sampai kau tak takut dengan kemarahanku.’’
‘’Lepaskan Daren, aku mohon. Ini sangat sakit.’’ Daren mencengkram pundak Siena dengan lebih kuat membuat Siena meringis kesakitan tapi pria itu sama sekali tak mau mengampuni Siena.
‘’Aku tak butuh tangisanmu Siena aku butuh jawabanmu, jawab aku sekarang apa kau begitu menyukai Alan?’’
‘’Aku tidak menyukainya Daren aku hanya menganggapnya seperti seorang kakak.’’
‘’Cih… Daren mendorong tubuh Siena kesamping hingga tubuh wanita itu jatuh dan membentur lantai.
Daren memandang kebawah melihat pada Siena dengan kedua tangan diletakan di pinggangnya.
‘’Berani kau bertemu Alan sekali lagi maka aku akan benar-benar membuatmu tinggal nama, kau mengerti Siena?’’
Siena mencoba berdiri dan menatap Daren dengan matanya yang masih mengeluarkan air mata.
‘’Kenapa kau selalu melarangku bertemu dengannya, aku perlu seseorang untuk tempatku mengadu dan bersandar, aku tak bisa mendapatkan semua itu darimu tapi saat bersama kak Alan aku bisa melakukan semua itu tanpa sungkan sedikitpun. kau sama sekali tak berhak melarangku Daren, ingat pernikahan kita hanya sementara.’’
‘’Ingat Siena seperti yang pernah kukatakan, kau sama sekali tak berhak untuk meninggalkanku tapi akulah yang berhak untuk itu. Aku bisa meninggalkanmu kapanpun aku mau tapi setelah aku bosan tentunya dan sekarang aku sama sekali belum bosan untuk bermain-main denganmu.’’
‘’Dasar brengsek kamu Daren, egois, tak berperasaan.’’ Teriak Siena saat Daren melangkah meninggalkannya dan perlahan tubuh Daren hilang dibalik pintu kamar.
Semalaman Siena menangis, tak pernah terbayangkan bahwa ia akan terjebak dengan seorang pria kejam seperti Daren.
Dulu Siena selalu berdoa agar Tuhan memberinya seorang pasangan yang akan selalu menyayangi dan melindunginya tapi sikap Daren sangatlah jauh dari semua itu bahkan selama hidup, Siena diperlakukan dengan tidak baik dan tidak sopan adalah saat bersama Daren.
__ADS_1
Pagi ini Siena ke kantor lebih pagi bahkan sarapan pun tidak, dia sama sekali malas untuk bertemu Daren dan hanya meminta tolong pada Ami untuk membawakannya sarapan.
*****
‘’Nih sarapan buatmu.’’ Ami meletakan satu kotak makanan di atas meja kerja Siena.
‘’Makasih, apa aku membebanimu?’’
‘’Kau tidak membebaniku tapi lebih kepada merepotkanku.’’ Ami tertawa dengan candaannya itu sedang Siena memanyunkan bibirnya dengan tatapan pura-pura kesalnya.
‘’Sudahlah cepat kau sarapan, nanti jam 10 kita akan ada meeting dengan Ceo.’’
‘’Apa staf seperti kita juga harus ikut meeting Am?’’ Tanya Siena yang sebenarnya keberatan untuk ikut meeting karena pasti nantinya akan bertemu Daren.
‘’Yupz…. Karena kita akan mempresentasikan apa yang sudah kita buat.’’
‘’Bisakah aku tidak ikut Am, aku merasa sedikit tidak enak badan dan mungkin saja aku hanya akan mengacaukan presentasinya jika harus meeting dalam keadaan seperti ini.’’
Alasan Siena, Ami sedikit berpikir lalu mengangguk. Ami berpikir bahwa dirinya masih bisa mengatasi hal itu sendiri, juga tak ingin Siena memaksakan diri.
Tepat jam 10, Daren memasuki ruang meeting. Matanya menelisik setiap orang yang berada di ruang itu tapi sama sekali tak melihat kehadiran orang yang dicarinya.
‘’Kemana dia?’’ Ucap Daren dengan nada kecil tapi masih bisa didengar oleh beberapa karyawan.
Dengan serius Daren melihat pada Ami yang sedang melakukan presentasi sambil sesekali melihat file cetak yang ada di tangannya.
Hampir setengah jam presentasi Ami akhirnya dilanjutkan oleh Amel.
Amel yang berpenampilan s**si sengaja ingin menarik perhatian Daren.
Sambil melakukan presentasi sesekali Amel mencondongkan tubuhnya hingga terlihatlah sedikit gunung kembarnya karena pakaian yang digunakannya memang sedikit terbuka di area dada.
Beberapa orang di ruang itu risih dengan sikap Amel yang sudah jelas terlihat motifnya untuk menggoda sang Ceo. tapi sama sekali tak ada yang berani protes.
‘’Hei kau siapa namamu?’’
Amel terlihat kegirangan karena Daren menanyakan namanya berpikir sudah berhasil membuat Daren terpesona.
__ADS_1
Dengan nada centil. ‘’Nama saya Amel tuan.’’
‘’Sekarang kau keluar dari ruangan ini dan untukmu.’’ Daren menunjuk pada manager pemasaran.
‘’Jangan berani-berani lagi kau membiarkan wanita ja**ng sepertinya untuk melakukan presentasi, membuat mood ku hancur saja.’’
Daren menatap tajam lagi pada Amel karena wanita tak kunjung keluar juga.
‘’Apa yang kau lakukan disini, keluar sekarang atau aku akan melemparmu dari atas gedung ini."
Seketika ruangan meeting berubah mencekam akibat ulah Amel. bahkan raut wajah Daren terlihat sangat tak bersahabat.
‘’Kita teruskan meetingnya jam 2 siang.’’ Daren keluar dari ruangan meeting, semua orang yang berada di ruang itu langsung membuang nafas legah tadi mereka seolah berhenti bernafas untuk sesaat.
Daren terkenal sebagai seorang Ceo yang sangat kejam dan menakutkan makanya tak ada satupun yang berani menentang perintahnya.
‘’Akbar panggil Siena keruanganku sekarang juga.’’ Perintah Daren pada Akbar.
Sedang di ruangan pemasaran ketiga wanita yang membenci Siena tersenyum bahagia saat Daren memanggil Siena mereka berpikir bahwa Daren pasti akan memberi Siena pelajaran.
Sedang beberapa rekannya termasuk Ami terlihat begitu khawatir, pasalnya tak ada angin tak ada hujan Daren memanggil Siena dengan tiba-tiba.
*****
‘’Apa yang kau lakukan disitu, kemarilah mendekat padaku.’’ Panggil Daren pada Siena yang berdiri mematung tak jauh dari pintu ruangan Daren.
‘’Kenapa kau memanggilku? Apa kau berencana membunuhku sekarang?’’ Bukannya mendekat pada Daren Siena malah melangkah dan duduk di sofa yang ada di ruang itu.
Daren menyusul dan mendudukan dirinya tepat disebelah Siena, jari telunjuk tangan kirinya menunjuk bagian kanan kepala Siena.
‘’Apa sih isi otak kecilmu itu? Jika aku ingin membunuhmu tak mungkin aku melakukannya di ruanganku karena itu hanya akan menghancurkan nama baikku dan jika aku akan membunuhmu maka aku akan melakukannya secara perlahan seperti yang dulu pernah kau katakan padaku.’’
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi....
Jangan lupa like dan komennya.....
__ADS_1