
‘’Jangan melihatku seperti itu.’’ Ucapnya dengan wajah yang masih tersenyum. ‘’Kau tau dulu setelah bekerja aku sangat suka duduk sambil memandang lautan, terbesit keinginan untuk membawa suamiku ke pantai ini sambil menikmati keindahannya, saat itu aku berpikir akan datang kesini dengan suami baruku eh tapi ternyata takdir berkata lain.’’ Ucapnya terkekeh
‘’Maaf kalau aku terlalu banyak membuatmu menderita.’’ Daren memeluk Siena, pria itu sedang menahan tangisnya, Siena tersenyum, melepaskan pelukan Daren, menangkup wajah pria itu ‘’kau hanya perlu menjagaku dan putra kita dengan baik mulai sekarang.’’ Daren mengangguk air matanya tak bisa ditahan lagi, pria itu menangis.
‘’Kenapa kau jadi cengeng seperti ini?’’ Siena mengusap air mata Daren ‘’orang-orang pasti akan tertawa kalau melihatmu menangis.’’ Ucap Siena menggoda Daren. ‘’Tapi lucu juga sih kalau misalnya para karyawanmu tau.’’ Siena terkekeh.
‘’Memangnya kenapa kalau mereka tau?’’
‘’Lucu aja, nanti akan ada slogannya, DAREN SI TUAN ARROGANT TERNYATA BISA MENANGIS JUGA DI DEPAN ISTRINYA.’’ Ucapnya masih terkekeh sedang Daren hanya berdiri diam, pria itu hanya memperhatikan Siena sambil tersenyum.
‘’Kenapa?’’ Tanya Siena
Daren menggeleng. ‘’aku hanya sedang melihat wajah cantik istriku, memangnya ada yang salah?’’
Siena memukul kecil dada Daren kemudian menarik tangan pria itu. ‘’kesana yuk.’’ Tunjuknya pada salah satu tempat duduk yang tak jauh dari mereka.
baru satu langkah Daren menariknya kembali hingga tubuhnya sedikit terbentur pada tubuh Daren, tanpa aba-aba pria itu menahan tengkuk Siena dan menyatukan bibir keduanya, mencium Siena dengan penuh kelembutan sedang Siena, wanita itu kaget dan hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali.
‘’Kau ini, kenapa menciumku dengan tiba-tiba?" memukul kecil dada Daren setelah pria itu melepaskan ciumannya, bukannya menjawab Daren malah kembali menyatukan bibir mereka.
Siena sama sekali tak menolak, wanita itu menutup matanya dengan kedua tangannya yang sudah melingkar di leher Daren, keduanya saling membalas, membelit lidah satu sama lain. mencurahkan perasaan mereka terhadap satu sama lain lewat ciuman yang mereka lakukan.
‘’I love you Siena, love you so much.’’ Ucap Daren di sela ciuman mereka, Siena tersenyum, wanita itu masih sedikit tak percaya kalau mengingat awal pernikahan mereka, sepertinya sangat mustahil untuk Daren mencintainya tapi sekarang pria itu berada disampingnya, bahkan teramat sangat mencintainya.
‘’Kenapa diam?’’
‘’Hhmm?’’
‘’Kenapa tidak membalas ucapanku?’’
‘’Ucapan apa?’’ tanya Siena pura-pura, ingin sedikit mengerjai Daren.
‘’Aku bilang aku mencintaimu Siena sangat dan teramat mencintaimu.’’ Ulangnya lagi dengan penuh penekanan.’’
__ADS_1
‘’Ha, apa, aku tak mendengarnya.’’
Bukannya mengulang ucapannya, Daren malah kembali mencium Siena, lewat ciuman itu ia ingin memberi tahu Siena betapa ia sangat mencintai wanita itu.
Setelah menyudahi ciumannya ‘’I love you.’’ Ucapnya sekali lagi dan mencium kening Siena sedikit lama.
Tak langsung menjawab wanita itu memeluk Daren. ‘’setelah apa yang terjadi pada kita, setelah semua yang kau lakukan padaku tapi aku masih bisa menerimamu dan berdiri disampingmu saat ini, apakah kau harus mempertanyakan perasaanku?’’ Ucap Siena.
Daren tertawa senang, pria itu melepas pelukannya, memegang kedua pundak Siena ‘’jadi itu artinya?’’ Ucapnya yang langsung mendapat anggukan kepala dari Siena.
Daren berteriak kesenangan ‘’Yuhu istriku juga mencintaiku.’’ membuat beberapa pasang mata yang berada di sekitar mereka memperhatikan apa yang dilakukan Daren.
‘’Kau ini, kenapa berteriak seperti itu, kalau mereka memotret kita bagaimana?’’
Daren hanya tersenyum, kembalai menangkup wajah Siena, mencium keningnya ‘’I love you.’’ Kedua mata Siena ‘’i love you, i love you.’’ tak ada satupun dari wajah Siena yang dilewatkannya, ia terus mencium semuanya seraya mengucapkan kata i love you, kening, kedua mata, hidung, kedua pipi, dagu dan berakhir di bibir, mellumatnya lama dan hanya memberikan beberapa detik untuk Siena mengambil nafas setelahnya langsung menciumnya kembali.
*****
‘’Kenapa kau kesini?’’ Tanya Reva saat Steve baru turun dari mobilnya.
‘’Baru juga datang sudah mau diusir lagi.’’ Guman Steve, pria itu melangkahkan kakinya menuju Reva yang sedang berdiri tepat di depan pintu masuk rumah.
‘’Aku membawakan sesuatu untuk Aaron, dulu dia sangat menyukainya.’’ memperlihatkan satu paper bag yang berisi makanan yang dulu biasa dibawakannya untuk Aaron.
‘’Aaron sudah tidur, titipkan saja padaku aku akan memberikannya besok pagi.’’ Reva ingin mengambil paper bag itu tapi Steve sama sekali tak memberikannya.
‘’Kalau dimakan besok rasanya tak akan sama lagi.’’
Lalu apa maumu, kau mau aku membangunkannya, begitu?’’
Steve menggeleng ‘’bagaimana jika kau yang memakannya, sayang saja jika makanannya rusak.’’ Steve memberikan wajah sedihnya sedang Reva hanya memutar bola matanya, menurutnya reaksi Steve sedikit berlebihan, kalau makanannya rusak ya nggak usah dimakan lagi, gitu aja kok repot, pikirnya.
‘’Kau harus menggantikan Aaron untuk menghabiskannya.’’
__ADS_1
‘’Kenapa harus aku?’’
‘’Kau kan auntynya.’’
Reva meminta makanannya, ingin memberikannya pada ART tapi sekali lagi, Steve tak memberikan nya, pria itu malah melewati Reva dan masuk kedalam rumah, masuk ke dapur, mengambil satu piring makan dan menyajikan makanan yang tadi dibawanya, setelahnya menarik Reva duduk dan memberikan piring yang sudah berisi makanan itu pada Reva.
‘’Apa maumu?’’
‘’Aku ingin melihatmu menghabiskan makananya setelahnya baru aku akan pulang.’’
‘’Kenapa bukan kau saja yang makan?’’
‘’Kan niatnya aku ingin memberikannya pada Aaron jadi nggak mungkin dong kalau aku yang memakannya, setidaknya kau sebagai auntynya yang harus menggantikannya untuk menghabiskan makanan ini.’’ Ucapnya dan ingin menyuapkan satu sendok yang sudah berisi makanan pada Reva.
‘’Aku bisa makan sendiri.’’ Reva merebut sendok itu dari Steve dan mulai memakan makanannya. ‘’Enak juga.’’ Puji Reva di suapan pertama, Steve tersenyum ‘’aku akan membawakannya lagi jika kau sangat menyukainya.’’
‘’Nggak perlu, aku bisa membelinya sendiri, kau hanya perlu memberitahu dimana kau membelinya.’’ ucapnya dengan tangan dan mulut yang sibuk.
‘’Kau tidak bisa membelinya sendiri kalau tidak bersamaku.’’
‘’Memangnya kenapa, mana ada orang berjualan seperti itu.’’
‘’Ya bisa saja, karena aku yang membuatnya dan kau tak bisa mendapatkan rasa yang sama di tempat lain.’’
‘’Kau.’’ Tunjuknya pada Steve ‘’yang membuatnya?’’ sambungnya lagi, Steve tersenyum dan mengangguk tapi ekspresi Reva seolah tak percaya padanya.
‘’Kenapa, kau tak percaya?’’
Reva mengangguk ‘’aku yakin kau sedang mengerjaiku, iya kan?’’
‘’Untuk apa aku mengerjaimu, kau pikir aku kurang kerjaan apa?’’
Bersambung......
__ADS_1