
‘’Apa yang kau lakukan?’’ Tanya Daren saat Siena berjalan mengambil selimut dan membukanya di lantai.
‘’Mau tidur, aku sudah sangat mengantuk dan besok aku memiliki banyak kerjaan.’’
Siena hendak membaringkan tubuhnya tapi sebelum kepalanya menyentuh bantal, tubuhnya sudah lebih dulu diangkat Daren lalu Daren meletakan tubuh Siena di atas ranjang.
‘’Mulai malam ini kau tidur disini disampingku, apa badanmu tidak sakit terus-terusan tidur dilantai?’’
Ucap Daren lalu dengan santainya membaringkan tubuhnya di samping Siena dan menarik tubuh Siena hingga masuk ke dalam pelukannya.
Siena mengarahkan kepalanya ke atas untuk melihat wajah Daren. ‘’Hei tuan itu bukan kemauanku, lagian mana ada orang yang mau tidur di lantai, aku saja yang malang karena mendapatkan pria tak berperasaan sepertimu menjadi suamiku.’’
‘’Jangan menyalahkanku, bukankah kau memang menyukainya?’’
‘’Dasar gila, berdebat denganmu sungguh membuat kepalaku pusing.’’
‘’Kau harus mempraktekan apa yang kuajarkan tadi sebelum tidur agar nantinya aku bisa tidur nyenyak.’’
‘’Ha!! Apa hubungannya?’’
‘’Lakukan saja nggak usah banyak tanya.’’ Lalu Daren menyatukan bibir mereka dan sesuai kursus yang diberikan, Siena sudah bisa menanggapi sentuhan lidah yang diberikan Daren walau masih dengan cara yang kaku.’’
Tak lama Siena menghentikan ciuman itu. ‘’Tuan Daren yang terhormat bisakah kita lanjut besok saja? Sekarang aku sudah sangat mengantuk.’’
‘’Oke baiklah, khusus malam ini aku akan membiarkanmu tidur nyenyak dalam pelukanku.’’
Mendengarnya Siena melepaskan pelukan itu dan berbalik memunggungi Daren.
‘’Siena apa yang kau lakukan? Cepat peluk aku sekarang kalau tidak aku tak segan-segan untuk membuatmu tak tidur semalaman.’’
Ancam Daren dan karena tak ingin berdebat lagi maka Siena kembali membalikan badannya dan masuk kedalam pelukan Daren.
‘’Good girl.’’ Daren membelai rambut Siena lalu tak lama ia pun menyusul Siena ke alam mimpinya.
*****
__ADS_1
Pagi ini Siena dan Ami sudah terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka dan seperti kemarin ada saja rekan yang terus menggosipkan mereka tapi keduanya tak ambil pusing dan tetap fokus pada pekerjaan mereka, tanggung jawab lebih penting daripada cibiran.
‘Hu dasar sok kecantikan banget sih, baru dua hari kerja udah tebar pesona aja.’’
Ucap Amel pada silvia dan Sherly. Ketiga wanita itu menampakan wajah sinis sambil terus mencibir. Kebencian mereka semakin bertambah karena pria-pria yang diincar oleh ketiganya tertarik dan luluh pada pesona Siena.
‘’Kalian kenapa sih kerjaannya sirik mulu, lagian kalau banyak yang suka sama Siena ya wajarlah orang wajahnya cantik kayak gitu ditambah sopan dan baik, nggak kayak kalian wajah sih lumayan cantik tapi sayang kurang akhlak.’’ Celetuk seorang rekan yang tak sengaja mendengar ketiga wanita itu mencibir Siena dan Ami.
Disela kesibukannya ponsel Siena berdering, Siena melirik sekilas bukan untuk mengangkatnya tapi menekan satu tombol samping ponselnya untuk menghilangkan suara deringnya setelahnya Siena mengatur ponselnya dengan profil diam.
Sementara di ruangannya Daren merasa geram karena ini pertama kalinya ia berinisiatif menelpon Siena untuk mengajaknya makan siang bersama tapi berkali-kali menelpon tak kunjung diangkat juga. Tak kehabisan akal, Daren mengirimkan chat pada Siena.
[Angkat teleponmu sekarang kalau tidak aku akan menemui langsung saat ini juga.]~Mr Arogant
5 menit Daren menunggu tetap juga tak ada tanggapan dari Siena bahkan chat yang dikirimnya belum juga dibaca.
‘’Sebenarnya apa yang sedang dilakukannya sih?’’ Geram Daren lalu berteriak memanggil Akbar.
‘’Akbar minta staff kita untuk menyambungkan komputer saya dengan cctv ruangan staff pemasaran, saya ingin melihat secara langsung bagaimana kinerja mereka.’’
‘’Akbar apa yang kau lakukan disitu? Cari stafnya sekarang atau kau kupecat sekarang.’’ Teriak Daren dan dengan cepat pula akbar meninggalkan ruangan itu.
Daren memperhatikan staff yang tadi dipanggil Akbar. Terlihat layar komputernya sudah menampilkan ruangan staff yang lumayan besar, Daren mendekat mencari keberadaan Siena tapi tak kunjung mendapatkannya.
‘’Akbar sekarang juga kau panggil staff dan pasang cctv tepat diatas meja Siena kalau perlu pasang juga CCTV di komputernya biar aku bisa selalu memantaunya.’’
Pinta Daren karena beberapa kali melihat ke layar komputer dan belum juga menemukan keberadaan Siena.
‘’OMG tuan, kau sudah sangat bucin ternyata.’’
‘’Akbar kau benar-benar ingin dipecat ya? Panggil staff yang biasanya pasang CCTV sekarang juga dan jangan lupa pasang CCTV nya di beberapa bagian yang bisa melihat Siena dengan jelas.’’
15 menit kemudian
Di ruang staff pemasaran sedikit ricuh dan mereka harus menghentikan kerjaan sejenak karena kedatangan beberapa staff yang akan memasang CCTV.
__ADS_1
Semua karyawan terlihat bingung pasalnya diruangan mereka sudah ada banyak CCTV tapi sama sekali tak ada yang berani protes karena itu adalah perintah langsung dari sang Ceo.
Akhirnya setelah hampir satu jam, Daren bisa tersenyum lagi. Sekarang layar komputernya sudah menampilkan gambar Siena dari berbagai sudut. Mulai dari kepala, wajah depannya, bagian belakangnya serta bagian kiri dan kanannya tubuh Siena.
‘’Akbar cepat kau antarkan makan siang untuk Siena dari tadi kuperhatikan sepertinya dia sama sekali belum makan. Kalau dia sakit bagaimana? Nanti malah merepotkanku.
‘’Baiklah tuan.’’ Akbar memesan makanan sesuai perintah Daren tapi ia menyuruh kurir langsung yang mengantarkannya karena tak mungkin ia mengantarnya langsung dan membuat heboh satu perusahaan.
Masih dengan memperhatikan layar komputernya. ‘’Siapa pria ini, berani sekali dia menggoda istriku dan lihatlah wanita menyebalkan ini kenapa juga dia harus tersenyum pada sembarang pria.’’
Omel Daren, merasa tak suka, padahal pria itu hanya menjelaskan sesuatu yang belum diketahui Siena dan mereka sedikit bertukar pendapat terkait pekerjaan.
Tapi Daren sangat tak suka melihatnya, bahkan Daren memerintahkan Akbar untuk memindahkan pria itu ke departemen lain namun, Akbar tak setuju dengan keputusan atasannya dan menjelaskan pada Daren bahwa pria itu pekerjaannya sangat bagus dan ide-ide yang diberikan dalam bidang pemasaran juga selalu bagus dan mau tak mau Daren pun tak jadi memindahkannya.
Tepat jam 2 siang Ami dan Siena menghentikan kerjaannya dan berniat makan siang, mereka tak keluar ruangan karena tadi Siena mendapat kiriman makanan yang tak mungkin dihabiskannya sendiri maka ia mengajak Ami untuk makan bersamanya. Sambil makan Siena mengecek ponselnya.
‘’OMG.’’ Siena meletakan sendoknya lagi dan langsung menelpon Daren.
‘’Bagus…. Dari tadi aku telepon nggak pernah diangkat.’’ Ucap Daren duluan.
‘’Maaf.’’
‘’Yaudah kamu makan aja aku lagi banyak kerjaan nih.’’ Daren langsung mematikan ponselnya.
‘’Darimana dia tau kalau aku sedang makan, apa sekarang dia bisa meramal juga?’’
Kruk..krukk bunyi perut Siena membuat Ami tertawa bahkan beberapa rekannya juga tersenyum padanya.
‘’Nggak usah main ponsel makan aja, tuh cacing-cacing lo udah minta diberi makan.’’
Siena hanya tersenyum dan langsung melahap makanannya, tak bersantai-santai seperti rekan lainnya, sehabis makan keduanya langsung meneruskan kembali pekerjaannya.
Bersambung.....
berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya.....