
Untuk kesekian kalinya Siena kembali memperlihatkan senyum sinisnya.
wanita itu menyisir rambutnya ke belakang dengan satu tangannya diletakan di pinggangnya, berbalik membelakangi Daren, tak lama ia kembali membalikan badannya menghadap Daren.
‘’Jadi maksudmu kau menyayangiku dan Monika disaat yang bersamaan, jangan egois Daren, kau harus memilih salah satu diantara kami, aku akan pergi dari hidupmu jika kau memilih Monika dan jika kau memilihku, ku harap kau bisa melepaskan Monika.’’
Dengan perasaan kacau, Siena keluar dari kamar itu, tak lupa ia mengambil tasnya, ia keluar karena ingin menenangkan dirinya.
‘’Tolong berikan aku waktu untuk menenangkan pikiranku.’’ Ucapnya saat Daren menahan tangannya.
terpaksa Daren harus melepasnya.
Pria itu menarik rambutnya, berteriak dengan kencang melihat punggung Siena yang semakin menjauh darinya.
sungguh Daren sama sekali tak mengerti dengan perasaannya, kenapa dia menjadi plin plan, kenapa dia tak bisa tegas pada perasaannya, jelas-jelas dia merasa masih begitu mencintai Monika tapi kenapa dia sama sekali tak bisa meninggalkan Siena?
bahkan hanya memikirkan Siena tak lagi ada dalam hidupnya membuatnya tak bisa bernafas legah.
*****
Di cafe, Siena duduk diam, ia menutup matanya untuk menenangkan pikirannya, entah dosa apa yang dilakukannya di masa lalu sampai harus mengalami hal menyakitkan seperti ini, pikirnya.
Tak ingin berlarut dalam kesedihan, wanita itu mengambil ponsel yang tadi dibelinya saat dalam perjalanan, setelahnya ia melakukan panggilan video dengan kedua adik dan mamanya, nyatanya disaat memiliki masalah keluarga adalah sumber kekuatan untuknya.
Siena tersenyum setelah menutup panggilan videonya, merasa sedikit tenang, wanita itu memutuskan untuk ke mall dan menghabiskan waktunya dengan berbelanja barang-barang yang diinginkannya.
Ia keluar masuk beberapa tokoh pakaian, nyatanya berbelanja sama sekali tak bisa mengalihkan pikirannya , ia terus saja memikirkan Daren.
‘’Siena.’’ Panggil Robby menghampiri
‘’Sendirian aja?’’ Tanya Robby, pria itu terus memperlihatkan senyum lebarnya.
‘’Udah tau sendiri pake nanya lagi.’’ Ucap Siena bercanda sambil memperlihatkan senyumnya.
‘’Sini biar aku bawain.’’ Robby mengambil alih 3 paperbag yang sedang dibawa Siena.
hampir jam 7 malam Robby ingin mengajak Siena makan malam terlebih dulu.
‘’Daren.’’ Guman Siena tak sengaja melihat Daren keluar dari salah satu tokoh pakaian dengan Monika yang berjalan disampingnya.
Siena tersenyum merutuki kebodohannya, dari tadi dia terus memikirkan Daren tapi nyatanya pria itu sama sekali tak memikirkannya dan malah asyik menemani Monika.
‘’Kenapa nggak dimakan, apa makanan nya nggak enak? Tanya Robby menyadarkan Siena dari lamunannya.
‘’Hhmm, enak kok.’’ Siena mulai melahap makanannya. Tiba-tiba…..
__ADS_1
‘’Tuan Daren.’’ Robby berteriak mengangkat tangannya saat melihat Daren dan Monika memasuki restoran yang sama, pria itu berdiri dan mengajak Daren dan Monika untuk makan bersama mereka.
Siena melirik sekilas, dia sama sekali tak nyaman dengan keberadaan Daren dan Monika.
‘’Makannya pelan-pelan, nggak ada yang mau mengambil makananmu.’’
Ucap Robby, pria itu mengambil tisu untuk membersihkan mulut Siena yang terdapat sedikit sisa makanan.
hampir menyentuh sudut bibir Siena tapi ada tangan yang menghalanginya, Robby melihat Daren sejenak, pria itu sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
‘’Tak sopan jika kau melakukan itu pada wanita yang sudah bersuami.’’
Ucap Daren memperlihatan tatapan tak sukanya, seketika keadaan menjadi tegang.
Monika tak habis pikir kenapa Daren bertindak seperti itu, kenapa pria itu seakan tak suka dengan kedekatan Robby dan Siena.
Bukan sekali dua kali Monika melihat tatapan aneh Daren saat melihat Siena.
‘’Halo kenapa kak?’’ Ucap Siena pada orang disebarang teleponnya, Daren dan Robby terus memperhatikan, entah dengan siapa Siena berbicara tapi wanita itu terlihat sangat senang.
Setelah menutup teleponnya Siena meletakan ponselnya diatas meja, wanita itu kaget karena sedang diperhatikan Daren dan Robby.
‘’Kalian kenapa?’’ tanyanya.
‘’Siapa yang telepon, suami kamu ya?’’ Tanya Monika.
‘’Suamiku sedang bersenang-senang dengan wanita lain jadi mana sempat dia mengingatku.’’ Ucapnya lalu kembali melanjutkan makannya.
‘’Kenapa? Apa suamimu selingkuh?’’ Tanya Monika lagi
‘’Bisa dibilang begitu.’’ jawabnya santai tanpa menatap siapapun.
Sementara Daren diam seribu bahasa mendengar ucapan siena. Semuanya terdiam.
‘’Daren kabar orang tuamu bagaimana? Apa bisa aku mengunjungi mereka?’’ Tanya Monika tiba-tiba.
Daren tersedak menatap sekilas pada Siena tapi wanita itu terlihat sangat santai bahkan tak terganggu dengan ucapan Monika.
‘’Daren kenapa diam saja?’’ Tanya Monika
‘’Ak__” Daren tak sempat melanjutkan ucapannya karena sudah lebih dulu dipotong Siena.
‘’Mungkin tuan Daren sedang menyembunyikan sesuatu, bisa saja ia memiliki wanita lain, secara kamu sudah terlalu lama meninggalkannya.’’
Monika melirik Daren sekilas lalu tersenyum pada Siena ‘’Tak mungkin, dulu Daren sangat mencintaiku.’’
__ADS_1
‘’Tapi itu kan dulu, bisa saja sekarang cintanya sudah terbagi dengan wanita lain, bukankah sikapnya sedikit mencurigakan?’’ Ucap Siena lagi dengan senyumnya.
‘’Kamu apa-apaan sih?’’ Bentak Daren tak suka dengan sikap Siena, bukannya takut Siena malah melihat Daren dengan wajah menantangnya, suasana kembali tegang, Monika dan Robby saling pandang, sungguh Siena adalah satu-satunya yang berani melawan Daren.
Robby sedikit takut Daren akan berbuat kasar pada Siena sedang Monika terlihat santai dan cuek, ia sama sekali tak peduli tentang apa yang akan dilakukan Daren pada Siena, ia malah senang, sejujurnya dia merasa sedikit terusik dengan kehadiran Siena.
Wanita itu seakan mampu menarik perhatian Daren.
*****
‘’Apa maksud ucapanmu tadi? Kau hampir membuat Monika salah sangka.’’ Ucap Daren begitu sampai dirumah.
‘’Kenapa harus salah sangka?’’ Ucap Siena cuek, berlalu menuju kamar mandi dan…
Bruk
Siena menutup keras pintu kamar mandi membuat Daren terlonjak kaget.
‘’Wanita itu.’’ Geram Daren melihat pintu kamar mandi.
Di tempat lain, Robby meminta orang suruhannya untuk memeriksa latar belakang Siena, melihat sikap Daren tadi, Robby yakin ada sesuatu antara pria itu dengan Siena. Ia cukup tau Daren adalah pria yang cuek tapi kenapa pria itu selalu mencampuri urusan Siena?
Pagi harinya, Siena bangun lebih dulu, wanita itu melirik sekilas pada Daren, semalam Siena berpikir akan bangun tanpa melihat Daren lagi.
*****
‘’Bikin kue apa?’’ Tanya Daren menghampiri Siena, wanita itu sedang sibuk membuat kue dengan dibantu adik iparnya, keduanya terlihat sangat akrab.
‘’Hhmm, enak nih kayaknya.’’ Daren menghirup aroma harum kue yang begitu menggiurkan, pria itu berdiri disamping keduanya, mencium pucuk kepala Reva.
‘’Udah matang kali ya.’’ Ucap Siena menghampiri oven, ia sengaja menghindar saat sadar Daren akan mencium keningnya.
‘’Bagaimana, enak nggak?’’ Tanya Siena menyuapkan kue ke mulut Reva.
‘’Aaaa.’’ Daren membuka lebar mulutnya, ia juga ingin mencicipi rasa kue itu.
‘’Suapi aku.’’ perinta Daren melihat Siena yang asyik mencicipi kuenya.
‘’Kau punya tangan kan? Ambil sendiri, aku tak biasa membagi milikku dengan orang lain.’’
ucapnya menusuk, tak peduli dengan tatapan Daren, dengan santainya Siena memasukan beberapa kue kedalam kotak berukuran sedang, niatnya ia ingin mengunjungi mertuanya bersama Reva.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya.....