
‘’Apa yang akan kau lakukan?’’ Tanya Siena sedikit takut, Daren tak menjawab dan kembali mencium bibir Siena
Siena berteriak keras melihat adik Daren karena seumur-umur Siena tak pernah melihat bentuk kebanggaan setiap pria selain gambar yang beberapa kali dilihatnya saat mengikuti mata pelajaran semasa sekolahnya dan untuk film p***o Siena sama sekali tak pernah menontonnya.
‘’Apa yang mau kau lakukan?’’ Tanya Daren saat melihat Siena berusaha turun dari ranjang.
‘’Ak aku takut aku tak mau meneruskannya lagi.’’
‘’Enak aja.’’ Dengan cepat Daren kembali mengukung tubuh Siena dan dengan cepat pula Daren membuka paha Siena dan mulai mengarahkan adik kesayangannya untuk memasuki kepunyaan Siena, dan kegiatan itu berlangsung 4 kali karena Daren yang merasa belum puas.
*****
Pagi ini Siena terbangun lebih dulu, tak langsung bangun Siena malah memandangi wajah Daren dia merasa dilema entah harus senang atau sedih dengan apa yang semalam terjadi padanya dan Daren.
Pria itu sama sekali tak pernah mencintainya tapi pria itu juga selalu menjadi yang pertama baginya mulai dari ciuman bahkan harta berharga dari dirinya sekalipun diambil pertama kali oleh pria brengsek yang sedang tidur disampingnya sekarang.
‘’Aku tak akan bertanggung jawab jika kau jatuh cinta padaku jadi berhentilah melihatku seperti itu.’’ Ucap Daren tiba-tiba membuka matanya membuat Siena refleks memundurkan kepalanya.
‘’Lagian siapa juga yang akan jatuh cinta pada pria tak berhati sepertimu.’’
lalu Siena bangun dan masuk ke kamar mandi sedang Daren hanya tersenyum melirik tubuh Siena yang tampak polos tak menggunakan apa-apa, sepertinya wanita itu tak menyadarinya, dan……
‘’Aakkhh, Daren apa yang kau lakukan padaku?’’ Teriak Siena dari kamar mandi sedang Daren hanya tertawa kecil lalu bangun, mengambil ponselnya dan berjalan ke balkon untuk menelpon Akbar asistennya.
‘’Akbar hari ini juga urus keberangkatanku dan Siena ke maldives.’’
Ucap Daren dan langsung mematikan ponselnya, Daren berdiri di balkon dengan dua tangannya berpegang pada besi penyangga dan dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya tak lama ponsel Daren berdering.
‘’Oke jemput kami 3 jam lagi.’’ Ucap Daren sebelum mengakhiri panggilan itu.
‘’Mau kemana kamu?’’ Tanya Daren saat melihat Siena yang duduk manis di meja hiasnya dengan menggunakan pakaian yang diyakini Daren sebagai pakaian kantor Siena.
Daren berjalan mendekat pada Siena karena wanita itu sama sekali tak menjawab pertanyaannya.
‘’Hari ini kamu nggak usah ke kantor karena 3 jam lagi Akbar akan menjemput kita, hari ini aku mau ajak kamu jalan-jalan ke maldives.’’
__ADS_1
Siena menghentikan gerakan tangannya yang sedang memakaikan lipstik pada bibir indahnya lalu meletakan lipstik itu dan menghadap pada Daren.
‘’Apa maksudmu? Aku harus bekerja sekarang karena kerjaanku begitu banyak dan lagian aku masih karyawan baru jadi nggak enak kalau mengajukan cuti.’’
Sebenarnya Siena begitu senang karena tak pernah sekalipun dia menginjakan kaki di tempat yang paling disukai banyak orang itu tapi sebagai seorang karyawan Siena juga sadar akan tanggung jawabnya dan nanti apa kata para rekannya kalau dia tiba-tiba tidak masuk kantor.
‘’Aku tak peduli dengan semua itu, ganti pakaianmu sekarang juga.’’ Perintah Daren yang tak digubris oleh Siena, wanita itu malah berdiri mengambil tasnya dan bersiap keluar dari kamar tapi ucapan Daren menghentikan langkahnya.
‘’Jika kau berani keluar dari kamar ini maka aku tak segan-segan mengatakan pada semua karyawan bahwa kau adalah istriku.’’ Ancam Daren, Siena menutup matanya sejenak lalu berbalik berjalan mendekat pada Daren.
‘’Silahkan katakan jika kau berani.’’ Tantang Siena karena yakin Daren tak akan mungkin memberitahukan pernikahan mereka pada orang lain karena pada dasarnya Darenlah yang sangat ingin menyembunyikan pernikahan mereka.
‘’Apa kau menantangku sekarang?’’
‘’Iya kenapa, apa kau takut?’’ Siena tertawa sinis lalu melanjutkan langkahnya dan meninggalkan kamar, Siena sarapan terlebih dulu sebelum berangkat ke kantor.
‘’Siena mana?’’ Tanya Daren pada beberapa ART yang sedang membersihkan sisa makanan Siena.
‘’Nyonya muda baru saja berangkat ke kantor tuan.’’
Daren geram, tadinya Daren tak langsung menyusul Siena keluar kamar karena berpikir wanita itu tak serius dengan perkataannya tapi ternyata dugaan Daren salah besar.
Dengan cepat Daren mengambil kunci mobilnya berniat menyusul Siena bahkan Daren hanya menggunakan pakaian santainya.
sebelumnya Daren memerintahkan ART untuk mempersiapkan semua keperluannya dan Siena untuk dibawa ke maldives.
*****
‘’Oh ya Tuhan bukankah itu tuan Daren?’’
‘’’Waw Ciptaan Tuhan begitu luar biasa.’’
‘’Ternyata tuan Daren terlihat lebih tampan dengan menggunakan baju santai seperti itu.’’
‘’Astaga setiap hari aku melihat tuan Daren dan setiap hari juga aku jatuh cinta padanya.’’
__ADS_1
‘’Kira-kira tuan Daren udah punya pacar apa belum sih?’’
Bisik-bisik beberapa karyawan wanita saat Daren turun dari mobilnya.
beberapa karyawan membungkuk pada Daren lalu beberapa diantaranya mengikuti Daren dan berjalan dibelakangnya.
Kening mereka mengerut saat Daren tak berjalan ke arah ruangannya melainkan menuju ruangan staf pemasaran.
Daren menghentikan langkahnya begitu sampai di ruangan pemasaran, matanya mencari Siena yang sedang tak berada di mejanya, tak lama Daren tersenyum saat melihat Siena berjalan menghampiri mejanya dengan membawa segelas yang diyakini Daren adalah teh karena Siena sama sekali tak menyukai kopi.
Siena berjalan dengan santai tak tau jika Daren sedang berada di ruangan itu sedang semua karyawan terlihat diam dan beberapa kali membungkuk pada Daren, mereka juga bingung karena ini pertama kalinya Daren mendatangi ruangan mereka secara langsung.
‘’Kenapa si Am, kenapa suasananya tegang banget?’’
Siena berbisik pada Am sedang Ami hanya diam dan menyuruh Siena untuk meneruskan kerjaannya, Siena pun mengangguk dan tanpa melihat sekitar Siena kembali meneruskan kerjanya, tiba-tiba……
‘’Bagus.’’ Siena terperanjat kaget mendengar suara Daren, perlahan ia memutar badannya melihat Daren sedang berjalan ke arahnya dengan senyum sinisnya.
Siena tersenyum kikuk lalu berdiri dari duduknya dan sedikit membungkuk hormat pada Daren lalu Siena duduk kembali dan berniat meneruskan kerjaannya.
‘’Mau ngapain lagi kamu?’’ Tanya Daren dengan suara sedikit besar membuat semua karyawan di ruangan itu melihat ke arahnya dan Siena.
‘’Siena.’’ Teriak Daren lagi karena Siena masih sibuk dengan kerjaannya.
‘’Maaf pak ada yang bisa saya bantu?’’ tanya Siena masih dengan nada lembut dan sopan sedang Daren berjalan lebih dekat padanya.
Bagai film semua karyawan memandang bingung sikap Daren pada Siena, pasalnya atasan mereka itu sama sekali tak pernah berbicara secara langsung dengan para stafnya tapi sekarang Daren sedang berada di ruangan mereka dan terlihat sangat marah pada seorang karyawan baru.
Apakah kesahalan Siena begitu besar hingga harus tuan Daren sendiri yang turun tangan, pikir beberapa karyawan.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
Jangan lupa like dan komennya.....
__ADS_1