
Daren melihat Siena tanpa berkedip, wanita itu sangat cantik, penampilannya seakan bisa menghipnotis siapa saja yang melihatnya.
suara heels Siena bergema dengan indah di telinga Daren, semakin dekat Siena semakin cepat pula detakan jantung Daren.
menghirup dalam aroma lavender yang berasal dari tubuh Siena.
Sungguh malam ini Daren merasa kecantikan Siena bertambah berkali kali lipat, seandainya bisa menghentikan waktu, ia ingin menghentikannya sejenak agar bisa lebih lama memandang wajah cantik wanita yang kini menempati seluruh ruang hatinya.
‘’Kau kenapa?’’ Siena menggoyang pundak Daren, dari tadi pria itu terdiam ditempatnya tanpa mengatakan sepatah katapun bahkan teriakan Aaron yang meminta untuk digedongpun sama sekali tak digubrisnya.
‘’Hei kau kenapa sih, kenapa melamun, kuperingatkan jangan menyesal sekarang karena aku tak akan melepaskanmu, siapa suruh kau mau membantuku.’’ Ucap Siena yang berpikir bahwa Daren melamun karena menyesal akan keputusannya untuk membantu Siena dan memperlihatkan wajahnya di depan publik.
‘’Bagaimana mungkin aku menyesal sedang ini merupakan salah satu cara untuk memperbaiki pernikahan kita.’’
‘’Kenapa kau selalu berpikir aneh tentangku sih?’’
‘’Ya karena itu kau, kau tau pikiran seperti itu hanya akan ada saat bersamamu.’’
‘’Oh yah, setidaknya aku berbeda dari yang lainnya dong, itu artinya aku memiliki tempat sendiri di hatimu.’’ Daren mengangkat kedua alisnya dan memberikan tatapan genitnya yang membuat Siena mual, wanita itu mempraktekan gaya ingin muntahnya pada Daren.
‘’Ya jelas kau berbeda, didunia ini tak ada pria sekejam dan sebodoh dirimu.’’ Cibir Siena menarik tangan Aaron keluar terlebih dulu meninggalkan Daren.
*****
Siena turun dari mobilnya disusul Daren dengan menggendong si kecil Aaron.
para wartawan tak menyia-nyiakan moment itu, mereka mengambil gambar sebanyak-banyaknya, ini kali pertama Siena tampil bersama seorang pria selain Steve.
Siena menampilkan senyum cerahnya sambil beberapa kali melambaikan tangan pada para penggemar sedang Daren sama sekali tak memperhatikan sekelilingnya.
matanya hanya fokus melihat Siena dan apa yang dilakukan wanita itu, pria itu terus tersenyum melihat tingkah Siena dan tentu saja hal itu tak disia-siakan, banyak penggemar yang mengambil video, banyak juga wanita yang iri melihat cara Daren memandang Siena, mereka mengatakan bahwa pria itu sangat mencintai Siena dan itu sangat terlihat dari tatapan matanya.
__ADS_1
‘’Berhentilah melihatku seperti itu.’’ Bisik Siena
‘’Aku tak bisa mengalihkan tatapanku darimu, kau sangat cantik malam ini.’’ Daren balas berbisik ditambah dengan lengkungan indah di bibirnya.
Siena tak membalas, menghampiri dan menyapa beberapa teman aktrisnya, tak lupa juga memperkenalkan Daren sebagai suaminya dan ayah dari Aaron.
tak perlu bukti, semuanya percaya pada apa yang dikatakan Siena, mereka jelas melihat kemiripan Daren dan Aaron.
‘’Ya Tuhan Siena suamimu tampan sekali.’’ Bisik satu rekan artisnya dengan suara sedikit besar hingga bisa didengar oleh beberapa orang bahkan Daren sendiri juga mendengarnya.
Mendengar pujian itu, Siena langsung mengalihkan pandangannya pada Daren, menatap tak suka padanya yang sedang tersenyum membalas sapaan beberapa rekan wanitanya.
‘’Ada apa dengan pria itu, kenapa dia tersenyum seperti itu?’’ entah sadar atau tidak, Siena menggenggam pergelangan tangan Daren, melirik tajam pada pria itu.
‘’Sepertinya kau sangat menikmati acara ini.’’ Sindir Siena.
‘’Iya aku sangat senang.’’ Daren tak bisa menahan perasaan bahagia, pria itu terus menatap tangan Siena yang sedang menggenggam erat pergelangan tangannya.
andai tak ada siapapun mungkin Daren akan berteriak saking senangnya atau mungkin pria itu akan melompat ke langit ketujuh untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya saat ini.
‘’Jangan tersenyum seperti itu.’’Bisik Siena dengan nada geramnya, pasalnya pria itu masih saja tak berhenti tersenyum sedang beberapa rekan wanitanya dari tadi terus memperhatikan Daren bahkan ada beberapa yang melihat Daren dengan tatapan lapar yang siap memangsa pria itu.
‘’Lagian untuk apa juga kau berdandan seperti ini, apa kau sengaja ingin menarik perhatian orang yang ada disini?’’ Tuduh Siena.
wanita itu melihat Daren dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, tadi dia sama sekali tak menyadari penampilan Daren yang terlihat sangat tampan malam ini, pantas saja para wanita melihatnya dengan tatapan penuh damba.
Daren tertawa, menggeleng kepalanya tak mengerti dengan ucapan Siena, dia sama sekali tak berdandan seperti apa yang dikatakan wanita itu bahkan penampilannya malam ini sama saja dengan penampilannya setiap hari saat ke kantor.
‘’Kenapa ketawa? Aku lagi nggak bercanda ya sama kamu.’’
‘’Kamu kenapa sih, tiba-tiba marah-marah nggak jelas gini.’’
‘’Siapa yang marah, aku bisa aja kok.’’
__ADS_1
Keduanya saling diam sampai Aaron memanggil Siena.
‘’Mommy, Alon mau makan itu.’’ Tunjuk Aaron pada beberapa kue yang tertata rapi di meja tak jauh dari tempat mereka berdiri.
‘’Yaudah kamu ngobrol aja sama teman-temanmu biar aku yang bawa Aaron.’’
Siena tak langsung menjawab, wanita itu melihat sekitar, ia melihat beberapa wanita yang berdiri tepat di samping meja kue itu.
‘’Nggak aku ikut.’’ Siena mengikuti Daren dengan masih setia menggenggam pergelangan tangan pria itu, tentu saja Daren tak keberatan, pria itu malah senang Siena menempel padanya.
Tak apa baginya walau Siena hanya berakting didepan teman-teman, wartawan dan para penggemarnya.
‘’Mommy Alon mau yang itu, itu, itu, itu.’’ Tunjuk Aaron pada beberapa kue yang diinginkannya dan Siena pun mengambilnya, wanita itu menyuapkan sepotong kue pada Aaron, setelahnya ia juga ikut memakannya dan tanpa sadar juga menyuapi Daren.
Dengan hati riang gembira, seperti bunga bermekaran, Daren membuka mulutnya menerima suapan Siena, pria itu tak bisa berhenti tersenyum dan tentu saja hal itu membuat Siena semakin jengkel.
‘’Sebenarnya apa yang kau pikirkan kenapa dari tadi kau tak bisa berhenti tersenyum?’’
‘’Memikirkanmu.’’ Bisik Daren
‘’Kau sakit ya, belakangan ini sepertinya sikapmu sedikit aneh.’’ Siena memutar jari telunjuknya tepat di samping kepalanya.
‘’Ya aku sakit karena menahan rinduku padamu.’’
Siena ingin muntah mendengar apa yang dikatakan Daren, sejak kapan, kenapa pria itu menjadi seperti ini, kenapa kata-katanya sealay ini?
Siena bergidik ngeri, baginya kata-kata itu tak pantas untuk diucapkan Daren apalagi jika mengingat umurnya, sungguh Siena tak bisa berkata-kata lagi, ia tak mau terus membahas hal itu yang nantinya Daren malah akan mengucapkan kata-kata yang lebih menggelikan dan ujung-ujungnya Siena akan benar-benar muntah akan hal itu.
‘’Kenapa ekspresimu seperti itu, apa kau pikir aku sedang membual?’’
Siena membuka satu tangannya, menyuruh Daren berhenti berucap, dia tak ingin mendengar kata-kata menggelikan dan murahan itu lagi dari mulut Daren.
‘’Stop! Jika kau terus membicarakan hal itu yang ada aku benar-benar akan muntah ditempat ini.’’
__ADS_1
Bersambung.....