
‘’Aku benar-benar calon istrinya jadi kuharap kau segera meninggalkan calon suamiku dan jangan pernah lagi mendekatinya.’’
Hahahaha, wanita itu tertawa membuat Reva semakin heran, apa wanita itu tak percaya padanya, apa aktingnya masih kurang bagus? seharusnya dia berlatih pada kakak iparnya.
‘’Kau tenang saja, aku tak akan mengejarnya lagi, tapi apa benar kalian akan segera menikah?’’ tanya wanita itu lagi untuk memastikan.
‘’Tentu saja kami akan menikah, dia sangat mencintaiku hingga memintaku menikah dengannya dalam waktu dekat ini.’’
‘’Untuk apa keluarga kita cemas kalau kau ternyata memiliki calon istri sesempurna ini.’’ Ucap wanita itu pada Steve.
‘’Keluarga kita? Maksudnya apa ya?’’ Tanya Reva kurang mengerti
‘’Oh iya aku belum mengenalkan diri ya, perkenalkan aku adalah kakak dari pria yang sebentar lagi akan menjadi suamimu ini.’’ ucapnya memperkenalkan diri dengan memberi satu tangannya.
‘’What!’’ teriak Reva sedikit syok, bagaimana bisa wanita itu kakaknya Steve?
‘’Keluarga kami pasti akan sangat senang kalau tau Steve memiliki calon istri sepertimu.’’
‘’Tapi kak.’’ Ucap Reva terputus karena wanita itu langsung berdiri dan pamit pulang secepatnya karena katanya sedang memiliki urusan penting.
‘’Kenapa kau tidak mengatakannya?’’ Tanya Reva dengan nada lesunya
‘’Lagian siapa suruh kau tiba-tiba memperkenalkan diri sebagai calon istriku.’’ Protes Steve dengan nada kesalnya
‘’Kau menyalahkanku?’’
‘’Kalau bukan kau siapa lagi?’’
‘’Salahmu karena meminta bantuanku.’’
‘’Dan aku menyesali hal itu sekarang.’’
‘’Sudahlah kita tinggal mengatakan yang sebenarnya pada keluargamu.’’
‘’Tidak segampang itu ferguson, sekarang nenekku pasti sedang bersiap untuk menemui orang tuamu.’’
‘’What, apa maksudmu, kenapa nenekmu harus menemui orang tuaku?’’
‘’Ya tentu saja untuk membicarakan pernikahan kita.’’
‘’Kau gila ya, jangan diam saja, lakukan sesuatu untuk membatalkan rencana nenekmu itu.’’
‘’Kau tidak mengenal nenekku.’’
‘’Ya memang, bertemu dengannya saja aku belum pernah, tau wajahnya saja tidak.’’
‘’Kau tau nenekku sangat keras, dari dulu dia selalu memintaku menikah hanya saja saat itu aku selalu menolaknya karena merasa belum siap, kau tau keinginan terbesarnya adalah melihatku menikah dan memiliki anak.’’
__ADS_1
‘’Bukan belum siap, hanya saja kau menyukai kakak iparku yang sama sekali tak menyukaimu.’’ Ucapnya mengejek.
‘’Kau ini.’’
‘’Steve daripada kita terus berdebat disini mending kita ke rumahmu dan mencegah nenekmu.’’
‘’Kau ini tidak mengerti, nenekku itu sama sekali tak bisa dicegah.’’
*****
‘’Siena nya ada? Tanya Daren pada resepsionis saat pria itu sampai di perusahaan yang menangani karir Siena sebagai artis, hampir 45 menit lalu pria itu menelpon Siena dan wanita itu mengadakan sedang berada di perusahaan tempatnya bernaung untuk membahas sesuatu.
‘’Maaf tuan perusahaan ini tidak memperbolehkan seorang aktris mendapatkan kunjungan kecuali dari keluarganya.’’
‘’Saya suaminya.’’
‘’Tuan Daren.’’ sapa salah satu petinggi perusahaan yang mengenali Daren yang juga adalah investor di perusahaan itu, setelahnya ia meminta seorang karyawan untuk membawa Daren bertemu Siena.
‘’Kalau tuan Daren datang lagi langsung suru masuk jangan dibiarkan menunggu.’’ ucapnya memberitahu pada resepsionis.
‘’Kenapa kau disini?’’ tanya Siena, wanita itu baru saja selesai membahas pekerjaannya dengan beberapa artis lainnya.
‘’Apa pekerjaanmu sudah selesai?’’ Daren balas bertanya.
‘’Sejam lagi aku harus syuting, oh iya kau kenapa disini?’’
‘’Kau tidak memaksa para resepsionis untuk mengizinkan mu masuk kan?’’ tanya Siena
‘’Pikiranmu itu.’’ Ucapnya sedikit menyentil kening Siena.
‘’Oh ya kau sudah makan siang?’’
Siena mengangguk
‘’Oh ya kau akan syuting dimana? Biar kuantar.’’
Siena kembali mengangguk, menggandeng tangan Daren dan keduanya berjalan keluar dari perusahaan itu menuju tempat syuting Siena.
*****
‘’Rev.’’ panggil Daren saat Reva masuk ke rumah.
‘’Duduk.’’ ucapnya dengan nada tegas
Reva melirik Siena yang duduk di samping Daren, bertaya dengan matanya, ada apa dengan kakaknya tapi Siena meresponnya dengan mengangkat kedua pundaknya karena memang ia sama sekali tak tau apa yang terjadi.
Daren meletakan ponselnya di meja, ponsel itu menyala dengan menampilkan foto Reva sedang bersama Steve, Siena yang melihat foto itu juga memandang Reva, ingin mendengar apa yang dikatakan wanita itu.
__ADS_1
‘’Coba jelaskan pada kakak kenapa kau bersama dengannya.’’
‘’Kami nggak sengaja bertemu kak.’’ Ucapnya jujur
‘’Kau yakin, sepertinya kalian terlalu sering bertemu akhir-akhir ini, apa kau yakin tidak sedang membohongi kakak?’’
‘’Untuk apa Reva berbohong.’’
Siena menatap heran pada Daren, memangnya kenapa kalau Reva bersama Steve, toh tidak ada yang salah dari pria itu, malah menurut Siena, Reva akan sangat beruntung jika memiliki seseorang seperti Steve sebagai pendampingnya.
‘’Memangnya kenapa kalau Reva bersama Steve, memangnya ada yang salah, bukankah mereka terlihat cocok saat bersama?’’ Tanya Siena pada akhirnya
‘’Tidak bisa, aku tidak yakin dia akan benar-benar mencintai Reva.’’
‘’Apa maksudmu, kenapa kau mengatakan hal itu?’’
‘’Kau lupa pria itu sangat mencintaimu dan bisa saja ini hanya salah satu caranya untuk terus dekat denganmu.’’
‘’Kenapa pikiranmu picik sekali, Steve nggak mungkin melakukan hal seperti itu, aku sangat mengenalnya, dia adalah pria baik.’’
‘’Puji saja terus, kenapa kau menyesal meninggalkannya dan memilihku?’’
‘’Kau ini bicara apa sih, kita sedang membahas Steve dan Reva, kenapa jadi membawaku juga?’’
‘’Pokoknya aku tak akan setuju pria itu bersama dengan Reva.’’ ucapnya dan meninggalkan kedua wanita itu, Siena sama sekali tak mengejar, wanita itu memindahkan posisinya menjadi lebih dekat dengan Reva.
‘’Bisakah kau ceritakan padaku ada apa diantara kau dan Steve, benarkah kalian bersama?’’
Reva menggeleng, wanita itu menceritakan apa yang terjadi pada Siena, Siena hanya bisa mengangguk kepalanya kecil karena tak tau harus bereaksi seperti apa, selama ia mengenal Steve, beberapa kali juga ia bertemu dengan nenek dari pria itu yang memang menurut Siena terlihat sedikit menakutkan, wanita tua itu sangat tegas dalam berucap apalagi wajahnya yang datar dan tak pernah tersenyum membuat Siena sedikit takut.
‘’Terus apa kau sudah bertemu neneknya?’’
Reva menggeleng ‘’entahlah, kata Steve kemungkinan neneknya sedang dalam perjalan untuk menemui papa dan mama.’’
‘’Lalu jika papa dan mama setuju dengan rencana pernikahan kalian, apa yang akan kau lakukan?’’
Reva membuang nafas berat. ‘’Aku memiliki kakak ku yang akan mendukungku untuk menolak pernikahan ini.’’
‘’Kenapa kau ingin menolaknya, bukankah Steve adalah pria yang baik dan menurutku dia juga lumayan tampan.’’
‘’Karena aku tidak mencintainya terlebih lagi dia selalu membuatku kesal.’’
‘’Bukan dia yang membuatmu kesal tapi kau sendiri yang selalu kesal melihatnya bahkan terkadang aku bingung apa yang membuatmu begitu membencinya, apa karena insiden kopi itu?’’
Reva menggeleng, sejujurnya dia juga kurang paham kenapa dia selalu jengkel setiap melihat Steve didekatnya.
Bersambung.....
__ADS_1