
‘’Keluarlah.’’ Reva setengah menarik tubuh Steve.
‘’Mau kemana kau?’’ Tanya Reva saat Steve melangkahkan kakinya ke arah berbeda dari pintu keluar.
‘’Toilet, aku tak tahan lagi.’’ Ucapnya sedang reva kembali menahannya, wanita itu memaksanya untuk keluar terlebih dulu dan untuk urusan buang air Steve bisa memikirkannya nanti, setidaknya ia sudah keluar dari rumah ini terlebih dulu.
‘’Nanti saja buang airnya, lebih baik sekarang kau keluar sebelum kakakku kembali kesini lagi.’’ Menarik tangan Steve dan membawanya keluar setelahnya ia sedikit mendorong tubuh Steve setelah mereka tiba tepat di depan pintu.
‘’Pelan-pelan dong.’’ Protes Steve yang sama sekali tak dihiraukan Reva, dengan cepat wanita itu menutup kembali pintu rumah bahkan tanpa mengatakan apa-apa sedang Steve langsung berlari ke arah mobilnya, ia harus menemukan tempat untuk buang air kecil karena sudah sangat tak tahan.
‘’Pria itu selalu saja membuat masalah’’ decak Reva sambil melangkahkan kakinya menuju kamar.
‘’Loh kamu udah mau masuk?’’ Tanya Daren menghampiri Reva, wanita itu mengangguk dan kembali meneruskan langkahnya sedang Daren juga kembali masuk ke kamar.
‘’kenapa balik lagi?’’ Tanya Siena saat melihat Daren kembali masuk kedalam kamar, pria itu langsung berbaring di samping Siena, menarik Siena dalam pelukannya, mencium singkat keningnya. ‘’Revanya udah mau tidur.’’ mendengar itu Siena bernafas legah, berarti Steve sudah keluar dari rumah.
‘’Besok syutingnya jam berapa?’’
Siena menggeleng. ‘’Besok aku ingin menghabiskan waktu bersama Aaron, belakangan ini sepertinya aku terlalu sibuk jadi waktu bersama Aron sedikit berkurang.’’
Daren menggeleng kecil ‘’kalau begitu aku akan menemani kalian, kita akan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari besok.’’
‘’Loh emangnya kamu nggak ada kerjaan penting?’’
‘’Besok ada meeting tapi masih bisa kok di hendel sama Akbar.’’
‘’Kamu yakin? lebih baik meeting dulu, aku dan Aaron akan menunggumu, oke?’’
Daren mengangguk kecil setelahnya keduanya mulai memejamkan matanya untuk mencari tidur.
******
‘’Morning kesayangan mommy.’’ Siena mencium kening Aaron saat pria kecil itu membuka matanya di pagi hari.
‘’Mommy.’’ Ucapnya mengucek satu matanya lalu merentangkan kedua tangannya meminta Siena untuk memeluknya.
‘’Mommy tak kelja?’’
‘’Hari ini mommy akan bermain bersama Aaron.’’
__ADS_1
‘’Benarkah?’’ tanyanya dengan nada girang.
Siena mengangguk, tersenyum dan mencium pipi tembem dan menggemaskan Aaron.
‘’Mommy Alon mau mandi sendili."
‘’Mandi sendiri?’’
‘’Iya mommy, Alon kan udah besal kata daddy halus bisa mandi sendili.’’
Siena membuang nafas kasar, Daren lagi Daren lagi biang keroknya, padahal ia masih ingin Aaron bermanja-manja padanya seperti dulu, tapi Daren, pria itu selalu mengajarkan sesuatu yang baru dan Siena belum siap putra kecilnya cepat bertumbuh dewasa, belakangan ia berpikir Aaron sudah seperti orang dewasa, tak pernah lagi merengek padanya padahal ia masih ingin pria kecilnya itu bertingkah seperti dulu.
‘’Kenapa kau mengajarkan Aaron untuk mandi sendiri, dia kan masih kecil Daren, aku masih bisa mengurusnya, kenapa kau mengajarkan untuk menjadi mandiri, kalau dia sudah besar aku tak bisa lagi menikmati momen ini, jadi biarkan saja mengalir apa adanya, biarkan dia merengek kalau ingin merengek, aku bukannya tak ingin dia mandiri hanya saja menurutku saat ini belum waktunya, aku tak mau dia cepat dewasa dan meninggalkanku."
Daren tertawa kecil, mengelus kepala Siena ‘’kenapa dia harus meninggalkanmu, dia putramu, sampai kapanpun dia tak akan meninggalkanmu.’’
‘’Tapi suatu saat dia pasti akan menikah Daren dan pasti akan hidup terpisah dari kita dan aku belum siap untuk itu.’’
Daren kembali tertawa, ada-ada saja pemikiran Siena, Aaron bahkan baru 5 tahun dan dia sudah memikirkan Aaron akan menikah dan meninggalkannya?
‘’Kau ini ada-ada saja, Aaron bahkan masih kecil dan kau sudah berpikir sampai sejauh itu.’’
Daren tak lagi menjawab, pria itu hanya tersenyum dan kembali mengelus lembut rambut Siena, apa begini pemikiran setiap orang tua perempuan? Pikirnya, pria itu ingin sekali tertawa karena pemikiran Siena yang menurutnya sangat lucu, hanya saja ia menahannya karena Siena terlihat sangat sedih karena membicarakan hal itu.
‘’Aduh tampannya, anak siapa sih?’’ Siena mencubit pipi Aaron saat pria kecil itu menghampirinya.
‘’Anak tetangga.’’ jawabnya tertawa geli, sedang Siena melotot tak percaya mendengarnya, dari mana lagi Aaron tau hal itu, tiba-tiba ia memutar kepalanya, melihat Daren dengan tatapan melototnya, yakin kalau Darenlah yang menjadi biang keroknya.
‘’Bukan aku.’’ Elak Daren menggeleng kepala dan kedua tangannya secara bersamaan.
‘’Siapa yang mengajarimu kata-kata seperti itu?’’
Dengan polosnya Aron menunjuk Daren sedang Daren hanya melongo, memangnya kapan ia pernah mengatakan hal itu pada Aaron, seingatnya tak pernah.
Siena kembali melotot pada Daren.
‘’Memangnya kapan daddy bilang gitu?’’
‘’Alon dengal saat daddy belcanda dengan om Akbal.’’
__ADS_1
omg, Daren menepuk keningnya, sepertinya sekarang dia harus lebih menjaga cara bicaranya, pria kecilnya itu ternyata selalu menangkap apa yang terjadi di sekelilingnya.
‘’Kau, lain kali kau harus lebih memperhatikan, putra kita itu masih dalam masa pertumbuhan dan rasa ingin tahunya sangat besar, jangan sampai dia mempelajari sesuatu yang buruk dari kita.’’
Daren mengangguk
‘’Yaudah yuk.’’ Siena membuka kedua tangannya bermaksud ingin menggendong Aaron tapi pria kecil itu menolaknya karena katanya bisa berjalan sendiri.
‘’Mommy Alon sudah besal, kata daddy Alon tidak bisa telus meminta mommy untuk menggendong Alon.’’ Ucap pria kecil itu dengan wajah senangnya, berbeda dengan Siena, wanita itu kembali melotot pada Daren, karena Daren lagi kali ini Aaron bahkan tak mau di gendong olehnya, sedang Daren, pria itu hanya menggaruk tengkuknya dan memilih pergi terlebih dulu dengan alasan meeting.
‘’Awas saja kau.’’ geram Siena melihat Daren yang kini sudah memasuki mobil.
*****
‘’Rev aku bisa minta tolong nggak?’’ Ucap Steve yang kini sedang menelpon Reva.
‘’Untuk?’’
‘’Bisakah kau ikut denganku?’’
‘’Kemana?’’
‘’Nenekku sedang sakit dan.’’
‘’Terus apa hubungannya denganku?’’
‘’Bisakah kau membiarkanku selesai berbicara terlebih dulu, jangan selalu memotong ucapanku.’’
‘’Oke baiklah, memangnya apa yang ingin kau sampaikan?’’
‘’Nenekku sedang sakit dan entah kenapa dia ingin bertemu denganmu, bisa tidak kamu membantuku sekali ini saja?’’
‘’Dulu aku sudah membantumu dan sekarang kau ingin aku membantumu lagi?’’
‘’Please Rev, aku tak bisa mengatakan tidak pada nenekku, aku tak ingin dia sedih, aku janji ini yang terakhir kalinya aku meminta bantuanmu.’’
‘’Hhmm, bagaimana ya?’’
‘’Please Rev, ini terakhir kalinya.’’
__ADS_1
‘’Jaminannya apa? Aku perlu jaminan agar yakin kau tak akan meminta bantuanku lagi’’