
‘’Ih… kenapa malah membicarakan tentang pembunuhan sih, sebenarnya untuk apa kau memanggilku kesini?’’
Dengan cepat Daren membaringkan tubuhnya dan meletakan kepalanya di pangkuan Siena.
‘’Jangan berani menyingkirkan kepalaku kalau tidak ingin aku memberitahu tentang statusmu pada semua orang.’’ Ancam Daren saat kedua tangan Siena bersiap mendorong kepalanya.
‘’Hu.. Kau bisanya hanya mengancam saja, sebenarnya apa yang kau inginkan, aku memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.’’
‘’Astaga kau ini cerewet sekali, diamlah jika tak ingin aku menciummu.’’ Tak lama Daren mengangkat kepalanya dan menatap Siena dengan genit. ‘’Hei sepertinya ini adalah saat yang bagus untuk memberimu kursus lagi.’’
‘’Jangan aneh-aneh karena aku sama sekali tak mau melakukan hal itu lagi denganmu, nanti saja aku belajarnya.’’
‘’Daren biarkanlah aku pergi masih banyak yang harus kukerjakan.’’
‘’Tak bisa sebelum kau makan siang denganku.’’
‘’Daren sudah hampir 20 menit aku diruanganmu apa kata rekan-rekanku nanti?’’
‘’Ástaga Siena aku sama sekali tak peduli dengan hal itu.’’ Ucap Daren yang mulai kesal mendengar rengekan Siena yang meminta segera keluar dari ruangannya.
‘’Cium aku lalu aku akan membiarkanmu keluar.’’
Siena melotot mendengar ucapan Daren tak habis dipikir Daren bahkan bersikap seperti itu saat mereka sedang dikantor.
‘’Yasuda jika kau tak mau melakukannya maka bersiaplah untuk kutahan di ruangan ini sampai jam pulang kantor.’’
Dan mau tak mau Siena pun mencium pipi kanan Daren tapi pria itu cukup lihai, dengan cepat Daren menarik tengkuk Siena saat Siena menjauhkan wajahnya.
Daren terus melu mat bibir Siena seperti orang yang tengah keparan sedang Siena hanya berdiam diri sama sekali tak berniat untuk membalas ciuman itu.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana Daren mencium wanita lain tepat didepan matanya.
‘’Kenapa kau tak membalas ciumanku?’’ Tanya Daren dengan bibir yang masih menempel. ‘’Lidahku kelu lagi tak bisa digunakan.’’
‘’Cih banyak sekali alasanmu.’’ lalu Daren mengusap bibir Siena yang masih terdapat sisa saliva dan setelahnya membiarkan Siena keluar dari ruangannya.
*****
‘’Bik apa tuan sudah pulang?’’ Tanya Siena pada satu Art karena sudah hampir jam 9 malam tapi Daren tak kunjung pulang kerumah.
Siena mengambil ponselnya untuk menghubungi Daren, beberapa kali menelpon sama sekali tak ada yang mengangkatnya hingga panggilan keempat barulah panggilan itu diangkat.
‘’Hallo.’’ Jawab seseorang di seberang telepon.
__ADS_1
Siena mengerutkan keningnya mendengar suara seorang wanita, dia kembali melihat layar ponselnya dan memastikan bahwa tak salah menelpon orang lain.
‘’Hallo.’’ Ucap wanita itu lagi membuat Siena sedikit tergagap.
‘’Bukankah ini ponsel Daren?’’
‘’Oh kau mencari Daren dia sedang tidur sekarang.’’
Tanpa berlama-lama Siena mematikan panggilan itu disertai dengan air mata yang mengalir di wajah cantiknya.
Siena bersandar di kepala ranjang sambil memegang dadanya.
Sungguh sakit sekali rasanya saat mendapati Daren dengan terang-terangnya sering bersama wanita lain.
Apa tak pernah sekalipun Daren memikirkan perasaannya.
Siena masih menangis tersedu sedu bahkan beberapa kali dia menepuk dadanya dengan sedikit kuat mungkin karena sekarang perasaannya terasa lebih sakit dari biasanya.
Berkali-kali dia menyalahkan dirinya yang jatuh cinta pada pria seperti Daren.
Siena terus menangis sampai tertidur.
Pagi harinya Siena sudah terlihat cantik, bernyanyi sambil memberi makan ikan hias. Siena selalu tampil ceria karena tak ingin siapapun mengetahui masalahnya.
Melihat indahnya ikan hias bisa sedikit menghibur Siena.
Bahkan tak jarang ia menghabiskan waktunya memandangi ikan-ikan itu.
Weekend seperti sekarang Siena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena Daren sama sekali tak mengizinkannya keluar kecuali bersama Daren.
Di tempat lain, Daren mulai mengerjapkan matanya perlahan ia bangun dan duduk di ujung ranjang, tak lama lalu masuk untuk membersihkan diri setelahnya berjalan kemeja makan untuk sarapan.
Dari jarak dekat Daren tersenyum melihat seorang wanita yang sedang sibuk menata makanan dimeja makan, Daren mendekat dan mencium pucuk kepala wanita itu.
‘’Masak apa sih serius banget.’’
‘’Bukan aku yang masak, tapi aku beli.’’
Daren menarik satu kursi, mengambil piring lalu mulai makan.
‘’Kakak mulai minggu depan Reva akan magang di perusahaan RH.’’
‘’Kenapa nggak di perusahaan kita aja biar sekalian kakak bisa menjagamu.’’
__ADS_1
‘’Kapan aku berkembangnya, aku sengaja tak memilih perusahaan kita karena pasti disana aku akan dimanjakan dan diperlakukan berbeda dan aku tak mau itu terjadi makanya aku memilih perusahaan lain.
Daren mengusap lembut kepala Reva. ‘’Adik kakak ini udah besar ternyata.’’
Ya Reva adalah adik kandung dari Daren, sejak kuliah Reva memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen karena rumahnya sedikit jauh dari tempat kuliahnya, semula kedua orang tua dan kakaknya sama sekali tak mengizinkannya tapi perlahan Reva bisa menyakinkan mereka untuk bisa menjaga dirinya sendiri.
Butuh beberapa bulan untuk menyakinkan mereka tapi hasil yang didapatkan sangatlah memuaskan.
Apartemen Reva juga tak terlalu jauh dari kantor Daren makanya kadang kala Daren sering menginap.
Reva baru bertemu Siena satu kali yaitu saat pemberkatan nikah, dia juga tak terlalu tau tentang kehidupan rumah tangga Daren karena Daren sama sekali tak mau menceritakan tentang Siena padanya.
‘’Oh iya kak, semalam ada yang menelponmu, kontaknya tertulis si culun. Apa itu kak Siena?’’
Daren hanya mengangguk
‘’Nanti sepulang rumah kakak harus menjelaskan padanya kalau semalam kakak menginap di tempatku agar dia tak salah sangka.’’
Daren hanya diam sama sekali tak merespon ucapan Reva dan Reva pun langsung meneruskan makannya setelah memberitahu pada Daren.
‘’Aku sungguh bosan terkurung di rumah ini.’’ Siena sudah mulai bosan tak tau lagi harus melakukan apa sudah memberi makan ikan, menyiram bunga, menonton drama bahkan Siena tadi sempat membuat cupcake dan sekarang dia hanya duduk termenung di balkon kamar tak tau lagi harus melakukan apa.
Tak lama ia mengambil ponselnya, membuka instagram dan mencari hiburan dari aplikasi hits itu tapi tak bertahan satu jam ia mulai bosan lagi.
Tak sengaja saat akan keluar dari aplikasi itu Siena melihat postingan sebuah hotel mewah yang begitu menarik perhatian Siena.
Buru-buru Siena mengirimkan pesan chat untuk menanyakan alamat pasti hotel itu.
Tak sampai semenit Siena sudah mendapat balasan, dengan penuh semangat Siena berdiri mengambil 3 pakaian untuk dibawanya dalam hati dia berdoa semoga Daren tak pulang hari ini.
Sungguh apes, Daren memasuki kamar saat Siena hendak keluar dari kamar.
‘’Mau kemana kamu?’’ Daren melihat Siena mendorong satu koper kecil.
‘’Aku mau bersenang-senang, izinkah aku keluar rumah sehari saja dan aku janji besok malam sudah berada dirumah ini lagi.’’
Siena hendak melangkah keluar namun, Daren menyusulnya dan sekarang sudah menghadang tubuhnya.
‘’Mau pergi kemana kamu, mau kabur?’’
bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya.....