
‘’Jaminannya apa? Aku perlu jaminan agar yakin kau tak akan meminta bantuanku lagi’’
‘’Aku akan menikahimu dan menyerahkan seluruh hidupku padamu kalau aku datang dan meminta bantuanmu lagi.’’
‘’Itu sih maumu.’’ jawab Reva terkekeh.
‘’oke baiklah aku akan membantumu dan aku tak perlu jaminan seperti yang kau ucapkan tadi.’’
‘’Benarkah kau akan membantuku, tapi kau yakin menolak jaminannya, memangnya kau tak akan menyesal?’’ Ucapnya dengan sedikit menggoda.
‘’Untuk apa menyesal?’’
‘’Oke baiklah, tapi hubungi aku kapanpun kalau kau berubah pikiran.’’ Ucapnya masih dengan nada bercanda.
‘’Sudahi bercandanya, jam berapa aku harus menemui nenekmu?’’
‘’Kalau satu jam lagi apa kau bisa, aku akan menjemputmu sekarang.’’
‘’Oke baiklah, aku siap-siap dulu.’’
*****
‘’Nek kenalkan ini Reva.’’ Steve memperkenalkan Reva pada neneknya yang kini terbaring lemah di ranjangnya bahkan matanya pun sulit untuk dibuka.
‘’Reva, duduk sini nak.’’ Nenek memanggil dan menyuruh Reva mendekat dan duduk di sampingnya.
‘’Sudah berapa lama kau mengenal Steve?’’
‘’Hhmm, berapa lama ya?’’ Reva bertanya pada Steve karena sedikit lupa kapan pertama kalinya bertemu dengan pria itu.
‘’Sudah lumayan lama nek.’’ jawab Steve tak memberikan jawaban pastinya.
‘’Reva, menurutmu Steve itu orang seperti apa?’’ Tanya nenek, Reva tak langsung menjawab, berpikir sejenak, tidak mungkin dia menjelekan Steve di depan neneknya apalagi sekarang nenek Steve sedang sakit, kalau dia jujur yang ada nenek Steve akan bertambah sakit atau fatalnya mungkin bisa meninggal karena syok dengan sikap cucu tersayangnya itu.
‘’Steve itu.’’ Reva menjeda ucapannya, memperhatikan Steve dengan saksama ‘’dia baik.’’ Ucapnya menjeda kalimatnya lagi, memutar otaknya kembali untuk memuji Steve ‘’baik, hhhmm.’’ walau sudah memutar otaknya ia tak bisa menemukan hal lain selain kata baik dan tentu saja itu membuat nenek dan kakak Steve yang berada di kamar itu tertawa.
‘’Kau bisa mengatakan kalau aku baik, tampan, rupawan, pekerja keras, bertanggung jawab dan lain sebagainya, begitu banyak kelebihanku dan kau hanya bisa mengatakan aku baik?’’ Protes Steve yang kembali membuat nenek dan kakaknya tertawa.
‘’Mungkin Reva tak bisa melihat atau merasakannya, iya kan Rev?" ledek kakak Steve sambil tertawa, Reva mengangguk cepat.
__ADS_1
’’benar kata kakakmu, selama ini kau sangat menyebalkan jadi bagaimana aku bisa memujimu?’’ Ucap Reva keceplosan, berpikir nenek dan kakak Steve pasti akan marah tapi tak seperti dugaannya, buktinya kedua wanita itu malah semakin mengeraskan suara tawa mereka.
‘’Ah kau benar sekali, adikku ini memang sangat menyebalkan.’’
‘’Iya, tak pernah sekalipun dia tidak bersikap menyebalkan.’’ sambung Reva
‘’Lalu apa hal paling menyebalkan yang dilakukannya padamu?’’ tanya nenek
Hhmm, Reva terlihat berpikir.
‘’Terlalu banyak ya sampai lupa?’’ Timpal kakak Steve kembali tertawa, Reva pun menyengir sambil menggeleng, memang benar ia selalu kesal pada Steve, walau Steve hanya diam tak tak melakukan apa-apa, Reva tetap akan merasa kesal padanya.
‘’Seingatku cuma satu kali aku membuat kesalahan padamu, itupun karena tidak disengaja tapi sepertinya sampai sekarang kau terus menyimpan dendam padaku.’’ Sambung Steve dengan mata yang memandang Reva.
‘’Siapa yang dendam? Kau memang selalu menyebalkan, kakak dan nenekmu saja setuju, iya kan kak, nek?’’ tanya Reva pada kedua wanita itu yang langsung diberi anggukan kepala oleh keduanya.
‘’Kau lihat kan? Aku sama sekali tidak berbohong, nyatanya kau memang sangat menyebalkan.’’
‘’Kalau aku menyebalkan lalu bagaimana denganmu?’’
‘’Aku.’’ tunjuk Reva pada dirinya sendiri ‘’tentu saja aku adalah wanita manis, cantik dan penuh sopan santun.’’ sambungnya membuat Steve terkekeh geli.
‘’Ya itu karena kau membuatku kesal, bagaimana bisa kau terburu-buru sampai tak melihat orang di depanmu, kau bisa membayangkan tidak kalau seandainya saat itu aku sedang membawa kopi panas, lalu apa yang akan terjadi padaku? Kulitku pasti akan melepuh karena keteledoranmu itu.’’
‘’Kenapa harus pakai seandainya, bukankah saat itu kau sedang membawa kopi dingin?’’
‘’Walau hanya kopi dingin tetap saja merugikanku, saat itu badanku terasa lengket dan gatal, sangat tidak nyaman, tapi apa yang kau lakukan, kau malah pergi begitu saja bahkan sama sekali tak bertanggung jawab?’’
‘’Aku bukannya tak ingin bertanggung jawab tapi saat itu aku memang sedang terburu-buru.’’
‘’Terburu-buru atau apapun itu intinya kau tetap saja tidak bertanggung jawab.’’
Keduanya terus berdebat, nenek dan kakak Steve hanya saling memandang, apa benar keduanya punya niat menikah sementara mereka terus ribut seperti ini?’’ Guman kakak dan nenek Steve bersamaan.
‘’Sudahlah, kenapa kalian jadi berdebat sih?’’ Ucap nenek karena bosan melihat perdebatan panjang yang sepertinya belum menemukan ujungnya itu.
‘’Bagaimana bisa kalian berpikir untuk menikah kalau terus berdebat?’’
‘’Kami tidak akan menikah.’’ jawab Reva spontan masih dengan matanya yang menatap kesal pada Steve.
__ADS_1
‘’Loh kenapa?’’ Tanya nenek heran
‘’Aku tidak mencintainya dan lagi pula keluargaku tidak menyetujui hubungan ini, bukankah papaku sudah menolak saat nenek datang untuk melamarku?’’
‘’Jadi kau menyerah karena keluargamu yang tidak menyetujui hubungan kalian?’’ tanya kakak Steve.
‘’Bukan, tapi karena aku memang tidak mencintainya.’’ jawab Reva lagi dengan santainya.
‘’Lalu kenapa kau mengatakan ingin menikah dengannya?’’ kali ini nenek Steve yang bertanya.
‘’Hhmm, itu.. Itu.. itu.’’
‘’Atau kalian bertengkar dan putus?’’ Tanya nenek lagi.
‘’Nek, nenek kenapa?’’ tanya Reva khawatir melihat nenek Steve yang sepertinya kesakitan dengan memegang area dadanya.
‘’Nek ada apa?’’ tanya Steve dan kakaknya bersamaan.
‘’Steve telepon dokter Broke sekarang.’’ Perintah kakaknya pada Steve takut terjadi apa-apa pada neneknya.
*****
‘’Bagaimana keadaannya dok?’’ tanya Steve dan kakaknya bersamaan sesaat setelah dokter habis memeriksa keadaan nenek mereka sedang Reva, wanita itu hanya duduk diam di kursi yang tidak jauh dari ranjang nenek Steve, ia melihat wanita paruh baya itu dengan tatapan sedih.
Dokter menjelaskan secara rinci tentang penyakit yang diderita nenek Steve, membuat Steve dan kakaknya kaget.
‘’Sudah hampir 6 bulan ini saya membujuk nenek kalian untuk melakukan operasi tapi beliau sama sekali tak mau, semoga saja jika kalian yang membujuknya ia akan bersedia melakukannya.’’ Ucap dokter sebelum keluar dari kamar.
Steve dan kakaknya menghampiri nenek mereka dengan air mata yang sudah berjatuhan, bagaimana bisa sebagai seorang cucu mereka tidak mengetahui keadaan nenek mereka, hanya nenek yang mereka punya karena kedua orang tua mereka sudah meninggalkan mereka.
‘’Steve Reva mana?’’ tanya nenek begitu membuka matanya.
‘’Reva?’’ Ucap kayak dan Steve kompak dan saling berhadapan, hampir setengah jam lalu, Steve sudah menceritakan tentang hubungannya dan Reva pada sang kakak.
‘’Iya nek, Reva disini.’’ Reva berdiri dan menghampiri nenek Steve.
‘’Kenapa nek, apa ada yang sakit?’’ tanya Reva dengan nada khawatir, nenek Steve tersenyum, menggeleng sambil mengelus lembut kepala Reva.
Bersambung.....
__ADS_1