Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Siena ingin bekerja kantoran


__ADS_3

Hampir seminggu berlalu tapi Daren tak pernah pulang kerumah. Seperti merasa kehilangan walaupun Daren sering bersikap kejam padanya tapi ternyata tanpa izinnya perlahan rasa sukanya untuk Daren tumbuh begitu saja dan Siena lebih sadar akan perasaannya saat mendapati Daren yang tak kunjung pulang kerumah.


Sebenarnya ingin sekali ia mengunjungi kantor Daren tapi dia sama sekali tak mengetahui hal terkecil pun dari Daren bahkan untuk nama perusahan Daren saja dia tak mengetahuinya dan menurutnya akan aneh jika dia menanyakan hal itu pada mertuanya. Dan untuk mencari di mesin pencarian google sama sekali tak terpikirkan oleh Siena.


*****


Sekarang Siena sudah berada di cafe langganannya, kemarin dia dan sahabatnya Ami membuat janji untuk bertemu, Selain keluarganya hanya Amilah yang tau tentang dua penampilan Siena.


Hari ini Siena ingin membahas tentang lowongan pekerjaan di perusahaan tempat Ami kerja. Sejak Daren mengetahui pekerjaannya dan menyuruhnya berhenti, 2 hari sejak pulang dari rumah sakit ia memutuskan meninggalkan pekerjaan itu.


‘’Kamu benar- benar yakinkan dengan keputusanmu ini?’’ Tanya Ami memastikan karena setaunya dulu Siena tidak terlalu suka bekerja di perusahaan karena menurutnya itu sedikit mengekangnya apalagi jika harus lembur dan sebagainya.


‘’Yakin Am, lagian suamiku tak menyukai pekerjaanku yang dulu.’’


‘’Ngomong-ngomong tentang suamimu, kau sama sekali tak pernah mengenalkannya padaku, apa kau takut aku merebutnya.’’ Ucap Ami bercanda ditanggapi Siena dengan senyum kecutnya.


‘’Kau tau alasan sebenarnya.’’ Ya memang Siena mengatakan bahwa ia sudah menikah tapi untuk sosok suaminya ia sama sekali tak pernah mengatakan apa-apa pada Ami bahkan pernikahannya saja tak diketahui oleh keluarganya.


‘’Baiklah aku tak akan menanyakan hal itu lagi dan untuk kerjaan itu aku akan membicarakannya dengan atasanku terlebih dulu dan aku akan menghubungimu untuk wawancara nantinya. Dan maaf banget sekarang aku harus meninggalkanmu karena Bima sudah didepan menjemputku.’’


‘’Ais…. Kau selalu saja meninggalkanku.’’


Ami tak mengatakan apa-apalagi, menjauh dari Siena sambil melambai-lambaikan tangannya.


Masih di cafe itu, Siena mengedarkan pandangannya ke setiap sudut dan…


Tak sengaja melihat sosok pria yang beberapa hari ini dirindukannya sedang duduk dengan santai sambil menikmati makan siangnya bersama seorang wanita cantik bahkan mereka terlihat sangat akrab.


Siena terus melihat Daren tapi sepertinya pria itu sama sekali tak menyadari kehadirannya hingga Siena memutuskan untuk keluar dari cafe itu.


‘’Putri.’’ panggil Robby yang ternyata juga sedang makan siang di cafe itu. Siena meneruskan langkahnya tanpa berhenti sedikitpun karena merasa bukan dirinya yang sedang dipanggil sedang pria itu berdiri dari duduknya dan menyusul Siena karena merasa Siena mengacuhkannya.


‘’Put.’’ Robby menahan pergelangan tangan kanan Siena membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan berbalik.

__ADS_1


Siena menyatukan keningnya sambil mengingat kira-kira siapakah sosok pria yang sedang berdiri di depannya itu.


‘’Put.. Hei kamu kenapa sih?’’ Robby melambai lambaikan satu tangannya didepan wajah Siena.


Dari dalam cafe terlihat seorang pria sedang memandang Siena dengan tatapan marahnya. Tadi secara tak sengaja Daren melihat saat Robby berusaha mengejar Siena dan berpikir bahwa Siena masih sering bertemu Robby dengan diam-diam.


‘’Dasar ja**ng.’’ Daren mengepalkan tangannya dibawah meja.


Masih jam 4 sore dan Daren sudah pulang kerumahnya.


‘’Bi Siena mana?’’


‘’Nona sedang memberi makan ikan hias tuan.’’


‘’Cepat panggil dia sekarang dan suruh ke kamar.’’


‘’Baik tuan.’’


‘’Lepas Daren ini sangat sakit.’’


‘’Sakit kau bilang? Wanita ja**ng sepertimu memang pantas diperlakukan seperti ini bahkan apa yang kulakukan masih terbilang baik.’’  masih dengan menarik rambut Siena, Daren menyeretnya dan mendorongnya ke atas ranjang lalu naik dan mengukung tubuh Siena.


‘’Apa yang akan kau lakukan?’’ Tanya Siena dengan suara gemetar. Sungguh ia sangat takut kalau Daren akan melecehkannya. Melecehkan? Ya itulah yang dipikirkannya sekarang menurutnya selama dilakukan dengan pemaksaan itu berarti adalah pelecehan seksual.


‘’Kenapa apa kau takut padaku? Katakan sudah berapa kali mereka menyentuhmu? Berapa mereka membayar tubuh murahanmu ini?’’


‘’Tidak mereka tidak pernah membayarkan untuk melakukan hal seperti itu, tolong.. Tolong Daren jangan melakukan hal seperti ini padaku.’’ Siena sudah menangis ketakutan tapi Daren sama sekali tak mempedulikannya.


‘’Cih.. Tidak ada gunanya kau memperlihatkan wajah pura-pura polosmu itu karena aku sudah mengetahui semuanya. Jangan pernah berlagak seperti wanita suci didepanku.’’


‘’Maaf Daren aku janji tak pernah menemui Robby lagi tapi tolong lepaskan aku.’’


‘’Melepaskanmu? Kenapa apa kau takut? atau apa karena aku suamimu maka kau takut aku akan melakukannya dengan gratis, tenang saja aku pasti akan membayarnya berkali-kali lipat dari yang mereka berikan padamu.’’

__ADS_1


‘’Oh s**t kenapa kau bangun sekarang?’’ Tadinya Daren hanya akan menggertak Siena karena memang dia sama sekali tak ingin menyentuh Siena tapi entah kenapa adik kecilnya malah memberontak minta dipuaskan.


Mata Daren terus menatap bibir tipis milik Siena. ‘’Oh Tuhan aku ingin sekali melahapnya lagi. Bibirnya begitu manis membuatku ingin merasakannya lagi dan lagi.’’  


Perlahan Daren mulai mendekatkan wajahnya dan dalam hitungan detik bibirnya sudah menempel sempurna pada bibir Siena. Dengan lembut Daren mulai melu mat bibir itu sedang Siena masih terus menangis mencoba melepaskan diri tapi kekuatannya kalah besar karena Daren sudah menjepit kedua kakinya.


Tok tok tok


Baru saja bibir Daren mendarat di kulit leher Siena. Daren berdecak kesal sedang Siena bernafas legah sambil berterima kasih dalam hati pada orang yang sudah mengetuk pintu itu.


‘’Tuan nona maaf mengganggu dibawah ada tuan dan nyonya besar.’’


‘’Oh Tuhan terimakasih pa ma, kalian datang diwaktu yang tepat.’’ Siena turun dari ranjangnya lalu duduk di meja hias berniat mengepang rambutnya seperti biasa. Memang sejak keluar dari rumah sakit Siena sudah memperlihatkan penampilan aslinya pada seluruh penghuni rumah dan tak pernah berpenampilan culun lagi.


‘’Apa yang kau lakukan?’’


‘’Aku harus mengepang rambutku sebelum bertemu dengan papa mama.’’ Siena terus mengepang rambutnya tanpa melihat Daren.


‘’Sampai kapan kau akan membohongi kedua orang tuaku?’’


Tangan Siena terhenti, ia berbalik menatap Daren ‘’Aku takut mereka kecewa.’’


‘’Itu urusanmu bukan urusanku lagian siapa yang menyuruhmu untuk membohongi kami, itu adalah keputusanmu maka kau jugalah yang harus menanggungnya.’’


‘’Astaga kau sama sekali tak membantu, bukannya memberi solusi malah menceramahiku.’’ Akhirnya Siena membuka kembali kepangan rambutnya dan memutuskan untuk jujur pada mertuanya.


Bersambung.....


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi...


Jangan lupa like dan komennya..


NOTE: SEKARANG SIENA SUDAH TAK BERPENAMPILAN CULUN LAGI YA

__ADS_1


__ADS_2