
‘’Mama ngomong apa sih, udah ah udah malam aku ngantuk mau tidur.’’ Siena berdiri dan meninggalkan mamanya.
‘’Siena lebih baik kau pertimbangkan lagi keputusanmu, sebagai orang tuamu mama tak akan pernah setuju kau kembali bersama suamimu itu, menurut mama lebih baik kau memilih pria seperti Steve, bukankah dia sangat baik bahkan selama ini dialah yang menjaga dan menemani kalian.’’ Ucap mama sedikit keras yang masih bisa didengar Siena.
Secara tak sengaja Daren mendengar apa yang diucapkan mertuanya, tadinya ia ingin ke dapur untuk mengambil minum.
Hari hampir pagi tapi Daren belum juga bisa memejamkan matanya, pikirannya terus dihantui oleh ucapan mertuanya, beberapa kali mengusap kasar rambut dan wajahnya, bayangan saat Siena meninggalkannya kembali berputar di kepalanya membuat dadanya berdenyut nyeri.
‘’Nggak akan, kamu nggak bisa ninggalin aku lagi.’’ menggeleng kepalanya dengan air mata yang mulai menetes tanpa permisi, hidup tanpa Siena terlalu sulit baginya.
*****
‘’Kamu kenapa, nggak bisa tidur semalam?’’ Tanya Siena melihat wajah kusut Daren saat ia memasuki kamar Aaron untuk membangunkannya.
‘’Kenapa, apa ada masalah dengan pekerjaanmu?’’ Tanya Siena yang sudah berdiri didepan Daren dengan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melihat dengan jelas wajah pria itu.
Bukannya menjawab, Daren malah menarik pinggang Siena, melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu dan membenamkan wajahnya pada perut rata Siena.
Siena bingung, wanita itu membelai lembut rambut Daren. ‘’Ada apa, kau bisa menceritakannya padaku.’’
Daren mengangkat wajahnya, melihat Siena dengan tangan yang masih terlingkar indah di pinggang ramping wanita itu.
‘’Aku hanya ingin memelukmu, apa boleh?’’ Tanyanya lembut, Bukannya menjawab Siena malah tertawa kecil, baginya wajah Daren sangat lucu dan lucu saja Daren bertanya untuk memeluknya, pria brengsek dan kasar itu sekarang benar-benar sudah berubah.
‘’Kenapa kau tertawa?’’
Siena menggeleng. ‘’Satu pelukan 1 M, apa kau sanggup?’’ Ucap Siena berniat menggoda.
Daren berdiri dari duduknya. ‘’Kalau untuk satu ciuman?’’
‘’Ah.’’ Ucap Siena kaget, memundurkan tubuhnya 2 langkah kebelakang. ‘’Daren aku hanya bercanda jangan diambil serius.’’
‘’Tapi aku sedang tak ingin bercanda Siena, aku benar-benar ingin menciummu sekarang.’’ Ucap Daren terus memajukan langkahnya saat Siena kembali memundurkan langkahnya.
__ADS_1
‘’Kau ini kaku sekali, kenapa tidak bisa diajak bercanda.’’ Siena sedikit gelagapan, ia tak bisa lagi memundurkan langkahnya karena tubuhnya sudah bersandar di tembok.
‘’Siena.’’ menatap wajah Siena dengan dalam, mengambil dua tangan wanita itu untuk digenggam. ‘’Bisakah kau tidak meninggalkanku lagi? Tetaplah disisiku, kita besarkan Aaron sama-sama, hhmm.’’
‘’Hhmm bagaimana ya?’’ Siena pura-pura menggoda dengan pura-pura berpikir.
‘’Siena, please, satu kesempatan saja, jika nanti aku tak bisa membuatmu bahagia maka kau bisa meninggalkanku.’’
‘’Aku butuh jaminan, agar nanti jika kau meninggalkanku bukan hanya aku saja yang menderita.’’
Daren mengangguk dengan cepat, ia akan melakukan apapun itu, jaminan apapun dia sama sekali tak peduli asal Siena memberinya kesempatan dan tetap tinggal disampingnya.
‘’Kau bahkan tidak bertanya dan langsung menangguk, kalau aku minta kau mati sekarang bagaimana?’’
‘’Kalau aku mati sama aja boong Siena, emang kau mau hidup bersama hantu? Ayo kasih tau aku, kau mau jaminan apa, aku akan menyuruh Akbar mengurusnya.’’ Ucapnya penuh ketidaksabaran.
‘’Kalau aku menginginkan semua hartamu atas namaku bagaimana, apa kau bisa?’’
‘’Apa yang kau lakukan, kau sungguh tak keberatan dengan itu?’’ Tanya Siena, tadi ia hanya bermaksud bercanda dan sama sekali tak ada keinginan untuk mengambil harta Daren, baginya apa yang dimilikinya sekarang sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidup keluarga kecilnya, bahkan Siena sudah memiliki beberapa tabungan untuk masa depan Aaron.
Daren mengangguk lagi, kali ini disertai dengan senyuman yang begitu cerah di wajah tampannya.
‘’Bukankah itu sepadan, lagian sebentar lagi aku akan miskin jadi mana ada wanita yang mau denganku dan aku sama sekali tak mau meninggalkanmu karena aku tak ingin hidup melarat, tapi maaf aku tak bisa memberikan semua hartaku padamu karena aku harus membaginya dengan adikku, kau tak apa kan?’’
‘’Kau pikir aku wanita matre apa?’’
Daren tak menjawab, menarik Siena kedalam pelukannya. ‘’Investasiku sangat besar dan beresiko, jadi aku harus memperlakukanmu dengan baik, kalau tidak aku akan benar-benar kehilangan semuanya.’’ Ucapnya di sela pelukan masih dengan bibir yang melengkung lebar.
‘’Kulihat kau sangat senang saat akan kehilangan seluruh hartamu.’’
‘’Tapi aku mendapatkanmu dan Aaron sebagai gantinya.’’ Ucapnya dengan wajah yang begitu bahagia.
‘’Sudahlah lepaskan pelukanmu karena aku harus siap-siap ke lokasi syuting sekarang.’’
__ADS_1
‘’Bisakah aku ikut denganmu?’’
‘’Apa kau tidak punya kerjaan, lagian mana ada suami yang terus terusan mengekori istrinya?’’
‘’Aku sangat senang mendengar ucapanmu itu.’’ Ucap Daren yang ingin memeluk Siena lagi, tapi Siena sudah lebih dulu menghindar.
‘’Hari ini ajaklah putramu jalan-jalan.’’ Siena keluar dari kamar Aaron, bukannya tak ingin mengajak Daren ke lokasi syutingnya, wanita itu hanya tak mau para rekan kerjanya merasa tak nyaman, pria itu sama sekali tak bisa bersikap ramah pada orang lain dan tatapan dinginnya membuat orang-orang disekitarnya sedikit takut.
*****
‘’Daddy Alon mau itu.’’ Tunjuk Aaron pada satu mainan yang menarik perhatiannya, pria kecil itu berlari berniat mengambil mainan yang tadi ditunjuknya setelah mendapat persetujuan dari sang daddy.
Tepat saat ia memegang mainan itu, satu tangan kecil juga memegang mainan itu secara bersamaan, keduanya saling pandang, kemudian Aaron berinisiatif melepas tangannya dan membiarkan wanita kecil itu memiliki mainan yang diinginkannya.
‘’Mainannya untuk Caca saja.’’ Ucapnya
‘’Benelan, Alon nggak mau lagi mainannya?’’ Ucap Caca kesenangan karena bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Aaron menggeleng. ‘’Buat Caca saja.’’
Dibelakang, Daren terus memperhatikan interaksi Aaron, tumben sekali pria kecil itu mau mengalah pada orang lain.
‘’Kenapa kau memberikan mainannya?’’ tanya Daren menghampiri saat Caca sudah pergi dari tempat itu.
‘’Kata mommy Alon halus mengalah pada seolang wanita.’’ Ucapnya dan kembali mencari mainan baru yang akan dibelinya sedang Daren hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah pria kecilnya.
*****
‘’Hhmm, saya mau berbicara denganmu.’’ Ucap mama Siena pada Daren saat pria itu tengah serius berkutat dengan laptopnya, kalau dulu Daren pasti akan memaki habis orang orang yang berani mengganggu pekerjaannya tapi sekarang dia terlihat sangat menurut bahkan sama sekali tak ada rasa keberatan dari raut wajahnya.
‘’Maaf jika apa yang akan saya sampaikan terdengar kejam, tapi saya mohon tinggalkanlah Siena, jangan sakiti dia lagi dan pergilah yang jauh dari hidupnya.’’
Bersambung.....
__ADS_1