
‘’Nenek bisa minta sesuatu nggak dari Reva?’’ tanya nenek yang dengan cepat diangguki Reva.
‘’Reva mau ya jadi cucu menantu nenek, Reva nikah ya sama Steve.’’
Tak langsung menjawab, Reva melihat ke arah Steve dan kakaknya.
‘’Nek bisa nggak kasih Steve dan Reva waktu untuk berbicara sebentar?’’ Tanya Steve.
Nene mengangguk ‘’nenek harap kalian tidak akan menolak keinginan nenek.’’
‘’Íni kamarmu?’’ rapi sekali, puji Reva begitu masuk ke kamar Steve.
‘’Aku membawamu kesini bukan untuk mengagumi kamarku, duduklah.’’ mempersilahkan Reva duduk di sofa yang ada di kamarnya.
‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanya Reva melihat Steve yang sudah berlutut di depannya dengan memegang kedua tangannya.
‘’Rev tolong bantu aku sekali lagi, menikahlah denganku, aku janji akan melakukan apapun yang kau inginkan, aku bisa menyerahkan semua tabunganku padamu, aku juga memiliki beberapa warisan yang akan diberikan nenek padaku, aku akan memberikan semuanya untukmu asal kau mau membantuku, sepanjang hidupku belum pernah sekalipun aku membuatnya bahagia, Rev, kumohon.’’ Ucapnya dengan wajah memelas membuat Reva ikut sedih.
‘’Aku bisa membantumu tapi bagaimana dengan keluargaku? Orang tuaku sama sekali tak mengenalmu belum lagi kakakku yang sangat tidak menyukaimu lalu bagaimana caraku menjelaskan pada mereka?’’
‘’Kau hanya perlu setuju, untuk itu biar aku yang memikirkannya, aku akan melindungimu dari amukan keluargamu, aku juga tidak keberatan menerima pukulan dari kakakmu tapi kumohon tolong aku, menikahlah denganku, walau kita tidak saling mencintai tapi aku janji akan berusaha untuk membuatmu bahagia, menghargai, dan menjagamu seumur hidupku.’’
‘’Rev.’’ ucap Steve lagi karena Reva tak kunjung membuka suaranya.
‘’Baiklah aku akan menikah denganmu tapi kita akan bercerai setelah nenekmu sembuh, bagaimana?’’
‘’Rev pernikahan bukan mainan, bagiku pernikahan adalah sekali seumur hidup dan tidak akan ada percerain setelah kita menikah nanti.’’
‘’Lalu apa aku harus menghabiskan seluruh hidupku denganmu, begitu maksudmu?’’ tanya Reva yang diiringi tawa.
‘’Tentu saja, setelah menikah kau akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabku, jadi jangan pernah kau berpikir untuk bercerai setelah pernikahan kita karena aku sama sekali tak akan membiarkannya.’’
‘’Kau meminta bantuanku, seharusnya kau membuatku senang dan mengikuti semua keinginanku agar aku mau menolongmu.’’
‘’Aku memang memerlukan bantuanmu tapi bukan begini caranya, bagaimana bisa kau berpikir untuk bercerai bahkan sebelum kita menjalani semuanya?’’
‘’Karena aku tidak percaya padamu.’’
‘’Hhmm?’’ tanya Steve kaget ‘’’memangnya apa yang salah dariku sampai kau tidak bisa mempercayaiku?’’
‘’Karena kau sangat mencintai kakak iparku jadi bagaimana bisa kau menjanjikan pernikahan yang bahagia untukku?’’
__ADS_1
‘’Jadi maksudmu kau ingin aku mencintaimu?’’
‘’Hhmm, bicara apa sih, aku nggak pernah bilang gitu ya.’’ Ucap Reva gelagapan karena pertanyaan Steve.
‘’Beneran?’’ goda Steve melihat wajah Reva yang sudah mulai merah.
‘’Apaan sih, udah ah.’’ berdiri ingin meninggalkan Steve tapi Steve sudah lebih dulu menahannya, memegang kedua tangannya dengan mata yang fokus menatap wajah Reva.
‘’Kalau aku sudah berjanji aku pasti akan menepatinya, kalau aku menjanjikanmu pernikahan yang bahagia aku juga pasti akan menepatinya jadi kau tidak perlu khawatir dan lagian kata siapa kalau aku masih mencintai Siena, itu kan hanya pemikiranmu saja.’’
‘’Jadi kau sudah tidak mencintai kakak iparku lagi?’’
Steve tersenyum dengan mengangkat kedua pundaknya lalu berjalan keluar dari kamar.
‘’Dasar laki-laki cintanya sama sekali tak bisa dipercaya, masa moveon bisa secepat itu."
‘’Aku mendengarnya loh’’ Steve setengah berteriak, Reva tak menjawab dan ikut melangkahkan kakinya mengikuti Steve ke kamar neneknya.
‘’Kenapa bicaranya lama sekali?’’ tanya nenek pada keduanya saat mereka masuk ke kamar. ‘’Lalu apa pembicaraan kalian sudah selesai?’’ tanya nenek lagi.
‘’Nenek.’’ Ucap Reva dengan nada manjanya, melangkah menghampiri nenek Steve dan berjongkok di samping ranjangnya.
‘’Nenek istirahatlah jangan memikirkan hal lain dulu.’’
‘’Nenek akan beristirahat setelah mendengar jawaban kalian.’’
‘’Kami akan menikah tapi nenek harus mau melakukan operasi, oke.’’ Ucap Reva yang teringat perkataan dokter untuk berusaha membujuk nenek Steve melakukan operasi.
‘’Operasi?’’
‘’Iya kami akan menikah di hari yang sama saat nenek akan dioperasi, nenek setuju kan untuk di operasi, bukannya nenek ingin melihat cucu nenek menikah dan berumah tangga?’’
‘’Baiklah kalau begitu nenek akan melakukan operasi tapi.’’
Tapi apa?’’ tanya Steve, Reva dan kakaknya dengan kompak.
‘’Nenek akan di operasi tapi kalian harus menikah besok.’’ Sambung nenek lagi.
‘’Ha!!.’’ teriak Steve dan Reva kompak dengan nada kagetnya, baru saja mereka setuju untuk menikah dan sekarang neneknya ingin mereka segera menikah?
‘’Nenek tapi besok terlalu cepat untuk menyiapkan pernikahan.’’ Ucap Steve.
__ADS_1
‘’Lakukan pendaftaran pernikahan dulu, resepsinya nanti setelah operasi nenek.’’
‘’Nek bukankah itu terlalu buru-buru?’’ tanya Steve lagi.
‘’Nenek hanya tidak ingin kalian berubah pikiran
‘’Nenek tenang saja kami tidak akan berubah pikiran, kami tetap akan menikah.’’ Reva meyakinkan nenek Steve.
‘’Nenek tidak percaya pada kalian, buktinya belum ada seminggu kalian mengatakan akan menikah tapi tadi kalian sudah mengatakan tidak akan menikah karena tidak saling menyukai, nenek tidak akan mengambil resiko untuk itu jadi nenek ingin kalian menikah besok barulah nenek setuju untuk melakukan operasi.
Steve dan Reva saling memandang tak tau harus mengatakan apa, jujur saja kalau untuk menikah besok keduanya sama sekali belum siap.
‘’Nek bisa kasih Steve dan Reva waktu sebentar?’’
Kali ini neneknya menggeleng. ‘’Apa lagi yang akan kalian bicarakan, bukankah kalian sudah memutuskan untuk menikah?’’
‘’Iya sih.’’ Jawab keduanya kompak dengan nada kecil dan ekspresinya yang lesu.
‘’Lalu apa bedanya kalian menikah besok atau nanti?’’
‘’Tentu saja beda nek.’’ Ucap Reva dengan nada kecilnya.
‘’Apa bedanya?’’ tanya nenek lagi.
‘’Pokoknya beda nek, mentalnya belum siap aja, kalau nikah besok itu terasa sangat cepat.’’ Ucap Reva keberatan.
‘’Kalian sudah memutuskan menikah harusnya kalian sudah menyiapkan mental, lagian apa bedanya kalian menikah besok atau nanti, tetap saja kalian akan menikah kan?
‘’Iya nek, tapi bagaimana bisa menikah secepat itu kalau keluarga Reva saja sama sekali tidak tau tentang masalah ini.’’
Nenek terdiam, dia sempat lupa kalau keluarga Reva tak menerima lamarannya.
‘’Lalu apa yang akan kalian lakukan?’’
Reva dan Steve kompak menggeleng, mereka juga belum tau bagaimana cara menangani keluarga Reva, mereka hanya mengiyakan pernikahan karena ingin membuat nenek Steve senang.
‘’Lalu?’’
‘’Kalau soal itu nenek nggak usah mikirin, nenek hanya perlu sehat agar bisa melihat anak-anak Steve dan Reva nanti.’’ Ucap Steve yang tidak ingin neneknya benyak pikiran.
bersambung.....
__ADS_1