
‘’Kakak.’’ Teriak Reva menghampiri Daren, wanita itu ikut menangis tak tega melihat keadaan kakaknya tapi ia juga tak bisa menyalahkan Siena karena nyatanya semua hal yang terjadi memanglah salah Daren, Reva juga sedang membantu mencari Siena tapi sampai sekarang belum ada titik terangnya.
‘’Kakak makanlah dulu, kau bisa sakit jika terus seperti ini.’’ Ucap Reva berniat menyuapi Daren tapi pria itu menolaknya dengan memalingkan wajahnya.
‘’Apa Siena akan kembali jika aku makan?’’ Ucapnya lagi dengan air mata yang kembali jatuh di wajahnya.
Reva membuang nafasnya kasar. ‘’Tapi kakak bisa sakit kalau begini terus.’’
‘’Biarkan saja, siapa tau Siena akan kembali saat aku sakit, kau tau dia itu wanita yang cerewet dan selalu mementingkan kesehatan jadi kuharap dia akan datang dan mengomeliku.’’
Kehabisan cara, Reva keluar meninggalkan Daren. Kakaknya itu memang keras kepala.
Tak lama muncullah mama Daren dengan membawa makanan yang tadi dibawa Reva. ‘’Kau harus makan, mama akan menyuapimu.’’
Daren kembali menolak, pria itu mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat
‘’Kenapa kau bertindak seperti ini, bukankah kau ingin bertemu dengan istri dan calon anakmu lagi, jika kau menginginkan itu maka jagalah kesehatanmu, kau tau jika kau terus begini dan jatuh sakit bagaimana? Lalu siapa yang akan menjaga istri dan anakmu, apa kau mau mereka dijaga oleh pria lain?’’
Daren menggeleng, perlahan ia mulai memakan makanannya, baginya dalam hidupnya Siena hanya akan menjadi miliknya dan bukan milik orang lain.
Empat tahun berlalu, Daren masih juga belum mendapat kabar tentang Siena.
Sementara di Munich Jerman, Siena sedang bermain dengan pria kesayangannya yang sekarang menginjak empat tahun.
‘’Hap, ketangkap’’ Ucap Siena memeluk Aaron anaknya, ia mencium seluruh wajah Aaron yang langsung mendapat protes.
‘’Ih mommy, jangan cium cium Alon.’’ Ujarnya dengan ekspresi cemberut, memonyongkan bibirnya dengan kedua tangannya bersilang di depan dada.
Pria kecil dan menggemaskan itu bernama Aaron Ryan H, Aaron yang berarti mulia dan agung, Ryan yang berarti pemimpin, dan H yang berasal dari nama keluarga Daren.
‘’Emang kenapa kok nggak mau dicium mommy?’’ Ucap Siena pura-pura sedih.
__ADS_1
‘’Bukan Mommy, Alon mau ikut mommy kelja, kalau mommy cium cium Alon nanti liptikna kena wajah Alon.’’ Ucap Aaron dengan ekspresi menggemaskan lalu memeluk Siena.
Siena tersenyum dan kembali mencium wajah Aaron setelahnya ia menangkup wajah mungil itu.
‘’Nggak ada lipstiknya tuh, lagian lipstik mommy kan lisptik mahal jadi nggak bakalan nempel.’’ Ucapnya lalu kembali mencium Aaron sedang pria kecilnya itu hanya diam membiarkan mommynya.
Ditempat kerjanya
‘’Mommy nanti tepulang telja Alon mau beli lobot-lobotan.’’ Ucap Aaron dengan semangat, Siena tak menjawab, wanita itu malah mencubit gemas pipi Aaron.
‘’Sakit mommy.’’ Ucap Aaron setengah merengek.
‘’Sakit ya, maaf, maaf habisnya anak mommy yang ganteng ini menggemaskan sekali.’’ Ucap Siena mengelus lembut pipi Aaron yang tadi dicubitnya kemudian menciumnya.
‘’Tunggu sini ya sayang mommy kerja dulu, kalau mau sesuatu minta sama mbak Sinta.’’ Izin Siena karena akan memulai kerjanya.
Dua tahun lalu Siena mendapat tawaran untuk menjadi seorang aktris pendukung, siapa sangka perannya itu melambungkan namanya hingga membuatnya menjadi seorang artis yang begitu digemari, bahkan Siena menjadi satu-satunya artis terkenal dengan wajah oriental di negara itu.
Sore harinya begitu sampai dirumahnya, Siena melakukan panggilan video dengan Ami sahabatnya, keduanya mengobrol santai dengan Aaron yang terus menimpali, pria kecil itu mengatakan apa yang dilakukannya selama seharian penuh pada Ami.
‘’Kau tau Am, saat itu aku memiliki seribu alasan untuk tinggal di sisinya tapi kau tau, dia juga selalu memberiku seribu satu alasan untuk meninggalkannya.’’ Ucap Siena berusaha tersenyum.
Wanita itu tak mau terus-terusan menyimpan rasa sakit hatinya, setidaknya Daren sudah menghadirkan Aaron, dia sangat bersyukur untuk itu, malaikat kecil menggemaskan yang kini hadir dalam hidupnya.
*****
‘’Akbar, apa kau sudah menemukan keberadaan Siena?’’ Tanya Daren sejenak menghentikan aktivitasanya.
Akbar sedikit menundukan badannya. ‘’Maaf tuan sampai sekarang belum ada tanda-tanda keberadaan nona Siena.’’
‘’Sewa lebih banyak detektif lagi, cari ke seluruh pelosok dunia, sebarkan berita kehilangan tentangnya dan berikan imbalan yang besar untuk orang yang bisa memberikan informasi tentang keberadaannya.’’ Ucap Daren lalu menyuruh Akbar keluar.
__ADS_1
‘’Kamu dimana sayang? Aku mohon pulang ya.’’ Ucapnya mengelus bingkai foto pernikahannya dan Siena yang sekarang sudah terpajang indah di meja kerjanya.
‘’Aku janji akan menebus semua kesalahanku dimasa lalu, aku akan memberikan apapun yang kau minta, aku janji apapun itu.’’ Ucapnya masih dengan mengelus bingkai foto itu.
Tok tok tok tok
‘’Maaf tuan, dibawah ada nona Monika katanya ingin bertemu tuan.’’ Ucap sekretaris Daren memberi tahu.
Daren membuang nafas kasar, sungguh dia tak tau lagi harus melakukan apa dengan wanita itu, sudah beberapa kali Daren mengatakan untuk tak akan menemuinya lagi, sudah beberapa kali juga Daren mengatakan sudah tak mencintainya lagi tapi setiap kali Daren menghindar setiap itu juga Monika akan datang dan mencarinya di perusahaan atau rumahnya, ia bahkan membeli sebuah apartemen agar terbebas dari wanita itu.
‘’Bilang padanya aku sedang sibuk dan tak bisa diganggu.’’ jawabnya kembali meneruskan pekerjaannya.
‘’Maaf bu Monika saat ini tuan Daren sedang tidak bisa diganggu.’’ Ucap resepsionis memberi tahu, bukannya pergi Monika malah memarahi resepsionis itu dengan beberapa kata kasar, saking geramnya Monika memaksa masuk, wanita itu sangat percaya diri bahwa Daren masih mencintainya dan Siena mungkin hanya hambatan kecil bagi mereka. Baginya Daren hanya sedikit syok akibat kepergian Siena yang tiba-tiba.
‘’Maaf bu tapi bu Monika tak bisa menemui pak Daren sekarang.’’ tiga security mencegah Monika dan menariknya keluar, tentu saja semua itu atas perintah Daren.
*****
‘’Daddy.’’ Aaron berlari dengan senang menghampiri seorang pria.
Pria itu memeluk Aaron dengan satu tangannya sedang satu tangannya menenteng sebuah dus yang bergambar robot-robotan. Mencium gemas pipi Aaron beberapa kali.
‘’Mommy mu mana?’’ Tanya pria itu membuat Aoron mencibik kesal.
‘’Ih kebiasaan, daddy tak tanya kabal Alon dulu.’’ pria kecil itu mengembungkan kedua pipinya sebagai tanda protesnya.
‘’Steve, kapan balik dari Paris?’’ Tanya Siena menghampiri kedua pria berbeda generasi itu.
Pria bernama Steve itu tersenyum, memberikan dus yang dibawanya pada Siena. ‘’Baru saja, dari bandara aku langsung kesini, kangen Aaron soalnya.’’ Ucapnya dan mencium pipi Aaron lagi.
‘’Daddy boong, tadi aja Daddy tak tanya kabal Alon tapi kabal mommy.’’
__ADS_1
Pria itu sedikit kikuk. ‘’Ah maca cih.’’ ia menggelitik pinggang Aaron untuk mengalihkan pembicaraan.
Bersambung.....