Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Steve


__ADS_3

Pagi harinya


‘’Steve?.’’ Siena melihat Steve dari jarak sedikit jauh, terlihat pria itu tengah tertawa sambil mengobrol dengan mamanya, entah apa yang mereka obrolkan Siena juga tak tahu.


Akhirnya Siena memutuskan untuk menghampiri keduanya, mendudukan bokongnya di samping sang mama, terlebih dulu melirik mamanya sebelum menyapa Steve.


sejak pernyataan Steve tempo hari membuat hubungan keduanya sedikit berjarak, yang dulunya begitu dekat kini terlihat seperti orang asing.


‘’Steve kamu lagi nggak ada kerjaan?’’ Tanya Siena tapi entah kenapa Steve merasa Siena sangat tak suka melihatnya.


pria itu merasa Siena bertanya dengan maksud menyindir atau menyuruhnya cepat pulang, padahal Siena sama sekali tak bermaksud untuk itu dan pertanyaan seperti itu sudah biasa terjadi dulu, mungkin karena keadaan saja hingga membuat Steve sedikit sensitif.


‘’Kamu nggak suka aku disini?’’ Tanya Steve to the point


‘’Maksudnya?’’


‘’Tadi maksud pertanyaanmu itu apa? Minta aku cepat pulang kan?’’


Siena berpikir sejenak, wanita bahkan lupa apa yang ditanyakannya.


‘’Memangnya apa yang aku tanyakan?’’


‘’Tadi kau.’’ Ucapannya terputus karena Aaron yang datang tiba-tiba dan berteriak memanggilnya, pria kecil itu bahkan langsung naik dan duduk di pangkuan Steve.


‘’Om Steve kenapa ****** kesini lagi?’’


‘’Hhmm.’’ Steve melihat Daren sekilas, pria itu sedang berjalan mendekat pada mereka.


‘’Selamat pagi semuanya.’’ Sapa Daren sedikit menundukan kepalanya

__ADS_1


‘’Pagi daddy.’’ jawab Aaron dengan tersenyum ceria sedang yang lainnya hanya melihat pada Daren dan sepertinya tak berniat menjawab sapaan pria itu.


Siena bukannya tak ingin menjawab, ia hanya sedang kesal karena Daren sudah membuatnya emosi ditengah malam, pasalnya semalam pria itu pulang sekitar jam 11 malam, yang bikin Siena emosi Daren terus-terusan mengetuk pintu kamarnya dan mengganggu tidurnya dengan alasan ingin buang air kecil padahal hal itu bisa dilakukannya di kamar Aaron.


‘’Duduk sini daddy.’’ Panggil Aaron meminta Daren duduk di samping Steve.


‘’Oh ya Steve, sekarang kegiatanmu apa?’’ Tanya mama, wanita itu terus mengajak Steve mengobrol tanpa peduli keberadaan Daren, keduanya terus mengobrol bahkan mama Siena meminta Steve untuk mengajaknya jalan-jalan dan menikmati pemandangan kota.


‘’Aduh tante senang deh kalau punya menantu seperti kamu, udah tampan, kerjaannya bagus, baik sopan, sayang sama Siena dan Aaron dan pastinya akan memperlakukan mereka berdua dengan baik.’’ Ucap mama bermaksud menyindir.


‘’Tante bisa aja mujinya.’’ Steve menggaruk hidungnya sedikit merasa tidak enak pada Siena dan Daren.


Siena melirik Daren yang terdiam dengan kepala yang tertunduk, dalam hatinya ia memaki sikap Daren yang seperti itu, pria itu terlihat seperti tak berdaya, kemana Daren yang dulu dikenalnya?


Siena hanya ingin setidaknya Daren sedikit memberi pembelaan diri atau apa saja asal pria itu mengeluarkan suaranya dan tidak tertunduk lesu.


‘’Mama kenapa ngomongnya gitu sih?’’


‘’Tapi mah.’’ Siena tak lagi melanjutkan ucapannya, percuma saja yang ada nanti ia akan bertengkar dengan mamanya.


‘’Oma memangnya calon mantu itu apa?’’ tanya Aaron.


‘’Maksud oma calon daddy buat kamu, kamu suka kan sama om Steve?’’


Aaron mengangguk. ‘’Alon suka sama om Steve oma  tapi Alon juga udah punya daddy walaupun wajahnya pas-pasan, keljaan daddy juga bagus telus daddy juga sayang kok sama Alon sama mommy, iya kan dad?’’


Aaron melihat pada Daren, seperti angin segar, ucapan Aaron membuat Daren senang dan bersemangat, pria itu tersenyum, menatap Siena dan Aaron dengan penuh cinta.


‘’Sebelumnya saya mau minta maaf, saya tau dengan jelas kalau tante begitu membenci saya karena apa yang saya lakukan dimasa lalu, ya saya juga nggak bisa berbohong saat itu saya memang bukan suami yang baik, saya selalu dan selalu saja menyakiti Siena tapi saya pastikan di masa sekarang maupun masa depan saya akan selalu memperlakukan anak tante dengan baik, saya akan selalu mencintainya dengan sepenuh hati dan saya janji akan selalu membahagiakannya.’’

__ADS_1


Ucap Daren dengan penuh keyakinan, ia memang sangat yakin tak akan membuat Siena kecewa lagi. Tak ada yang tau apa yang akan terjadi dimasa depan tapi satu hal yang Daren yakini yaitu cintanya pada Siena tak akan goyang lagi bahkan dengan kehadiran 1000 Monika sekalipun.


‘’Daddy kenapa nggak ada nama Alon, memangnya daddy tak mau tinggal sama Alon cuma sama mommy?’’ protes Aaron membuat Siena dan Daren tertawa kecil, pria kecil itu bahkan turun dari pangkuan Steve dan berdiri didepan Daren dengan gayanya yang melingkarkan kedua tangannya didepan dada dan melihat Daren dengan mata melotot.


‘’Itu nggak perlu ditanyakan lagi Aar karena kamu putra kesayangan daddy sudah pasti daddy akan selalu disampingmu menemanimu hingga tumbuh dewasa nanti dan daddy janji akan selalu melindungimu dan mommy dari apapun, pokoknya daddy sayang banget sama Aar dan mommy.’’ Ucap Daren membawa Aaron dalam pelukannya.


‘’Mommy sini, peluk Alon sama daddy.’’ Ucap Aaron dengan satu tangannya memanggil Siena.


‘’Udah deh nggak usah peluk-pelukan, ini udah lewat jam sarapan lebih baik kita sarapan dulu.’’ mama Siena merusak suasana, wanita paruh baya itu berdiri terlebih dulu dengan menarik tangan Siena dan berjalan menu meja makan, tak lupa ia juga memanggil Steve untuk ikut sarapan.


awalnya Steve menolak tapi karena mama Siena terus memaksa, Steve menjadi tak enak hati untuk terus menolak, dan disinilah dia terjebak dalam keluarga kecil wanita yang masih menjadi pemilik hatinya sejak 4 tahun lalu.


*****


‘’Kamu kenapa diam aja tadi?’’ Tanya Siena, kini keduanya sudah berada di kamar Siena, tadi sehabis sarapan Siena langsung menarik Daren ke kamarnya.


‘’Mana bisa aku membantah mamamu yang ada dia akan semakin membenciku.’’


‘’Kau ini kenapa sih, belakangan ini sepertinya menjadi sedikit bodoh.’’


‘’Astaga Siena mana bisa kau mengataiku bodoh seperti itu?’’


‘’Terus kalau bukan bodoh apa dong? Bagaimana bisa kau diam saja di saat mamaku sedang menyindirmu, harusnya kau mengeluarkan sepatah dua kata untuk sekedar membela dirimu, aku sungguh tak suka dengan sikapmu yang sekarang, aku nggak suka kau diam saja disaat ada yang merendahkanmu.’’


‘’Mamamu tidak merendahkanku Siena dia hanya melampiaskan kemarahannya padaku, malah ku pikir hal itu belum ada apa-apanya dibanding apa yang kulakukan padamu, jadi jangan berpikir macam-macam dan maklumilah sikap mamamu karena jika diposisi yang sama kau mungkin akan berbuat sesuatu yang lebih kejam darinya.’’


Ucap Daren serius tapi bercanda di kalimat terakhirnya, bisa dibayangkan kalau Siena berada diposisi mamanya pasti sekarang Daren sudah tinggal nama.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa dukung otor dengan memberikan vote, bunga atau kopi dan jangan lupa like dan komennya ya.


__ADS_2