Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Salah sangka?


__ADS_3

Masih dengan tangan yang mencengkram rahang Siena, Daren tak sengaja mencium baru parfum dari tubuh Siena, beberapa kali Daren mengendus untuk memastikan bahwa indera penciumannya tak salah. 


Pasalnya Siena tidak pernah sekalipun menggunakan parfum saat bersamanya. Entah sedang mencari-cari kesalahan atau tidak tapi otak Daren sudah bertraveling memikirkan hal negatif tentang pekerjaan Siena.


‘’Kau.. Apa yang kau lakukan diluar sana culun?’’


Daren mendorong tubuh Siena hingga jatuh ke lantai, Siena meringis tapi bukannya peduli Daren lebih mendekat pada Siena dan menarik rambut bagian belakang wanita itu hingga air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir dengan deras walau tanpa izinnya.


‘’Kenapa kau menangis? Aku bertanya apa yang kau lakukan diluar sana, jawab atau aku akan memotong mulut tak berguna mu itu.’’


‘’K…kerja tuan.’’


‘’Kerja apa? me**cur?.’’ lalu Daren melepaskan tangannya dari rambut Siena kemudian dia tertawa keras tak percaya dengan apa yang dipikirnya.


‘’Oh ya Tuhan aku salah menduga, wanita sepertimu tak mungkin melakukan pekerjaan itu.’’


kali ini tertawanya lebih keras lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi meremehkan.


‘’Bodoh...bodoh bagaimana aku bisa berpikir begitu, lihat penampilannya mana mungkin ada yang mau menyewanya.’’


Dengan mata sedikit merah Siena menatap heran pada Daren, tak mengerti dengan apa yang tengah Daren tertawakan.


‘’Kenapa kau masih disitu? Apa kau begitu suka duduk dilantai? Baiklah jika kau menyukainya maka mulai malam ini kau harus tidur dilantai.’’


‘’Ah maaf tuan tidak.’’


‘’Tidak apa? Kau mau membantahku?’’


‘’Baiklah tuan saya akan tidur dilantai.’’


‘’Bagus, karena kau menyukainya maka kau harus berterimakasih padaku.’’ Daren mengusap rambut Siena tapi masih menatap Siena dengan tatapan meremehkan.


‘’Terimakasih katanya? Dasar iblis untuk apa aku berterimakasih yang ada aku malah ingin membunuhmu.’’


‘’Hei culun apa yang kau pikirkan?’’


‘’Tidak Tuan saya hanya sedang merangkai katanya dengan baik, karena saya merasa begitu berterimakasih pada tuan.’’


‘’Sudah lupakan saja aku hanya sekedar membantumu agar kau bisa tidur dengan nyaman di tempat yang kau sukai.’’


Masih dengan senyum remehnya Daren meninggalkan Siena dan naik keranjangnya.


‘’Dasar iblis.. Padahal ranjangnya sangat besar, apa dia akan mati jika berbagi ranjang denganku?.’’ dalam ruang ganti Siena melihat jari tangan kirinya, membentuk 3 jari sambil membuang nafas kasar.

__ADS_1


‘’3 bulan.. Kau harus bertahan selama 3 bulan Siena dan setelah itu kau akan bebas darinya.’’ Ya Siena berencana pergi dan meninggalkan Daren setelah 3 bulan nanti, baginya semua itu setara dengan hutang yang harus dia bayar.


*****


‘’Hei culun bangun.’’ Daren berteriak keras sambil menendang-nendang kecil betis Siena.


‘’Hei culun jika dalam 5 detik kau tak bangun juga maka aku akan melemparmu dari lantai 2.


Masih dengan mata setengah terpejam Siena mengambil kacamatanya, bangkit dari bangunnya dan berdiri didepan Daren sambil menundukan wajahnya.


‘’Hei culun disini aku yang majikannya tapi kenapa selalu aku yang membangunkanmu? Kau sama sekali tak tau diri.’’


Tok tok tok tok


Ketukan dari luar pintu menghentikan mengalihkan perhatian pasangan yang saling membenci itu.


‘’Maaf tuan dibawah ada non Rania katanya ingin bertemu tuan.


Daren menyatukan keningnya tak lama tubuhnya menghilang dibalik pintu kamar.


Daren menatap tak suka pada wanita yang sedang duduk santai diruang tamu sambil menyambutnya dengan senyum.


Dulu Daren sangat bahagia saat melihat senyum itu tapi sekarang dia seakan mau muntah.


Masih dengan senyum palsunya Rania berdiri dan mendekat pada Daren berniat melingkarkan tangannya di lengan Daren tapi Daren menepisnya.


‘’Sayang aku membawakanmu sarapan, bukannya dulu kau menyukai bubur ayam buatanku?’’ Tanyanya dengan nada selembut mungkin.


Daren melotot lalu berteriak memanggil security untuk mengusir Rania.


Perasaannya untuk Raniah seakan tak tersisa lagi yang ada hanya perasaan begitu membenci wanita itu bukan hanya sekedar benci Daren bahkan sangat jijik hanya untuk menatap Rania.


Beberapa kali Rania berteriak memanggil nama Daren tapi pria itu sama sekali tak mempedulikannya bagi Daren Rania hanya masa lalu yang sangat tak berharga.


‘’Jangan menyentuhku, aku bisa berjalan sendiri.’’ Bentak Rania pada security lalu dengan kasar menghentakan kakinya dan berjalan menuju mobilnya.


‘’Lihat saja Daren kau pasti akan kembali padaku, aku tak sudi jika wanita culun itu yang hidup senang dengan hartamu, karena semua yang terkait dirimu hanya harus menjadi milikku bukan wanita lain.’’


‘’Hei culun kenapa kau menggunakan pakaian jelekmu itu, bukankah Akbar sudah menyiapkan banyak pakaian bagus untukmu.. Penampilanmu sungguh sangat memalukan, aku bahkan tak habis pikir kenapa bisa memilihmu menjadi istriku.’’


Siena hanya diam tanpa mengatakan apapun, memang sengaja tak menggunakan semua pakaian yang disiapkan Akbar karena menurutnya semua pakaian itu sangat tidak cocok dengan penampilannya saat ini.


Daren memegang rahang Siena tapi tidak kasar lalu memutar mutar wajah Siena kekiri dan kanan.

__ADS_1


‘’Memang wajah burukmu ini tak dapat diselamatkan bahkan dengan pakaian mahal sekalipun.’’


Setelahnya Daren melangkah keluar terlebih dulu. Karena weekend Daren dan Siena diperintahkan untuk berkunjung ke Rumah orang tua Daren.


*****


‘’Menantuku sayang, kalian sudah datang?’’ Mama Desy berdiri memeluk Siena.


Entah kenapa kedua orang tua Daren begitu menyayangi Siena bahkan perasaan sayang itu muncul saat pertama kali bertemu Siena.


Mereka melihat Siena sebagai wanita yang baik yang pantas untuk menjadi istri Daren dan mereka juga yakin cepat atau lambat pasti Daren akan mencintai dan menerima Siena dengan baik.


‘’Mama anakmu itu aku bukan wanita culun ini.’’


Mama yang tadinya sedang memeluk Siena melihat Daren dengan tatapan tajamnya saat mendengar panggilan sang anak untuk menantu kesayangannya itu.


‘’Apa yang kau katakan Daren, kenapa kau menyebut istrimu seperti itu?’’ Ucap mama dengan nada tak sukanya.


Siena tersenyum, mengelus telapak tangan mertuanya.


‘’Nggak pa-pa ma, Siena nggak keberatan kok kan memang itu benar adanya.’’


Siena berucap dengan selembut mungkin meyakinkan mertuanya tak lama mertuanya sudah memeluknya lagi sambil mengusap-ngusap lembut punggungnya.


‘’Maafkan Daren ya sayang, dia memang sedikit kasar tapi dia bukanlah pria yang jahat.’’


‘’Bukan pria jahat? Mama tak tau saja jika anak kesayangan mama itu adalah pria yang sangat kejam dan sombong.’’


‘’Iya ma Siena tau kok.’’ bohong Siena padahal hatinya sungguh tak ikhlas mengucapkan kalimat itu.


‘’Ma, Daren lapar. Apa mama akan terus memeluknya seperti itu dan membiarkan Daren mati kelaparan?’’ Protes Daren lalu melangkah terlebih dulu ke ruang makan.


‘’Maafkan sikap Daren ya sayang?’’ Ucap mama lagi sebelum menarik Siena ke ruang makan.


Mereka makan dalam diam tanpa seorangpun yang berbicara.


‘’Selamat pagi semuanya, bisakah pria tampan ini menumpang sarapan dirumah kalian?’’


Bersambung.....


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini lebih baik lagi..


Jangan lupa like dan komennya...

__ADS_1


__ADS_2