Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Pura-pura


__ADS_3

‘’Tak masalah, semuanya adalah keputusanmu, kalaupun sekarang kau mengucapkan tak ingin menambah anak lagi aku akan setuju, karena kau yang hamil dan bukan aku, kau yang merasakan bagaimana sakitnya dan bukan aku, kau yang mengandung dan membawanya dalam perutmu selama 9 bulan bukan aku, ini tubuhmu jadi kau yang memutuskan, aku hanya menginginkannya tapi tak akan memaksamu.’’ ucapnya membuat Siena terharu, wanita itu tersenyum, Daren sudah banyak berubah.


‘’Aku juga menginginkan setidaknya 2 atau 3 anak darimu, biar Aaron nggak kesepian nanti.’’ Ucapnya dengan senyum bahagia, keduanya kembali mendekatkan wajah, saling berciuman, olahraga ranjang pun kembali terjadi, tak lama hanya sekali karena Daren yang tak tega melihat Siena yang sepertinya sudah sangat kelelahan.


*****


‘’Molning mommy, daddy, aunty.’’ Sapa Aaron menghampiri ketiganya


‘’Kau lihat kak, putramu sangat tampan bahkan lebih tampan darimu waktu kecil dulu.’’


‘’Itu karena mommynya juga cantik.’’ Timpal Siena dengan bangganya.


‘’Putraku sangat mirip denganku, bahkan tak ada satupun darinya yang mengikutinya mommynya kecuali golongan darahnya.’’ Ucap Daren tertawa kecil membuat Siena mencibik kesal.


‘’Kau.’’ Geram Siena dengan mata melototnya


‘’Sudahlah kakak ipar, gen keluargaku memang sangat kuat tapi setidaknya ada satu darimu yang sama dengannya, walau hanya golongan darahnya.’’ Sambung Reva ikut menggoda kakak iparnya.


‘’Benar-benar ya kalian berdua.’’


‘’Mommy peluk.’’ Pinta Aaron


‘’Setidaknya ia lebih menyukai mommynya daripada daddynya.’’ Ucap Siena lagi saat berhasil mendudukan Aaron di pangkuannya.


Aaron duduk dengan kedua tangannya yang terus mengusap perut Siena. ‘’Kamu kenapa dari tadi kok pegang perut mommy?’’


‘’Alon nungguin adiknya Alon siapa tau udah ada dipelut mommy.’’


‘’Emang Aaron mau punya adik lagi?" Tanya Siena, pria kecil itu mengangguk beberapa kali dengan penuh semangat.


‘’Kata daddy kalau 30 hali Alon tak tidul sama daddy mommy, adik Alon akan datang ke pelut mommy.’’


Siena melotot pada Daren, Reva tertawa karena merasa hal itu sangat lucu sedang tersangkanya hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal.


‘’Kamu kenapa mengajarkan hal yang nggak benar sih?’’


‘’Apanya yang nggak benar Siena, kalau kita terus berusaha siapa tau dalam 30 hari Aaron akan benar-benar punya adik atau siapa tau akan lebih cepat dari itu.’’ Daren berdiri dari duduknya. ‘’Aku harus bersiap, hari ini ada meeting sama beberapa klien.’’ Ucapnya yang sengaja ingin menghindar.


*****


‘’Apa yang kau lakukan disini?’Tanya Daren saat tak sengaja bertemu Robby


‘’Tentu saja dengan tujuan yang sama sepertimu, aku ingin membangun anak perusahaan ku di negara ini.’’ ucapnya terhenti ‘’dan tentu saja agar aku bisa lebih dekat dengan Siena.’’ Sambungnya dalam hati.


‘’Jika kau memiliki niat tersembunyi, berhentilah karena kau tak akan pernah berhasil.’’


Robby tak menjawab lagi, pria itu hanya tersenyum pada Daren sedang Sania yang berdiri di sampingnya menjadi sedikit bingung, sebenarnya ada apa antara kakak iparnya dan juga Robby, bukankah mereka adalah partner bisnis, tapi kenapa ia merasa seperti ada aura permusuhan diantara kedua pria itu?


‘’Kakak ipar Sania pamit ya.’’ ucapnya dan berjalan mengikuti Robby yang sudah berjalan terlebih dulu meninggalkannya.

__ADS_1


‘’Akbar kau cari tau apa yang sedang dilakukan Robby di negara ini.’’


*****


‘’Kenapa kau diam saja, apa kau ingin menanyakan sesuatu padaku?’’ tanya Robby pada Sania yang dari tadi terlihat diam, sekarang keduanya sedang menikmati makan siang mereka.


Sania menggeleng. ‘’Tidak tuan.’’ walau penasaran tapi wanita itu sama sekali tak ingin bertanya, sadar diri posisinya hanya sebagai sekretaris dan sangat tak etis baginya jika bertanya masalah pribadi atasannya itu.


 ‘’Kau yakin tak ingin bertanya apapun?’’


Sania kembali mengangguk dengan sopan ‘’iya tuan.’’


‘’Lalu kenapa dari tadi kau diam, apa kau sakit?’’


Sania menggeleng ‘’tidak tuan.’’


‘’Kau yakin.’’


Mengangguk lagi ‘’iya tuan.’’


‘’Dari tadi kau terus mengangguk, menggeleng, iya tuan, tidak tuan, apa kau tak bisa mengatakan hal lain selain itu?’’


‘’Maaf tuan.’’


‘’Sudahlah’’ Selama Sania bekerja dengannya, Robby memperhatikan wanita itu sedikit lebih pendiam dari kakaknya Siena, tapi ia sangat mahir dalam pekerjaannya, cepat tanggap dan Robby selalu puas dengan apa yang dikerjakannya.


*****


‘’Kau mengikutiku ya?’’


’’Siapa yang mengikutimu, kau lihat ini tempat umum dan siapapun berhak ada ditempat ini.’’


‘’Kalau begitu menjauhlah dariku, kenapa juga kau harus menyapaku.’’


‘’Memangnya kau tidak diajarkan etika dan sopan santun ya, aku menyapamu karena aku mengenalmu.’’


‘’Tapi aku sama sekali tak mengenalmu.’’


‘’Sumpah, ternyata kau tidak hanya menyebalkan tapi sangat menyebalkan.’’


‘’Terus?’’


‘’Mau kemana kau?’’ Steve bertanya saat Reva akan melangkah pergi dari tempat itu.


‘’Bukan urusanmu dan jangan sok kenal padaku.’’


‘’Kau sendirian kan kesini?’’


‘’Kalau sendiri, apa urusannya denganmu?’’

__ADS_1


‘’Temani aku makan siang ya.’’


‘’Kenapa aku harus menemanimu, memangnya kau siapa dan memangnya kita dekat?’’


Steve tak peduli dengan penolakan Reva, pria itu menarik tangan Reva dan memasuki sebuah restoran yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Ternyata Steve sedang tak sendirian, di restoran itu ada seorang wanita yang sedang duduk sambil menunggunya.


‘’Dia siapa Steve?’’ Tanya wanita itu pada Reva sedang Reva sama sekali tak peduli, ia hanya melihat wanita itu sekilas dan membuang wajahnya, melihat Steve dengan tatapan tajamnya.


‘’Tolong bantu aku sekali ini saja.’’ Bisik Steve


‘’Apa untungnya bagiku?’’


‘’Akan kubayar berapapun yang kau inginkan walau aku harus tak makan selama berbulan-bulan.’’


‘’Kau pikir aku kekurangan uang.’’


‘’Rev please, sekali ini saja.’’ Mohonnya


‘’Aku akan menolongmu tapi kau harus janji untuk mengikuti semua keinginanku selama sebulan penuh, eh nggak deh 3 bulan, oke?’’ Ucapnya sembari memberikan senyum sinisnya dengan 3 jarinya diangkat didepan wajah Steve.


‘’Satu bulan?’’ tawar Steve


Reva menggeleng. ‘’3 bulan.’’


‘’Satu setengah bulan?’’


‘’3 bulan atau tidak sama sekali.’’


‘’2 bulan?’’


‘’3 bulan, atau kau mau kunaikan jadi 4 bulan?’’


Oke 3 bulan, deal.’’


Reva pun tersenyum, wanita itu duduk didepan wanita yang sedari tadi menunggu Steve.


‘’Steve dia siapa?’’ tanya wanita itu pada Steve.


‘’Perkenalkan aku calon istrinya Steve.’’ Ucap Reva memperkenalkan diri dengan memberi satu tangannya.


‘’Calon istri, benar apa yang dikatakannya?’’


Steve juga bingung, kenapa tiba-tiba jadi calon istri, padahal ia hanya ingin meminta Reva pura-pura menjadi seorng pacar.


‘’Kamu nggak percaya? Aku benar-benar calon istrinya Steve dan kira-kira 1 bulan lagi kami akan menikah.’’


‘’Benarkah?" tanya wanita itu tersenyum senang membuat Reva heran, bukankah wanita itu adalah wanita yang sedang mengejar-ngejar Steve, makanya pria itu memintanya berpura-pura sebagai pacar?

__ADS_1


‘’Apa yang kau katakan, kau membuatku dalam masalah.’’ Bisik Steve yang sama sekali tak dipedulikan Reva


Bersambung.....


__ADS_2