Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)

Mr Arrogant VS Mrs Culun (Wanita Barbar)
Kegalauan Daren


__ADS_3

‘’Kakak.’’ Reva melihat Daren yang memandangnya dengan tatapan melototnya, setelahnya ia melihat Steve yang masih belum bangun juga, tak seperti Siena yang hanya menggoyang pelan lengan Steve, Reva memukul lengan pria itu dengan sangat keras dan membuat Steve terbangun dalam satu kali pukulannya.


‘’Reva.’’ Siena meringis melihat apa yang dilakukan Reva.


‘’Rev banguninnya bisa pelan-pelan aja nggak, tulangku hampir patah karena ulahmu.’’ omel Steve.


‘’Ekhem ekhem.’’ Daren berdehem, melihat Steve dengan tatapan menusuk sedang Steve langsung memperbaiki duduknya, sempat lupa akan maksud kedatangannya ke rumah itu.


Tak mempedulikan Steve, Daren berdiri. ‘’Rev ikut kakak, kau pulanglah.’’ suruhnya pada Steve.


‘’Kakak ada yang mau Steve bicarakan.’’ Ucap Reva menghentikan langkah Daren, Daren berbalik, menunjuk jam dinding di ruangan itu.


‘’Órang gila mana yang datang bertamu jam segini?’’ Ucapnya dengan melihat Steve.


‘’Baiklah aku akan pulang sekarang tapi aku akan kembali lagi besok.’’


‘’Untung saja kau kakaknya Reva kalau tidak mana mau mengalah padamu ck.’’ sambung Steve lagi dalam hati dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu.


‘’Ingat janjimu.’’ Bisik Siena dan meninggalkan Daren bersama Reva.


‘’Kak, Reva minta maaf, Reva kesana hanya ingin mengunjungi neneknya.’’


Belum mengatakan apa-apa, Daren menepuk sofa disampingnya, meminta Reva untuk duduk di sampingnya, Reva pun menurut dengan tanpa mengeluarkan satu katapun.


‘’Apa kau menyukainya?’’ tanya Daren yang kini sudah berbicara dengan nada lembutnya.


‘’Kakak tanya apa kau menyukainya.’’ tanya Daren lagi karena Reva hanya diam sambil memandangnya.


‘’Bilang iya nggak ya? Tapi kalau kak Daren tambah marah bagaimana?’’ guman Reva dalam hatinya, mempertimbangkan baik buruknya jawaban yang akan diberikannya.


‘’Rev.’’


‘’Suka kak, suka.’’ refleks Reva karena kaget Daren kembali memanggil namanya.


‘’Alasannya?’’ tanya Daren


Reva bingung harus menjawab apa, memutar otaknya, mencari jawaban yang tepat, siapa tau akan ada keajaiban dan kakaknya merestuinya dan Steve.


‘’Tidak ada alasan khusus, Reva hanya menyukainya.’’

__ADS_1


‘’Kenapa?’’


‘’Ya karena Reva memang tidak memiliki alasan apapun, Reva hanya menyukainya sebagai Steve yang apa adanya, menyukai semua kelebihan dan kekurangannya dan Reva yakin dia akan bisa menyayangi Reva dan menjaga Reva selamanya.’’ Entah darimana semua kata itu, ia juga bingung kenapa bisa mengeluarkan kata-kata yang menurutnya sedikit alay itu.


‘’Selamanya?’’


‘’Kakak Reva memutuskan untuk menikah dengan Steve, Reva berharap kakak, mama dan papa akan mendukung keputusan Reva ini.’’ Reva memberanikan diri berucap dengan memejamkan matanya karena takut dengan reaksi Daren.


‘’Menikah?’’


Reva menggangguk masih dengan matanya yang terpejam.


‘’Apa kau sudah memikirkannya dengan baik, Rev menikah tidak semudah yang kau pikirkan apalagi kalian belum lama saling kenal.’’


‘’Kak menyukai seseorang, bahagia atau tidaknya suatu hubungan tidak bisa dilihat dari berapa lama saling mengenal, buktinya diluaran sana ada berapa banyak pasangan yang putus atau berpisah setelah berpacaran atau bersama selama bertahun-tahun.’’ sekali lagi Reva tak percaya tentang apa yang baru saja dikatakannya, darimana ia bisa belajar kata-kata seperti itu? Tanyanya bingung sendiri.


‘’Kalau kakak melarangmu apa yang akan kau lakukan?’’


‘’Kami tetap akan berusaha mendapat restu kakak dan akan menikah setelah kakak dan semua keluarga merestuinya.’’


‘’Apa kalian berdua sudah benar-benar membicarakan masalah pernikahan dengan serius?’’


‘’Tentu saja, dia sudah beberapa kali mengajakku menikah dan tadi Reva sudah menyetujuinya, Reva harap kakak akan merestui kami.’’


‘’Maka kami akan kawin lari.’’ jawab Reva dengan asal tapi Daren menanggapinya dengan sangat serius, melihat wajah Reva dan memukul kecil kening Reva.


‘’Akan kupatahkan kakimu jika kau berani melakukannya.’’ Ucap Daren dengan nada marahnya setelahnya menyuruh Reva tidur.


*****


‘’Kenapa belum tidur, apa kau masih memikirkan Reva dan Steve?’’ tanya Siena menghampiri Daren yang duduk termenung di sofa kamar mereka.


‘’Katanya Reva akan menikah, apa yang harus kulakukan sekarang?’’


Siena tertawa kecil, senang mendengar kabar itu, setelahnya ia melihat Daren yang sepertinya belum bisa menerima semuanya.


‘’Ya tentu saja kau harus bahagia, sebentar lagi adik kesayanganmu itu akan menikah dengan seseorang yang dipilihnya seseorang yang akan terus menjaganya selamanya, yang akan mencintainya seperti kalian mencintanya.’’ Siena memeluk leher Daren dari samping.


‘’Kenapa wajahmu masih seperti itu? Oh aku tau.’’ Reva tersenyum menatap Daren, ingin menggodanya agar Daren bisa sedikit rileks dan terhibur. ‘’Apa kau cemburu kalau nanti Reva akan lebih menyayangi Steve dari pada dirimu, iya kan, sudah kuduga kau pasti sedang cemburu.’’ bercandanya dengan sedikit mencolek bawah dagu Daren.

__ADS_1


‘’Siapa yang cemburu, sebenarnya aku malah senang karena Reva sudah menemukan seseorang yang disukainya hanya saja aku masih sedikit tidak tenang.’’


‘’Kenapa, apa karena Steve yang pernah menyukaiku?’’


Daren mengangguk


Reva menangkup wajah Daren, mengecup sekilas bibirnya.


‘’Kau tenang saja, semua yang kau takutkan itu tidak akan pernah terjadi, aku mencintaimu sangat mencintaimu dan seperti kau yang takut kehilanganku aku juga sangat takut kehilanganmu dan apa kau lupa kita sudah memiliki Aaron diantara kita?’’ ucap Siena menenangkan.


‘’Cobalah berteman dengan Steve dan kau akan tau kalau dia adalah pria yang baik dan bisa kau andalkan untuk menjaga Reva.’’ Sambung Siena lagi.


‘’Bagaimana aku tidak cemburu, kau selalu saja memujinya.’’


‘’Ck.’’ Siena tertawa kecil. ‘’oke baiklah aku tidak akan pernah lagi memujinya di depanmu.’’


‘’Hanya di depanku?’’


‘’Oke oke aku tidak akan pernah lagi memujinya.’’ janji Siena mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya di depan Daren.


‘’Apa sudah mendingan?’’ tanya Siena


‘’Apanya?’’


‘’Galaunya, kan tadi kau galau tentang Reva dan Steve.’’ ucap Siena setengah meledek.


‘’Makasi ya, berkat kau aku tidak galau lagi.’’ mengelus kepala Siena.


‘’Apakah kau sudah menyetujui hubungan mereka?’’ tanya siena dengan sangat senang.


Daren tak menjawab dan hanya menarik tangan Siena untuk tidur, sudah hampir jam 1 pagi dan mereka baru mau tidur.


*****


Daren bangun jam 5 pagi dan segera menelpon kedua orang tuanya untuk memberitahukan tentang hubungan Reva dan Steve dan meminta kedua orang tuanya untuk datang ke Munich hari ini juga.


‘’Kau mau kemana?’’ tanya Siena dengan mata setengah tertutup, kemudian melihat jam dinding yang baru menunjukan 5.30. ‘’Ini masih pagi, apa kau tidak mengantuk?’’


‘’Aku akan lari pagi sebentar, kau tidurlah lagi.’’ Daren mencium kening Siena, wanita itupun mengangguk dan kembali menutup matanya, dia memang masih sangat mengantuk bayangkan saja, semalam dia tidur sudah sangat larut selain itu Siena memiliki peraturan tidurnya yang selalu diterapkannya yaitu tidak peduli jam berapa pun dia tidur, tidurnya harus cukup sampai 8 jam.

__ADS_1


*****


‘’Kak Daren mana?’’ tanya Reva saat Siena berjalan menghampirinya.


__ADS_2