
‘’Tumben Jerman, biasanya yang kalian tau cuman drama korea doang.’’ Ucap Reva sedikit meledek, ya kedua rekannya memang sangat menyukai drama Korea bahkan tak pernah sekalipun Reva melihat keduanya menonton drama lain selain drama Korea.
‘’Kali ini beda Rev, pokoknya gw suka banget sama semua pemerannya apalagi sama pemeran utama wanitanya, oh ya Tuhan Rev dia cantik banget, cantik yang nggak bikin bosan walau dilihat lama-lama.’’ Jawab Edo masih dengan hebohnya.
‘’Jadi penasaran gw secantik apa sih dia.’’ Reva berpindah posisi, berdiri dibelakang Mila dan Edo, matanya fokus menatap layar ponsel, secantik apa sih sampai kedua temannya seheboh itu.
Deg
Reva melotot, menangkap sosok tak asing pada film itu, dengan cepat ia merampas ponsel, memastikan dirinya tak salah lihat, setelahnya wanita itu berlari keluar dari cafe dengan membawa ponsel Edo tanpa menghiraukan teriakan dari sang pemilik ponsel.
Flashback end
*****
Sesampainya di Munich Jerman, Daren langsung menuju rumah Siena, tak langsung masuk, Daren memutuskan memantau Siena dari sebrang jalan rumahnya, pria itu terus memperhatikan pintu gerbang berharap Siena keluar agar bisa melihatnya.
Hampir 30 menit menunggu, bukannya melihat Siena keluar, Daren malah melihat sebuah mobil yang dikendarai seorang pria memasuki rumah itu.
‘’Akbar cari tahu sekarang juga siapa pria itu dan ada hubungan apa dia dan istriku?’’ Perintah Daren.
‘’Awas saja jika kau berani selingkuh dariku.’’ Ucapnya lagi dengan mata yang masih fokus melihat rumah Siena.
Hampir satu jam, Daren mulai gelisah, pasalnya pria yang tadi masuk belum juga keluar, ia mengumpat, bagaimana bisa Siena bersama seorang pria dalam waktu yang lama, tak tahan lagi, Daren memutuskan keluar dari mobilnya berniat menarik pria itu keluar dan menjauh dari istrinya.
Baru akan membuka pintu mobil, Daren melihat pria itu keluar dengan menggendong seorang anak kecil dan dengan Siena yang berjalan di sampingnya.
Memperhatikan interaksi Siena dan pria asing itu yang sepertinya sangat akrab, beberapa kali Siena tertawa, sungguh dia sangat tak suka Siena tertawa bahagia dengan pria lain.
‘’Akbar ikuti mobil mereka.’’ Perintah Daren saat mobil pria asing itu keluar dari pekarangan rumah Siena.
__ADS_1
Dengan mata yang setia melihat mobil di depannya. ‘’Akbar apakah anak kecil tadi putraku?’’ Ucapnya dengan nada sendu, tiba-tiba rasa bersalah mulai menyelimutinya lagi.
Seandainya dulu dia memperlakukan Siena dengan baik, seandainya dulu dia tak ragu akan perasaannya, seandainya dulu dia tak lebih mementingkan Monika, pasti hal semenyakitkan ini tak akan pernah menghampirinya dan Siena.
Dari kursi depan Akbar terkejut mendengar tangisan Daren, melihat Daren yang menangis dengan memukul-mukul dadanya, sudah biasa terjadi Akbar cukup tau alasannya.
Tak hanya Akbar sopir yang mereka sewa terlihat begitu khawatir, berpikir Daren sedang sakit dan mengatakan pada Akbar akan mengantar mereka ke rumah sakit terdekat tapi Akbar menggeleng dan meminta sopir tetap mengikuti mobil didepan mereka.
Daren memang sakit, bukan fisiknya tapi hatinya, ia tak berhenti menyalahkan dirinya, dan mungkin setelah melihat secara langsung Siena dan putra kecilnya perasaan bersalah itu hinggap lebih besar di hatinya
Bagaimana Siena bertahan hidup, sedang dirinya sendirian di negara asing dan dalam keadaan hamil, Siena pasti melewatkan banyak hal menyakitkan apalagi harus membesarkan putra mereka seorang diri.
*****
Di salah satu mall besar kota Jerman, mata Daren tak pernah lepas dari Aaron yang tak henti-hentinya berteriak kesenangan menikmati wahana bermain ball pool bersama Siena.
‘’Daddy, daddy, daddy.’ Teriak Aaron kesenangan berlari ke arah Daren, Daren sangat senang, apa selama ini Siena memberitahu Aaron tentangnya, hingga pria kecilnya itu mengenal dan memanggilnya daddy bahkan disaat pertama melihatnya.
Daren tersenyum lebar, berjongkok dengan membuka kedua tangannya bersiap menangkap Aaron ke pelukannya.
Bukannya masuk ke pelukannya, Aaron malah melewatinya, Daren melihat kebelakang, putra kecilnya itu sedang memeluk betis pria yang tadi menjemput Siena dan Aaron.
‘’Daddy, daddy peluk.’’ Pria itu membungkuk dan membawa Aaron dalam pelukannya, sekilas melihat Daren sebelum pergi dan menjauh dari tempat itu sedang Daren menatap kesal padanya lebih tepatnya sekarang dia merasa geram pada Siena, bagaimana bisa wanita itu membiarkan putranya memanggil pria lain dengan sebutan daddy.
Dia tak akan membiarkannya, kata-kata adalah doa, baginya jika Aaron terus memanggil pria asing itu dengan sebutan daddy sama saja dengan mendoakan hal itu terjadi.
‘’Akbar kita pulang kerumah Siena sekarang.’’ Daren memutuskan tak mengikuti Siena lagi dan langsung menunggu wanita itu dirumahnya.
Di tengah perjalanan Akbar melaporkan semua informasi yang didapatkan tentang pria asing yang mengunjungi dan mengajak Siena dan Aaron keluar.
__ADS_1
Daren manggut manggut. ‘’Jadi namanya Steve? Lalu apa hubungannya dengan Siena?’’
‘’Menurut info yang saya dapat keduanya berteman baik sejak 4 tahun lalu, tapi tak sedikit penggemar nona muda yang berharap keduanya akan menjadi sepasang kekasih, mereka menganggap keduanya adalah pasangan serasi apalagi Steve terlihat sangat perhatian pada nona muda, banyak juga yang menyangka bahwa tuan kecil Aaron adalah anak dari Steve dan nona muda’’ Ucap Akbar memberitahu.
‘’Ha! Apa mereka buta, apa mereka tak melihat besarnya perbedaan, putraku itu mewarisi ketampananku sedang pria yang bernama Steve itu wajahnya terlihat pas-pasan bahkan tak ada 20% dari ketampananku, dan apa tadi pasangan serasi? Cih aku yakin pria itu sama sekali bukan tipe Siena dan hanya aku satu-satunya yang berhak dan bisa mendampinginya, kau urus masalah ini dengan baik, buatlah berita tentang pernikahanku dan Siena agar semuanya tau Siena sudah memiliki seorang suami.’’
‘’Baik tuan.’’ Jawab Akbar singkat, mengambil ponselnya dan langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Daren padanya.
Dalam bahasa jerman ‘’Tut mir leid, miss Siena ist nicht zu hause (maaf tuan, nona Siena sedang tidak dirumah).’’ Ucap security rumah Siena berpikir Daren adalah salah satu penggemar Siena.
Daren dan Akbar hanya saling pandang tak mengerti dengan apa yang diucapkan security itu.
‘’Akbar apa kau tak menyediakan seorang penerjemah?’’
‘’Maaf tuan saya melupakannya.’’
‘’Astaga Akbar bagaimana bisa kau melupakan hal sepenting ini, apa aku harus menggunakan bahasa tubuh karena keteledoranmu itu?’’ Ucap Daren sedikit geram.
‘’Tidak tuan, jika diperlukan tuan bisa menyampaikan apa yang tuan inginkan dan saya yang akan memperagakan bahasa tubuhnya.’’ Saran Akbar membuat Daren semakin geram, sungguh hal itu sangat merepotkan baginya dan memakan banyak waktu.
‘’Sekarang juga kau cari penerjemah dan suruh dia kemari.’’ Teriak Daren, Akbar mengangguk dengan cepat dan mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
Di tengah kekacauan Daren dan Akbar.
‘’Can i help you sir?’’
‘’Astaga ternyata dia bisa berbahasa inggris, tau gitu dari tadi pake bahasa inggris saja.’’
Bersambung.....
__ADS_1