
‘’Kau kenapa?’’ Bisik Sania karena melihat Sheina yang tak bersemangat, beberapa kali juga Sania melihat Sheina yang terus melirik Daren.
‘’Nggak kok aku cuman kepikiran kerjaan kantor aja.’’ Alasannya yang sama sekali tak dipercaya oleh Sania, wanita itu merasa ada yang lain dari cara Sheina melihat Daren, tiba-tiba ia menutup mulutnya, mengingat Sheina yang belakangan ini sering curhat tentang pria yang disukainya.
‘’Nggak mungkin kan?’’ Guman Sania melihat Sheina lalu melihat Daren.
‘’Kamu kenapa Sheina?’’ Tanya Siena yang juga merasa aneh dengan tingkah adiknya.
‘’Nggak kak, aku cuman kepikiran kerjaan kantor aja.''
Siena melirik Daren.
‘’Aku nggak kasih banyak kerjaan kok ke adikmu jadi jangan melihatku dengan tatapan itu.’’ Daren mengusap seluruh wajah Siena agar wanita itu berhenti menatapnya dengan tatapan melototnya.
‘’Kerjaannya jangan dulu dipikirin, mending kita happy-happy aja.’’ Timpal mama Daren dengan suara girangnya.
Semuanya kembali menikmati makan malam sambil diselingi beberapa obrolan yang mengocok perut apalagi dengan tingkah laku Aaron yang sangat menggemaskan, pria kecil itu beberapa kali memprotes kakek, Reva dan daddynya yang katanya sangat tidak ramah pada orang lain yang tentu saja membuat semuanya tertawa kecuali 3 orang yang disebutkan, tapi yang lucunya pria kecil itu sama sekali tak sadar bahwa dia sama saja dengan 3 orang yang tadi disebutkannya.
*****
‘’Ini untukmu.’’ Siena mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Daren saat mereka tiba di rumah, sekarang keduanya sudah berada di kamar mereka.
‘’Hadiah ulang tahun untukmu.’’ Ucapnya lagi yang membuat Daren tersenyum, dengan cepat pria itu membuka kado dari sang istri.
‘’Dasi?’’ Tanyanya
Siena mengangguk, mendekat pada Daren ‘’Suka nggak?’’ Tanyanya yang diangguki Daren. ‘’Kata orang jika seorang wanita memberikan dasi pada pria itu berarti wanita itu sudah menandai sang pria sebagai miliknya.’’ Ucapnya lagi.
‘’Benarkah? Aku sama sekali tak tau hal itu, tapi kau tak perlu menandaiku dengan dasi karena pada dasarnya aku adalah suamimu dan tentu saja hanya milikmu.’’
Ucapnya yang kini sudah memeluk tubuh Siena, entah sejak kapan, siapa yang memulainya sekarang bibir keduanya sudah saling bersambut dengan perkelahian lidah yang sangat hebat.
Daren membimbing Siena menuju ranjang tanpa melepaskan penyatuan bibir mereka, mengukung Siena, nafasnya mulai naik turun, memandang Siena dengan mata yang sudah menahan gairahnya.
__ADS_1
‘’Nggak bisa sekarang.’’ Ucap Siena yang membuatnya lesu seketika, tak ingin semakin tergoda, dengan cepat Daren berlari ke kamar mandi untuk menidurkan sesuatu yang tadi sudah berdiri tegak.
Hampir sejam berperang sendiri di kamar mandi, Daren keluar, pria itu melihat Siena sudah tertidur lelap, Daren tersenyum, mencium kening Siena sedikit lebih lama, menyingkirkan beberapa helai rambut Siena yang menutupi wajah cantiknya, mengelus lembut wajah cantik itu dan tak lupa mengecupnya, setelahnya ikut berbaring di samping Siena dan tak lupa membawa wanita itu kedalam hangat pelukannya..
*****
‘Morning.’’ Ucap Daren menyambut pagi Siena
Siena tersenyum, kembali memeluk Daren dan menelusupkan wajahnya di dada bidang Daren ‘’Morning.’’ Balasnya
‘’Bangunlah aku harus ke kantor sekarang.’’ Bisik Daren, Siena melepaskan pelukannya, membalik tubuhnya dan kembali memejamkan matanya sedang Daren hanya menggeleng, mencium pipi Siena dan turun dari ranjang, hari ini dia tak bisa bolos kerja lagi, pekerjaannya masih sangat banyak.
Pria itu tersenyum melihat setelan kerjanya yang sudah disiapkan Siena, tak lagi berada di kamar, Daren yakin Siena sedang berada dikamar Aaron.
‘’Molning daddy.’’ ucap Aaron menyambut Daren di meja makan.
‘’Loh kamu udah mandi, mandi dimana?’’ Tanya Daren melihat Siena.
‘’Dikamar Aaron.’’
Siena tak membalas, wanita itu mengambil makanan untuk Daren dan Aaron setelahnya ketiganya mulai melahap sarapan.
‘’Oh ya hari ini aku mau jalan-jalan sama mommy ya, paling ke mall, nggak pa-pa kan?’’
Daren mengangguk, mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu yang dulu pernah diberikannya pada Siena.
‘’Pakailah sepuasmu.’’
Siena tentu saja tak menolak, menerima kartu itu dengan senang, rejeki suami merupakan berkat dan kesenangan tersendiri untuk isteri.
Sehabis sarapan ‘’Aku berangkat kerja dulu ya.’’ tak lupa Daren mencium kening Siena dan pipi tembem menggemaskan Aaron.
*****
__ADS_1
Tak seperti pemikirannya, Siena baru tau kalau namanya juga sudah sangat terkenal di negara asalnya, wanita itu bahkan ke mall tanpa menggunakan masker atau apapun yang menutup wajahnya.
‘’Siena, Siena bisa minta foto nggak?’’ entah sudah berapa kali Siena mendengar teriakan itu, untung saja mama mertuanya meminta pihak keamanan mall untuk menjaga mereka hingga Siena bisa sedikit menikmati waktu santainya tanpa harus meladeni setiap permintaan foto dari penggemarnya.
‘’Siena.’’ Panggil Robby saat melihatnya, pria itu berjalan menghampiri Siena dengan perasaan senangnya karena bisa bertemu wanita itu lagi.
‘’Siapa ya?’’ Tanya Siena
‘’Aku Robby, kau lupa ya?’’
Siena tersenyum sungkan, ditatapnya wanita yang berdiri di samping Robby yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan tak suka.
‘’Baru jadi artis aja belagu.’’ Sindir Monika yang membuat Siena tertawa kecil, sementara disampingnya sang mertua sudah menatap Monika dengan tatapan horornya.
‘’Namanya juga aktris terkenal jadi sedikit belagu nggak pa-pa dong.’’ Balas Siena dengan nada santainya, wajahnya bahkan terlihat sangat santai dan sama sekali tak terintimidasi oleh Monika.
‘’Sudahlah Siena jangan menggubris wanita gila ini lagi.’’ Ucap mertuanya dan menarik tangan Siena sementara Robby dengan sigap menahan satu tangan Siena.
‘’Apa yang kau lakukan?’’ Tanya Siena dengan nada tak sukanya.
‘’Maaf, maaf aku nggak sengaja, aku hanya ingin mengobrol lebih lama denganmu.’’
‘’Maaf tapi sepertinya aku nggak bisa, aku harus menemani putraku bermain.’’ Tolak Siena sopan, karena merasa sama sekali tak memiliki masalah dengan pria bernama Robby itu.
‘’Baiklah, tapi apa aku bisa meminta nomor ponselmu?’’ Ucap Robby lagi.
‘’’Sepertinya nggak perlu, aku tak terbiasa memberikan nomor ponselku selain pada orang-orang terdekatku.’’ Jujur Siena, wanita itu kemudian melangkahkan kakinya dan meninggalkan Robby dan Monika.
‘’Jangan sombong dulu, kau lihat saja, kupastikan Daren akan kembali padaku dan membuang wanita sepertimu.’’ Teriak Monika yang sama sekali tak dipedulikan Siena, bukan tak peduli lebih tepatnya pura-pura tak peduli, Siena yakin Monika pasti akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan keinginannya, Siena memutar otak, mengatakan pada mama mertuanya bahwa ia ingin berbicara pada papa mertuanya setelah mereka pulang nanti.
*****
‘’Kamu dari rumah mama papa?’’ Tanya Daren pada Siena dan mengambil alih Aaron yang kini tertidur dalam gendongan wanita itu, Daren menyuruh Siena untuk masuk kamar dan segera membersihkan diri sementara dirinya mengantar Aaron ke kamar pria kecil itu.
__ADS_1
Bersambung.....