
‘’Sudah puas belum?’’ Daren membuka matanya secara perlahan, mencium bibir Siena sekilas.
‘’Kau pura-pura tidur ya?’’
‘’Aku terbangun karena istriku terus menciumi pipiku, ternyata kau sangat suka menciumku diam-diam ya?’’ Godanya
Siena tak menghiraukan, beranjak dari ranjang. ‘’Mau kemana kau?’’ Daren menarik pinggangnya hingga kembali terbaring.
‘’Lepas Daren aku harus mandi, ingin mengantar Sania.
‘’Tak perlu, aku yang akan mengantarnya.’’
Siena melirik Daren, mencium pipinya singkat, setelahnya mendorong Daren ke kamar mandi. ‘’Kau mandilah aku akan menyiapkan pakaian untukmu.’’
*****
‘’Semuanya karenamu, lebih baik kau mengatakan yang sejujurnya pada nenekmu.’’
‘’Kau saja yang mengatakannya kalau kau berani.’’
‘’Itu nenekmu bukan nenekku, lagian kau kan cucunya, merengeklah sedikit dan ku yakin dia akan mengikuti kemauanmu.’’
‘’Kau salah jika berpikir itu akan berhasil.’’
‘’Memangnya kau sudah mencobanya?’’
Steve menggeleng. ‘’Tak perlu mencoba untuk tau hasilnya.’’
‘’Kau pikir kau peramal?’’
‘’Itu karena aku sangat mengenal nenekku.’’
‘’Bagaimana kalau kita pertemukan nenekmu dengan kakakku?’’
‘’Apa menurutmu itu ide yang baik?’’
Reva mengangguk. ’’kakakku sangat tidak menyetujui rencana pernikahan ini jadi biar dia yang berusaha untuk membatalkannya dan kita tinggal menunggu hasilnya, bagaimana kau setuju?’’
__ADS_1
‘’Kurasa nggak ada salahnya mencoba.’’
******
Di kediaman orang tua Daren, siang itu papa dan mama Daren sedang mengobrol santai membicarakan tentang anak-anak mereka.
‘’Pa mama senang Daren sudah bahagia sama keluarga kecilnya, sekarang kita tinggal menunggu Reva, mama berharap anak itu juga akan segera menemukan seseorang yang tepat untuknya.’’
‘’Nggak, putriku masih terlalu kecil untuk itu.’’ mama melotot mendengar ucapan papa yang menurutnya sangat ngawur, bagaimana bisa suaminya itu mengatakan putri mereka masih kecil padahal Reva sudah menginjak usia 28 tahun.
‘’Pa putrimu itu sudah 28 tahun apanya yang masih kecil, kau ingin dia jadi perawan tua?’’
‘’Apanya yang perawan tua? Putriku limited edition.’’ balas papa dengan nada tak sukanya, pria paruh baya itu selalu menganggap Reva seperti anak kecil yang masih harus dijaganya dan untuk membiarkan wanita itu menikah bukannya dia belum siap hanya saja dia tak ingin Reva terburu-buru dan akhirnya salah memilih.
‘’Kau mau putri kita terlambat menikah karena sikapmu ini?’’
‘’Tidak apa terlambat asal dia menemukan seseorang yang tepat.’’
‘’Terserah kamu sajalah.’’ Kesal mama Daren, pria di depannya ini memang akan sangat protektif kalau menyangkut Reva, dari Reva beranjak remaja tak pernah dibiarkan satu pria pun mendekati Reva.
Kalian tau apa yang dilakukan papanya? Dia mendatangi perusahaan tempat pria itu kerja, dirinya semakin geram saat melihat pria itu tengah bercanda ria dengan beberapa orang temannya.
papa mendatangi pemilik perusahaan dan meminta pria itu dipecat, papa bahkan mengancam semua perusahaan agar tak menerima pria itu bekerja di perusahaan mereka, dan entahlah bagaimana nasib pria itu sekarang.
‘’Tuan, Ny besar di luar ada tamu katanya mau ketemu tuan dan Ny.’’ Ucap ART memberitahu.
‘’Siapa pa?’’ tanya mama bingung, karena tak biasanya rumah mereka kedatangan tamu.
*****
‘’Saya Clarissa neneknya Steve, saya datang dengan tujuan melamar putri tuan dan Ny.’’ Ucap nenek Steve tanpa basa basi.
‘’Putriku, maksudnya Reva?’’ tanya papa, mama langsung menyenggolnya. ‘’Memangnya putrimu ada berapa, siapa lagi kalau bukan Reva?’’
‘’Kau ini kenapa sih, aku hanya kaget saja tiba-tiba ada yang datang melamar putri kita.’’
‘’Maaf Ny kalau saya boleh tau kenapa anda tiba-tiba datang melamar putri kami, setahu kami saat ini Reva tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun.’’ Ucap mama sopan.
__ADS_1
Nenek Clarissa tertawa ‘’putri kalian sedang menjalin hubungan dengan cucuku.’’ nenek mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara saat Reva berkata ingin menikah dengan Steve secepatnya, ternyata saat itu kakak Steve merekam pembicaraan mereka tanpa sepengetahuan Steve dan Reva.
‘’Itu benar suara Reva.’’ Ucap mama dan papa bersamaan dan saling memandang.
‘’Saya tidak bisa menerima lamaran ini karena putri saya sama sekali tak pernah bercerita tentang hal ini, apalagi saya belum pernah melihat cucu anda itu.’’ ucap papa keberatan
‘’Maaf tuan Hansel tapi putrimu sendiri yang mengatakan ingin menikah dengan cucuku.’’
‘’Tapi aku tak akan mengizinkannya begitu saja, tidak mungkin aku mengatakan iya hanya karena putriku menginginkannya.’’
‘’Nikahkanlah putri kalian dengan cucuku secepatnya, aku janji akan memberikan apapun yang kalian inginkan.’’ Ucap nenek yang membuat papa menatapnya sinis.
‘’Maksudnya kau ingin membeli putriku, begitu? Kau mungkin tidak mengenal siapa keluarga kami, aku sama sekali tak membutuhkan uangmu, jika putriku bahagia, dengan siapapun itu aku akan menikahkannya bahkan dengan karyawan biasa sekalipun tapi tentu saja setelah aku yakin kalau pria itu akan benar-benar menyayangi dan menjaga putriku.’’
‘’Maaf tuan Hansel, bukan maksud saya menyinggung, hanya hanya terlalu semangat dan ingin cucuku segera menikah.’’
‘’Kau ingin cucumu segera menikah sedang aku ingin putriku mendapatkan pria terbaik dalam hidupnya, aku hanya tak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, ini tentang masa depan putriku jadi aku harus memastikannya dengan baik, permisi.’’ Ucap papa meninggalkan nenek Steve dan mama, pria itu ingin segera menelpon Reva untuk menanyakan apa yang terjadi.
‘’Maaf Ny Clarissa, suamiku memang sedikit protektif pada Reva.’’
Nenek Steve masih diam di tempatnya, tak pernah sekalipun ia terpikir kalau keluarga ini akan menolaknya, nenek sedikit dongkol, menurutnya papa Reva termasuk kalangan yang munafik, bagaimana ada seseorang yang tak tergiur dengan harta, apa papa Reva sedang berpura-pura menolaknya karena menginginkan lebih banyak dari apa yang akan ditawarkannya? Pikir nenek Steve.
*****
Di perjalanan pulang nenek Steve membaca info tentang keluarga Reva yang baru saja diberikan oleh asisten pribadinya, ia merasa sangat bodoh, harusnya sejak tadi, sebelum menemui keluarga itu, harusnya ia sudah mencari info terlebih dulu, sekarang ia bahkan malu sendiri, ia menawarkan hartanya yang tak seberapa pada seorang yang memiliki kekayaan berlimpah.
*****
‘’Yes yes yes.’’ Reva berteriak, melompat kegirangan, bahkan tak sadar memeluk tubuh Steve
‘’Kau kenapa?’’ tanya Steve yang tanpa sadar tangannya sudah terlingkar di pinggang ramping Reva.
‘’Ternyata papaku menolak lamaran nenekmu, tadinya kupikir dia akan menyetujuinya.’’ Reva tertawa ‘’papaku memang yang terbaik.’’ sambungnya lagi.
Sedang Steve terdiam ‘’kenapa perasaannya menjadi sedikit tak senang, bukankah ini yang diharapkannya, lalu kenapa ia harus kecewa?’’
Bersambung.....
__ADS_1