
‘’Untuk apa aku mengerjaimu, kau pikir aku kurang kerjaan apa?’’
‘’Ya emang, mana ada orang banyak kerjaan sesantai dirimu.’’
‘’Apa kau tidak mencontoh kakakmu, kulihat dia bahkan lebih santai dariku.’’
‘’Kakakku pengecualian, itu kan perusahaan keluarga kami jadi suka-suka dia dong mau masuk atau nggak.’’
‘’Ya kalau begitu sama dong, kerjaan kan kerjaan aku jadi suka-sukaku dong kalau mau santai, iya kan?’’ Jawabnya yang membuat Reva kesal, wanita itu tak menjawab ucapan Steve lagi dan memilih menghabiskan makanannya.
15 menit kemudian, ‘’Makanannya sudah habis, pulang sekarang.’’ Ucapnya setengah mengusir sedang steve sama sekali tak berdiri dari tempat duduknya. ‘’Kenapa lagi sih?’’ Reva melihat Steve dengan tatapan tak suka.
‘’Duduklah dulu, makananmu belum tercerna dengan baik.’’ menarik Reva untuk duduk kembali saat wanita itu hendak meninggalkan meja makan.
Reva melihat tak suka ada Steve setelahnya memutuskan duduk kembali walau dengan perasaan dongkolnya.
Hampir setengah jam berlalu, Steve tersenyum melihat Reva yang sudah tertidur dengan kepalanya yang diletakan diatas meja makan, perlahan Steve mendekat, pria itu menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajah Reva.
‘’Kalau lagi tidur gini kamu cantik juga.’’ Pujinya dengan wajah tersenyum, ikut meletakan kepalanya di meja makan dengan pandangan yang tak lepas dari wajah cantik Reva yang baru disadarinya beberapa hari lalu.
Dulunya ia berpikir tak akan tertarik dengan wanita manapun selain Siena, tapi nyatanya kehadiran Reva sangat mampu membuatnya melupakan Siena, bahkan hanya dalam waktu singkat, tapi apakah wanita di depannya ini memiliki perasaan yang sama sepertinya atau apakah ia akan kembali mengalami yang namanya patah hati, itulah yang dipikirkan Steve.
Saking asyiknya memandangi wajah Reva, Steve hampir lupa waktu, pria itu bahkan ikut tertidur bersama Reva.
‘’Ini mobil siapa?’’ Tanya Daren saat melihat ada mobil yang terparkir di depan rumah Siena.
‘’Astaga, apa Steve belum pulang?’’ Tanya Siena dalam hati, wanita itu sama sekali tak berniat menjawab pertanyaan Daren, malah mengkhawatirkan kalau Daren bertemu Steve di dalam rumah, apalagi ia sendiri yang memberi informasi pada Steve kalau tadi ia dan Daren sedang tak berada di rumah dan yakin Steve datang karena informasi yang diberikannya itu.
‘’Apa yang harus kulakukan?’’ gumannya memutar otak, tak ingin Daren bertemu Steve sekarang, yang ada pria itu akan sangat membatasi kegiatan Reva dan ia juga merasa kasihan pada Steve yang diyakininya mulai memiliki perasaan pada adik iparnya.
‘’Daren tolong kau bawakan semua barangku yang ada dalam mobil.’’ Suruh Siena sedang ia cepat berlalu dan masuk kedalam rumah untuk mencari Reva dan Steve.
‘’Apa yang kalian lakukan, kenapa malah tidur disini?’’ membangunkan Reva dan Steve dengan suara sedikit berbisik namun tangannya setengah memukul kedua orang itu agar cepat terbangun.
‘’Kak, kayak ipar sudah pulang?’’ Reva mengucek salah satu matanya, sedang Steve dengan santainya memandang Siena, kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.
__ADS_1
‘’Kenapa kau belum pulang, apa kau mau Draen melihatmu berada dirumah ini?’’ Tanya Siena yang membuat Reva Steve kaget dan saling berhadapan.
‘’Kau, kenapa kau masih disini?’’ Geram Reva melihat Steve.
‘’Sorry aku ketiduran.’’
‘’Siena, Siena kamu dimana?’’ teriak Daren membuat ketiga orang itu kaget.
‘’Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau.’’ Tunjuknya pada Steve ‘’bersembunyilah di bawah meja.’’ Suruhnya.
‘’Kenapa harus bersembunyi, biarkan saja pria menyebalkan ini ketemu kak Daren, biar dia tak berani datang lagi kerumah ini.’’ Ucap Reva cuek, wanita itu ingin meninggalkan meja makan tapi tangannya ditahan Siena.
‘’Kau yakin dengan ucapanmu itu, tak apa jika tak melihat Steve lagi?’’
Reva sedikit terdiam, melihat pada Steve.
‘’jangan hanya saling memandang, sekarang waktunya kau bersembunyi.’’ suruh Siena dengan setengah geram karena melihat keduanya.
‘’Kau yakin memintaku bersembunyi di bawah meja, seperti maling saja.’’ Protes Steve, disaat yang bersamaan mereka mendengar langkah kaki Daren semakin mendekat, dengan kompak Siena dan Reva mendorong kepala Steve agar pria itu cepat bersembunyi.
‘’Oh itu, kami sedang membahas sesuatu.’’ Jawab Siena
’’Masalah apa?’’
‘’Masalah wanita, kau tak perlu mengetahuinya.’’
‘’Ini sudah hampir jam 10 dan kalian masih ingin berbincang?’’ Tanya Daren yang dengan cepat mendapat anggukan kepala dari Siena dan Reva.
‘’Baiklah kalau begitu aku akan menemani kalian disini.’’ Daren ikut duduk di samping Siena dengan satu tangannya sudah mengambil dan memakan cemilan yang tersedia diatas meja.
‘’Kenapa kau duduk disini, apa kau tidak mengantuk?’’ Tanya Siena sedang Daren hanya tersenyum. ‘’aku ingin menemani kalian.’’
‘’Tapi Daren kami sedang membahas masalah wanita, bagaimana bisa kami membahasnya saat kau berada disini.’’
‘’Memangnya kenapa, kalian itu istri dan adikku.’’ Ucapnya santai dan kembali mengunyah cemilan sedang Siena dan Reva sama-sama memutar otak agar Daren bisa segera pergi.
__ADS_1
Dari bawah meja, Steve menarik tangan Siena dan Reva secara bersamaan, entah sedang sial atau apa tiba-tiba pria itu ingin buang air kecil.
Reva pura-pura menjatuhkan sesuatu ‘’kenapa?’’ tanyanya pada Steve.
‘’Rev aku ingin buang air kecil, tak bisa ditahan lebih lama lagi.’’
‘’Kenapa sekarang sih?’’
‘’Memangnya ini kehendakku, aku tak bisa mengontrolnya.’’
‘’Rev kau sedang apa?’’ Tanya Daren membuat Reva kaget, wanita itu bahkan tak sengaja membenturkan kepalanya di meja, hampir saja Steve bersuara, untung Reva sudah lebih dulu menutup mulut pria itu.
‘’Apa yang kau lakukan, kenapa bisa terbentur seperti itu?’’ Tanya Daren menghampiri, pria itu melihat kepala Reva yang tadi terbentur, mengusapnya lembut dan sedikit meniupnya.
‘’Apa yang sedang kau cari tadi, biar kakak yang mencainya.’’ Daren hampir memasukan kepalanya.
‘’Jangan, jangan.’’ Ucap Siena dan Reva kompak dengan setengah berteriak membuat Daren kaget.
‘’Kalian kenapa sih?’’
‘’Oh itu, Daren aku sangat mengantuk ,lebih baik kita tidur sekarang.’’ Siena menarik tangan Daren, pria itu tak langsung melangkah dan malah melihat Reva yang masih setia duduk di depan meja makan.
‘’Kenapa kau masih disitu?’’
‘’Oh ini kak, Reva ingin duduk sebentar lagi.’’
Daren mengangguk, melepaskan tangan Siena yang sedang melingkar di lengannya. ‘’Kau tidurlah duluan aku akan menyusulmu sebentar lagi.’’ duduk kembali untuk menemani Reva.
‘’Loh, kenapa duduk lagi?’’ tanya Siena berdiri di samping Daren dengan memegang satu pundaknya.
‘’Aku ingin menamani Reva sebentar.’’
‘’Ómg.’’ Guman Siena dalam hatinya, apa ia harus menyerah dan membiarkan ketiga orang itu?
‘’Kalau begitu antarkan aku ke kamar, aku terlalu lelah untuk berjalan sendiri.’’ membuka kedua tangannya lebar, meminta Daren untuk menggendongnya, tentu saja Daren tak menolaknya, pria itu menggendong Siena ke kamarnya, lewat matanya Siena meminta Reva untuk segera membawa Steve keluar.
__ADS_1
Bersambung.....